
11.🐌
Pagi tiba. Sarah yang bangun terlebih dahulu mendapati bungkusan tak biasa di atas meja makan. Dirinya yang termasuk aktif dalam sosial media dapat mengetahui sesuatu yang tersimpan didalam kotak karton cantik berwarna maroon dihadapannya.
Martabak yang sering wara - wiri di instagram itu akhirnya bisa ia rasakan juga meskipun tidak ditempat yang sama, setidaknya ia bisa mengunggahnya di story miliknya.
Sarah menghangatkan kudapan manis dengan toping melimpah itu menggunakan kukusan, karena lebih nikmat jika sedikit basah atau lembek.
Sembari menunggu, ia menghampiri kamar Bitha, membangunkan si baik hati yang telah membelikannya kudapan mahal seharga lima buah martabak manis spesial kaki lima untuk satu buahnya. Dan Sarah mendapatkan dua buah lengkap dengan bonusnya yang mampu menaikan semangatnya pagi ini.
"Markonaaahhhh,,,,banguunnnn........!!!!."
Sangat-sangat berisik.
"Markooo.....
"Apaan sih Sar!?. masih ngantuk!." Bitha membuka pintu dengan tampilan yang luar biasa mengerikan,
Sarah menutup mulutnya sesaat akibat keterkejutannya melihat penampilan wanita dihadapannya.
"BITHAAA!!!."
"AARGGGGHH!!!."
Bitha pun ikut menjerit saat menyadari tatapan sahabatnya, dibarengi dengan tawa Sarah yang memenuhi seisi rumah.
.
.
Mereka tengah berada di meja makan setelah Bitha kembali ke kamarnya untuk mengenakan sebuah hoodie, menikmati martabak manis dipagi hari dengan segelas teh hangat aroma melati.
"Kok kamu gak bilang sih kalo aku gak pake baju!." Ujar Bitha
"Gak sempet!. Keburu kaget liat penampakan gentong susu udah mau tumpah dari Cupnya!." Sarah terbahak hingga mengeluarkan air mata.
Bitha nampak kesal setelah mendengar cicitan sahabatnya itu, ia dengan sengaja melemparkan tutup gelas ke arahnya.
"Dasar jorok!."
"Lagian juga kok bisa sih kamu tidur gak bebaju, gak biasanya!?."
"Aku gak sempet mandi semalem, sikat gigi doank sama cuci tangan udah gak inget apa-apa lagi." Keluhnya
"Makasih ya bu dokter, udah beliin martabak selevel uang makan kita seminggu!." Ucap Sarah dengan wajah dibuat seimut mungkin.
"Ha?! Siapa mau beliin!!?."
Sarah bengong. Begitu pun dengan Bitha.
Sadar dengan ucapannya barusan ia buru - buru meralatnya,
"Maksudnya mau makan sendiri gitu!. Hehe...!."
"Idihhh,,, medit nian!?."
"Biarkan!."
"Gak bisa!. Ini kan aku yang minta!."
"Yeee,,, enak aja! Beli sendiri sono!."
"Gak!. Aku suka yang gratisan!." Sarah tertawa bahagia dengan mendekap wadah berisi martabak mahal itu dengan posesif
Sedangkan Bitha bernafas lega bisa menutupi kecurigaan Sarah.
.
.
Selesai bersiap, Sarah mengatakan jika akan ikut bersamanya kekantor karena Ibram tidak bisa menjemputnya.
__ADS_1
Bitha mengiyakan permintaan Sarah, kebetulan pagi ini ia ada perlu sebelum bekerja. Keduanya berjalan keluar rumah,
"Tunggu Sar, map biru ku ketinggalan!." Bitha kembali masuk kedalam kamar.
"Sini kuncinya, aku panasin dulu!." Tawar Sarah padanya
Ia menyerahkan kunci mobil pada Sarah tanpa rasa hawatir.
Sarah terkejut saat mendapati kedua jok mobil itu dalam posisi tertidur semua. Ia menggeleng pelan dan mengembalikannya keposisi semula. Kemudian beralih kebagian kursi penumpang ia menatap curiga sebuah jacket yang tak biasa dikenakan Bitha, terlebih jacket itu menyimpan aroma parfum pria.
Bitha memasuki mobilnya tanpa ada rasa curiga sampai mereka tiba di depan kantor Sarah. Tak kuat untuk diam akhirnya Sarah pun bertanya perihal siapa yang bersamanya semalam.
Awalnya Bitha mengelak jika ia tengah bersama seseorang, namun Sarah menunjukan bukti yang tertinggal di TKP padanya.
"Ini jacket siapa kalo gitu?!." Sarah menyipitkan matanya sembari menunjukan barang yang dimaksud.
Bitha menelan kasar salivanya. Pasalnya ia sendiri bahkan tidak ingat tentang jacket itu.
"Itu.........."
"Siapa Bith?!."
"Punya orang..." ucapnya tertunduk lemas dan malu.
"Iya siapa?. Gak mungkin punya Azam kan?!." Sarah terus menekannya
"Orang..........yang kamu kenal." Bitha meletakan dahinya pada stir mobil sembari memejamkan mata, ia tak bisa menatap wajah Sarah yang terlihat sangar namun Kepo.
"Ya iya Siapa orangnya Tsabitha Mahliga!?.
Ini tu gak mungkin kalo punya kamu, lihat ini merk butik kalangan berduit, bau parfumnya aja mahal!." Cecarnya tak sabaran
"Siapa Bith?!. Kalo Azam pasti gak mungkin!. Ini bukan seleranya."
"..............alex." ucapnya lirih
Sarah melongo mendengar pengakuan Bitha,
Alex?!
Kali ini bukan wajah garang lagi yang ia tunjukan, tapi wajah Manusia kepo, wajah - wajah yang haus akan gosip.
"Gak ngapa-ngapain Saraaaahhh...!.
Udah sono, buruan turun!. Aku juga telat entar." Ucapnya lemah
"Ok aku turun. Tapi kamu janji dulu sama aku buat ceritain semua - muanya entar malem!! Oke?!."
"Iya, iya, entar aku ceritain!." Jawabnya malas
"Bye Cantik!."
Sarah memberi kiss bye pada Bitha yang dibalas dengan mimik ingin muntah
Sarah berjalan dengan sedikit melambai saat memasuki lorong kantornya dengan senyum mengembang, sembari berdendang. Tak lupa tangannya mencolek setiap karyawan yang berpapasan dengannya. Ternyata dibalik penderitaan Bitha ada Sarah yang tengah merasakan bahagia. Yap! Bahagia karena ia mengira sahabatnya mulai membuka hati lagi setelah sekian lama.
.
.
Setibanya di parkiran sebuah toko buku, Bitha membuka pintu bersamaan dengan seorang wanita muda yang baru saja keluar dari mobil hitam terparkir tak jauh darinya. Wanita berbadan dua itu tengah menggandeng seorang anak laki-laki berusia sekitar lima tahun dan yang membuatnya terkejut adalah lelaki yang turut bersamanya dengan menggendong seorang anak lagi.
'Alex?'. Gumamnya
Bitha dengan cepat memalingkan wajahnya. Ia buru-buru membuka kotak masker yang berada di dashboard miliknya.
'Tenang, setidaknya dia gak bakal kenal apalagi berulah'.
Dokter cantik itu memasuki toko buku terbesar di kotanya. Dengan langkah lebarnya ia segera menuju blok dimana buku-buku incarannya berada.
Bitha tengah menyusuri deretan rak sembari memilah dan memilih juga membaca blurb yang terlampir dibelakang cover buku. Saat hendak melangkah, seorang anak berumur tiga tahun tanpa sengaja terjatuh karena tersandung sebelah kaki Bitha setelah sebelumnya berlari dari kejaran seorang pria.
__ADS_1
Reflek Bitha ikut berjongkok menyamai bocah yang tengah menahan tangisnya itu.
"Hati-hati ganteng, ada yang sakit?." Tanyanya dengan lembut.
Disaat itu pula seorang pria menghampiri keduanya. Dan berdiri tepat disebelah Bitha
"Come on boy, be strong enough to stand alone!."
Ia sangat mengenali suara itu, suara yang selalu membuatnya berdecak kesal bila berbicara dengannya.
Bitha yang kala itu tengah memegang kaki si bocah dibuat panik lantaran pria itu kini ikut berjongkok bersamanya.
"Maaf, saya permisi." Bitha segera beranjak dari posisinya untuk meninggalkan keduanya.
"Tunggu!." Alex mencekal pergelangan tangan Bitha
Ia melihat wanita yang bersama Alex beberapa saat lalu berjalan mendekati mereka.
"Kenapa lagi?." Tanya si wanita dengan menghela nafas kasar
"Mom!." Sang bocah berdiri dan langsung memeluk sang mami.
"Maaf, saya sedang terburu-buru!." Bitha berusaha melepaskan diri dari cekalan Alex.
Dokter cantik itu bergegas meninggalkan mereka tanpa mendengar persetujuan dari ke dua orang dewasa yang tengah bersamanya.
.
.
Bitha duduk bersandar dibalik kemudi hatchback putih miliknya. Pikirannya berkelana mengingat pria tadi, pria yang sering mengganggunya, pria yang bahkan semalam tidur dengannya dalam mobil yang sama tanpa ia sadari.
'Apa itu tadi?.
'Apa wanita tadi istrinya?.
'Apa dia niat selingkuh?.
"Gilak!."
"Aku hampir jadi pelakor!. Ya ampun!." Bitha mengusap kasar wajahnya.
"Dia pria beristri Bitha, hampir aja kamu jatuh dalam masalah!." Berkali-kali Ia menepuk kasar dahinya.
Bitha mengingat penampilan Alex semalam dengan penampilannya beberapa waktu lalu. Berbeda- itu yang ada di pikirannya. Itu artinya dia bukanlah pekerja dirumah itu bukan?. Apa pria itu tengah membodohi dirinya, atau ada hal lain yang tengah direncanaknnya contohnya saja ia ingin memikat para wanita untuk dijadikan mainan olehnya setelah mengetahui jika istrinya kini mengandung dan dia akan segera berpuasa karena sang istri melahirkan?. Ah sungguh liar pemikiran Bitha kini.
.
.
Alex memang tidak lagi mengenakan pakaian lusuh seperti yang sering ia kenakan saat mengunjungi rumah miliknya yang masih dalam tahap pembangunan itu.
Penampilannya begitu fresh meski rambutnya sedikit panjang. Ia mengenakan kaus polos dengan jeans hitam sebagai bawahannya.
"Siapa kak?." Tanya Rumi setelah memungut buku-buku yang terjatuh karena sang anak.
"Siapa?."
"Ckk, ya yang tadi lah!."
"Oh!, .... gak tau juga!."
"Gak usah bohong!. Matamu mengatakan 'i love you' Sadar gak?!." Sang adik mengatakannya dengan nada sewot.
Alex terkekeh mendengar ungkapan kejujuran dari wanita hamil yang tengah memeluk beberapa buku edukasi milik sang anak.
"Yuk! Udahan." Rumi menggiring kedua anaknya untuk menyudahi acara belanja buku keduanya dan menyerahkan urusan pembayaran kepada Alex.
.
.
__ADS_1
Bitha yang sudah sampai diparkiran rumah sakit tak juga beranjak dari kursi nyamannya. Ia masih duduk dengan tenang di balik kemudi, kembali terlintas dipikirannya jika ia hampir saja menyakiti hati seorang wanita.
"aah, awas aja kamu ya! Dasar pria gak tau malu!." Geramnya