
27.🐌
Malam berganti siang dan hanya menyisakan cerita untuk dikenang.
Pagi tadi Bitha telah menjalani persalinan secara pervaginam. HPL Alex junior ternyata maju seminggu dari yang diperkirakan. Dan hal itu sempat membuat sang suami bingung dengan sendirinya karena Bitha tak menunjukan tanda - tanda seperti akan melahirkan sebelum akhirnya wanita itu memintanya untuk mengantarkan dirinya kerumah sakit dengan segera kala langit masih begitu gelap.
Pukul tiga dini hari Alex menggedor pintu kamar sang adik ipar untuk membantunya membawa mobil. Segala keperluan sudah dimasukkan Bian kedalam bagasi sedangkan dirinya akan menemani sang istri dibelakang.
Kedua pria itu dibuat bingung oleh satu perempuan yang sama. Pasalnya dirumah sama sekali tidak ada orang lagi selain mereka bertiga dan satu orang yang ditugaskan untuk menjaga gerbang. Semua asisten rumah tangga hanya tiba diwaktu pagi dan pulang jam delapan malam hari.
Jam sudah menunjukan pukul 11.15 siang. Bian dalam perjalanan untuk menjemput kedua orang tuanya yang baru saja tiba di bandara. Ya, sesuai janji Alex yang akan mendatangkan mertuanya selama masa pemulihan Bitha seusai persalinannya. Karena tidak mungkin jika harus sang mama yang tak lain adalah mertua Bitha yang harus menemaninya, mengingat sang ibu yang selalu sibuk dengan urusan domestiknya.
.
.
.
Siang itu juga Bian membawa kedua orang tuanya bertandang kerumah sakit.
Mata Bitha berbinar cerah kala melihat sang mama yang muncul di ambang pintu bersama dua orang pria yang mengekor dibelakangnya.
"Kakak yang kasih tahu mama?."
"Iya sayang, tadi subuh Bian telepon mama buat ngabarin nomor penerbangan pagi tadi." Sang ibu tersenyum sembari memeluk dirinya yang masih terlihat sedikit lemas.
"Terus cucu mama mana?." Lanjutnya
"Kita tunggu aja, sebentar lagi dibawa kesini." Ucap Alex yang baru saja menutup pintu kamar inap Bitha.
Siang itu juga Sarah bersama Ibram dan anak mereka muncul secara tak terduga. Padahal ia dan Alex sama - sama belum mengabarkan kepada mereka.
"Aaahhh,,,tante!. Sudah nyampe duluan ternyata."
"Loh? Kamu kok bisa tahu kalo aku lahiran Sar?." Tanya Bitha dengan wajah cengo.
"Ya tau lah, kan dari mama kamu!. Emang dasar lu temen gak tau diri!."
Ah, sungguh moment tak terduga. Kelahirannya yang begitu mendadak membuat Alex setengah tak percaya menatap bayi mungil berjenis kelamin laki-laki dihadapannya dengan perasaan takjub dan juga bahagia.
Sarah dan Ibram menilik wajah mungil kemerahan yang terlelap dalam box disamping Bitha.
"Wah, parah sih ini!." Ucap ibram
"Paan sih yank?." Tanya Sarah saat melihat sang suami menggeleng pelan setelah menengok wajah mungil itu.
"Alex banget!." Ucapnya setengah malas
"Jelas lah, kan bibit gue!. Yang gantengnya gak ketulungan!."
"Kok Gue pengen Boker ya denger omongan lu!." Ibram memutar bola matanya jengah.
Sarah, Bitha dan kedua orang tuanya tertawa dalam senyap. Karena khawatir suara mereka akan membangunkan si mungil. Sedangkan Bara, batita itu tengah asik bermain didalam stroller dengan empeng yang senantiasa menempel dimulut kecilnya.
.
.
.
.
.
Tepat seminggu setelah kelahiran Alex junior. Dari luar, rumah besar dengan nuansa hijau itu tampak sedikit berbeda, ada sebuah tenda besar yang berdiri menaungi halaman didepannya.
Alex dan Bitha tengah menggelar acara syukuran atas kelahiran anak pertama mereka yang diberi nama Zhian Alexander A.
Acara itu berlangsung sangat meriah, karena mereka juga mengadakan lomba kecil-kecilan untuk para tamu undangan yang membawa anak-anak mereka. Tak hanya kerabat dan kolega bisnis yang hadir, ada juga para karyawan yang turut meramaikan jalannya acara.
.
.
Pesta telah usai dan hanya menyisakan beberapa orang saja seperti kerabat dekat keduanya.
Diantara para tamu yang tersisa ada seseorang yang terlihat sedikit mencolok, karena mampu mengalihkan tatapan orang-orang untuk sekedar melirik penampilannya.
Look seorang wanita dengan dengan tubuh semampai. Berjalan layaknya model dengan balutan jeans berwarna soft grey, sebuah blouse, rambut panjang berwarna coklat ke emasan dengan ujung yang sedikit curly serta make up flawless yang membuat wajah setengah bule itu makin terlihat feminim, hanya saja sedikit tonjolan dibagian lehernya masih samar terlihat karena ia sengaja tak menutupnya.
Ya, Dia Zoe yang selalu datang diakhir acara. Wanita cantik yang sungguh diluar dugaan bahwa sebenarnya adalah seorang pria. Penampilannya kerap kali menipu banyak orang jika hanya menatapnya sekilas.
Bagas melihat pria setengah wanita itu berjalan mendekatinya dengan sebuah paperbag disebelah tangannya.
Alex dan Ibram terkekeh melihat gelagat aneh Bagas karena mereka sudah bisa menebak jika waria jadi-jadian itu pasti akan menempel pada Bagas untuk mengelabui banyak mata dan asisten geblek Alex itu sudah pasti akan mencak-mencak karena hal itu akan menjauhkannya dari pusat perhatian the real Hawa.
"Hei!." Sapa Zoe ramah kepada tiga orang pria yang tengah duduk santai sembari menikmati segelas minuman dingin.
__ADS_1
Jangan bayangkan jika suara Zoe dingin seperti Alex ataupun berat seperti Ibram, maupun ngegas seperti Bagas. Suara Zoe itu lembut seperti penyayi Shane Filan. Sangat cocok dengan wajah setengah bulenya.
"Apa kabar kalian?." Senyumnya merekah saat melihat Bitha dengan bayi kecilnya berjalan menghampiri mereka.
"Gak usah SKSD dah lu!. Noh bu bos bingung ngartiin bentukan lu dari tadi!." Ucap bagas ketus lantaran Zoe masih melingkarkan tangannya erat pada lengannya. Padahal tinggi mereka saja sama, sangat tidak cocok karena mereka terlihat seperti anak kembar yang akan menyebrang jalan.
"Gue cium sekalian nih kalo gak bisa diem!." Ancamnya dengan senyum manis Zoe yang terpatri di wajah tampan berbalut makeup wanitanya.
"Lepasin makanya!. Jijik gue, entar dikira maho ama elu kutil!."
"Maaf ya cantik, asisten suami kamu emang sukanya kurang ajar!." Ucapnya manis menatap Bitha yang tengah menahan tawa karena tingkah konyol keduanya.
Tak lama Sarah menyusul mereka dengan Bara yang berada dalam gendongannya. Tiba disebelah Ibram ia menyenggol lengan sang suami yang tengah mengutak-atik ponsel ditangannya hingga membuat pria itu menoleh.
Sarah mengkode dengan matanya melirik kedua manusia ganjil yang tengah berdebat itu.
"Siapa?." Bisiknya pada Ibram
"Pacarnya Bagas." Jawabnya santai tanpa memelankan suaranya.
"APA?. Pacar?, bukan ya, sory!! Gue masih suka ama kue lapis!. Bukan cakwe kaya dia!." Ucapnya ngegas sembari menunjuk Zoe yang berdiri disebelahnya.
"Mulut elu monyet! Dari tadi ngeGas mulu santai aja napa!?." Zoe membalas nyinyiran bagas sembari meremat mulut pria itu yang masih manyun.
"Bueekkk!! Tangan lu pegang-pegang!, najis sialan!." Bagas mengusap bibirnya sendiri berulang kali.
"Kalian berdua bisa diem gak sih!?. Ni acara anak gue kenapa kalian yang ribut!. Noh kelantai tiga aja, duel sekalian biar puas!." Alex mengumpat kesal dengan kedua pria aneh dihadapannya.
.
.
.
Pesta benar-benar telah usai. Semua perlengkapan telah rampung dibersihkan. Kini ketiga pria dewasa itu tengah bersantai dilantai tiga tanpa Ibram karena pria itu lebih dulu pamit. Mereka bersantai di rooftop dimana terdapat taman yang ditata begitu apik dan terasa begitu nyaman.
"Gimana?." Tanya Alex kepada Zoe
Pria itu hanya menggeleng pelan.
"Gue belum bisa fokus kesana, ada sesuatu yang perlu gue selesaiin lebih dulu dari masalah itu." Ucapnya perlahan.
Ketiganya terdiam selama beberapa saat. Pandangan mereka tertuju pada ponsel masing-masing hingga suara gaduh terdengar mendekat kearah mereka dengan cepat.
"Aaaaahhh!." Jeritan seorang perempuan yang teramat melengking menyapa pendengaran ketiganya.
Sezi berlari tergesah karena menghindari kejaran Bian. Langkahnya tiba-tiba berhenti saat melihat keberadaan tiga pria yang tengah menatapnya dengan bingung.
Hingga kemunculan Bian dengan alat pel ditangannya membuat pria - pria itu menggeleng sembari memijit pangkal hidung mereka karena pusing melihat kelakuan duo labil itu kecuali Zoe pastinya. Karena pria itu baru melihat Sezi, si seksi yang selalu mengumbar aurat kemana-mana.
"Siapa?." Tanyanya setelah gadis itu menghilang bersamaan dengan datangnya Bian yang kembali menariknya kedalam rumah dan menyuruhnya untuk membersihkan ceceran jus dilantai kamarnya.
"Kembarannya Sarah!." Ucap Bagas.
"Sarah? Ibram?."
"Iya. Emang Sarah ada berapa?."
"Gue mastiin doang!."
Bagas mendengus pelan.
"Seksi." Gumam Zoe
"Lu suka?." Tanya Alex dengan sebuah lirikan.
"Gue gak suka cewek seksi." Jujurnya
"Yang ada juga cewek geli kali lihat bentukan lu kaya gitu!." Ketus Bagas.
"Mulut lu nyet ati - ati!. Naksir gue awas lu!." Ancamnya.
"Bangk*!." Umpat Bagas kesal.
Ya, harus mereka akui jika dandanan Zoe memang benar-benar menyerupai seorang wanita. Dan itu memang sangat menipu apalagi dengan wajah setengah bulenya yang memberi nilai plus pada penampilannya, hanya saja tingginya yang kurang normal untuk ukuran wanita pada umumnya dan juga jakun tipis yang memang tak ia tutupi.
.
.
.
Sepeninggalan Bagas dan Zoe, Alex masih berada di rooftop sembari menikmati senja yang hampir menghilang.
"Kak?." Panggil Bitha yang tengah berjalan menghampirinya.
"Kamu ngapain?. Jangan naik turun tangga keseringan, luka mu belum sembuh betul sayang!." Ucapnya gemas sembari memeluk mesra sang istri.
__ADS_1
"Pengen me time tapi sama kamu!." Bitha mengecup mesra mata Alex yang tengah terpejam memeluknya.
"Jangan mancing ya!." Ucapnya penuh penekanan.
"Eh, iya. Lupa kalo ada yang mesti puasa!." Bitha terkikik geli mengingat betapa tersiksanya sang suami karena dirinya yang masih dalam masa nifas.
Alex mendengus kasar. Selalu saja dia menjadi korban.
.
.
.
.
.
.
Pagi yang begitu cerah, diiringi gemercik suara air yang berasal dari kolam ikan koi milik Alex, Bitha menimang Zhian yang baru saja terlelap dalam pelukannya.
Hari ini Zian genap berusia tiga bulan, bayi gembul itu menjadi terlihat begitu menggemaskan.
Alex terlihat santai setelah menyelesaikan pekerjaannya limabelas menit lalu melalui PC miliknya. Pria itu menghampiri sang istri untuk mengecup kedua orang tersayangnya yang begitu ia jaga.
"Keatas yuk?." Ajaknya pada Bitha.
"Mau ngapain?."
"Nyantai aja, kan diatas gak ada orang." Ucapnya sembari melirik Bian yang tengah serius duduk di pojok kolam dengan memangku laptopnya.
Bitha seakan mengerti jika suaminya ingin menikmati waktu dengannya. Keduanya pun beranjak dari tempat mereka ke dalam rumah untuk kemudian berlalu menuju lantai tiga yang di khususkan sebagai tempat bersantai.
.
.
.
Keduanya duduk saling bersandar disebuah sofa malas. Menikmati waktu berdua adalah hal yang paling menyenangkan selain mengurus baby Zhian.
"Aku bersyukur banget bisa sampai dititik ini, bersama mu dan memiliki Zhian."
"Sebelumnya aku gak pernah berfikir untuk berumah tangga sampai akhirnya kita dipertemukan untuk pertama kalinya waktu kejadian kang Galon yang buat kamu trauma." Alex terkekeh saat mengingat masalalunya menanti cinta wanita dalam peluknya itu.
Pria itu mengecup lembut kepala berbalut kerudung yang dikenakan sang istri.
Bitha memeluk erat perut Alex,
"Sama, aku juga gak nyangka kalo jodohku ternyata kang galon itu." Bitha memejamkan matanya saat merasakan kenyamanan dari belaian lembut tangan Alex dipunggungnya.
Alex melirik kebawah, dimana wajah cantik Bitha bersandar di sebelah dada bidangnya. Wanita itu sudah terlelap dipagi hari lantaran berkurangnya jam tidur yang ia butuhkan selama mengurus si kecil Zhian.
Alex kembali mengecup keningnya,
"Terimakasih untuk semuanya. Semua yang telah kau berikan untuk ku."
"I Love You bu dokter."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
THE END
🍁
Maaf untuk ketidaknyamanan dengan jalan cerita yang saya buat.
Sekian dan Terimakasih.
__ADS_1