
18.🐌
Alex menyamankan tubuhnya pada sandaran kursi. Bujang berumur itu memutar kursinya kekanan - kekiri bak odong-odong.
Ia tersenyum kala melihat tampilan wallpaper dimana wajah cantik Bitha saat menjadi bridesmaid menghiasi ponselnya.
Panggilan sang asisten dari luar pintu sengaja ia abaikan karena rasa kesalnya setelah menerima pesan diwaktu tak tepat dan terpaksa harus membatalkan janjinya pada Bitha.
Tok tok tok
Pintu langsung terbuka tanpa menunggu kata 'masuk' dari sang empu.
"Bro!." Seru seorang pria dengan penampilan necis
"Semprul!."
"Eitz!." Dengan sigap ia menangkap sebuah bolpoin yang tengah melayang ke arahnya.
"Jangan marah bos ku!. Bukan mau diriku untuk mengganggu acara kencan dirimu dengan si dia!." Pria itu terbahak setelahnya
"Kan aku udah bilang kemaren jangan telepon dulu bombon!." Kesalnya
"maap!, ya udah sih, kan lu masih bisa terbang lagi kesono nemuin doi setelah kerjaan beres. Repot amat, udah kaya orang susah aja!."
Pria dengan nama asli Bagas itu menduduki sofa dan membuka beberapa berkas yang telah ia siapkan untuk Alex.
.
.
.
Dilain tempat, Bitha juga tengah mengamati layar ponselnya menanti kabar dari seseorang.
"Paan sih! Baper dah!." Ia tersenyum geli dengan tingkahnya sendiri.
Sebuah panggilan nampak pada ponsel Bitha,
"Assalamualaikum!. Iya ma?."
.....
"Iya free, kenapa?!."
.....
"Boleh banget! Kapan, biar nanti aku jemputin!."
.....
"Oke, siap nyonya!."
Bitha tampak gembira, wajah cantiknya terlihat berseri setelah menerima panggilan dari sang ibu tercinta.
Ibunya akan mengunjunginya akhir pekan ini bersama sang adik. Ada perasaan senang karena dirinya tak akan sendiri lagi dirumah kontrakannya kini.
Bian Abby Rizki, pemuda dengan image judes yang tercetak jelas diwajahnya itu akan meneruskan pendidikannya kesebuah perguruan tinggi khusus teknik perminyakan. Bukan tanpa sebab ia melakukan hal itu. Semua karena doktrin dari seorang pria yang setahun belakangan sering berkunjung kerumah mereka di kampung.
.
.
Jam menunjukan pukul 19.15 waktunya ia berkemas untuk pulang.
Tiba di area parkir dengan keadaan minim penerangan, Bitha dikejutkan dengan tepukan pada pundak sebelah kanannya. Ia lantas menoleh dan mendapati Azam tengah tersenyum manis kepadanya.
"Kamu?." Bitha berusaha menekan rasa takutnya mengingat keadaan tempat parkir yang terlalu sepi dari lalu-lalang manusia dimalam hari.
"Iya, aku!. Kenapa? Kaget?."
"Enggak, ngapain? Belum pulang jam gini!. Bukannya jam kantor udah lewat ya?." Bitha melihat jam yang melingkar dipergelangam tangannya.
"Nungguin kamu. Kangen pengen lihat kamu!." Ucapnya tanpa malu.
"Ngaco!. Udahlah Zam, jangan bikin perkara!. Kamu seneng lihat aku jambak-jambakan sama temen kamu itu?." Bitha berfikir bahwa pria dihadapannya ini setengah gila.
"Maksud kamu Jenita?."
"Ya apalah itu namanya, aku gak tahu."
"Tenang aja, aku udah bikin dia bungkam!." Kekehnya bak penjahat
Bitha dengan segala keresahannya mencoba untuk tidak memprovokasi lebih jauh setelah melihat gelagat yang semakin aneh dari mantan kekasihnya itu.
"Ya udah balik gih!. Aku juga mau balik, capek!." Sengaja ia membuat dirinya seolah-olah sangat lelah setelah seharian dinas.
"Ok!. Hati-hati ya dijalan!." Ucap azam dengan wajah sumringahnya. Namun terdengar sangat mengerikan untuk Bitha nilai maksud dari kebaikan ucapannya itu.
.
.
.
Beberapa hari ini Bitha selalu mendapati Azam terlihat seperti sedang menunggu seseorang selepas jam kantor. Ia beranggapan jika pria itu tengah menunggu dirinya karena melihat mobil miliknya yang masih terparkir di area parkir rumah sakit.
Tak ayal Bitha selalu memesan ojek online untuk mengelabui pria itu. Membayangkan jika dirinya harus bertemu dan selalu di ikuti membuat bulu kuduknya meremang.
Ia menceritakan hal itu pada Sarah dan langsung mendapat tanggapan yang sudah pasti heboh dari wanita yang tengah hamil muda itu. Sarah menyayangkan perlakuan Azam kini yang seperti seorang penjahat.
Bitha juga menceritakan akan kedatangan sang ibu bersama adiknya. Dan hal itu membuat Sarah merasa iri sekaligus rindu dengan kampung halaman mereka sebab semenjak sang suami mengetahui tentang kehamilannya, Sarah diberi batasan untuk tidak berbuat sesuka hati seperti saat sebelum menikah.
.
.
.
.
Bitha menempatkan dirinya dengan nyaman diatas kasur miliknya. Hampir setengah hari ia membersihkan rumah kontrakan minimalis itu demi menyambut kedatangan dua orang terkasih dalam hidupnya.
Ia meraih ponsel miliknya dan membuka sebuah aplikasi untuk memesan makan siang.
Tak berselang lama terdengar suara sebuah motor yang berhenti diluar pagar rumahnya.
__ADS_1
"Pasti makanan!. Kerudung mana kerudung?." Ia bergumam sendiri sembari berjalan cepat untuk menyambut mas gofood yang sangat ia nanti.
Dengan tak sabaran ia membuka pintu bercat putih itu dan hendak memakai sandal namun tatapan seseorang yang berdiri dihadapan pintu membuatnya seketika istigfar.
"Kak?."
Pria dihadapannya tak menjawab karena fokusnya pada sesuatu yang sangat mengganggu penglihatannya saat ini.
Bitha mengikuti arah pandangnya, betapa terkejutnya ia saat menyadari jika ia tak menutup tubuhnya dengan sempurna. Dia memang mengenakan kerudung dengan baju berpotongan lengan tiga perempat, namun sayang ia hanya menutup kaki putihnya dengan hotpants.
Jeritan Bitha memekakan telinga Alex dan membuat pria itu terbahak hingga membuat matanya sedikit basah.
.
.
"Ngapain sih senyum-senyum?. Piktor nih pasti?!." Tebaknya
"Kalo iya kamu bisa apa?." Tantang Alex sembari menikmati makan siang yang bukan miliknya itu diteras rumah.
Bitha hanya bisa mendengus kesal setelah mendengar ucapan pria dihadapannya tanpa ada perlawanan
"Untung aku aja yang lihat!. Bukan mamang gofood tadi!." Ucapnya sedikit sombong
"Apaan! Sama aja kali!." Ketusnya
"Enggak lah, tega banget kamu samain calon suami sendiri sama mamang gembul tadi!." Alex mengerucutkan bibirnya kesal.
"What?!."
"Apa?." Alex melihat seraut wajah bingung dihadapannya
"Apa tadi?. Calon suami?."
"Iya! Kenapa? Ada yang salah?."
"Kamu sehat kak?."
"Sehat lah!. Kenapa sih?."
"Kok pede banget sih?."
"Udah makan dulu, tadi kamu laperkan!?."
Alex menyodorkan sepiring nasi dengan sepotong ayam yang sudah ia makan sebagian ke hadapan Wanita cantik dihadapannya.
Bitha menatap tak percaya dengan semua yang ada didepan matanya saat ini. Situasi dan kondisi aneh yang menghilangkan selera makannya begitu saja.
"Kenapa? Kamu gak laper?. Aku makan lagi aja ya?." Tanpa menunggu persetujuan, pria dihadapannya itu kembali menarik piring yang tadi ia sodorkan.
Lima belas menit Alex menghabiskan makan siang Bitha tanpa rasa bersalah. Meninggalkan wajah cengo sang dokter cantik yang terus menatapnya.
"Kenyang!. Ini gak ada minumnya?." Tanyanya tanpa beban.
"Ada, noh!." Bitha menunjuk dengan dagunya kesebuah keran disudut rumah yang biasa ia gunakan untuk menyirami tanaman hias miliknya.
"Seriusan?!." Tanpa babibu pria itu berjalan menuju sumber air yang ditunjukan oleh Bitha
"eeeeehhh, stop!." Meski sedikit kesal Bitha menghentakkan kakinya untuk masuk kedalam rumah demi secangkir air. Tak sampai hati melihat pemandangan menggelikan jika benar pria itu akan menghisap mulut keran untuk melepaskan dahaganya.
.
.
Pria itu tampak serius dengan ponsel ditanganya. Tanpa disadari seseorang tengah berdecih dan mengumpat kesal karena kelakuannya saat ini.
"Ck, bisa-bisanya dia kaya gitu!. Gak sopan!." Bitha bergumam tanpa ada yang mendengar
Tak lama abang gembul dengan jacket hijaunya berhenti tepat diluar pagar rumah dan meneriakan sandi andalan,
"Paket mas!." Ucapnya sembari mengacungkan paper bag dari sebuah restoran yang belakangan sedang naik daun.
Alex bergegas menuruni anak tangga untuk menyambut uluran tangan kang paket.
"Makasih ya bang!." Alex memberikan lima lembar uang cap dua bapak kepada si akang.
"Mas banyak banget!." Ucapnya bingung, pasalnya makanan itu sudah dibayar melalui aplikasi.
Alex hanya tersenyum dengan sebuah kedipan mata bak cewek centil yang sedang menggoda lelaki pujaan.
Meski sedikit geli, si mamang tetap menerimanya disertai ucapan terimakasih lengkap dengan tampilan senyum lebarnya.
Tiba diteras Alex segera menyingkirkan peralatan makan yang tadi ia gunakan dan menggantinya dengan makan siang baru ala resto meski penyajiannya tak se eksklusif di tempat aslinya namun dilihat dari ragam menunya mampu membangkitkan selera siapa saja.
Bitha yang awalnya hanya mengernyit heran pun langsung berbinar kala melihat meja bundar diantara mereka sudah terisi penuh oleh makanan. Membuat rasa laparnya kembali seketika, hanya saja secuil gengsinya masih melekat dipikiran si dokter cantik itu.
"Aku mau ganti janji makan siang yang waktu itu dengan siang kali ini."
Alex menatap intens wanita cantik dihadapannya dengan senyum maut yang bisa meluluhkan apapun jenis mahluk yang sedang melihatnya saat ini, bahkan kecoa di ujung tembok pun langsung pingsan karena pesonanya.
"Kak?."
"Hem?."
"Modus ya?."
"Setengahnya iya." Ucapny santai
"Gih makan!. Keburu dingin loh!." Lanjutnya
Bitha menerima uluran styrofoam dari pria dihadapannya.
Keduanya menikmati hidangan ala resto itu dalam senyap. Tak seperti Bitha yang nampak serius dengan makananya, Alex hanya sesekali menggerakan sendok ditangannya, selebihnya ia lebih suka memperhatikan bagaimana wanita pujaannya itu menikmati hidangannya.
Kali ini ia harus memastikan jika si bombon tak akan mengganggu momennya. Sangat sulit menemukan waktu luang baginya terlebih wanita impiannya yang berprofesi sebagai dokter.
Selesai dengan urusan perut. Bitha membereskan peralatan makan mereka, kemudian kembali ke teras dengan secangkir coklat hangat ditangannya dan meletakkannya disisi Alex.
Sebenarnya Bitha sendiri tengah bingung dengan keadaan canggung diantara mereka, ia juga tak mengerti kenapa pria itu dengan sukarela menepati ucapannya untuk makan siang yang sebenarnya tak begitu penting terlebih tidak adanya status yang jelas mengenai hubungan keduanya, dan dirinya pun juga tak menuntut agar terpenuhinya hal itu.
"Jauh-jauh aku kesini dari pulau seberang karena aku tahu hari ini kamu libur!."
"Ha?. Kok bisa?."
"Apa sih yang gak aku bisa?."
__ADS_1
"Dih, sombong amat!. Terus tujuan kamu kesini cuma buat makan siang gitu?. Emang beda ya feelnya makan pake nyeberangin pulau?."
Alex tertawa, ia menggelengkan kepalanya sejenak kemudian kembali menatap Bitha.
"Emang modus sih dari awal." Pria itu sedikit terkekeh dengan kejujurannya.
Bitha mengalihkan pandangan matanya karena takut terjerat oleh pesona lawan bicaranya, ditambah pria itu sedang tersenyum yang dapat menambah kadar gula dalam darah.
"Aku mau ngajakin kamu nikah!." Tegasnya
Bitha terpaku dengan ucapan singkat Alex hingga lupa berkedip.
"Hei!, kok bengong?." Pria itu mengibas udara di depan mata Bitha
"Apa? Kenapa? Nikah?." Bitha tampak mengerutkan dahinya
"Kamu gak jetlag kan kak?. Kalo iya mending tiduran dulu gih, entar kalo dah normal baru ngobrol lagi!." Ia menatap wajah tampan itu dengan mimik yang susah ditebak.
"Enggak perlu sayang, jetlag aku kalo gak bisa nikahin kamu!."
BLUSSS
Bitha nampak salah tingkah dengan ucapan Alex yang menyebutnya sayang hingga terlihat semburat merah muda dikedua pipinya.
"Tuh kan, kamu jetlag ni pasti!. Pulang dulu gih istirahat!." Ia masih berusaha mengalihkan fokus pria dihadapannya.
"No! BIG NO!. Sebelum kamu bilang iya untuk ucapan aku yang barusan!."
"Dih maksa!. Mana ada orang ngajakin nikah kaya obral kolor gitu!."
"Jadi kamu mau aku lamar yang ala-ala night prom gitu?. Jujur aku gak bisa romantis apalagi basa-basi kaya mantan kamu itu!."
Mendengar kata mantan disebut membuat rasa kesalnya bertambah dua kali lipat, ingin sekali iya mencakar wajah tampan dihadapannya agar tidak menyebut sandi haram itu.
"Kok jadi ngomongin sejarah sih!." Ketusnya merasa terganggu
"Terus aku harus sebut dia apa?. Tokek burik?."
Tak ayal tawa Bitha pun pecah setelah mendengar nama yang disebutkan oleh Alex untuk Azam sang mantan.
"Iya bener, cocok tuh kayaknya!." Ia menyetujui nama itu masih dalam tawanya.
Keduanya diam untuk beberapa saat setelah lelah tertawa.
"Jadi?."
"Apa?."
"Nikah sama aku!."
"Kok kesannya jadi kebelet kawin gitu sih?!." Bitha terkikik geli
Alex memijit keningnya, sepertinya apa yang dikatakan Bitha adalah fakta. Dia jadi terlihat seperti om-om tua mesum.
"Gak ada lagi alasan aku buat menunda apa yang udah jadi target aku sedari awal. Jauh sebelum kamu sama si tokek burik itu pedekate aku udah bikin plan buat nikahin kamu!. " ucapnya sembari memandang lekat wajah cantik sang dokter.
Bitha tak paham dengan curahan hati pria dihadapannya saat ini, apa benar selama itu dia memendam rasa kepada dirinya?. Bertahun-tahun lamanya?. Jika tak salah Bitha pertama bertemu dengannya hanya saat insiden kebakaran itu bukan?, dan selebihnya ia tak pernah bertemu sampai pada waktu Alex menegurnya dengan Sarah di depan rumah miliknya.
"Kak, gak semudah itu kita membicarakan pernikahan!." Bitha menundukan sedikit wajahnya.
Jujur didalam hatinya ia sangat bahagia. Pria yang belakangan telah mendiami hatinya tetiba saja menawarkan pernikahan untuknya. Namun ia juga bingung apakah semudah itu ia akan menerimanya, ia bahkan tidak mengenal dengan baik pria itu.
Bukankah sangat lucu jika tiba-tiba saja ia meminta kepada kedua orang tuanya untuk menikahkannya?.
"Kenapa? Mau bilang kalo kamu belum kenal aku?, keluarga aku? Bla...bla...bla...iya?."
Bitha memandang Alex dengan melipat bibirnya kedalam.
"Itu kamu tahu."
"Kita nikah, maka semua pertanyaan yang ada dibenakmu akan terjawab secara nyata!. Bukan tipu daya dari lisan aku!."
Bitha tampak bingung dengan dirinya sendiri. Semudah itukah menikah? Dengan pria yang bahkan baru beberapa waktu ia kenal.
"Aku .....
"Kalo masalah orang tuamu gak usah bingung!. Aku udah dapat izin dari mereka buat ngeyakinin kamu!." Tegasnya
Bitha menatap tak percaya dengan kata-kata Alex, bahkan dia sudah melakukan hal sejauh itu? Sementara ibunya tidak pernah bercerita tentang apapun yang menyangkut dirinya terlebih masalah asmara.
Tak ada kata yang terucap dari bibir manis si dokter cantik selain kedua matanya yang berkedip-kedip seperti sedang mencerna ucapan Alex.
"Kenapa aku?." tanya Bitha
"Karena kamu, aku bisa menemukan siapa diriku dan apa tujuanku!."
"maaf, aku melamarmu tidak dalam suasana yang romantis. Aku gak punya banyak waktu untuk mengumbar janji yang akan membuat banyak orang kecewa. Aku menghormati kaum wanita. karena itu aku ingin mejagamu dari kehilafan diriku yang seorang lelaki. Kamu pasti tahu jika pria sangat sulit menahan rasa 'ingin' dalam diri mereka." Alex tampak menunduk dan sedikit kaku setelah mengatakan hal itu.
Mungkin saja dia malu? Entahlah. Hanya dia yang tahu.
Sedangkan Bitha memandang lekat pria tampan dihadapannya dengan rasa tak tergambarkan.
"Jadi, apa jawabanmu?."
"Jika kamu menerima permintaanku, secepatnya kita akan menikah, bisa jadi bulan depan. Tapi jika kamu menolak, mungkin aku gak akan pernah kembali ketempat ini untuk selamanya!." Ucapnya sedikit lirih di akhir kalimatnya
"Boleh kah aku bertanya pada orang tua ku dulu?. Aku gak bisa begitu saja menjawab sesuatu yang pastinya akan melibatkan mereka." Ucap Bitha ditengah kegalauannya
"Silahkan, semua terserah padamu. Aku akan menerima apapun keputusan mu."
"oke, aku ada dirumah sebelah selama dua hari kedepan untuk menunggu jawabanmu. dan aku harap bukan sesuatu yang mengecewakan!."
Alex beranjak dari kursi panasnya. Pria itu menuruni anak tangga perlahan. Ingin rasanya ia membawa wanita itu bersamanya. Namun apa daya, hilal belum terlihat.
Pria itu telihat sangat tampan dengan setelan kemeja maroon dan celana jeans berwarna gelap, lengkap dengan boots kulit yang melekat dikaki panjangnya, rambut coklatnya yang kini tertata rapi terlihat sangat sempurna saat terkena sinar matahari sore itu. Bitha jadi membayangkan jika benar ia akan menikahi pria seperti Alex!. Ah, sungguh ia harus menguatkan hatinya jika demikian, sebab pria seperti itu pastilah banyak yang mengincar terlebih para wanita gatal diluaran sana.
Bita mengantar kepergian Alex dengan mobil putihnya sampai di depan pagar, lelaki itu berpesan untuk tidak membuatnya pergi dengan kenangan pahit.
.
.
Tbc
✂️✂️✂️✂️✂️💋
__ADS_1