Bu Dokter! Love Me Please!

Bu Dokter! Love Me Please!
22. Akad


__ADS_3

22.๐ŸŒ


"Maaf, kalau bisa secepatnya saja. Saya tidak bisa membiarkan hal baik terlalu lama menunggu, apalagi harus mengulur waktu hanya untuk sesuatu yang tidak penting." Jawaban Alex saat ditanya kapan Ia sanggup untuk menggelar acara oleh sang Ibu.


Pagi ini Alex memutuskan pergi menemui kedua orang tua sang calon istri untuk meminta izin serta restu secara pribadi setelah sebelumnya berpamitan kepada Bitha dan menawarkan kepada wanita itu jika ingin ikut bersamanya.


"Kamu beneran mau ke rumah?." Tanya Bitha memastikan


"Apa wajahku terlihat jika sedang berbohong?."


Bitha mendengus kesal setelah mendengar jawaban yang berupa pertanyaan.


.


.


Ia mengantarkan Alex ke sebuah stasiun kereta sesuai permintaan pria itu. Tak berselang lama mereka tiba diparkiran pengunjung stasiun.


"Kenapa naik kereta?."


"Biar bisa cuci mata sebelum ngesahin kamu." Ucapnya asal dengan sebuah kedipan mata.


Mata wanita cantik itu seketika membola dan langsung meraih botol hand sanitizer di atas dashboard.


"Sini aku bantu biar makin jernih!." Balasnya dengan senyum mengembang.


"Wuiih, serem!."


"Aku baik hati loh kak, mau bantuin kamu biar gak kabur kalo ngeliat yang bening-bening!." Ucapnya dengan sumringah.


"Kamu sadar gak sih, kalo lagi cemburu gitu bikin aku makin gemes!. Cium dikit boleh?."


Alex memajukan kepalanya kearah Bitha dan langsung mendapat cubitan di dada yang membuat pria itu mengaduh kesakitan lantaran Bitha memutarnya tepat pada p*ting miliknya.


"AAAWWW...SAKIIT!!!."


Alex mengusap dadanya yang masih terasa panas akibat kecemburuan sang calon istri.


"Balas boleh gak?. Biar impas. Punyaku sakit banget ini!." Ucapnya dengan memelas.


"Enggak!."


"Ih, pinter deh sayangku!." Alex terkekeh saat melihat reaksi Bitha yang dengan sigap menyilangkan tangannya didepan dada guna melindungi aset berharga miliknya dari sang predator.


.


.


Kedua manusia berbeda jenis itu akhirnya keluar dari dalam mobil.


Alex melambaikan tangannya kepada Bitha dan berpesan untuk lebih berhati-hati.


Bitha memandangi punggung lebar Alex yang kini berjalan meninggalkannya.


Ingin sekali ia ikut bersama pria itu, tapi sayang tugas yang ia miliki tidak bisa semena-mena untuk ditinggalkan seperti masalalunya.


Aah, berbicara masalalu mengingatkan Bitha tentang permintaan konyol pria yang ingin bertemu dengan dirinya. Rasanya sungguh malas jika mengingat kelakuan manusia satu itu.


Bitha mengendarai mobilnya dan berhenti disebuah toko perlengkapan bayi. Ia mengingat Sarah, sahabatnya yang kini tengah hamil dan sebentar lagi akan launching.


Saat langkahnya menyusuri deretan box bayi yang terlihat lucu tetiba seseorang menepuk lengannya dan memanggilnya dengan sebutan,


"Kakak ipar?."


Bitha menatap tak percaya jika ia akan bertemu dengan adik dari pria yang sebentar lagi akan menikahinya.


"Ah, iya. Emh, " Bitha sedang mengingat nama wanita hamil dihadapannya,


"Rumi!." Wanita itu terlebih dulu menjawabnya


"Kakak mau beli box juga?."


"Ha? E...nggak!. enggak!." Elaknya sembari mengibas kedua tangannya.


"ini ada ...


"Mom?."


Belum sempat Bitha menyelesaikan kalimatnya, dari arah belakang terdengar suara wanita yang ternyata adalah calon ibu mertuanya tengah menggandeng kedua anak Rumi.


*oh nooooo* hati Bitha ingin sekali menjerit.


"Sayang, kamu disini?."


"Ma, kakak mau beli persiapan juga kayaknya!."


"What???." Kedua wanita beda usia itu sama-sama terkejut dengan ucapan frontal Rumi.


"Herland yang suruh kamu?. Udah diapain aja kamu sama anak sialan itu?. Jujur aja sama mama, biar mama yang kasih dia pelajaran!." Ucapnya menggebu-gebu.


"Belum aja SAH udah berani icip-icip, minta di libas bener tu anak!." Lanjutnya tanpa mau mengecilkan volume suaranya yang terdengar memenuhi se isi toko.


"Udah ma, udah. Aku gak diapa-apain kok. Segel masih aman terjaga!." Ucapnya berusaha menenangkan wanita tua yang tengah tersulut emosi itu.


"Bener?!. Hhh, sukur kalo gitu!." Desahnya


.


.


.


Resto vegetrian milik suami dari calon adik ipar yang berada dekat dengan tempatnya bekerja. Disinilah para wanita itu sekarang berada, tak lain untuk mengisi perut mereka yang kosong karena jam sudah menunjukan pukul 11.40 siang setelah sebelumnya sang mertua memborong hampir seperempat isi toko hanya untuk cucu barunya yang akan launching bulan depan.


Wanita paruh baya itu juga membelikan hadiah untuk calon anak Sarah, membuat Bitha hanya menatap seperti sapi ompong dengan barang-barang yang dipilih oleh calon mertuanya untuk kado karena nominalnya yang jika dihitung lebih dari duabelas juta. Dan itu bisa untuk membayar uang kontrakannya setengah tahun lebih dua bulan.


Kapan-kapan ia akan merogoh kocek begitu dalam hanya untuk sebuah kado?. Wah, sungguh tak disangka jika calon mertuanya akan seroyal itu hanya karena Sarah adalah sahabatnya.


Ketiga wanita beda generasi itu menempati private room demi kenyamanan bersama, tepatnya kenyamanan untuk bergosip ria.


"Anak - anak sama nany ya, momy duduk temani indai sama nenek dulu, ok boys?!" Ujar Rumi pada kedua anaknya.


"Yes momy!." Ucap keduanya


.


.


.


"Gimana, ada yang mau kamu omongin gak ke mama untuk persiapan acara kalian?!. Nambah gaun mungkin, atau makanan, atau yang lain gitu?!." Sang calon mertua terlihat begitu antusias ketimbang calon pengantinnya sendiri.


"Udah ma, aku ikut yang simpel aja. Gak perlu ganti baju terlalu banyak, cukup dua aja. Yang penting ketemu sama tamunya." Ucap Bitha sembari mengaduk segelas jus stroberi favoritnya.


"Iih, gak salah ternyata Apai ngejar Kakak!." Rumi mengacungkan jempolnya tanda setuju.


"Maksud kamu?." Alis Bitha tampak menyatu.


"Dari bujang dia jomblo, sampe hampir karatan demi mengejar cinta perempuan yang pernah dia tolong waktu nganterin air galon!." Rumi tergelak setelah mengingat cerita yang ia dapat dari sang asisten


Sang mama hanya menggelengkan kepalanya berkali-kali.

__ADS_1


"Mama itu awalnya gak pernah mau ikut campur masalah cinta-cintaan kalian. Tapi semua berubah sejak Apai lapuk itu gak nunjukin tanda-tanda ketertarikan sama perempuan." Ucapnya sembari menyesap secangkir teh hijau dihadapannya.


"Mama pernah kenalkan dia sama anak dari kawan lama papa, eh si perempuan itu bilang ke mamanya gini, 'ganteng sih! Tapi kaya gak normal gitu!.' What?. Mama gak terima donk!. Apa dia pikir jagoan mama hombreng?!." Si mama mengibaskan sisi rambutnya yang tersanggul bak ibu pejabat.


Rumi terbahak-bahak dibuatnya, sedangkan Bitha menutup wajahnya menahan tawa. Bagaimana bisa ada yang mengira jika Alex belok, jelas-jelas terlihat sekali wajah jahil nan mesumnya saat tengah bersama Bitha. Atau mungkin dia hanya menunjukannya kepada Bitha seorang?.


.


.


.


Ini adalah hari libur di minggu terakhir selagi statusnya masih jomblo. Bitha mencoba menikmati waktunya yang tersisa, sebab weekend bulan depan sudah dipastikan ia akan menyandang status sebagai istri orang.


Sebuah notifikasi chat muncul dilayar ponselnya dengan nama 'DIA'.


Alex mengirimkan sebuah foto dimana terdapat hamparan pot yang terbuat dari karung dengan pohon stroberi diatasnya yang terlihat begitu memanjakan mata dengan buah-buah nya yang menggantung dan sudah mulai memerah.


๐Ÿ“ฉ'Untukmu dari pria paling tampan'. Tulisnya pada kolom chat.


Bitha yang sedang loading pun membalasnya dengan sebuah pertanyaan,


๐Ÿ“จ'Kakak belikan aku stroberi? Gak usah gih, entar busuk loh sampe tempat!, kan sayang.'


Chat itu berubah menjadi sebuah panggilan dari Alex.


"Halo?."


Suara decak kekesalan terdengar begitu jelas dari sebrang sana.


๐Ÿ“ฒsiapa juga yang mau repot-repot bawain kamu stroberi, kalo disana juga bisa beli?!."


"Lah terus itu tadi maksudnya apa?."


๐Ÿ“ฒaku membelikanmu kebun stroberi sayang!." Ucapnya sembari tertawa


"Kebun?. Kamu beli........APA????."


Bitha tersentak dari loadingnya.


Dokter cantik itu dibuatnya menganga setelah mencerna ucapan Alex yang membelikannya Ladang Stroberi di sebuah daerah berhawa sejuk.


๐Ÿ“ฒjangan tolak hadiah dari ku!."


Suara diseberang telepon membuatnya tak kuasa untuk menahan derasnya anak sungai yang mengalir dari mata indah miliknya.


"Terimakasih." Ucapnya sembari terisak.


๐Ÿ“ฒgak cukup kalo cuma kata doank!." Pria itu terkekeh


"Terus aku harus gimana?." Tanyanya polos karena masih diliputi rasa haru.


๐Ÿ“ฒdisini dingin."


Alex mengirimkan foto dirinya yang hanya mengenakan kaos tanpa lengan lengkap dengan kolor dan sandal jepitnya.


"Ya kamu pake baju kaya gitu gimana gak dingin!."


Ternyata wanita itu memang lambat jika dipancing dengan hal - hal berbau penjajahan.


๐Ÿ“ฒCCKKK..." Alex kembali berdecak.


"Apasih?." Bitha semakin bingung dengan decakan malas yang terdengar lirih.


๐Ÿ“ฒAku maunya dikelonin!." Tembaknya


"KAK!!!."


"Hish!. Gila!." Bitha mendesis dan tersenyum simpul setelahnya.


๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ


Hari yang dinanti akhirnya tiba. Alex tengah bersiap menuju venue. Tubuh tingginya terlihat begitu gagah dengan balutan kemeja koko khas melayu berwarna maroon emas lengkap dengan tapih yang melingkar apik menutup pinggang hingga sebatas lutut.


Pria itu berjalan dengan langkah panjangnya menghampiri meja dimana sang penghulu beserta saksi duduk berdampingan.


Jantungnya berdegub kecang bak maraton. Oh sungguh!, ini benar-benar moment yang sangat mendebarkan dalam hidupnya.


Kasak-kasuk para gadis dibelakang tak mampu mengalihkan rasa nervous saat berhadapan dengan sang calon mertua yang akan menikahkan dirinya dengan sang putri secara langsung.


Kehening yang tercipta saat ia menduduki kursi panas kini terasa lebih menyiksa tatkala suara ijab tengah diucapkan oleh ayah dari wanita yang akan ia halalkan mengisi area venue.


Sesak di dada yang Bitha rasakan melihat live stream saat mendengar kata-kata menyentuh dari sang ayah ketika menyerahkan dirinya kepada pria yang telah membuatnya jatuh hati.


Pria itu menjabat tangan sang ayah dengan mantap.


Mata Bitha mulai berkaca-kaca saat Alex menyebut namanya dalam akad.


"Bith, udah!. luntur entar." Sarah menggodanya.


"Enak aja, udah sewa MUA mahal kok. Masa bisa luntur!." Ucapnya tak terima sembari menempelkan tisu dibagian bawah matanya yang berair.


Tak berselang lama kedua wanita paruh baya menyambutnya untuk keluar menuju venue. Sang mama dan juga ibu Alex terlihat begitu bahagia menuntun mempelai wanita dengan gown pengantin berbentuk abaya berwarna senada dengan yang Alex kenakan. Terlihat simpel tapi tetap memperlihatkan kesan mewahnya.


Semua mata tertuju pada wajah cantik Bitha kala langkahnya memasuki venue, tak ada kata 'biasa aja' untuk mengungkapkan aura yang dimiliki sang dokter.


Alex yang duduk membelakangi pun tak kuasa untuk bertahan agar tak menoleh, walhasil ia malah berdiri dan menghampiri sang pengantin, mengambil alih tangan Bitha dari sang mama untuk ganti ia genggam dan menggiringnya menuju meja akad dimana petugas KUA menunggu mereka untuk menyempurnakan buku sakral sebagai tanda bahwa pernikahan mereka terdaftar secara sah.


.


.


Suasana resepsi pernikahan Bitha dan Alex sangat lekat dengan rona kekeluargaan, bukan pesta yang mengusung unsur western dengan gaya prince and princessnya. Melainkan unsur melayu yang lebih kental dengan gaya kalemnya.


Alex dan Bitha tampak sibuk dengan tamu-tamu mereka yang hadir dalam resepsi.


Jangan lupakan Bagas yang pastinya juga ada disana. Pria itu dengan gaya khasnya yang super rapi mampu membuat bisik-bisik sebagian tamu perempuan.


Namun pesonanya tertutupi saat seorang wanita tepatnya seorang pria yang berdandan menyerupai seorang wanita dan terlihat begitu cantik jika saja jakunnya tidak terlihat malah menautkan lengannya ke lengan Bagas dan membuat Bagas auto shock atas tindakannya.


Sekilas terlihat seperti seorang model karena tinggi tubuhnya yang setara dengan Bagas.


Waria itu mengedip manja kepadanya,


"Zoe?." Ucapnya tak percaya.


Disudut venue ada pula remaja labil yang terus menempel pada seorang pria berwajah jutek yang tak lain adalah Sezi dan Bian.


Ya, Sezi sangat senang menggoda tetangganya yang sangat pelit bicara itu. Si centil yang tampak begitu seksi dengan kebaya nya membuat Bian sedikit risih.


Gadis kelas dua SMA itu memang memiliki wajah yang imut tetapi dengan tubuh yang tergolong padat di beberapa bagian membuatnya terlihat sedikit menantang.


Sezi yang terus mengekori Bian membuat pria itu menoleh,


"Bisa gak diem ditempat aja!?." Sentaknya saat Sezi bergelayut manja dilengannya.


"Iihhh,,,abang, kan aku kangen!. Kau disini dan aku disana!." Ucapnya dengan mimik manja.


"Apaan sih, Sez!. Dilihatin orang, lepasin!." Ketusnya.


"Enggak!. Nanti kamu dilirik orang!."

__ADS_1


Sedetik kemudian lewatlah asisten gebleg sang kakak ipar dihadapan kedua manusia labil itu bersama wanita setengah jadi dan membuat Zesi langsung melepas rangkulan tangannya pada lengan Bian.


"Wow, ganteng!. Mateng pula!." Ucapnya sembari terkikik.


"Dasar, Gatel!." Bian menatapnya dengan jijik


"Apa!?." Sezi menatap galak pria disebelahnya.


"Gak papa!."


"Kamu cemburu?." Mata Sezi menyipit, berusaha menemukan kejujuran.


"Dih, ogah!. Piyik tu sekolah sono yang bener, gak usah keganjenan liat cowok." Ketusnya


"Uunch,,,ada yang cemburu tapi gak ngaku, uluh-uluhh..." Sezi meledek sikap Bian yang selalu judes padanya sembari mengusap dagu si pria dengan genit.


"Sez!!." Bentaknya tertahan setelah merasa malu karena beberapa orang tengah menatap mereka dengan senyum aneh.


"Apaciihhh abang ganteng yang judesnya gak ketulungan."


Gadis itu masih saja menggoda dan membuat seorang Bian lari keluar Venue saat Sezi terlihat akan memeluknya.


"Hihi, takut niyeee...!." Sezi terkikik geli melihat Bian yang kabur karena tingkahnya.


Yakinlah Sez, Bian juga pria normal yang akan pusing jika ditempeli tubuh seorang wanita. Terlebih dengan aset yang membanggakan seperti milik Sezi.


๐ŸŠ๐ŸŠ๐ŸŠ๐ŸŠ๐ŸŠ


Segala bentuk kerumitan pesta telah usai. Semua tamu undangan telah kembali ketempat asal mereka. Hanya sebagian kerabat yang memilih untuk menginap termasuk kedua orang tua mereka dan juga keluarga inti.


Tiba dikamar pengantin, Bitha dibuat takjub dengan pemandangan yang tampak dari balik dinding kaca berukuran besar yang menjadi pembatas antara ruangan tempat ia berdiri dengan sebuah balkon dimana terdapat tatanan sofa malas juga meja berbentuk bundar lengkap dengan payung yang menutupi langitnya.


Sebuah kecupan kilat menyadarkannya dari rasa takjub akan pemandangan dibalik dinding kaca kamarnya.


"Kak!." Bitha spontan meneriaki suaminya yang melarikan diri ke kamar mandi sembari menirukan tarian waka - waka milik Shakira dengan tangan yang melambai-lambai.


Bitha mengusap lembut pipinya. Ia tersenyum geli, mengingat statusnya yang telah berubah menjadi istri dari seorang pria dengan sejuta keusilan itu.


Malam menyambut, Bitha dan Alex tengah berkumpul dengan keluarga mereka yang masih menginap di resort untuk makan malam bersama.


Gelak tawa terdengar memenuhi pendopo berukuran besar yang mereka gunakan untuk menikmati kebersamaan setelah bertambahnya anggota baru dalam keluarga kedua belah pihak.


.


.


.


Malam telah larut. Sebagian dari mereka meninggalkan kursi satu persatu, begitu juga dengan Bitha yang telah pamit terlebih dahulu karena sudah tidak kuat menahan matanya untuk tetap terbuka.


Setibanya dikamar ia merasakan ritme jantungnya kian bertambah, membuat rasa kantuknya hilang seketika.


Sudah bukan hal yang aneh bagi pasangan pengantin yang baru saja SAH merasa deg-degkan saat malam pertama.


Bitha berjalan kedalam kamar mandi untuk membersihkan diri sebelum tidur. Ia berharap Alex tidak memintanya untuk bermacam-macam ria malam ini.


Meskipun Bitha seorang dokter yang sudah tentu paham dengan proses reproduksi tetapi sungguh ia sangat takut tepatnya tidak rela memikirkan tubuhnya diraba-raba seorang pria lalu hamil, membayang kan prosesnya saja sangat mengerikan, hingga tanpa sadar Bitha menjerit sembari mendekap tubuhnya dengan mata terpejam.


Alex yang saat itu baru masuk kedalam kamar dikejutkan oleh teriakan sang istri yang berada didalam kamar mandi.


"Sayang?!." Alex membuka pintu yang lupa dikunci oleh Bitha karena pikirannya sedang dipenuhi hal-hal yang tidak perlu.


Kepanikan Alex berubah menjadi ketegangan tatkala melihat penampakan tubuh dibalik gamis yang tadi Bitha kenakan saat makan malam bersama.


Bitha yang terkejut pun langsung jongkok dengan menutupi aset kembarnya yang baru saja terekspose.


Ia lupa jika tubuhnya hampir polos, beruntung masih ada brazilian pants berwarna hitam yang menempel apik menutupi area terlarangnya. Memang begitulah dia ketika hendak tidur selalu mencuci seluruh lipatan ditubuhnya yang bisa menimbulkan bau karena kerap kali menyimpan keringat.


Sedangkan Alex masih berdiri di ambang kamar mandi sembari melipat tangannya didepan dada dan bersender di kusen pintu. Netranya fokus pada lekuk tubuh sang istri yang berusaha menutupi apa-apa yang sebenarnya tidak perlu ditutup.


Tubuhnya begitu gerah merasakan sesuatu menghimpit dibalik jeans yang ia kenakan saat menatap tubuh indah yang kini telah sah ia miliki.


"Kak, jangan disitu!." Bitha merengek saat melihat sang suami masih pada posisinya yang seperti tidak ingin berpindah.


"Kenapa?!. Lanjutin aja!. Kan aku gak ganggu!." Ucapnya santai namun jantungnya rasa menunggang kuda


"Iya, tapi jangan disitu donk!."


"Loh, salahnya apa?!. Kan aku liat doang gak grepek-grepek."


"Kamu mesum tau kak!." Bitha sudah hampir menangis saat merasakan tubuh pria itu berjalan mendekat.


"Kenapa sih?!." Tanya sang suami


"Kak, please!. Keluar dulu. Aku malu!." Bitha memelas


Masih dengan posisi berjongkok, ia mendekap kedua miliknya yang tidak bisa ia sembunyikan secara keseluruhan karena memang termasuk ukuran kelas berat yang jika di dekap malah nyembul keatas dan terlihat semakin menggoda sang predator.


Iman si imin benar-benar di uji malam ini.


Alih-alih keluar, Alex malah beralasan ingin menggosok gigi. Bitha semakin ingin menangis jika mengingat bagaimana nasibnya kelak.


Alex menikmati aktifitasnya, tak ada rasa prihatin dengan wanita yang sedang berjongkok dilantai karena keberadaan dirinya itu.


Selesai berkumur, pria itu melepas kaos merah juga celana yang ia kenakan kemudian menyangkutkannya digantungan handuk dan hanya menyisakan boxer super pendek untuk menutupi warisan keluarganya yang sudah berdiri kokoh dibaliknya.


Ia menatap geli dengan keadaan sang istri.


Alex tersenyum tipis, seringainya mengejek.


"Ayo berdiri!?." Ajaknya


"Enggak!."


"Ayo sayang!"


"Kamu keluar dulu!."ucap Bitha


"Kalau gitu aku gendong aja."


Alex hendak mengulurkan tangannya namun Bitha dengan segera berdiri. Ia tak ingin bayangan kotornya benar-benar terjadi malam ini.


Namun ia salah, Alex justru terus merapatkan tubuhnya kearah Bitha, membuat istrinya diliputi rasa sesal sekaligus takut.


Alex menghentikan langkahnya, menahan panggul Bitha hingga sang istri tertahan sejengkal dari dinding kamar mandi.


Bitha terpejam saat merasakan deru nafas pria yang berdiri dihadapannya terasa menyentuh dahinya.


Alex mengecup mesra dirinya mulai dari dahi ke pipi, membuat rona wajah Bitha semakin terlihat.


Sungguh Bitha ingin sekali menjerit jika tidak mengingat statusnya.


Kecupan itu perlahan turun ke telinga, kemudian ke leher jengjang miliknya. Membuat Bitha melenguh karena sensi geli yang diberikan suaminya. Hingga tanpa sadar Bitha melepas dekapan pada bukit kembarnya dan meletakan kedua tangannya pada dada bidang sang suami.


Alex menghentikan aksinya, membuat Bitha yang semula terpejam membuka matanya.


Alex sengaja tak langsung mengecup bibir ranum yang amat menggoda itu karena ia akan mengaitkan umpan paling lezat lebih dulu untuk mendapatkan hasil yang memuaskan.


Alex menatap wajah merona Bitha dengan tatapan penuh gairah. Terlebih setelah merasakan bukit kenyal yang begitu lekat didadanya hingga membuat kepala si imin pusing tujuh keliling.


Alex berbisik kepada wanita yang telah sah menjadi miliknya itu dengan lembut. Ia berkata jika 'menginginkannya' dan dibalas sebuah anggukan oleh Bitha.

__ADS_1


TBC


__ADS_2