Bu Dokter! Love Me Please!

Bu Dokter! Love Me Please!
20. Berkah Dibalik Musibah


__ADS_3

20.🐌


Rumah bernuansa modern tropis milik Alex tampak semakin dingin karena pagi ini langit sedikit gelap dan guyuran hujan membasahi hampir seluruh kota.


Alex menatap buliran air yang membasahi dinding kaca sekaligus jendela berukuran besar dengan view halaman depan rumah dari kamar miliknya dilantai dua. Hatinya diliputi rasa bimbang, pasalnya Bitha belum juga memberinya jawaban atas permintaannya beberapa hari lalu. Sedangkan hari ini ia harus kembali ke pulau seberang untuk kembali bekerja.


Pandangannya tertuju pada tubuh pria paruh baya yang bertugas menjaga rumah miliknya kala ia tak ada. Pria tua itu berjalan menyusuri halaman rumahnya dengan sebuah payung pelangi. Seketika ia ingat jika dirinyalah yang menyebabkan paruh baya itu berjalan kaki. Ia lupa jika kemarin meninggalkan motor yang ia pinjam di rumah sakit.


Dengan segera Alex menghubungi Bitha untuk menunggunya di rumah terlebih dahulu.


.


.


Pria itu berlari dengan menggenggam gagang payung berwarna putih.


Tiba di teras rumah, Bitha terlihat memanyunkan bibirnya, wajah kesalnya berbaur dengan suara guntur yang saling bersahutan. Bagaimana tidak? Beberapa menit lalu saat ia tengah bersiap Alex tiba-tiba saja menghubunginya dan berkata jika pria itu merindukannya.


'Apa maksudnya?. Apa dia akan menagih jawabannya sekarang?.' Gumamnya


Alex mengitari mobil Bitha, membuka pintu kemudi dan hendak melangkah masuk sebelum ia mendapati sang empu tengah menatapnya dengan wajah super juteknya.


"Kak!, gak usah bikin perkara deh!." Ketusnya


"Emang siapa yang mau bikin ulah?." Cibirnya


"Terus kamu ngapain ngikutin aku gini?." Tatapnya penuh selidik


"Kamu lupa kemarin aku ninggalin motor si mamang diparkiran rumah sakit? Mana hujan lagi, kasian tadi si mamang jalan kaki kerumah!." Jelasnya panjang lebar,


Bitha diam dengan sebuah anggukan kecil, ia sempat berfikir jika pria itu tengah mengerjainya.


.


.


setibanya di area parkir keduanya secara bersamaan keluar dari pintu masing-masing dan hal itu mengundang kasak-kusuk para lambe-lambean yang kali pertama ini mendapati sang dokter cantik berangkat kerja diantar oleh seorang pria.


Seorang perawat menyenggol lengannya untuk menggoda saat tiba di loby.


"Cieee yang dianterin e'em nya....!!!."


"Jangan ngada-ngada Bil!."


"Ya Ampun dokter gak usah pake malu-malu napa?. Ganteng paripurna gitu!."


"Kamu yang malu-maluin Bil jalan miring-miring kaya yuyu, tuh dilihatin orang!."


Bitha memang terkenal diantara para nurse juga bidan yang bekerja dirumah sakit. Bukan hanya karena wajahnya yang enak dipandang tetapi juga kepribadiannya yang menyenangkan membuat siapa saja betah jika bertugas ataupun melakukan hal-hal positif lain saat bersamanya.


.


.


Hari menjelang sore, Bitha tak pernah lagi bertemu dengan Azam. Pria yang selalu membuat hari-harinya terasa berat.


Beberapa jam yang lalu Alex mengirim chat kepadanya jika pesawatnya akan berangkat pukul delapan malam nanti. Itu artinya Bitha harus memberinya kepastian sebelum ia pergi.


Ia meminta Bitha untuk menemaninya makan malam. Awalnya Bitha menolak, namun berbagai macam alasan Alex berikan agar wanita itu mau menemaninya.


.


.


Dilain suasana Azam tengah melakukan aktifitasnya bersama perempuan yang ia sewa untuk menyenangkan diri di sebuah hotel.


"Get my soul feel free honey!." Serunya ditengah-tengah permainan mereka. Saat mencapai puncak ia meneriakkan nama Bitha dengan lantangnya.


.


.


Azam melihat pantulan dirinya dalam cermin kamar mandi, ia tersenyum sinis. Ada rasa getir kala mengingat Bitha tengah berdua dengan Alex tadi pagi.


Sempat ia berfikir untuk menghabisi nyawa pria itu, namun ia urungkan karena sadar jika tetap melakukannya sama halnya dengan bunuh diri. Bahkan orang tuanya akan sangat membencinya jika benar itu ia lakukan.


.


.


Bitha telah sampai pada tempat yang disebutkan oleh Alex beberapa saat lalu. Ia tengah melakukan panggilan telepon kepada pria itu untuk memberitahu keberadaan dirinya yang telah tiba terlebih dahulu.


Ketika langkahnya hampir memasuki lobi hotel tubuh dokter cantik itu tertahan oleh tiga orang pria berkemeja hitam, sekilas terlihat seperti pegawai hotel pada umumnya hanya saja mereka malah menggiringnya keluar menuju area basement dengan sebilah pisu lipat yang mengarah dibagian belakang pinggang. Tak sempat mengatakan apapun saat kedua lengannya ditarik paksa menyingkir dari area lobi.


"Siapa kalian?." Tatapanya mengintimidasi


Ketiga pria itu diam dan langsung membuka pintu sebuah mobil Van diarea sudut basement.


Jenita, dengan wajah pucatnya berdiri dengan angkuh. Wanita itu mendorong kedua pundak Bitha yang memiliki tinggi tubuh sama dengannya hingga terhuyung.


"Sampah kamu!." Ucap wanita itu dengan aura penuh kebencian.


Bitha hanya diam tanpa kata. Ia mencoba mengontrol gejolak emosinya. Percuma melawan mengingat dirinya tengah menjadi tawanan saat ini.


"Gara-gara perempuan kaya kamu Azam berani ninggalin aku!. Dasar jalang!." Umpatnya


"Kalau aku jalang terus kamu apa?!."


"Berani kamu ngatain aku!?."


"Kamu yang cari masalah!."


"Aku bisa buat kamu dipecat dari rumah sakit, atau yang lebih istimewa seperti membuatmu tak bernafas, misalnya!?." Geramnya


"Lakukan!. Segera lakukan apa yang kamu sebutkan tadi sebelum aku berubah fikiran." Tantangnya


"Berengs*k kamu pelac*r!."


PLAAKKK

__ADS_1


Sebuah tamparan mendarat tepat dipipi mulus Bitha, membuat wajahnya seketika pias dengan cetakan jari-jari Jenita yang membekas sedikit kemerahan.


Azam yang kala itu berada ditempat yang sama setelah menyelesaikan aktifitasnya melihat tindakan tidak menyenangkan dari wanita mantan FWB nya dengan seorang wanita berhijab. Pria itu lantas menghampiri mereka.


Azam mencekal tangan Jenita dengan kuat, membuat wanita itu meringis kesakitan.


"Ngapain kamu!?, HAH?!." Bentaknya saat tahu siapa yang telah ditampar oleh Jenita.


Bitha yang tak pernah melihat Azam marah pun ikut terkejut karena suaranya yang meninggi.


"Kenapa?! Kamu gak rela kalo aku tampar dia?!." Serunya


"IYA!. MASALAH?!."


"Bajing*n kamu Zam!. Kamu licik!. Kamu kecewain aku!." Ucapnya setengah menjerit


Dengan isyarat mata, Jenita memberikan kode kepada tiga orang suruhannya untuk menghabisi Azam.


.


.


Sementara itu Alex tengah berlari di dalam loby hotel dengan nafas tak beraturan. Pria tampan dengan kemeja putih itu dengan cepat bertanya kepada receptionist tentang seorang wanita berhijab, ia lantas menunjukan wajah Bitha yang terlihat pada layar ponsel miliknya. Namun sayang ia tak mendapatkan jawaban yang memuaskan.


Ia meminta tolong kepada receptionist untuk mempertemukannya dengan manager mereka setelah menunjukan kartu nama miliknya.


Tak berselang lama keduanya pun berada di ruang monitoring CCTV untuk melihat kemungkinan adanya tindak kriminal human trafficking setelah Alex menceritakan tentang panggilan Bitha yang belum sempat membuat wanita itu berbicara kepadanya dan malah mendapati percakapan antara Bitha dengan seorang wanita yang tidak ia ketahui.


Sedangkan Bitha sendiri tak menyadari jika ia mengantongi ponselnya masih dalam keadaan on call saat ia dan Jenita berseteru.


.


.


Alex bersama manager dan dua orang security secepat mungkin berlari menuju basement setelah melihat seorang wanita dengah hijab digiring melalui tangga disamping gedung namun tak terlihat dengan jelas karena jaraknya yang sedikit jauh dan cahaya remang dari tampilan layar CCTV. Setibanya disana mereka hanya mendapati Azam yang tersungkur dengan luka disekujur tubuhnya.


"Kepar*t!." Alex mencengkram kerah kemeja pria itu penuh emosi.


"Dimana dia!?. Kemana mereka membawanya!? Jawab!!!!." Bentaknya dengan emosi yang meluap


"Aku gak tahu." Ucap Azam lemah.


Dan satu pukulan mendarat tepat diwajah Azam yang memang sudah lebam.


Sang manager segera menelepon ambulance dan memberitahukan kepada pemilik hotel yang tak lain adalah teman Alex bahwa sedang terjadi insiden penculikan di hotel miliknya.


Sedangkan Alex sendiri sudah pergi meninggalkan mereka dengan korban yang baru saja ia beri bonus sebuah bogem mentah yang membuat pria itu tak sadarkan diri.


.


.


Di sebuah rumah kayu bertingkat yang terletak dipinggiran kota, Jenita tengah asik memotong buah apel dengan sebuah pisau cuter.


Pikiran dan hati wanita itu dipenuhi dengan dendam. Ia ingin melampiaskan kekecewaannya kepada Bitha dengan membuatnya menderita hingga meregang nyawa.


'Wanita gila'. Batinnya tengah berseru


Yang ia ingat terakhir hanyalah sebuah pisau yang menancap dilengan kanannya karena mencoba melawan wanita gila itu saat ketiga bodyguardnya tengah menghajar Azam yang berusaha menolongnya.


.


.


Alex menghubungi Bagas dalam perjalanannya menuju tempat seseorang yang ia percaya dapat membantunya. Ia memberi tahu Bagas tentang situasinya saat ini hingga harus membatalkan penerbangannya malam nanti.


Tiba disebuah komplek rumah susun yang tampak sedikit kumuh. Alex memarkirkan mobilnya asal dan berlari menuju lantai tiga. Ia memasukkan password pada pintu otomatis dan membukanya dengan kasar, membuat seseorang didalamnya terlonjak dengan sebuah teriakan bak wahana rumah hantu.


"Cepet bantu gue!." Ucapnya tak sabaran.


Setelah menemukan titik lokasi, Alex bergegas meminta seseorang untuk menurunkan satu unit untuknya.


.


.


Sementara itu Bitha tengah berfikir keras bagaimana cara agar ia terlepas dari wanita gila dihadapannya itu.


Tak ada suara manusia yang terdengar selain denting jarum pada jam dinding dan suara jangkrik yang memenuhi pendengaran.


Matanya mengitari seluruh sudut ruangan tempatnya berada. Ia tahu jika diluar pintu itu pasti ada tiga pria yang tadi menyeretnya.


"Kenapa?. Takut?." Jenita tengah menatapnya sendu.


Bitha memindai wajah pucat wanita itu, tergambar dengan jelas guratan kekecewaan dari sorot matanya.


Ia tak tahu dengan pasti apa yang telah diperbuat oleh Azam hingga membuat wanita dihadapannya ini mengalami gangguan mental.


"Apa salah ku sampai kamu berbuat sejauh ini?." Tanya Bitha dengan menyembunyikan rasa takutnya


"Kamu gak akan tahu rasanya di hianati setelah semua yang kamu lakukan bersamanya." Ucapnya sinis.


Dari kata-katanya Bitha bisa menilai jika wanita ini cinta mati dengan si tokek burik.


"Apa yang kamu tahu tentang ku?."


"AAAAAAGGRRH!." Jenita tiba-tiba berteriak sembari memegangi kepala dengan kedua tangannya.


"Cukup!. Aku gak perlu tahu tentang mu. Karena kamu, orang yang aku suka berani mencampakkan ku. Dasar sampah!." Ia mulai hanyut dalam emosinya. Wanita itu mencacah buah apel yang sedari tadi ia genggam.


Bitha merasa ngeri membayangkan jika pisau cuter itu sampai melayang ke arahnya. Cukup ia menahan rasa sakit pada lengannya setelah tertancap pisau sebelumnya.


"Apa kamu pernah bertanya kepadanya tentang hubungan kami?. Apa kamu tahu jika aku termasuk korban dari pria bodoh yang sangat kamu gilai itu?."


Bitha mencoba memancing kesadaran wanita setengah gila itu kembali.


Jenita menatap wajah cantik Bitha yang terlihat sedikit kumal dan lebam di sudut bibirnya.


"Kami berpisah karena dia telah menghamili wanita lain. Dan dia terpaksa harus bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuat."

__ADS_1


"Jika kamu berada di posisiku waktu itu, aku yakin kamu bisa lebih gila dari ku."


"Untuk apa kamu menangisi pria seperti dirinya yang tidak tahu malu?. Masih banyak lelaki diluar sana yang jauh lebih baik darinya."


Bitha mencoba bernegosiasi dengan cara lembut agar tak menyinggung.


"Dia bukanlah pria yang bisa menghargai wanita."


Jenita terlihat mengusap ujung matanya, 'mungkinkah wanita itu menangis?'.


Suara kikikan terdengar jelas dari bibir pucat itu. Jenita beranjak dari kursinya dan berjalan menghampiri Bitha dengan memainkan sebilah pisau cuter ditangannya.


Wanita itu sempat menyentuhkan ujung cuter dan membuat goresan kecil tepat dibawah mata Bitha sebelum terdengar bunyi benturan dari luar kamar tempatnya berada.


Ia menghentikan kegiatannya sejenak untuk melihat apa yang terjadi.


Seketika Jenita ambruk saat sebuah tongkat baseball melayang dan menghantam kepalanya dari balik pintu yang terbuka.


Bitha sempat terkejut, ada buliran bening yang mengalir dari sudut matanya ketika melihat Alex dan dua orang pria bersenjata tengah mengendalikan situasi.


Bitha sempat berfikir jika ia akan mati dengan sia-sia ditangan wanita gila itu.


Saat dirasa sudah tak ada lagi yang perlu dibereskan, Alex segera melepaskan ikatan pada tangan dan kaki Bitha. Sedang kedua pria yang ikut bersamanya tengah mengurus tiga anak buah Jenita yang sudah tidak sadarkan diri di luar.


Posisi Alex yang membelakangi pintu menjadi santapan lezat bagi wanita setengah gila yang tengah berusaha menarik tubuhnya dengan tertatih untuk menghujamkan pisau cuter ditangannya ke punggung pria itu.


Jenita mampu berdiri meski darah terus mengucur dari hidungnya juga sebuah luka lebam dari pukulan Alex yang tepat mengenai pelipisnya. Tubuhnya bergerak membabi buta, wanita itu melayangkan pisaunya tak tentu arah sembari berteriak bak kesetanan.


Bitha yang melihatnya mendekat spontan mendorong Alex hingga pria itu limbung ke arah samping saat berhasil melepas ikatan dikaki Bitha.


Dengan gerak cepat Bitha menarik kursi yang semula ia duduki dan melemparkannya ke arah Jenita sekuat tenaga, membuat wanita itu kembali jatuh dan membentur sudut meja dengan ujung pisau cuter yang menempel disisi lehernya.


AAAAAAAARRGGGHH!


wanita itu menjerit dan tak lama berubah menjadi kekehan yang begitu miris saat Bitha dan Alex akan melangkah keluar pintu.


"Kenapa?, kenapa tidak kalian bunuh saja sekalian !." Jenita terkekeh dengan buliran air mata yang membasahi kedua pipi tirusnya.


Bitha dan Alex menghentikan langkah mereka dan berbalik.


"Kami bukanlah malaikat pencabut nyawa." Ucap Bitha dari ambang pintu


"Tapi aku..." wanita itu tak kuasa menahan rasa perih di hatinya.


Bitha menarik nafas dalam sembari menahan perih pada lengan juga luka dibawah matanya yang sama-masa masih mengeluarkan darah.


"Kamu berhak hidup. Sudahlah, aku tidak akan membawa masalah ini ke jalur hukum. Sebagai gantinya hiduplah dengan baik. Aku tahu kau sedang menyembunyikan sesuatu yang tak akan kau umbar dengan orang lain."


"Tinggalkan dia, cari pria lain dan hiduplah bahagia. Tetapi jika kau masih mau mengejarnya itu masalahmu. ku katakan padamu dari awal jika kami tidak memiliki hubungan apapun, lagi pula sebentar lagi aku akan menikah." Bitha memandang wajah Alex sejenak sebelum melanjutkan ucapannya


"Aku tak ingin suasana hatiku diliputi rasa bersalah karena tak peduli padamu. Jadi sekarang semua terserah, keputusan ada padamu.." Lanjutnya


Mendengar kata menikah, mata pria yang berada disisinya seketika berbinar. Ia tak menyangka jika dibalik musibah ini ada kabar baik baginya.


.


.


Sepanjang perjalanan pulang yang terbilang cukup jauh hingga akhirnya mereka tiba disebuah rumah sakit kecil. Alex tak pernah bosan untuk tersenyum bak ABG yang sedang kasmaran.


Bitha baru saja selesai mendapat perawatan pada luka di pangkal lengannya yang tergolong cukup parah, serta beberapa goresan dengan luka memar dibagian tubuhnya.


"Apa sih kak?." Bitha merasa jengah dengan senyuman pria itu yang menatapnya dengan smile pepcoden


"Gak papa, lagi seneng aja!."


"Dih, gaje!."


Alex tak mendengarkan ocehan Bitha sedikitpun. Ia bahkan tak peduli jika mereka tengah berada di UGD.


.


.


Kini Bitha telah berada diruang perawatan. Ia akan tinggal selama semalam. Hening terjadi diantara keduanya,


"Kak." Bitha menundukan sedikit kepalanya saat memanggil Alex.


"I'am." Alex menatap wanita yang tengah duduk diatas brangkar rumah sakit itu.


"Aku mau." Lirihnya


"Mau apa?. Minum?. Atau makan?." Alex menatap jam dipergelangan tangannya,


"Tapi ini sudah lewat tengah malem, warung-warung sudah pada tutup." Lanjutnya


"Hiss, bukan. Aku gak lapar!."


"Terus?."


"Aku mau, nikah sama kamu." Tatapannya lekat pada mata coklat pria yang sedang duduk di samping brangkar tempatnya berada.


"Oke!." Pria itu lantas berdiri, sepertinya ia masih loading karena bahagia setelah sebelumnya mendengar bahwa gadis itu akan menikah.


"Apa tadi?." Alex Sadar dan kemudian berbalik untuk memastikan pendengarannya.


Dia mencoba memastikan bahwa lamarannya diterima langsung oleh wanita spesial yang sedang bersamanya saat ini.


"Kita nikah!." Bitha menegaskan kalimatnya dengan wajah yang menahan tawa karena melihat Alex pada zero mode.


Wajah cantik yang tampak pucat itu akhirnya terbahak-bahak setelah mengatakan jawaban atas permintaan dari pria yang sedang menari samba untuk merayakan kemenangan dirinya.


.


.


Disebuah rumah sakit khusus penyakit menular. Seorang wanita paruh baya tengah bergandengan tangan dengan suaminya yang terlihat begitu terpukul oleh keadaan.


Tbc...

__ADS_1


__ADS_2