
13.🐌
"Kak!. Paket kemarin buat siapa sih?!." Tanya Rumi saat melihat Alex tengah memotong kuku kakinya dipinggir kolam renang.
"Buat tukang!." Ucapnya asal.
"Bohong!. Doa in ditolak neh!?." Ancamnya
"HeH!! jangan donk!. Udah tinggal dua step lagi ini!. Enak aja main tolak - tolak." Sungutnya berapi- api
"Abisnya pake rahasiaan segala!."
"Gak ada rahasia, cuma belum waktunya aja!." Tegasnya
.
.
Pagi itu Bitha dan Sarah tengah duduk menghadap kotak yang semalam mereka bawa masuk kerumah.
"Buka Sar!." Suruhnya pada Sarah
"Ogah!, kamu aja. Cepetan!."
Bitha yang saat itu tengah memegang pisau tampak ragu untuk membukanya. Terlebih kotak itu tidak memiliki nama ataupun alamat si pengirim, meski biasanya mereka juga menerima paket berisikan roti tanpa nama pengirim. Hanya saja paket kali ini bukanlah paket yang tiba dipagi hari, melainkan pada malam hari itu sebabnya mereka ragu untuk segera membukanya.
Dengan keraguan juga rasa penasaran mereka akhirnya membuka kotak seukuran kardus mie instan itu. Seketika tawa mereka pecah bersamaan.
"Ya Ampuuunnnn....!!. Kenapa gak dari semalem aja sih bukanya!." Ucap Sarah
"Banyak banget ini!. Dari siapa ya?!."
Bitha tengah memegang satu persatu roti berbentuk buaya mini dengan label H&R Cake di bagian atas plastik pembukusnya.
Sekitar dupuluh lima buah ia tumpah dilantai bersamaan dengan jatuhnya sebuah kertas bertuliskan kata-kata permintaan maaf.
"Maaf untuk yang kemaren!."
Bitha termenung menatap secarik kertas yang berada di tangannya. Ia sudah mengira siapa pemilik tulisan tangan ini.
'Pasti dia' batinnya.
"Dari siapa Bith?."
"Gak ada namanya!."
"Coba?!." Sarah menarik kertas kecil yang dipegang Bitha.
Tawanya memenuhi ruangan.
"Aku tau siapa!."
"Gak usah ngadi-ngadi deh Sar!."
"Kenapa?! Emang aku ada bilang siapa orangnya?!." Tanya Sarah mengejek
"Iiihhh,,, kamu kok jadi nyebelin sih?!." Bitha melemparkan sebungkus roti kepada Sarah.
"Ha ha ha ha... cieee yang salting...!!!." Ledeknya
"Sarah!!."
"tunggu!. berarti yang ngirimin breakfast sebelum-belumnya juga dia berarti?!. Ni kan sama labelnya!."
Bitha hanya menggedikkan kedua bahunya sebagai balasan atas ucapan Sarah.
.
.
.
.
.
Dua minggu berlalu setelah menerima paket roti buaya, Bitha tak pernah lagi bertemu Alex sejak pertemuan terakhir kalinya dirumah sakit.
Minggu pagi waktunya ia dan Sarah menikmati hari libur. Keduanya berjalan santai menuju taman dimana semua jenis jajanan berkumpul.
Mereka memang tak berniat olahraga. Cukup berjalan kaki saja, karena tujuannya memang ingin mengisi perut.
__ADS_1
"Bith, jacket yang waktu itu udah kamu balikin belum?!." Tanya Sarah.
"Belum!."
"Gak ada niatan gitu buat ngebalikin?!."
"Penting?!."
"Ya alesan buat ketemu dia, kali aja kamu kangen tapi malu-malu!."
"Enggak ah, biar dia aja yang datang kalo emang perlu!." Ucapnya santai
"Ciee...kirain bakal ngomong 'GAK SUDI KETEMU DIA'.! Ternyataaa... ihiiii...!." Goda Sarah
"Udah deh Sar!, kamu gak capek apa godain aku mulu!." Keluhnya
"Terus kamu simpan dimana jacketnya?!."
"Masih dimobil lah, kali aja ketemu dia dijalan kan bisa langsung kembaliin ke orangnya!."
"Ya Ampun Bitha!. Gak kamu simpan baik-baik gitu?!."
"Lah kan gak aku pake juga itu jacket!."
"Awas loh rusak, tekor bandar sampe kenapa-kenapa ama tu jacket!.
Mayan duitnya buat bayar kontrakan kita dua tahun Bith." Ucapnya memelas
"Seriusan Sar!?." Tanyanya tak percaya
"Dih, ngapain coba aku bohong?!.
Baca dong merknya Saint....."
"Gitu amat ya beli barang?. Gak sayang apa ama duitnya!?" Bitha menerawang ke atas langit biru nan cerah.
Tapi Sar!, kan yang pake gituan belum tentu orang kaya!? Bisa jadi jacket pinjaman. Atau mungkin Laurent KW?!."
"Iya juga sih!." Sarah menyilangkan kedua tangannya di dada sambil manggut-manggut.
"Tapi Bith, yang waktu itu beli martabak manis dia kan?!."
"Nah berarti dia Horang Kaya beneran!. Jangan-jangan rumah gede itu punya dia?!." Sarah mengusap dagunya sendiri dengan wajah penuh rasa penasaran.
"Udah ah, ngapain sih ngebahas dia?!. Mau dia orang kaya kek, enggak kek. Sama-sama makan nasi, e'e juga ya kan?. Apa mau di banggain?!."
"Emmh, aku ngalah deh!. Jadi gak masalah dong ya kalo Kak Alex bener-bener tukang bangunan!?."
"Ya iya lah!."
EH?!........" sadarnya
.
.
Beberapa hari ini Bitha mulai berfikir tentang lelaki yang sering mengganggunya. Kenapa pria itu terlalu berani untuk mendekatinya?.
Dirinya yang bahkan tak mengenali Alex sebagai kakak kelasnya dulu terpaksa harus mengorek sejarah masa SMA nya. Sayangnya tak ada bayangan sama sekali tentang pria itu.
Setelah makan siang, Dokter cantik itu memilih duduk disebuah bangku taman bougenville yang terletak dibelakang rumah sakit sembari menunggu jam pulang kerja sang sahabat.
Tak banyak yang harus di urusi untuk hari ini. Setidaknya itu menjadi waktu istirahat baginya setelah beberapa hari belakangan banyak menyita tenaga juga pikirannya.
Ia mengunjungi situs chat bersama dokter yang sedang populer akhir-akhir ini. Namun ketenangannya harus terusik saat pria yang sangat tidak ingin dia temui menyapa dirinya.
"Nungguin siapa?." Tanyanya membuka percakapan
"Oh, lagi nunggu Sarah." Jawabnya tanpa mengalihkan pandangan dari layar ponsel.
Keheningan kembali terasa saat pria itu duduk dihadapan sang dokter cantik yang tengah merasa tak nyaman karena keberadaan si masalalu.
"Kamu gak pulang?." Tanya Bitha
"Bentar lagi." Jawabnya sembari melihat jam dipergelangan tangannya
"Aku duluan, kasihan Sarah entar nungguin kelamaan!." Ia beranjak dari indahnya taman yang ditumbuhi berbagai macam bungan cantik itu, namun Azam dengan gesit mencekal pergelangan tangannya.
"Bith, tunggu!. Aku minta waktu sebentar." Ucapnya tergesah.
Bitha menatap tangannya yang tengah dalam genggaman pria dihadapannya.
__ADS_1
"Bisa kamu lepasin?."
"Enggak!. Aku takut kamu lari lagi."
"Aku gak bakal kabur. Jadi tolong lepas!."
Azam dengan ragu melepaskan cekalan tangannya. Namun tidak seperti dugaannya. wanita dihadapannya benar-benar tidak kabur.
"Kenapa? Apa yang mau kamu bicarain sama aku?."
"Bith, kamu tahu kalo sampai sekarang aku masih menyimpan rasa yang sama buat kamu?."
Ucapnya terjeda,
"Bisakah kita kaya dulu lagi?."
Bitha menundukkan kepalanya sejenak lalu mendongak, menatap wajah pria yang dulu selalu tersenyum cerah kala bersama dirinya.
"Zam, aku sudah pernah bilang kalo kita memang lebih baik gak pernah berhubungan lagi, setidaknya cukup jadi teman, gak lebih!."
"Apa kamu gak mau mencobanya lagi?. Aku janji gak akan ada kejadian yang sama dimasa depan." Ucapnya dengan tulus.
"Hati ku yang enggak bisa Zam. Aku gak bisa ngejalanin hubungan dengan bayang-bayang luka dimasalalu."
Azam terdiam. Cukup sulit rasanya membuka kembali jendela hati wanita dihadapannya ini.
"Aku gak berani buat ngambil kesempatan kalo resikonya lebih besar dari hasil yang aku dapat!." Tegasnya.
Bitha kembali berdiri dari duduknya. Ia berpamitan meninggalkan pria yang tengah dilanda rasa kecewa itu.
Tanpa mereka sadari seseorang tengah menatap geram keduanya dari balik dinding kaca lantai atas rumah sakit.
Benar-benar sore yang tidak menyenangkan bagi Bitha harus bertemu dengan masalalu yang selalu memaksanya untuk menjadi masadepan. Sungguh egois!.
.
.
.
.
.
Lama sudah ia tak pernah bertemu lelaki itu. Ada sedikit rindu yang terselip diantara palung hatinya saat melihat jacket yang tersimpan rapi di jok belakang hatchback miliknya.
Bitha memandang lekat baju hangat itu saat akan menutup pintu belakang mobilnya.
"Ah, baper deh!. Kenapa aku jadi kaya anak ABG gini sih!?." Umpatnya
Bitha berjalan menaiki tangga teras rumah kontrakannya. Beruntung, karena Sarah yang lebih dulu masuk kedalam rumah tak melihat wajah melas si cantik yang sedang galau.
Bitha meletakan semua barang bawaanya di lantai kamar dan berlalu ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
"Bith!?." Suara Sarah menginterupsi acara gosok menggosok tubuhnya
"Apaan?." Sahutnya dari dalam bilik
"Ada yang mau dititip gak? Aku pesan makan malam!."
"Asam manis kepala kakap Sar!."
"Ebusyet bu dokter, jan malah-mahal napa?."
"Gak papa! Sesekali!." Bitha terkekeh sembari meneruskan kegiatannya.
Selesai membersihkan sisa busa yang menempel, ia membalut tubuh dengan bathrobe dan mengemas rambut basahnya dengan handuk kecil. Bitha mematut dirinya didepan cermin. Menangkupkan dua telapak tangannya pada pipi mulus yang selalu merona saat digoda oleh pria berdarah pribumi campuran itu.
"Ya ampun Bitha, sadar!. Kamu merindukan suami orang!." Gumamnya sembari menepuk kedua pipinya
"Ya Allah maafkan aku yang hampir tergoda!." Lanjutnya.
"Tunggu dulu! Kalo dia suami orang, kenapa dia berani banget ngajak nikah?. Apa dia mau poligami?. Waaah Gile bener!."
.
.
.
tbc
__ADS_1