Bu Dokter! Love Me Please!

Bu Dokter! Love Me Please!
12. was - was


__ADS_3

12.🐌


"Dok, udah denger gosip terpanas minggu ini belum?." Bisik salah satu bidan yang tengah berdiri di nurse station kepada Bitha.


Bitha yang tengah membolak-balik lembaran kertas di binder file pun terpaksa mendongak,


"Gosip apalagi sih Ta!? Kamu laju banget kalo yang panas-panas gitu!." Jawabnya santai


"Itu manager marketing rumah sakit yang baru, siapa namanya Bil?!." Tanya bidan bernama Kalista kepada seorang perawat yang berada dibelakangnya


"Azam Prawira kalo gak salah." Jawab Nabilla


"Nah iya, itu!."


"Katanya nih ya, masih katanya, bakal jadi mantu Asistennya pak Jordi!.( Michael Jordan Abraham D.) akrab dengan sapaan Jordi. pemilik rumah sakit tempat mereka bernaung)


"Heleh! Masih bakal mantu aja loh!. Asistennya pulak! Kan bukan pak Jordinya." Timpal salah satu bidan yang juga tengah bersama mereka.


"Iya sih, tapi kan dia hebat bisa mecahin record jadi bakal suaminya si mbak - mbak cantik yang... HEEEMMMH ...itu."


"Sama saya cantik mana?!." Tanya Bitha dengan wajah datarnya yang masih fokus pada tumpukan lembaran putih di hadapannya.


"Dokter beneran nanya apa lagi nguji iman kita nih?!." Kalista memicingkan matanya


"Nanya ini!." Dengan santainya ia menanggapi omongan member of the Nurse station itu.


"Dok, seandainya saya punya kakak cowok nih pasti udah saya sodorin loh buat nyalon!." Kalista mengubah mimiknya jadi lebih menantang sembari menatap Bitha yang tengah fokus menandai sesuatu dikertas miliknya.


"Nyalon apaan sih mbak Ta ?!." Tanya Nabilla sebagai member termuda diantara mereka.


"Ya nyalon jadi bakal soulmatenya dokter Bitha, Billa!. Dih kamu ni lelet banget!. Ganti processor mu pake punya si Ujang!."


"Ih, ogah mah! Dia sih kelewatan mesumnya." Nabilla menggeleng cepat


Mereka tertawa bersama, membicarakan hal-hal santai layaknya dipantai.


.


.


Masih ditempat yang sama namun kali ini Bitha hanya berdua dengan Kalista si bidan bohay yang gemar mengasah lidah dengan berita ter-Panas setiap harinya.


Seorang pria yang baru saja menjadi perbincangan mereka menyapa Kalista dengan senyum hangatnya.


"Permisi, sus saya ada form yang perlu di isi untuk setiap station ya!." Azam menyerahkan lembaran putih itu kepada Kalista.


"Sus?." Azam melambaikan tangannya dihadapan bidan yang sedang bengong karena terpesona itu.


"Eh! Iya!. Eh, apa tadi pak?. Form di isi ya?. Ok!." Kalista cengengesan setelah sadar dengan kehilafannya.


Sementara Azam diam-diam melirik wanita bersneli putih yang tengah duduk anteng tak jauh dibelakang Kalista dengan wajah fokus menatap lembaran dihadapannya. Ingin sekali Azam menghampirinya, namun ia sadar ini adalah tempat kerja jadi tak sepantasnya ia melakukannya.


"Terimakasih ya!." Azam berlalu


Sedangkan bidan rumpi itu masih terpesona dengan wajah manisnya.


"Duuhh, manisnya."


Bitha mendongak sesaat ketika mendengar ucapan wanita dihadapannya itu lalu menggeleng.


Tak butuh waktu lama bagi Kalista untuk berpindah kiblat, dari pesona Azam kini bidan itu kembali terhipnotis dengan rupa wajah tampan nan Uhuy yang tengah berdiri dihadapannya.


"Sus!. Pasien di kamar 507V ada perlu, nurse bell nya gak bisa." Ucap pria dengan setelan hoodie berwarna hijau emerald itu.


"Baik pak!." Kalista segera berlalu kedalam ruangan dibalik pintu bertuliskan 'only staff' yang berada di belakang Bitha.


Bitha menoleh ketika Kalista melewati dirinya, kemudian mendongak saat merasa seseorang tengah mengawasinya.


'dia lagi?. Ya Ampun!.' Batinnya ingin sekali menjerit


Pria itu mengedip jahil kepadanya.

__ADS_1


'Sinting!.' Umpatnya dalam hati.


Alex melihat bidan itu kembali pada meja barnya dan menanyakan apakah ada lagi sesuatu yang perlu dibantu kepadanya.


Alex meminta stick note juga bolpoin kepada bidan bohay yang tengah menatap wajah tampan miliknya dengan hati berbunga-bunga.


Pria itu menuliskan sesuatu diatas stick notenya kemudian melipat kecil dan meminta kalista untuk memberikannya kepada wanita cantik yang tengah duduk dibelakang dirinya.


"Gilaakk, dok! Ganteng bangetz!." Pekiknya tertahan setelah kepergian Alex.


"Dokter pasti kenal kan ama tu manusia! Ngaku dok?. Awas dokter ngelak!. Aku udahan jadi partner di poli loh!." Ucapnya setengah mengancam.


"Yee... kenal apaan!?." Bitha terlihat santai, namun hatinya sangat gemas ingin menjambak rambut pria tadi.


"Bohong!. Gak mungkin kalo gak kenal langsung ngajak merried?!." Cecarnya


"Heh! Kamu ngintip ya?!." Mata indah itu membola saat mendengar ucapan Kalista


"Dih buat apa ngintip?, orangnya sendiri yang nulisnya terang-terangan dimeja! Gimana diriku yang jeli ini tak melihat?!." Sangkalnya sembari cekikikan.


"Cukup di kamu Ta!. Awas sampe jadi bahan gibah!." Ancamnya


"Sip!. Aman dok, asal ada anu-nya...."


"Gak!, gak ada anu - anuan!." Tolak Bitha


"Yaaahhh...


.


.


Sepulang kerja Sarah mengajak Bitha untuk menemaninya ke BabyShop yang berada dipusat kota. Saat dikantor tadi Sarah mendapat chat berisi undangan Aqiqah dari teman sekantornya yang baru saja melahirkan.


"Iiihhhh unyu bangeettt kan Bith!!." Serunya menatap deretan boots bayi yang terpajang rapi di rak berwarna putih.


"Beli semua aja Sar, buat simpanan anak kalian nanti!." Bitha terkekeh


Selesai berbelanja mereka melanjutkan makan malam di sebuah resto bertajuk 'Olahan Iwak Asli Pring Ndeso'.


Keduanya tampak asik dengan sajian menggugah selera berbahan dasar ikan yang mereka pesan.


"Hei! Asik banget kayaknya!."


Keduanya lantas mendongak. Kemudian saling pandang untuk sesaat,


"Eh, kamu Zam!. Iya nih laper banget soalnya." Ucap Sarah


Sedangkan Bitha sama sekali tak berniat menjawab sapaan lelaki yang kini tengah duduk disebelahnya.


"Aku boleh gabung kan?!." Tanyanya


Keduanya melirik Bitha yang tak menanggapi ucapan Azam.


"Duduk aja kali, ngapain pake nanya sih!." Sarah mencoba untuk santai sembari mencocol sambal dihadapannya.


Sejujurnya Bitha sudah sangat malas untuk mendengar suara, apalagi bertatap muka dengan teman sekaligus mantan kekasihnya itu.


Jika dulu mereka akan dengan senang hati makan bersama, bahkan saling melempar candaan kini tak lagi sama. Seperti ada tembok yang memisahkan mereka.


Di umur mereka yang sudah matang harusnya bisa bersikap dewasa namun tidak dengan Bitha, baginya sangat sulit untuk mengatakan 'baik-baik saja'. Terlebih mereka adalah teman dari satu sekolah dan juga satu kampung. Luka yang ditorehkan salah satu dari mereka membuat hubungan ketiganya menjadi retak, dan sangat sulit untuk dikembalikan seperti sedia kala.


Ketiganya makan dengan senyap, hiruk - pikuk di sekitar mereka tak bisa mengubah kesunyian dalam diri masing-masing.


Tak menunggu lama untuk Sarah dan Bitha menyelesaikan makan malam mereka. Selain karena sudah malam juga karena ada Azam diantara keduanya, hal itulah yang menjadi faktor utama ketidak nyamanan untuk berlama-lama.


.


.


Perih. Itulah yang dirasakan pria berusia tiga puluh tahun itu kini. Sulit sekali mengembalikan rasa yang telah hilang karena sebuah penghianatan.

__ADS_1


Azam menyandarkan tubuhnya dibalik kemudi mobilnya yang terparkir dipinggir sebuah lapangan bola. Matanya menerawang jauh kedalam gelapnya malam diiringi alunan lagu milik Slander feat Dylan Mattew berjudul LoVe is Gone


Don't go tonight


Stay here one more time


Remind me what it's like, oh


And let's fall in love one more time


I need you now by my side


It tears me up when you turn me down


I'm begging please, just stick around


I'm sorry, don't leave me, I want you here with me


I know that your love is gone


I can't breathe, I'm so weak, I know this isn't easy


Don't tell me that your love is gone


That your love is gone


I'm sorry, don't leave me, I want you here with me


I know that your love is gone


I can't breathe, I'm so weak, I know this isn't easy


Don't tell me…


Orang yang ia cintai sudah menutup hatinya, pun dengan kedua orang tuanya yang sangat kecewa. Juga Sahabat yang dulu senang melihatnya kini terlihat enggan saat bertemu dengannya.


.


.


Tiba dirumah, Sarah memperhatikan sebuah box paket yang diletakan di atas meja teras.


"Bith, punya siapa?!."


"Apa?!."


"Tuh?!." Sarah menunjuk dengan dagunya


Keduanya saling tatap,


"Gak tau!. Kamu gak ada pesan apa-apa gitu kemaren?!." Tanya Bitha.


"Enggak!."


"Dari Ibram mungkin!." Tebaknya


"Mana ada Ibram pake paket-paketan gini!." Ujarnya sedikit ketus


"Udah bawa masuk aja! Kita buka didalem." Ujar Bitha.


"Takut ih, entar kalo Bom gimana?! Meledak didalem donk!!."


"Dih, ngawur! Buka paket jam gini?! Keburu melempem bubuk mesiu nya." Bitha cekikian


"Hush, emang kerupuk? sembrono!."


"Ya udah gih angkat."


"Kamu aja! Sini tas kamu aku bawa masuk."


"Hiis, awas aja!."

__ADS_1


__ADS_2