
23.🐌
Alex merengkuh Bitha dalam pelukannya.
Perasaan yang tak dapat digambarkan ketika Ia berhasil menghalalkan wanita yang telah ia nanti selama bertahun-tahun.
Mereka tidur dengan nyenyak, setelah seharian berdiri ditambah kegiatan berkebun yang baru saja terjadi, membuat keduanya terhanyut dalam buaian mimpi.
.
.
Pukul 03.35 dini hari, Bita terbangun karena merasakan kering pada tenggorokannya.
Setelah mengambil sebotol air ia kembali duduk disisi kasur, gerakannya membangunkan sang suami yang baru saja ingin menarik selimut.
"Kak! Bangun!."
"Hemh." Suara Alex yang terdengar berat itu membuat Bitha ingin mencubit hidung mancungnya agar membuka mata.
Bitha memilih untuk membuka ponselnya. Mengecek jika ada pesan atau pemberitahuan selama ia cuti.
Hanya ada nama Sarah yang nampak pada kolom chat.
📩gimana?. Enak gak😝?!.
Bitha tersenyum saat membaca chat jahil dari sahabatnya itu.
Ia membalasnya dengan tak kalah konyol,
📨tekoyak!😱
Tak butuh waktu lama menanti balasan dari Sarah. Karena ternyata wanita itu juga terbangun lebih dulu karena merasa kepanasan semenjak kehamilannya beranjak tua.
📩WOW, Gede banget pasti!!😱
📨CKK😒
📩udah ketebak! 😌, lihat donk badan doi aja gagah gitu, gak mungkin kecil!.😝
📨HEH!. Jangan dibayangin!. Punya suami aku😤
📩Diih, ogah ya!. Punya Ibram aja udah bikin kelenger hari-hari dipake!.
📨gendeng! 😱
📩🤣
Keduanya cekikikan ditempat yang berbeda.
Resort tempat Bitha menghabiskan malam pertamanya dengan Alex sebenarnya masih berada dikota yang sama, hanya saja lokasinya yang sedikit jauh dari rumah mereka maupun kontrakan Bitha sendiri.
Mereka memilih bulan madu di dalam kota untuk hemat waktu. Mempergunakan masa cuti yang Bitha miliki sebaik mungkin. Karena Alex masih harus wara-wiri keluar pulau untuk urusan pekerjaanya.
🍁🍁🍁
Pagi menjelang. Kedua pengantin baru itu diliputi rasa bahagia saat melihat keluarga mereka berkumpul bersama untuk menyantap sarapan pagi.
Bitha melihat Bian duduk sendiri dipojok gazebo dengan secangkir susu hangat ditangannya.
__ADS_1
"Bi?." Panggilnya
Bian menoleh ke arah Bitha dan sang kakak ipar.
"Apa?."
Kata 'apa' saja jika terucap darinya akan terasa dingin ditelinga yang mendengarnya. Namun tidak berlaku bagi mereka yang sudah tahu bagaimana sifatnya. Terutama ketika bersama batita ia akan sangat lembut, catat!. BATITA!. bukan balita!. Terlebih ABG labil. Jangan tanya, ia akan berubah menjadi nuklir!.
"Kangen sama Sezi?." Alex menggodanya.
Bian hanya menatap malas sang ipar yang menertawakan kegabutannya.
Atas dasar apa dia merindukan gadis tak tahu malu itu.
"Tenang Bi, dia masih ada di rumah Sarah. Jadi bisa disamperin sebelum balik entar sore!." Terang Bitha dengan mimik polos setengah mengejek.
"Paan sih, gak jelas pada!." Ketusnya sembari berlalu menuju tempat prasmanan.
Alex dan Bitha terbahak-bahak dibuatnya.
Bian menggerutu dalam hati, kenapa ia harus berurusan dengan tetangga centilnya itu bahkan meski mereka tinggal di kota yang berbeda sekalipun. Apa gadis itu tak berniat untuk mencari pria lain? agar tak terus - menerus menganggunya!.
Lalu bagaimana jika Bian saja yang mencari pasangan agar gadis seksi itu tak lagi semena - mena dengannya. Ah, sepertinya itu ide yang perlu diperhitungkan. tapi apakah itu akan berhasil?. apakah Sezi akan menyerah?.
Bian berusaha mengenyahkan pikirannya yang tengah semerawut dengan mengunyah semangkuk salad buah yang baru saja ia ambil.
.
.
.
.
Bitha mulai hari ini telah resmi menempati rumah yang dibangun Alex untuk keluarga kecil mereka kelak, meninggalkan rumah kontrakan yang pernah ia huni bersama sang sahabat sekian tahun lamanya.
Pasutri itu tak hanya berdua menempati rumah besar mereka, ada Bian yang kini menemani. Sang adik lelaki Bitha yang irit bicara. Bukan tanpa sebab remaja itu ikut bersama sang kakak. Semua karena Alex yang memintanya untuk menemani sang istri karena dirinya masih harus bekerja diluar pulau sembari merampungkan pembangunan mini office yang berada satu kota dengan tempat tinggalnya kini.
.
.
🍁
.
.
Sebulan berlalu sejak pernikahan Alex dan Bitha digelar. Kehidupan rumah tangganya pun terlihat begitu damai, terlebih sejak kelahiran anak Sarah yang memiliki wajah sangat mirip dengan Ibram hingga membuat Alex juga menginginkannya. Ya! Mantan bujang itu ingin ada yang menduplikat wajah tampannya, oleh sebab itu ia terus - menerus menjajah sang istri tanpa ada aturan seperti yang Bitha jelaskan padanya.
.
.
.
Dilain tempat, seorang pria tengah menahan sakit dikepalanya yang terkadang juga mengeluarkan darah melalui hidung.
Tubuh gagah Azam kini terlihat lebih kurus. Kondisinya semakin drop sejak lima hari lalu tepatnya setelah mendengar kabar tentang pernikahan sang mantan tercinta. Berawal dari kedatangan sang adik untuk menemuinya karena rasa rindu.
__ADS_1
Awalnya Tari tak ingin membahas sedikitpun tentang hal itu, tapi nyatanya malah Azam yang terus mendesaknya untuk bercerita.
Azam meminta Tari untuk mancarikan nomor Sarah, karena yang ia tahu Sarah merupakan senior ditempat kerja Tari.
.
.
Dengan sisa tenaganya, Azam mencoba untuk menghubungi teman lamanya yang kini tak pernah lagi bertemu.
📲Halo?."
Suara Sarah dari sebrang sana membuyarkan lamunannya.
📲Halo?, siapa ya?." Tanya wanita itu dengan ketus.
"Sar?. Ini aku, Azam." Lirihnya.
📲Azam? Ya ampun. Kamu apakabar?." Ucapanya terdengar begitu exited ditelinga Azam.
"Aku baik!. Kamu apakabar?."
📲Alhamdulillah aku baik. Zam aku udah lahiran loh, kamu gak niat ngirimin kado apa gitu?!." Tembaknya dengan gelak tawa khas Sarah yang memang tak tahu malu.
Pria itu terkekeh mendengar celotehan Sarah disebrang sana.
"Ponakan Om mau apa sih?." Tanyanya lembut
📲apa aja deh Om, yang penting emaknya juga dapet!." Kikikan sarah begitu memekakan telinga, membuat azam ikut tertawa.
"Dih, ngarep lu?, emaknya taik kuda aja!." Sarkasnya
📲kampret !. Temen lucknut emang lu!." Wanita itu mengumpat kesal.
"Canda mak!." Kekehnya sembari mengusap ujung matanya yang basah karena tawa.
📲paan?. Lu nelpon pasti ada maunya kan?." Tebakan Sarah tepat sasaran.
"Gak berubah ya kamu dari jaman ingusan!."
📲helleh, sotak lu!. Kalo aku ingusan ya berarti kamu juga kaleeee Om." Kembali, ucapan Sarah mengundang tawa untuknya.
"Iya, iya."
📲cepati, lu mo ngomong apaan?. Anaknya Ibram keburu nangis entar!."
Diseberang telepon Azam menceritakan bagaimana kondisinya kini hingga membuat Sarah tak kuasa menahan buliran bening yang menganak sungai membasahi wajahnya.
Terlebih saat pria itu meminta Sarah untuk mempertemukannya dengan Bitha di waktunya yang tersisa.
Sarah bimbang, apa yang harus ia katakan kepada sang sahabat sedangkan wanita itu sendiri telah menikah dan bahagia bersama suaminya. Pria yang sudah memperjuangkan cintanya sejak Bitha belum mengenal Azam dengan kata cinta.
Sarah menemui sang suami yang tengah duduk dipinggir kolam ikan dengan bayi mereka.
"Yank." Panggilnya
"Kamu kenapa?." Ibram terkejut melihat mata Sarah yang membengkak dan masih mengeluarkan air mata.
Tbc.
__ADS_1