Bu Dokter! Love Me Please!

Bu Dokter! Love Me Please!
17. Kejadian Memalukan.


__ADS_3

17.🐌


Alex memejamkan matanya sejenak, menghirup nafas dalam kemudian menghembuskannya perlahan.


Pria itu melipat kedua kakinya menjadi bersila menghadap Bitha.


"Kamu pernah gak setiap pulang sekolah ngelihat cowok pake kolor sama kaos, duduk di depan depo air deretan minimarket sambil main gitar?!." Tanya Alex


Pria itu menatap si cantik yang tengah memutar bola matanya ke atas berusaha mengingat kegiatannya saat menyusuri jalan sepulang sekolah dulu.


"Enggak!."


"Yang suka berdiri pas upacara hari senin?!."


Bitha pun kembali menggeleng, Pasalnya tak hanya Alex yang berdiri dikala apel saat senin dan sebenarnya pria itu memang ada dan selalu berdiri pada urutan terakhir,


"Kalo tukang antar galon?!."


Alisnya tampak menyatu ketika Alex menyebut tukang galon. Hatinya mulai kebat-kebit. Takut jika pria dihadapannya ini merupakan orang yang sama.


"Tukang....galon?."


"Iya!. Tukang galon yang madamin api!."


Matanya langsung membola, saat mengingat kejadian memalukan yang pernah dialaminya.


Flashback


Sore itu Bitha remaja tengah melakukan eksperimen didapur bersama sang ibu. Ia mencoba untuk membuat ayam bakar menggunakan sebuah media alternatif layaknya panggangan dengan kompor gas sebagai pemanasnya.


Tak disangka jika lelehan minyak yang berasal dari pembakaran ternyata sudah membasahi body kompor. Minyak panas itupun segera mendapat sambutan dari si jago merah.


Tak butuh lama untuk membuat api itu membesar. Bitha dan ibunya yang tengah panik pun bingung harus melakukan apa.


Disaat bersamaan terdengar panggilan dari luar rumah yang berasal dari tukang galon.


Secepat kilat ibu Bitha membawa masuk si pria untuk membantunya.


Alex yang kala itu juga tengah bingung pun berlari ke dalam kamar mandi mencari apa saja yang bisa digunakan untuk memadamkan api. Tak ada tampungan air tetapi Ia melihat rendaman pakaian dan juga sebuah selimut berbahan tebal berada dalam satu bak. Alex meraup selimut itu dan berlari secepat kilat untuk segera menutup api yang tengah bergejolak dengan selimut berlumur rendaman sabun tadi.


Api pun padam, namun naas tetesan air sabun yang berasal dari selimut tebal itu membasahi lantai saat Alex membawanya berlari. Membuat Bitha yang baru saja muncul dari balik pintu dapur dengan membawa baskom besar berisikan air dari gentong belakang rumahnya tergelincir dan langsung jatuh terjungkang bersama baskom besarnya.


Alhasil air sebanyak itu tumpah membasahi tubuhnya yang hanya berbalut hotpants dan kaos putih membuat cetakan bra berwarna hitam dibaliknya tampak begitu jelas.


Saat itu Bitha memang tampil seksi bukan karena dia selalu berpakaian terbuka tapi karena memang berada didalam rumah dan tak ada laki-laki lain selain Bian yang masih anak-anak dan ayahnya.


Karena panik Bitha sampai tak menyadari jika ada seorang pria berada satu ruangan dengannya tengah menelan saliva menatap penampakan yang begitu Wow.


Tersadar, Bitha pun berteriak histeris saat mata mereka bertemu sambil menutupi kedua bukit kembarnya yang nampak jelas tercetak pada kaos basahnya.


Ia berbalik ingin segera berlari tapi lagi-lagi masalah terjadi, remaja cantik itu jatuh untuk kedua kalinya dengan posisi telungkup.


Malu, kesal, ingin marah namun tak bisa. Ia hanya menangis sembari berusaha berdiri pelan-pelan agar tidak lagi terjatuh.


Alex yang sadar dengan situasi pun segera pamit meninggalkan si cantik yang tengah dirundung duka karena keberadaan dirinya.


Ibu Bitha mengantarkannya hingga ke teras. Tak lupa ia berterimakasih karena telah membantunya.


Sejak kejadian itu pikiran Alex selalu dipenuhi bayangan kotor saat melihat Bitha.


.


.


Alex yang kata Sarah sering membolos dan hanya nongkrong di warung mang Ujang ternyata lebih senang berada di rumah. Sesekali ia nongkrong bersama pegawai depo air milik pamannya untuk bermain gitar sembari menggoda bencong jika beruntung ada yang lewat disore hari.


Dia yang hanya ingin membantu untuk mengantarkan salah satu pesanan air sore itu karena dua pegawai pamannya sedang dalam perjalanan mendadak ketiban duren, yang tadinya hanya kebetulan membuatnya merasa beruntung terlebih mendapati jika customernya ternyata gadis itu.


Tak disangka jika gadis berkerudung putih yang setiap saat lewat di depan depo air sepulang sekolah itu telah membuat hatinya terpaut. Entah karena mata nakalnya setelah melihat yang tidak seharusnya atau karena memang ia telah tertarik dengannya sejak awal.


Flashback off


.


.


Bitha reflek menutup wajahnya.


Sumpah! Demi apa dia bertemu dengan si pengantar galon yang baru ia ketahui jika pria itu adalah orang yang sama dengan pria yang sedang duduk menatapnya saat ini.


Ia tak pernah menyadari jika pemuda yang pernah membantunya dulu ternyata sangat mengenali dirinya.


Ia tak mengenali wajah Alex dengan baik lantaran topi yang dikenakan lelaki itu dulu.


Bitha hanya mengingat kejadiannya saja dan yang menjadi sebab tangisannya pecah adalah karena malu saat menyadari Alex yang menatapnya tanpa berkedip.


"Jangan ditutup!." Alex menahan lengan Bitha.


"Lepasin kak!." Bitha berusaha mempertahankan tangannya agar tetap menutupi wajah merahnya.


"Buka!, kenapa sih?!." Tanyanya sok polos


"Lepasin!!. Aku malu banget kak, sumpah!!!." Tangisnya tergugu.


Mengingat kejadian yang selalu membuat harinya diliputi rasa was - was hingga menumbalkan Bian untuk masalah pergalonan. Ia takut jika kembali bertemu dengan kang galon yang tidak pernah ia hafal wajahnya itu. .


"Malu kenapa!?."


"Pokoknya aku malu!."


"Iya..... Tapi kan malu itu ada sebabnya!."


Bitha mendongak lengkap dengan mata sembabnya serta hidung yang memerah, Terlihat lucu.


"Bohong kalo kamu gak tahu alasannya!,"


"Beneran gak tau!." Alex melipat bibirnya kedalam untuk menahan tawa.


"Mata kamu gak bisa bohong kak!!!."


"Kamu mesuuummm.....!!!

__ADS_1


Tangis Bitha kembali pecah, sembari menangis ia memukul Alex bertubi-tubi dengan tangan kosong.


Hingga membuat pria itu menelungkupkan kepalanya diatas lantai dengan kedua tangannya.


"Dasar!


... Mesum,


... Cabul!"


Huaaaa....!!


"Jijiiiikkkk,,,!!


Cepet ruqiyah mata kamu kak!


Aku gak rela kamu lihatin kaya gitu!.


Gak sudi!"


Ucapnya Masih dengan terisak,


Lelah setelah limabelas menit Bitha akhirnya menyudahi tangis kekesalannya.


Ia kembali duduk anteng. Menatap tajam pria tampan yang sedang mencoba menahan tawanya.


Sungguh berat bagi Alex untuk tidak tertawa saat melihat wajah cantik itu terlihat memerah dibagian hidung dan matanya yang sedikit bengkak.


Tapi ia juga tak berani untuk tertawa, bisa panjang urusan.


"Sudah nangisnya!?."


Bitha menatap tak suka dengan mata bengkaknya. Terlihat lucu.


"Belum!." Ketusnya


"Ya udah, nangis aja lagi gak papa!."


"Atau mau aku ambilin minum dulu buat cadangan airnya?!." Godanya


Beberapa menit berlalu. Keduanya saling diam. Sibuk dengan pikiran masing-masing hingga jeritan lambung dari salah satunya terdengar.


Alex meringis saat Bitha menoleh ke arahnya.


"Udah siang, makan yuk?!." Ajaknya


"Enggak, makasih! Aku mau pulang. Bukain pintunya!." Pintanya


"Kalo aku gak mau gimana!?."


"Kak,,,tolong!. Aku udah capek, mata ku bengkak, aku juga sebel liat kamu!." Ucapnya memelas


Jika saja halal Alex pasti sudah memeluknya dan memberikan kecupan bertubi-tubi untuk menenangkannya.


"Oke oke oke, terakhir deh!?." Pintanya


"Apa?."


"His, enggak!."


"Kamu tega!."


"Biar!, kamu cabul!."


"Ya ampun, masih bahas itu." Alex mengusap wajahnya.


"Gak bisa!. Bakal aku inget sampe kapan pun!."


"Terus gimana caranya biar kamu lupain itu?."


"Gak tau!."


"Kamu bilang aku cabul, berarti secara gak langsung udah .....


"Stop!. Udah jangan dilanjutin!. Bukain pagarnya, please kak!."


"Enggak mau!." Alex menggeleng cepat


"Cepetan kak!. Kamu sadar gak sih kalo dari tadi aku takut!." Bentaknya


"Takut kenapa?." Pria itu menelengkan kepalanya tanda tak mengerti.


"Takut ke gep berduaan sama suami orang!." Ketusnya


"Ha? Suami orang?. Siapa?." Alex menatap bingung


"Dih, gak nyadar lagi udah beranak!." Cibirnya


"Aku? Maksudnya aku udah beranak gitu?." Tanyanya memastikan


"Emang siapa lagi disini yang beristri?."


Alex mengusap kasar wajahnya kemudian terbahak-bahak.


"Ya ampun. Ternyata selama ini kamu anggap aku pria beristri?." Ia memijit pangkal hidungnya


Bisa-bisanya wanita yang selama ini mendiami hatinya malah menduga jika ia adalah pria beristri.


"Jangan bilang kalo yang kamu maksud perempuan yang lagi sama aku di toko buku itu. Benerkan?." Terkanya


Malu, itulah yang dirasakan Bitha kala ucapan Alex tepat sasaran. Ternyata dugaannya selama ini salah jika Alex tak mengenalinya saat berpapasan ditoko buku waktu itu. Padahal Bitha sudah mengenakan masker dan dia meyakini jika pria itu sama sekali tak akan menyadarinya.


"Kamu mau ngelak pake alesan apalagi?."


"Siapa yang ngelak sih!."


"Asal kamu tau sayang, aku gak akan salah kalo cuman buat ngenalin kamu aja!. Bahkan mau kamu tutup semuanya pun aku tetep bisa tau!." Ucapnya begitu sombong


"Dih songong banget jadi orang!." Gerutunya sembari memutar bola matanya jengah.


"Coba ulangi. Kurang jelas!."

__ADS_1


"Gak!."


"Oke!, gak jadi aku bukain pagarnya." Ucapnya dengan santai sembari merebahkan kembali tubuhnya kelantai.


"Ya ampun. Kak!. Ini udah siang. Weekend aku udah mau abis cuman buat berdebat hal gak penting sama kamu, keterlaluan gak sih!?."


"Enggak keterlaluan kalo kamu mau temenin aku makan!. Gampang kan!?."


Bitha mendengus kesal, tanpa kata wanita itu berdiri melangkahkan kakinya menuju pagar tinggi yang menjadi pembatas antara jalanan dengan tempatnya berada saat ini.


Alex terkekeh, ia tak juga bergerak untuk membukakan pintu pagar saat melihat wanita pujaannya dilanda rasa bingung menatap pagar hitam yang menjulang dihadapannya.


Mencoba memejamkan mata sejenak, ia mengira jika wanita itu pasti akan kembali untuk meminta hal yang sama kepada dirinya.


Namun ia salah saat terdengar suara pekikan yang berasal dari arah pagar otomatis miliknya. Seketika itu pula Alex berlari menghampiri Bitha yang tengah dilanda kepanikan akibat bagian belakang bajunya yang tersangkut kawat pengaman yang berada di pucuk pagar tinggi itu sedangkan posisinya setengah menggantung diluar pagar.


Wanita itu berpegangan pada sudut pilar beton yang menjadi tumpuan pagar hitam otomatis milik Alex.


Beruntung siang itu keadaan lingkungan sangat sepi karena kebanyakan dari warga menghabiskan weekend diluar daerah.


Bitha berteriak memanggil Alex dengan suara pilu. Tak lama pria itu muncul sembari memegangi perutnya yang terasa sakit karena menahan tawa setelah melihat kondisi sang terkasih yang tengah tersangkut di bibir pagar rumahnya.


"Cepetan tolongin jangan malah ketawa, keburu dilihat orang entar!." Pekiknya dari atas pagar.


"Makanya kalo dibilangin orang tua itu nurut, gini ni jadinya. Ngangkutkan?." Pria itu dengan santainya berucap tanpa melihat wajah sang objek yang merah padam menahan marah sekaligus malu.


Ingin rasanya Bitha mencakar wajah pria tampan yang selalu berbuat sesuka hatinya itu.


Alex masih menimbang cara seperti apa yang akan ia gunakan untuk menyudahi acara panjat pagar yang dilakukan Bitha.


"Kak! Jangan lama-lama ih, nanti di lihat orang!."


"Sebentar!, aku ambil gunting dulu!."


"Buat apa!. Hei,"


Ditengah kegalauannya Bitha berharap tak kan ada orang yang lewat untuk saat ini.


Alex menghampirinya dengan nafas tersengal. Pria itu memanjat pagar dari arah dalam.


"Aku gunting aja ya bajunya!."


"Hah? Jangan!. Nanti belakang aku kelihatan dong!."


"Cepetan kak! Nanti ada yang lewat."


Pria itu menggaruk pelipisnya, jika ia mengangkat baju itu juga percuma karena pasti akan menambah lebar robekan terlebih setelah melihat punggung mulus wanitanya yang sudah pasti akan ter ekspose.


"Terus gimana dong?."


"Aduuhhh, terserah deh! Potong aja biar cepet keburu ada yang lihat!."


"Oke, tapi janji dulu!." Benar-benar kesempatan dalam kesempitan, Alex sedang melakukan negosiasi dengan korbannya.


"Apalagi sih?."


"Temenin aku makan. Gimana?."


"Iya iya aku temenin abis mandi tapi!." Ketusnya


"Sip bu dokter!."


AAAKH!


Dan si cantikpun berhasil mendarat diatas bunga-bunga yang menjadi penghijauan diluar pagar rumah.


Alex menyusulnya keluar pagar, mendapati Bitha tengah memegangi pangkal lengannya yang membentur sudut pot semen.


"Bagian mana yang sakit?!."


"Udah, gak papa. Ngilu aja sedikit."


Bitha berdiri perlahan sembari meraba bagian belakang tubuhnya. Alangkah terkejutnya saat mendapati sobekan yang dihasilkan Alex pada bajunya sangat tidak masuk akal."


"Kak!, kamu sengaja ya?."


"Apanya?." Alex mengernyit tak mengerti


"Ini, kenapa lebar banget sampe sini?."


"Lah? Terus mau kamu gimana?."


"Ya ampun kak, Gak sampe segitunya juga kali motongnya!. Terus aku pulang kaya gini? Berasa sundel bolong!." Bitha memijit pangkal hidungnya setelah memikirkan keadaannya saat dijalan menuju rumah kontrakannya dalam kondisi mengenaskan.


"Kamu tunggu bentar!."


Bitha menatap langkah cepat pria itu memasuki halaman rumah miliknya. 'Lah? Jadi tu pagar cuma ngenalin muka dia doang baru mau kebuka?. Sumprit gak sih?.' Tunggu! Tadi pake mukanya dia? Berarti ni rumah seriusan punya dia?' Tanyanya dalam hati.


"Kok aku jadi kaya lambe-lambean sih!." Bitha menggeleng setelah sadar akan ke kepoannya terhadap pria tampan yang selalu membuatnya uring-uringan itu.


Masih dalam pergolakan batinnya yang tak jelas Bitha kembali dikagetkan dengan bunyi klakson mobil yang berada tepat dihadapannya,


"Ayok!." Seru pria itu dari dalam


Bitha membuka pintu dan menempatkan dirinya disamping Alex. Sungguh lebay menurutnya harus menaiki mobil seperti ini jika bukan karena bajunya yang hilang seperempat tadi, mengingat jarak antara kontrakannya dengan rumah milik Alex yang tidak jauh.


Tiba di depan kontrakan Bitha, Alex berpesan padanya untuk segera bersiap dan pria itu akan menjemputnya kembali dalam dua puluh menit.


.


.


Bitha merebahkan dirinya diatas kasur empuk yang sudah beberapa tahun ini menemani tidurnya. Lelah, itu yang ia rasakan saat ini.


Benar-benar diluar dugaannya. Alex mampu membuatnya melakukan hal gila yang selama ini tak pernah ia tunjukan sejak terakhir kali, tepatnya saat masih duduk di bangku sekolah dasar.


Sesaat kemudian ponsel Bitha menunjukan sebuah pesan masuk dari Alex. Sebuah permintaan maaf darinya karena ia harus membatalkan janjinya dengan Bitha untuk makan bersama diwaktu siang menjelang sore itu. Alex tak menjelaskan alasannya, karena yang pasti pria itu memang memiliki kesibukannya sendiri dibalik tingkah absurdnya.


Bitha menjadi tenang karena tak jadi pergi berduaan dengan Alex. Namun ada secuil rasa dihatinya yang merasa tak rela jika harus berpisah.


"Kenapa aku jadi ketularan penyakitnya Sarah sih!?." Gumamnya sembari menutup mata.

__ADS_1


__ADS_2