
6.🐌
Biip...
Biip...
Alarm Sarah terdengar hingga kamar sebelah yang kala itu sang penghuni tengah mendayung mimpi.
Dengan gontai Bitha membuka pintu kamarnya dan mengetuk pintu kamar Sarah.
Tersadar dari tidur nyenyaknya karena sebuah ketukan yang teramat ekstrem, Sarah meraih benda bulat yang selalu terpajang diatas nakas miliknya.
"Nem, berisik banget oii!." Teriak Bitha dari balik pintu
"Iyyaaa nyaah...!." Sahutnya dan tak lama pintu kamar pun terbuka,
"Bith! Pulang jam berapa semalem?!." langkahnya mengikuti Bitha ke arah dapur
"Jam 11. Aku ketukin kamunya udah molor aja!."
"Hehehe....., sory. Capek banget aku!."
Selesai dengan ritual pagi para wanita. Bitha berencana keluar untuk membeli sayur, sedangkan Sarah tengah mencuci beras di wastafel. Selain memiliki lebih banyak waktu, juga karena Sarah lebih lama jika harus bersiap kerja, mulai dari memoles make up yang berlapis hingga berbinar cerah juga tatanan rambut yang mengharuskannya tersusun rapih.
"Ada yg mau dibeli lagi gak?."
"Gak ada!." Jawab Sarah
Bitha mengendarai motor matic Sarah dengan santai keluar komplek menuju area taman dimana banyak pedagang sayur segar juga ikan dan jajanan basah yang berjejer di sepanjang jalan besar saat pagi hari.
Mendapat semua kebutuhan memasaknya, Bitha segera memacu motornya untuk pulang.
Seratus meter ia berkendara, seorang pria tiba-tiba menghentikan laju motor Bitha dengan melompat kesisi jalan.
ASTAGFIRULLAH!
"Apaan sih!? Bahaya tau GAK?!!!." Bentaknya
Sedangkan si objek hanya tersenyum menampilkan deretan giginya yang rapih.
Pria itu muncul dari sebuah rumah makan bertajuk 'Rancak Bana'. Dengan setelan khasnya, kaos berlapis kemeja lusuh juga jeans robek menyerupai keset, tak lupa pula sepatu safety yang dipenuhi bercak semen kering.
Sepertinya dia baru saja sarapan, sepagi ini!.
"Bu dokter mau pulang ya?!." Ucapnya basa-basi
Bitha menatap wajah tampan itu sembari memicingkan matanya, tampak curiga.
"Boleh numpang gak?!."
"GAK!!."
Bitha langsung memutar gas motornya, namun cekalan tangan Alex pada rem belakangnya tak kalah cepat membuat motor itu hanya jalan ditempat.
"Lepasin!!. Aku belum masak!!." Geramnya
__ADS_1
"Bu dokter, aku ikut ya?!. Sampe bangunan aja kok!. Nanti perut aku sakit lagi gimana kalo jalan terlalu jauh?!
"Hiih,,,kamu kok nyebelin sih!?."
"Please ya ibu Cantiiikkk??!!."
Bitha nampak berfikir sebelum akhirnya memberi tumpangan
"Cepetan Naik!!." Sungutnya.
"Tukar posisi aja, biar aku yang boncengin?!." Tawar Alex
"Enggak!. Entar kamu modusin lagi."
"Gak kebalik?!. Kamu gak takut kalo aku modusin dari belakang?!." Ujar pria dengan Topi hitam itu mengingatkan bahwa dimana pun dia berada tetap lah seorang Lelaki.
"Udah buruan!. Kesiangan udah ini!."
Alex membiarkan wanita itu mengendarai motornya. Sapuan angin menebar wangi jasmine dari balik kerudung yang dikenakan Bitha.
'Sepertinya dia baru saja keramas'. Otak pintar pria dibelakangnya perlahan mulai bergeser dari porosnya.
Andai saja Bitha halal untuknya maka tak ada kata ampun untuk menerkamnya.
Pria itu benar- benar menikmati paginya. Berada di boncengan wanita dihadapannya ini membuat moodnya naik 100%.
Beruntung wajahnya yang tengah senyum - senyum aneh tak nampak di Spion karena tinggi tubuhnya melebihi kepala Bitha.
Berbanding terbalik dengan Bitha yang tengah ketar-ketir. Takut jikalau ada sesorang yang mengenalinya tengah berboncengan dengan seorang pria.
"Turun!."
"Ha?."
"Cepetan!."
"Siapa?!."
Sebal dengan jawaban Alex, Bitha memilih turun dengan menenteng belanjaannya.
"E e e e h, mau kemana?!."
"Kamu kan gak mau turun!." Ketusnya
Alex masih pada posisinya nangkring di jok belakang dengan kedua kaki yang menyangga motor matic sarah agar tetap berdiri.
"Iya iya ibu, canda...!!. Cantik deh kalo marah!." Gombalnya menambah geram Bitha
"Minggir!."
"Ya udah naik aja!." Ucap Alex santai
Melihat kegarangan wajah Bitha membuat Alex menyudahi keusilannya.
Ia tau jika wanita cantik ini tengah manahan emosinya untuk tidak melempar kresek yang dibawanya.
__ADS_1
"Bye ... Bye ... Cantik ... !!!." Ucapnya setelah kepergian Bitha
Alex menatap bangunan setengah jadi yang berjarak tiga puluh meter dari tepi jalanan komplek. Rumah dengan konsep modern tropis yang sedang dalam tahap pembangunan itu memang terlihat besar diantara rumah disekitarnya yang mengusung tema modern minimalis.
"Kerja...kerja...kerja...........semangat jemput masa depan!." Ucapnya menyemangati diri sendri.
Seorang pekerja oaruh baya menyapa pagi Alex yang begitu cerah.
"Loh? Mas!. Masih mau ikut ngadon semen apa ya?." Tanyanya
"Enggak deh pak!. Encok saya!." Pria itu terkekeh
"Itu sudah dibilangin sama pak usman kemaren disuruh diem aja sampean ngeyel!."
"Haha...aman pak, udah hilang penasarannya!."
"La iyo to gimana gak hilang wong sak orangnya ikut siup gitu!." Bapak itu tergelak
Begitupun dengan pria tampan yang sedang berkacak pinggang menemaninya.
Alex mengecek keseluruhan bangunan, meneliti bagian-bagian yang masih dalam tahap finishing.
Ia menaiki sebuah tangga menuju lantai dua, dimana calon kamar utama berada. Mendadak pikirannya traveling saat membuka pintu baja bercat putih dihadapannya, membuat ia cepat-cepat turun untuk memusnahkan hal-hal yang tidak seharusnya.
"Kenapa mas? Kok buru-buru!." Tanya seorang pekerja seumuran dirinya.
"Eh, enggak!. Gak papa!."
"Sampean opo takut makhluk halus?."
"Ha? Halus gimana? Berbulu gitu?."
"Bukan!, yang model setan gitu loh!."
"Ooh, enggak!. Saya tadi kepikiran sesuatu aja!." Jawabnya sembari tersenyum garing
Selesai berkeliling rumah pria itu kembali disibukan dengan ponsel pintar yang selalu lekat dengan dirinya.
Duduk di tepian kolam tanpa air, ia membuka PC miliknya. Menghasilkan uang sendiri itu memang sangat menyenangkan terlebih bisa memberikan lapangan pekerjaan untuk orang lain, itulah mengapa dirinya begitu menikmati kesibukannya hingga tak pernah berurusan dengan mahluk cantik bernama wanita selain urusan pekerjaan.
Ia termasuk golongan pria lajang yang takut dengan wanita. Bukan tanpa sebab, pasalnya banyak diantara pekerja yang berada di kantornya menyandang status duda ataupun janda. Sebagian dari mereka memiliki gaya hidup yang tidak bersih.
Mengencani wanita bukanlah perkara sulit baginya. Namun menjaga diri itulah yang paling susah bagi dirinya yang merupakan seorang pria.
Tak sedikit dari karyawan wanita yang sangat mengharapkan dirinya ibarat sebuah medali emas. Terkadang ia merasa risih dengan tatapan lapar dari mata-mata yang haus belaian.
Tak ada yang salah dengan itu. Hanya saja mereka terlalu blak-blakan untuk urusan ranjang kepada sesamanya.
Alex bukanlah pria lugu. Tapi ia juga tak pernah mau mencicipi apa yang bukan miliknya.
Hatinya terlanjur jatuh pada satu wanita selama bertahun-tahun. Bahkan sebelum ia terjun dalam dunia kerja.
Ia sudah menyimpan rasa itu sejak masih duduk dibangku sekolah menengah atas, dan itu terjadi karena insiden tak terduga yang hingga kini masih terekam secara gamblang dalam ingatannya.
Sempat ia merasa lelah dengan perasaannya. Namun apa daya jika rasa itu sendiri yang enggan untuk meninggalkan hatinya. Bahkan saat si wanita menjalin hubungan dengan pria lain. Sakit, sudah pasti. Tetapi hal itu juga tak mampu membuat hatinya berpaling.
__ADS_1
Buah dari kesabarannya kini mulai terlihat sedikit demi sedikit. Ia hanya menunggu waktu yang tepat saja untuk memetiknya secara keseluruhan.