
21.🐌
Langit sore terasa begitu teduh dengan semburat jingga yang tampak begitu indah menghiasi ufuk barat.
Azam menatap lekat pepohonan rindang yang tengah bergoyang karena hembusan angin. Pikirannya tengah kacau setelah mendengar penjelasan dokter mengenai kondisinya beberapa hari lalu saat melakukan serangkaian pemeriksaan untuk memenuhi prosedur rawat inap akibat kondisi tubuhnya yang penuh luka setelah perlelahiannya.
Azam terkena penyakit laknat yang selalu menjadi momok di kalangan penikmat kehidupan bebas seperti dirinya. Benar apa kata pepatah jika apa yang kau tanam maka itu pula yang akan kau tuai.
Sebuah ketukan pada kaca ruang isolasi kamarnya mengalihkan tatapan matanya dari indahnya sore itu.
Azam melihat ayah dan ibunya memberikan semangat dari balik kaca melalui sebuah ponsel digenggaman tangan sang ayah.
Ya, Azam hanya dapat berkomunikasi menggunakan ponsel dalam ruang perawatannya.
Hatinya begitu perih menatap kedua orang tuanya yang sudah terlihat ringkih namun tetap mau menjenguk anak tak tahu diri sepertinya.
Azam terisak mengingat kelakuannya yang begitu mengecewakan dan sangat memalukan kepada mereka, terlebih sang ibu yang kini tengah menatapnya pilu.
.
.
Di lain suasana, seorang pria dan wanita usia pertengahan sedang sibuk mengatur meja prasmanan yang tiba secara mendadak di kediaman sang dokter cantik.
Bitha tak habis pikir dengan apa yang akan terjadi sebentar lagi, Tepatnya setelah seorang pria berkemeja putih dengan nametag berlabel sebuah logo restauran ternama mengetuk pintu rumah bercat putih tempatnya berada.
Pria itu berkata jika mereka ditugaskan oleh seseorang bernama Danum untuk mengantarkan catering dengan alamat tertulis yang ia perlihatkan melalui ponsel miliknya kepada Bitha.
Disamping ibu yang terlihat sangat bersemangat ada pula remaja tampan yang menatap dingin para manusia disekitarnya. Bian sedikit risih dengan banyaknya orang yang tengah berlalu lalang menata makanan.
Tak berselang lama, sebuah mobil putih yang Bitha ketahui milik Alex memasuki halaman rumah kontrakannya di ikuti tujuh mobil lainnya yang terparkir rapi di sepanjang tepian jalanan komplek. Ia berharap jika benar pria itu yang akan turun dari sana namun Bitha salah, mobil itu dikendarai oleh seorang pria muda berwajah melayu, usianya sekitar duapuluh lima atau duapuluh enam tahunan.
Bitha yang mengenakan gamis rumahan dibuat bingung dengan semua ini. Pasalnya ia terus menghubungi Alex sejak tukang catering itu muncul, hanya saja baik panggilan telepon ataupun pesannya tak ada yang terbalas.
Daren, pria yang Bitha lihat mengendarai mobil Alex kini tengah menggandeng seorang wanita paruh baya yang terlihat cantik di usia senjanya. Bersamaan dengan itu pula turun seorang pria paruh baya beserta wanita hamil yang pernah menjadi pasienya beberapa waktu lalu.
Tiba diteras rumah, wanita tua berwajah ayu itu tetiba saja memeluk Bitha dengan hangat dan membuat Bitha reflek untuk membalas pelukannya.
"Ternyata kamu cantik sekali sayang." Ucapnya lembut sembari memegang kedua lengan Bitha yang masih terlihat menggembung karena dibalut perban.
"Terimakasih." Bitha tersenyum menanggapi ucapan manis itu.
"Ayo kita masuk, kamu pasti penasaran dengan apa yang kamu lihat saat ini." Wanita itu merengkuh pinggang ramping sang dokter dan menggiringnya untuk masuk kedalam rumah.
Keadaan didalam rumah tampak sedikit tegang. Bitha yang diapit oleh kedua orang tuanya duduk bersimpuh diatas lantai berlapis ambal. Sedang para tamu dengan kedua orang tua Alex duduk berseberangan dengan mereka.
"Maaf sebelumnya jika kami terlihat sangat lancang, kami tahu jika semua ini terkesan memaksa dan sedikit tidak wajar." Ibu dari bujang yang hampir kedaluarsa itu memberikan kalimat pembuka yang terdengar sedikit rancu.
Kedua orang tua Bitha menyimak penjelasan dengan seksama. Mereka tak pernah mengira jika pria yang setahun belakangan sering berkunjung ke kampung mereka ternyata memiliki indukan yang lebih nekat dari dirinya.
"Kami selaku orang tua dari seorang pria bernama Herland Alexander ingin meminta putri satu-satunya dari bapak dan ibu untuk menjadi bagian dari keluarga kami."
Ayah Bitha menanggapi ucapan ibunda Alex dengan senyum yang terpatri pada wajah tuanya lengkap dengan gelengan kepala yang mengisyaratkan akan keterkejutannya setelah mengingat jika ini merupakan acara lamaran yang sangat - sangat instan yang pernah terjadi selama hidupnya. Bahkan semuanya disiapkan sedemikian rupa dalam hitungan menit.
"Maaf sebelumnya, apa semua ini atas permintaan ananda Herland sendiri ataukah atas kemauan ibu dan bapak?." Tanya ayah memastikan.
"Saya pikir bapak sendiri pasti sudah paham dengan semua ini. Saya tahu jika anak saya sering mengunjungi keluarga bapak di kampung tanpa mau memberitahukannya kepada kami. Dan itu yang membuat kami yakin untuk meminta putri anda menjadi bagian dari keluarga kami."
Bitha sempat terkejut lantaran mendengar bahwa Alex lebih sering berkunjung ke kampung halamannya menyambangi kedua orang tuanya.
"Bukankah kesannya jadi seperti membeli kucing dalam karung?. Saya takut jika sifat dan kelakuan anak saya akan membuat keluarga anda kecewa nantinya." Tegas ayah dengan wajahnya yang mengarah kepada Bitha
"Kami paham bagaimana anak kami sedari kecil mengenai sesuatu yang ia sukai maupun tidak. Ia bukan tipikal anak yang suka bermain-main untuk hal yang benar-benar ia inginkan."
Ibu Alex tersenyum hangat guna meyakinkan orang tua Bitha untuk segera menyerahkan putri cantik mereka.
"Dan kami pastikan jika setahun belakangan cukup menjadikan bukti bahwa ia benar-benar serius dengan putri bapak."
"Untuk masalah sifat dan perilaku itu sudah menjadi resiko bagi kami yang meminta ananda Bitha untuk masuk ke keluarga kami. Jadi jangan risaukan masalah itu, karena setiap orang pasti memiliki sisi negatifnya sendiri." Lanjutnya
Bahagia, itulah yang dirasakan Ayah dan ibu Bitha, keduanya saling berpandangan. Sejurus kemudian sang ibu menepuk sebelah lutut Bitha untuk menanyakan kesediaan dirinya atas lamaran super mendadak itu.
"Bu dokter terima aja!. Jadi entar aku bisa lahiran gratis di rumah sakit." Ucap Rumi yang terlihat begitu exited sejak pertama kali bertemu dokter cantik itu di poli.
Decak kesal serta gelak tawa dari para sepupu memenuhi ruang tamu hingga ke teras dimana para keluarga Alex berkumpul kala Rumi mengutarakan maksudnya yang sedikit nyeleneh. Bagaimana tidak!, Ibu dari tiga orang putra itu dengan tidak tahu malu menyebutkan kata gratisan kepada orang yang baru mereka kenal.
Keakraban terjalin dengan begitu hangat walau tanpa kehadiran Alex diantara mereka karena pria itu tengah sibuk dengan urusan pekerjaanya yang berada diseberang pulau.
.
.
Alex sadar jika pohon bisa berdiri dengan kokoh tak lain karena akar yang menompangnya. Oleh karena itu ia sudah memperhitungkan segala kemungkinan yang akan terjadi kala ia telah memutuskan untuk memperjuangkan cinta pertamanya. Namun tidak dengan kejadian dimana langkahnya lebih dulu di ambil oleh sang ibu.
Pria itu memang pernah meminta restu kepada orang tua Bitha untuk mengejar hati anak mereka, tetapi belum sampai melamarnya karena Bitha sendiri baru meng-iya kan kata menikah yang di utarakan Alex tepat sebelum pria itu terbang kembali ketempat kerjanya.
__ADS_1
Dan hal itulah yang membuatnya uring-uringan pagi ini.
.
.
.
Alex berjalan dengan tergesah di loby kantor, pria itu ingin segera menghajar asisten lucknutnya setelah melihat sebuah Video yang dikirimkan oleh Bagas pagi tadi saat dirinya baru saja membuka mata.
Pintu ruangan Bagas terbuka dengan kasar hingga menimbulkan suara yang sangat keras.
"Kampret!!!. Mau hianatain gue, lu?!." Ucapnya dengan lantang sembari membanting pintu dibelakangnya agar tertutup kembali.
"Eeeiittts!. Tenang dulu bro!."
"Gak bisa!. Apa maksud lu ngirimin video kek gitu tadi pagi!?."
"Makanya dengerin penjelasan gue dulu napa sih?. Emosii mulu, kaya cewek lagi M aja!."
Alex menghempaskan tubuhnya disofa ruangan Bagas sembari memijit pangkal hidungnya. Masih tak menyangka dengan aksi nekat sang ibu yang melamar wanitanya secara mendadak dan membawa hampir semua saudara sepupunya.
Ia juga baru menyadari jika ke anehan sifat bagas saat berkata " tolong jangan gunakan ponsel dulu untuk hari ini demi kemaslahatan bersama" kemarin ada maksud tertentu. Sedangkan Alex hanya meng-iya-kan saja tanpa repot bertanya karena sejatinya mereka memang sedang banyak kerjaan.
"Ratu sejagat ngancem lu pake apaan?." Tanya Alex sembari menyandarkan kepala dan memejamkan matanya.
"Aib gue!. Aib gue!. Ngerti gak lu gimana perasaan gue di ancem pake Aib?!. Lucknut emang lu!." Bagas memuntahkan kekesalannya kepada Alex tanpa memandang statusnya.
Alex hanya diam tanpa mau menjawab.
"Kalo gak karena banyak duit aja, males gue temenan ama lu!. Gak aman privasi gue!." Bagas mendengus kesal.
"Sompret!." Satu kata yang terucap tanpa melihat sang lawan bicara.
"Eh, tapi kan tetep untung di elu!. Kenapa musti marah. Toh lu gak perlu lagi sibuk ama lamaran. Udah tinggal nge-Sah-in aja!."
"Tetep aja gue di tikung judulnya. Kaya gak tau emak gue aja lu, demennya bongkarin privasi orang!." Ucapnya spontan.
"Ya udah sih, bawa santai aja!. Dari pada pusing mikirin di tikung Ratu sejagat, bisa cepet mati lu!. Kan gak asik tuh, udah dilamar eh lakinya mati sebelum kawin!." Sarkasnya
Alex melotot tak terima dengan ucapan terakhir yang terdengar absurd dari asisten gebleg nya.
🍁
Sehari setelah lamaran dadakan itu orang tua Bitha menceritakan perihal pria yang sering mengunjungi mereka setahun belakangan. Bahkan pria itu juga yang telah mempengaruhi sang adik lelaki satu-satunya untuk masuk teknik perminyakan. Remaja pria dengan image judes itupun langsung menyetujuinya berkat doktrin yang diberikan oleh seorang Herland Alexander.
Dulu awalnya kedua orang tua Bitha sempat ragu saat pertama kali Alex mendatangi mereka untuk meminta izin. Bukan karena Alex yang kurang meyakinkan untuk menjadi menantu melainkan saat itu Bitha tengah bersama Azam. Dan hubungan mereka dalam kondisi baik.
Ayah dan ibu Bitha tidak berani menjajikan sesuatu yang bukan kewenangan mereka. Hanya sebuah doa yang selalu terucap untuk kebaikan seorang Alexander.
Hingga kabar tak mengenakan tersiar tepat sebelum pembahasan tentang pernikahan Azam dan Bitha terjadi.
Azam harus menikahi wanita yang bukan kekasihnya karena kesalahan fatal serta menorehkan luka dibanyak pihak. Bukan hanya Bitha tetapi juga kedua orang tuanya yang begitu kecewa dengan kelakuan Azam Prawira.
.
.
.
.
.
Seminggu berlalu sejak lamaran itu. Alex kini kerja extra demi mengumpulkan hari cuti yang panjang, membuat Bagas semakin merana karena harus menemaninya lembur, menggantikannya keluar kota dan masih banyak hal lain yang harus dikerjakannya demi kebahagiaan si bos dan pastinya demi upah yang melimpah.
Bitha membaca pesan singkat yang dikirimkan Sarah kepadanya. Wanita hamil itu menanyakan perihal pernikahannya dengan Alex yang terkesan mendadak hingga ia berfikir jika Alex tengah bermain curang.
Dokter cantik itu tersenyum geli, ia membayangkan expresi Sarah yang sudah pasti penasaran akut tentang drama romansa dirinya dengan pria sejuta kegabutan itu.
"Dok, dicariin sama pak Ikhsan." Ucap seorang perawat jaga bernama Mei.
"Pak Ikhsan?." Bitha memiringkan sedikit kepalanya seperti menimang sesuatu.
"Ok, titip dulu ya sus Mei." Ia beranjak meninggalkan kursi nyamannya untuk menemui pria yang menjabat sebagai kepala bagian perencanaan di rumah sakit tempatnya bekerja.
"Ngapain ya pak Ikhsan nyariin. Apa mau program lagi?." Gumamnya.
Pak Ikhsan, pria dengan kepribadian supel itu tengah menatap keluar dinding kaca ruangannya. Dua hari lalu kakak tertuanya mengirim pesan kepadanya tentang keinginan anak sulung mereka yang kini tengah terbaring disalah satu rumah sakit swasta.
Sebenarnya ia tak yakin dengan permintaan keponakannya sendiri namun ia tetap akan mencobanya. Mengingat jika wanita yang dimaksud adalah orang yang berhati baik.
Terdengar ketukan dari luar pintu ruangannya. Pak Ikhsan mempersilahkan Bitha untuk masuk dan langsung menyuruhnya duduk dengan nyaman.
"Pagi pak!." Tanya Bitha sembari tersenyum cerah.
__ADS_1
"Ah, iya. Maaf ya dokter Tsabitha harus capek-capek keruangan saya." Ucapnya basa-basi.
"Gak papa pak, pas longgar juga tadi."
"Ada perlu apa ya pak?." tebaknya
"Jadi gini dok, sebenarnya ini gak ada sangkut pautnya sama urusan rumah sakit. Tepatnya bersifat pribadi, hanya saja saya sebagai perantara untuk menyampaikan pesan dari kakak saya kepada dokter terkait kondisi anak mereka saat ini." Lanjutnya
Bitha fokus menyimak ucapan pria berumur dihadapannya.
"Azam Prawira, ingin sekali bertemu dengan dokter Tsabitha." Ikhsan menautkan jari jemarinya.
"Anak itu sekarang sedang menjalani perawatan di rumah sakit KPM. Saya gak tahu dengan pasti keadaannya karena saya juga baru saja mendapatkan informasinya.
"Saya tidak berani berbicara banyak karena yang pasti sekarang anak itu sedang memetik hasil atas perilakunya selama ini, dokter pasti tahu sendiri bagaimana kehidupan anak itu sebelumnya."
Ya, sejak kejadian na'as itu ia memang sama sekali tak pernah mencari tahu berita tentang pria itu. Bitha berusaha melupakan semuanya dengan tak mengingat-ingat insiden menyedihkan yang menjadikan dirinya sebagai sasaran balas dendam.
"Tugas saya hanya menyampaikan pesan saja, untuk selanjutnya terserah dokter."
.
.
.
Hari sudah hampir gelap saat Alex menghubunginya ketika ia termenung di dalam poli setelah menyelesaikan prakteknya.
Pria yang berstatus calon suami itu menanyakan keberadaan dirinya saat terdengar jeritan beberapa bocah dari luar poli dimana terdapat play ground untuk anak-anak saat menemani orang tua mereka mengantri.
"Kak," suara itu terdengar lirih.
"Hem?."
Bitha sempat mengurungkan niatnya untuk bertanya.
"Kangen?."
"Ha!!. Ngaco!."
"Terus kenapa?." tanya Alex
"Gak papa, aku lupa tadi mau bilang apa."
Tetiba saja pintu ruangannya terbuka. Seseorang yang tengah bercakap via celuler dengannya kini berdiri di ambang pintu sedang bermain mata dan hal itu membuat mata Bitha membola.
Luarbiasa, demi apa pria itu kini sudah ada di hadapannya dengan penampilan super nyamannya. Celana kolor selutut dengan hoodie berwarna putih dan sebuah sandal jepit hitam lengkap dengan totebag layaknya para wanita yang akan pergi belanja.
Bitha menatapnya tak percaya, bagaimana bisa manusia tampan itu kini berada satu tempat dengannya sedangkan tiga jam yang lalu ia berkata jika masih ada meeting dengan orang-orang marketing.
"Kakak ngapain?." Bitha beranjak dari balik meja.
*duuhh boleh gak sih cium dikit, nyicil gitu* gumamnya. Wajah cengo Bitha membuat pria itu gemas ingin segera menghalalkannya.
"Mau periksa." Alex dengan smile khasnya menjawab.
"Ha? Periksa apa?."
"Fertilitas." Ucapnya sembari menaik turunkan alis tebalnya.
"Seriusan?."
"Ya serius lah!."
"Ih, udah tutup kali. Ini jam berapa coba, dokter Mahir udah pulang dari jam empat tadi."
"Ngapain ke dokter Mahir?."
"Lah, kan dokter Mahir yang nangani masalah itu!."
"Ogah!. Maunya kamu yang bantuin!."
"Mesum!." Satu pukulan mendarat di lengan kokoh milik Alex.
"Eh, dia mulai piktor cieee...."
"Apa sih!, jelas-jelas sendirinya tadi yang bilang minta bantuan."
"Loh, ya iya beneran maunya sama kamu. Entar kamu bantuin aku ngeluarin, di ..... dalem!."
"KAK!." bentaknya.
Bitha menggeleng pelan, Ia tak habis pikir jika pria yang sedang berjalan disebelahnya ini masih saja piktor. Apa mungkin karena terlalu seringnya ia mondar-mandir antar pulau hingga membuat otaknya sedikit geser seperti lempengan bumi yang lelah?.
Tbc.
__ADS_1