
🐌
Bitha tengah menjalani prakteknya ditemani oleh seorang bidan yang selalu setia membantunya, kalista si bohai yang gemar dengan pergibahan.
"Dok, satu orang lagi. Tapi masih otw ni ibunya."
"Ya udah, tunggu aja."
"Dok?."
"Emh?."
"Tahu gak gosipnya kalo belakangan mas ganteng jadi lebih dingin, auranya berubah dok. Udah gak kaya pertama lihat dulu." Ucapnya dengan mimik lesu.
"Mas ganteng siapa sih?." Bitha mendongak
"Itu, si Azam Prawira."
Hampir saja Bitha memuntahkan sisa makan siangnya mendengar siapa gerangan yang menjadi inti masalah.
Bitha menggeleng pelan mengingat kejadian beberapa waktu lalu saat dirinya memergoki duo mesum yang tak tahu malu itu melakukan perbuatan 18+ ditangga darurat.
.
.
Tak berselang lama bidan bohai itu mempersilahkan seorang wanita untuk masuk dan berbaring dibrankar.
Bitha sempat terpaku kala mata mereka bertemu.
Namun ia segera menyadari akan situasi saat ini. fokusnya kembali melihat catatan baru mengenai riwayat kesehatan ibu muda tersebut. jelas jika wanita hamil itu baru pertama kali menjadi pasiennya.
"Janinnya sehat ya bun. Jari-jarinya juga lengkap. Tali pusarnya juga besar ini, bagus untuk penyerapan gizinya." Bitha tersenyum ramah.
Si pasien tidak mendengarkan penjelasan Bitha dengan baik. Ia malah mengamati wajah cantik dokter yang sedang mengamati gerak janin di layar monitor.
"Bun?." Tegur bidan yang membantunya
"Eh! Iya, maaf."
"Bunda jangan melamun, bisa bahaya!." Ucapnya
"Iya terimakasih!."
Setelah mendapat penjelasan dari Bitha, pasien itu segera keluar dari ruangan!.
Seorang pria menyambutnya ketika keluar dari rumah sakit, menuntunnya hingga masuk kedalam sebuah van.
"Mamiiiiii.......!!." Seru kedua anak Rumi.
"Mami, baby Z udah mau keluar?!." Tanya si sulung
"Belum sayang. Mami cuman mau lihat baby Z udah makan apa belum." Jawabnya sembari mengusap kepala si kakak.
"Gimana mam?!." Seorang pria yang adalah ayah kedua bocah bertanya merujuk pada misi yang baru saja ia lakukan.
"Ok Pi!." Sembari memberikan dua Jempolnya ke arah sang suami yang duduk disebelahnya.
.
.
Berawal dari keresahan sang Ibu ratu yang terus memikirkan anak tertuanya ketika ditanya perihal pasangan membuat Sepasang suami istri itu memata-matai 'calon' kakak ipar mereka berdasarkan informasi yang diperoleh melalui asisten pribadi sang kakak, Bagas alias bombon dengan sebuah ancaman yang akan diberikan sang Ibu ratu jika ia tidak mau berbagi informasi.
Mereka sengaja tidak menanyakannya langsung kepada yang bersangkutan karena sudah bisa dipastikan mereka tidak akan menemukan clue nya.
"Halo Mah?!."
.....
"Ok banget Mah!."
.....
"Yang ini gak bakal ngecewain pokoknya!."
.....
"Calon Mantu ideal deh!."
.....
"Kalo gak gercep keburu disamber ama yang lain loh!."
.....
"Iya, udah!. Udah aku sampein ke Om buat semua persiapannya entar."
.....
"Iya. udah deh pokoknya mamah sama ayah cukup bawa diri aja entar kesininya."
__ADS_1
.....
"Ya ampun mah, kan Apai udah punya rumah sendiri. Ya entar nginep aja disana biar deketan."
"Udah deh pokoknya terima beres!."
.....
"Bye nenek!. Jaga kesehatan ya!."
.
.
.
Dilain suasana.
Alex tengah disibukkan dengan laporan dari puluhan email yang masuk kedalam PC nya.
Meski posisinya santai berada diatas sofa malas tetapi wajahnya tak dapat menyembunyikan guratan kegalauannya.
Ingin sekali ia menerbangkan tablet itu agar tak lagi ada bunyi - bunyi yang membuat hidupnya selama ini terbebani.
Ditengah pikirannya yang bercabang ia masih sempat mengetikkan sebuah pesan kepada dokter cantiknya.
Sebuah ajakan makan sore ia kirimkan. Lama pesan itu berbalas.
Ting!
Cepat ia membuka balasan atas penawarannya itu.
📩Ok!."
Sekejap mata pria itu sudah berada diluar rumah dengan meminjam potor matic buluk milik salah satu pengurus rumahnya.
Alex lebih senang mengendarai motor ketimbang menggunakan mobil. Menurutnya mobil tidak begitu efisien. Apalagi jika hanya berdua rasanya sangat tidak efektif karena tempat duduknya yang bersebelahan. Berbeda dengan motor yang bisa berdekatan seperti ketan, saling menempel.
Dia pria, dia normal, dia suka mencari kesempatan. Apalagi itu tentang doi.
Tak butuh waktu lama untuknya tiba di rumah sakit.
Alex memarkirkan motornya di lahan parkir pengunjung. Mengeluarkan poselnya untuk menghubungi Bitha.
Tak menunggu lama, Bitha melambai dari area dropzone dengan sebelah tangannya mengenggam ponsel.
"Bitha, tunggu!. Aku belum selesai bicara Bith. Bitha!?." Seru seorang pria dari arah belakangnya
Bitha berlari menghampiri Alex, meninggalkan si tokek burik dengan rasa kesalnya.
Bukan tanpa alasan Bitha menerima ajakan Alex untuk makan sore. Pasalnya Azam sudah berani dan terang-teranga mengganggunya. Begitu juga dengan sore ini. Setelah jam praktek berakhir, pria itu nyaris menerobos masuk kedalam poli jika saja tidak ada bidan Kalista yang membantunya terlepas dari aksi nekat Azam.
"Kak, pake mobil aku aja!."
"Why?."
"Aku gak mau duduk nempel-nempel, entar kamu modusin!."
"Loh!, Kamu gak mau peluk aku?."
"Dih, ogah!."
Alex tertawa dibalik masker yang menutupi hidung dan mulutnya.
Setelah kepergian keduanya, Azam menggeram dan menyugar rambutnya dengan kasar.
.
.
Keduanya menyusuri padatnya jalanan ibu kota disaat jam pulang kantor.
"Kenapa? Kok buru-buru banget!?." Tanya Alex
"Takut!. Ada...
"Tokek burik!?." Sahut Alex tanpa dosa
Bitha menatap Alex dengan mata sinis nya kemudian terbahak-bahak karena tak kuasa mendengar Alex terus menyebut tokek burik dengan tampilannya saat ini yang hanya mengenakan celana training abu-abu dengan hoodie hitam. Untung saja wajahnya dapat menutupi kengawuran tingkah dan penampilannya.
"Makanya kita nikah aja!. Setelah itu kita deportasi dia ke benua lain!. Gimana?!."
"Ngawur!."
Dalam diam Bitha sebenarnya tengah memikirkan tawaran Alex yang menurutnya terlalu mendadak. Ia bahkan belum tahu siapa Alex, orang tuanya, sifat aslinya, pekerjaanya, atau asalnya.
Hingga akhirnya lamunannya terhenti saat mereka tiba disebuah restoran mewah dimana ia pernah mendapatkan pujian dari Sarah karena telah membelikannya martabak mahal ala wong sugih.
"Kita makan disini?!."
"Iya!. Kenapa?!. Kamu gak sreg?!. Perlu cari tempat lain?!."
"Gak papa disini aja."
"Yakin?!."
__ADS_1
"Iya, udah buruan masuk!."
Seorang waitress menghampiri keduanya dengan membawa buku menu.
Alex terlihat fokus pada ponsel genggamnya. Sedangkan Bitha tengah menatap pria yang selalu mengajaknya menikah itu.
'Apa terima aja ya tawarannya?.
Tapi kesannya kok malu-maluin!. Udah ngatain dia!.
Eh malah jadi istrinya?.
Masa nikah kaya beli kacang.' Batinnya berperang.
"Terpesona ya sama ketampanan calon imam?!." Songongnya
Bitha mengerjap beberapa kali setelah mendengar teguran, lebih tepatnya pujian untuk diri sendiri yang super pede.
Bitha menampilkan mimik ingin muntahnya yang membuat Alex tertawa senang.
"Sayang, kamu harus terbiasa lihat muka aku. Biar calon baby gak shock lihat Daddynya yang super tampan nanti!."
"Paan sih!, gak usah ngehalu deh!." Bitha mendengus kesal
"Kak! boleh tanya?!."
"Tanya apa?!."
"Tentang keluarga kamu, orang tua kamu!?."
"Mau tau?."
Bitha mengangguk,
"Sini Kiss dulu, nyicil!."
Gumpalan tisu mendarat tepat ditubuh Alex.
"Cabul!."
Pesanan keduanya tertata apik diantara mereka. Benar-benar tampilan yang menggugah selera.
Menikmati makan sore ditemani oleh yang terkasih membuat mood Alex kembali membaik setelah sebelumnya hampir menerbangkan tablet PC miliknya.
.
.
Sementara itu disebuah Bar, seorang pria tengah memutar gelas berisikan minuman gila.
Azam memandang lekat gelas kecil ditangannya. Rasa benci tengah memenuhi pikirannya saat ini.
Wanita, mantan sekaligus teman masa sekolahnya tengah dekat dengan seseorang yang ia paham sekali siapa pria itu. Perasaannya kacau, ia tak suka dengan keadaanya saat ini.
Saat sedang meneguk air dalam sloki, seorang wanita menghapirinya.
"Masih sore boy, udah mau mabuk aja!." Ucapnya sedikit manja sembari mengusap sebelah paha si pria.
Azam menoleh dan mendapati wanita yang sempat menjadi pelampiasannya kemarin malam.
Ia mencekal pergelangan tangan wanita bernama Meta itu untuk tidak melanjutkan aksinya.
"Aku gak butuh teman!." Ucap Azam dingin
"Oh ya?. Apa kamu sudah bertemu dengan perempuan bernama Bitha itu?." Jawabnya setengah mengejek
"Bukan urusan mu!." Azam menatap tajam wajah manis disampingnya.
"Kenapa?. Apa dia bisa memberikan kenikmatan lebih dari yang aku bisa?."
"Dia bukan jalang seperti mu!." Azam meliriknya dengan smirk menghina
"Kalo dia bukan jalang lalu apa? Tante girang?." Cemo'oh nya tanpa tahu wanita yang dimaksud Azam.
"Bagaimana bisa kamu bandingkan sebuah permata dengan air comberan?."
"Brengs*k kamu!." Meta mengumpat kesal dan pergi meninggalkan pria itu.
Azam merogoh ponsel dari saku celananya saat terasa getaraan dari sebuah pesan masuk.
📩Baj*ngan kamu Zam!. Tunggu pembalasanku, Dasar Sampah!."
Azam tersenyum simpul setelah membaca pesan dari mantan FWB-nya, jenita.
Dua hari yang lalu Azam baru saja merealisasikan ancamannya kepada perempuan berambut pirang itu.
Ia membayar beberapa orang pria untuk meniduri wanita dengan segala kesombongan yang selalu melekat dengan dirinya itu tanpa ampun. Berbekal obat perangsang mereka mencekoki jenita dan melakukan perbuatan tak bermoral itu berkali-kali tanpa memberikannya waktu untuk istirahat kecuali tidur hingga akhirnya ia harus dilarikan kerumah sakit setelah tak sadarkan diri karena terlalu lelah dan dehiderasi.
Kehidupan bebas wanita itu yang menjadikannya mudah untuk masuk dalam perangkap yang dibuat Azam. Ia berfikir jika Azam akan kembali padanya setelah apa yang dikatakan oleh Bitha kala itu. Namun ia salah, Azam sungguh manusia yang licik melebihi dirinya sendiri.
'Kamu bermain licik dengan orang yang salah sayang'. Gumamnya setelah meneguk sloki terakhirnya.
Azam kembali menatap ponselnya dan membuka sebuah softcopy yang dikirimkan oleh seseorang melalui email.
'Herland Alexander, bangs*t!.' Geramnya
__ADS_1
"Lihat saja apa yang bisa aku lakukan untukmu karena telah berani mendekatinya!." Ia meremas ponsel pintar itu dan membantingnya di atas meja bar.
tbc