
15.🐌
Bitha dapat merasakan kebebasan yang hakiki ditempatnya bertugas selama sebulan ini. Tak ada lagi pengganggu ataupun acara debat perasaan yang tidak perlu dengan manusia-manusia absurd yang selalu membuatnya pusing.
Namun hal itu tak berlangsung lama, karena waktunya menetap hanya tersisa setengah bulan lagi dan selanjutnya ia harus kembali ketempatnya semula karena mereka telah mendapatkan dokter pengganti yang siap menggantikan posisi Bitha.
Sebab pada dasarnya dokter Berta yang menjadi pengganti sementara kekosongan adalah seorang dokter sepuh yang ingin pensiun. Hanya saja beliau tidak tega menolak permintaan rumah sakit yang mengharapkan dirinya, oleh karenanya ia meminta Bitha untuk mengisinya setelah melihat kinerja wanita itu selama bertugas.
Mereka akan mengembalikan Bitha jika sudah mendapatkan pengganti, karena Bitha sendiri sebenarnya juga sangat dibutuhkan oleh pusat, mengingat jika rumah sakit itu termasuk salah satu rumah sakit rujukan yang paling banyak diminati.
Hari ini bertepatan dengan weekend, Bitha kembali ke rumah kontrakannya untuk turut serta di hari bahagia sang sahabat yang akan segera mengakhiri masa lajangnya.
Hadir di acara lamaran Sarah dan Ibram, dirinya yang memang cantik tampak memukau dengan balutan abaya modern berwarna nude. Bitha mengambil tempat bersama keluarga Sarah yang lain.
"Kak?." Sapa gadis remaja yang terlihat sangat imut dengan potongan kebaya pendek berwarna senada.
"Sezi!."
"Kak Bian mau nerusin pendidikan disini ya?." Tanyanya setengah berbisik.
Dahi Bitha terlihat berkerut, tampak keraguan dalam dirinya untuk menjawab pertanyaan gadis disebelahnya, pasalnya ia juga tidak tahu kemana sang adik lelaki yang super judes itu akan melanjutkan pendidikannya.
"Kakak gak tau dek, kenapa?. Hayo...!." Bitha tersenyum menggoda. Ia sangat paham jika gadis imut disebelahnya ini sangat menyukai pria bernama Bian yang tak lain adalah adiknya sendiri.
"Gak papa sih!. Hehe..." Sezi terlihat merona saat di goda seperti itu oleh Bitha. Sungguh dia termasuk manusia labil yang gampang tersipu.
Tak lama terdengar suara seorang MC membuka acara setelah memastikan keberadaan kedua calon mempelai telah siap pada tempatnya masing-masing.
.
.
Melihat sang sahabat tersenyum malu-malu membuat si dokter cantik sedikit tersentil. Ada perasaan getir jauh di dalam hatinya. Seandainya saja masalalunya dengan Azam tak berakhir perih apakah dia juga akan tersenyum seperti yang Sarah lakukan saat ini?.
■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■
Setengah bulan lagi ia akan kembali ke tempat semula. Bitha tampak sibuk dengan dua buah binder file dihadapannya saat seorang perawat menepuk sebelah pundaknya.
"Dokter!. Dapat salam dari dr. Henry." Cengirnya setengah berbisik.
"Ngaco kamu!. Jangan ngada-ngada deh Na!."
"Ih, siapa yang ngada-ngada coba?. Yee.. orangnya sendiri yang nitip sama saya!." Ucapnya jumawa.
"Ya ampun!." Bitha menepuk keningnya sendiri.
"Terima aja dok!." Perawat bernama Nana itu menggodanya.
"Enggak ah. Aku lagi pengen santai!."
"Lah dokter, terima aja gih!."
"Dih, kok maksa!."
"Ya kan saya jadi seneng dok, punya kakak ipar secantik dokter Bitha!." Ucapnya dengan senyum merekah bak bunga matahari.
"Loh? Jadi dr. Henry itu kakak kamu?." Bitha menggeleng tak percaya dengan ucapan yang keluar dari bibir manis wanita berseragam putih-pink dihadapannya.
"Iya!. Dokter baru tau?."
"Hemh." Bitha menggaruk pelipisnya.
Sudah berbulan-bulan berlalu namun hatinya masih menantikan pria usil yang gemar membuatnya kesal itu. 'Apa ini yang dinamakan rindu?. Merindukan suami orang?. Apa aku gila?.'
Sebuah panggilan dari sang ibu terlihat pada layar ponsel miliknya.
"Iya ma?."
📲kak, minggu depan bisa pulang?
__ADS_1
"Tumben mama nyuruh pulang?." Bitha tersenyum manis menanggapi ucapan mamanya.
📲kangen aja. Kakak gak kangen apa sama kita?
"Iih kangen banget!. Tapi kayaknya belum bisa kalo minggu depan ma!."
📲Sibuk banget ya?
"Iya. Ini aja masih ngisi dicabang. Minggu depan baru balik ke pusat." Ia tersenyum kecut.
📲ya sudah, gak papa. Nantii aja kalo kakak sudah bisa ambil cuti. Papa juga gak bisa kesana, Bian lagi sibuk ngurus kelengkapan sekolahnya buat daftar ulang.
Suara dari seberang telepon kembali menenangkan dirinya yang sedang galau. Rasa rindu kepada sang ibu, juga kepada pria itu kini saling berebut tempat dihati si dokter cantik.
Bitha beralih melihat penanda tanggalan di ponsel setelah mengakhiri panggilang telepon ibunya. Ia mulai menghitung mundur hari - hari berisikan agenda kegiatan selama tiga bulan kedepan.
Salah satunya ia beri tanda bunga tepat hari dimana Sarah akan menggelar akad dan resepsi.
Bitha mendengus pelan, ia bingung kenapa perasaanya semakin tak jelas seperti ini. Kembali pada aktivitasnya awal. Meski jenuh tak jarang singgah, ia tetap menyelesaikan pekerjaannya dengan rapi.
.
.
.
Genap sudah ia berada di cabang, kini waktunya kembali. Ada sedikit rasa enggan mengingat jika harus bertemu dengan manusia-manusia absurd yang selalu nyempil tidak pada tempatnya.
Bitha mengendarai hatchback miliknya menuju pusat. Ia akan melapor terlebih dahulu sebelum akhirnya pulang kerumah. Dan itu menjadi hal yang paling tidak ingin ia lalukan karena,
"Dokter Bithaaa!." Seru tiga orang wanita yang selalu menemaninya praktek.
"Heii!." Bitha melambaikan tangannya
"Dokter lama banget!. Kita kan pada kangen!."
"Emang!." Kalista si bohai nampak tersenyum lebar.
"Dokter!. Tau gak? Gosip terbaru!!!." Seseorang diantara mereka berbisik namun dapat terdengar hingga jarak lima meter.
Yah, begitulah mereka. Menjadikan Bitha sebagai tambatan gosip panas perpekannya meski hanya melalui grup chat. Dan hal itu pula yang membuat Bitha mengetahui hal-hal apa saja yang tidak ia ketahui mengenai keadaan di rumah sakit salama dirinya tidak ada. Termasuk kabar si masalalu yang selalu menjadi trending setiap minggunya.
.
.
.
Meninggalkan ketiga pengikutnya, Bitha melangkah kedalam elevator menekan nomor lantai dimana ruangan atasanya berada.
Lift yang digunakan Bitha memanglah khusus pengunjung dan hal itu pula yang membuatnya bertemu kembali dengan wanita hamil yang pernah ia lihat bersama Alex. Ah, menyebut namanya saja bisa menimbulkan rasa perih di sudut hatinya.
Sebegitu jahatkah dia karena telah menyukai suami dari wanita hamil yang tengah berdiri disebelahnya kini. Sungguh malang nasib percintaannya, dalam pandangannya!.
.
.
Tak butuh waktu lama untuk menemui atasannya karena sejatinya ia masih dalam masa rehat sementara. Saat ini Bitha tengah duduk berdua dengan Sarah di resto vegetarian yang letaknya dekat dengan kantor wanita itu guna menunaikan makan siang bersama.
"Jadi gimana - gimana!?." Sarah terlihat antusias dengan cerita sang dokter cantik selama masa relaksasinya disana. Eh?
"Apaan?." Bitha mengerutkan dahinya
"Ya ceritain kek apa-apa gitu!. Kali aja ada yang nembak kamu atau mau datang ngelamar gitu. Biar entar sekalian resepsi kita!." Cengirnya
"Ngawur!. Enggak ah!. Satu pelaminan sama kalian itu bukan khidmat yang didapet, yang ada entar malah jadi panggung orasi!."
Sarah terkekeh mendengar ocehan Bitha yang tampak sewot dengan perkataanya barusan. Mengingat bagaimana jika sang kekasih bertemu sahabat sejatinya bak tom - jerry.
__ADS_1
"Bith!. Kak Alex ada hubungin kamu gak?."
Bitha hanya mendengus pelan.
"Ngapain sih ngomongin orang itu lagi?." Eluhnya di muka, berbanding terbalik dengan hatinya.
"Nanya doang Bith!. Elaaahh,,,lagak lu sok nolak! Padahal ngarep!." Goda sarah.
"His!." Ia melemparkan tissu bekas kepada seorang CS perbankan itu dengan wajah blurnya.
Sarah selalu senang menggodanya, terlebih dirinya yang baru saja mengetahui dari Ibram jika sang kekasih ternyata berteman lama dengan pria sejuta pesona itu setelah mendapati ruang chat pribadinya dengan si tampan mantan kakak kelasnya dulu.
Betapa bahagianya Sarah setelah mengetahui hal tak terduga seperti itu. Benar-benar suatu keberuntungan yang sangat kebetulan dan ia tak akan memberitahukan hal itu kepada mahluk cantik yang masih enggan mengakui perasaanya itu.
Bitha mengaduk jus stroberi yang terlihat sangat menyegarkan dihadapannya dengan wajah lesu. Ingatannya kembali berputar pada pertemuannya dengan Alex saat ditoko buku.
'Benarkah pria itu adalah seorang suami dan ayah?.'
'Tidak kah diriku terlihat seperti pelakor?.'
Ia mendengus pelan. Sarah yang menangkap gelagat tak jelas itupun kembali bertanya kepadanya.
"Kenapa sih Bith?." Balik - balik bukannya seneng malah tambah parah aja kusutnya!." Sarkasnya
"Sar.... ucapnya terjeda
"Apa? Galauin apaan sih?!."
"Seandainya aku suka sama pria beristri gimana?." Ucapnya ragu
"Apa? , apa !. Gak denger, kurang jelas, coba ulangi!." Sarah seperti mendengar sesuatu yang bisa membuat jantungnya terjun bebas.
"Kalo aku suka sama cowo yang udah nikah gimana?." Tanyanya
"Ha? Seriusan kamu Bith?. Kamu gak lagi tidurkan?. Atau jangan-jangan kamu abis kejedot pintu lift?." Sarah memicingkan matanya tak percaya
"Ih, kamu ni!."
"Beneran Bitha!. Aku gak habis pikir gitu. Bisa-bisanya seorang Tsabitha Mahliga suka sama .....
"Ssssstttt... udah ah, jangan di bahas!." Cepat-cepat ia membungkam mulut pedas level 10 bon cabe milik Sarah yang bisa saja menjadi tontonan orang-orang disekitar mereka.
Disaat yang sama matanya menangkap keberadaan wanita yang sama saat di lift sedang bersama seorang pria memasuki private room, namun bukan Alex.
'Ha? Apa aku salah lihat? Wanita hamil tadi?' Batinnya bertanya-tanya, pasalnya ia melihat wanita itu terlihat sangat mesra dengan pria bertubuh tinggi tadi.
'astagfirullah, ya ampun!'. gumamnya
Pusing dengan pikirannya sendiri, akhirnya Bitha memilih untuk tak terjerumus dengan perasaannya terlalu jauh. Ia mencoba untuk melupakan dan menghapus nama Alex dari dalam hatinya.
■■■■■■■■■♤♤♤♤♤♤♤♤♤■■■■■■■■
Pagi itu terlihat dengan jelas tetesan air hujan mengalir pada dinding kaca rumah sakit. Bitha tengah disibukkan dengan kelahiran seorang bayi perempuan melalui operasi cesar yang sangat mendadak karena sang ibu baru saja mengalami pendarahan akibat benturan dari sebuah kecelakaan tunggal yang menyebabkan dirinya dan sang suami tak sadarkan diri.
Selesai dengan tugasnya, Bitha berjalan menyusuri lorong menuju sebuah nurse station. Dimana dirinya bisa meminjam kursi untuk duduk sejenak. Namun ponsel miliknya membuatnya mengurungkan niatnya semula.
Bitha kembali berjalan menuju tangga darurat setelah melihat nomor yang tertera pada monitor di atas dua pintu elevator pengunjung menunjukan lantai yang jauh diatas dan masih sangat lama untuk kembali turun. Sedangkan lantai yang akan ia tuju hanya satu lantai dibawah tempatnya berada.
Alangkah terkejutnya Bitha saat menuruni lima anak tangga dan mendapati hal berbau 18+ itu nyata terjadi didepan matanya.
Ia mendapati si masalalu tengah bercumbu dengan si masalah, wanita yang pernah melabraknya saat di lift beberapa waktu lalu, jenita.
Bitha kembali memutar langkahnya menaiki anak tangga. 'Jijik!' Itu yang ada di otaknya saat ini.
Bagaimana bisa dua orang dewasa dan berpendidikan itu melakukan hal 18+ ditempat kerja, terlebih itu disebuah tangga darurat. 'Apakah hal itu juga termasuk darurat?'. Bitha menggelengkan kepalanya.
Sampai pada pintu besi bercat merah tangan Bitha ditarik dengan kuat, seseorang mendorong tubuhnya merapat pada dinding dibalik pintu berwarna merah hingga kepalanya membentur sudut boks apar yang menempel pada tembok beton itu.
Tbc.
__ADS_1