Bu Dokter! Love Me Please!

Bu Dokter! Love Me Please!
14. Pindah Sementara


__ADS_3

14.🐌


Tiga bulan sudah Alex menghilang. Tepatnya kembali pada habitat asli.


Ia tak pernah lagi berkunjung ke lokasi konstruksi itu. Rumah yang di akui Sarah sebagai miliknya.


Hanya memantau kondisi melalui ponsel. Tak jarang ia membuka sosial media milik Sarah yang ia temukan melalui akun pribadi Ibram. Berharap dapat melihat wanitanya, Eh?. Calon wanitanya dimasa depan. Harapannya begitu.


Tak kan ada yang menyangka bila pria yang terbiasa dengan ekspresi datar itu ternyata adalah manusia labil yang memalukan dan gemar stalking.


Herland Alexander, Pria 31 tahun itu tengah mengamati grafik pendapatan Operasional perusahaan yang tengah mengalami penurunan. Banyak diantara penanam modal yang ingin menambah pemasukan namun tak sesuai dengan ketentuan yang ada.


Ia juga menyayangkan adanya aliran pencucian dana perusahaan yang mengakibatkan terhambatnya beberapa aspek. Termasuk diantaranya kegiatan Expor minyak mereka.


Masa liburan yang ia jalani dipulau seberang membuatnya semakin merindukan dokter cantik itu. Ia berharap agar masalah yang menjadi tanggung jawabnya segera terselesaikan.


.


.


.


Sebuah notifikasi membuat ponsel Ibram bergetar. Pria itu membukanya, ada pesan yang dikirimkan oleh sahabat semasa SMA nya dulu.


📩kapan?!." Tanya Alex


📨bulan depan!.


📩pasti udah ni?!


📨iya lah, mau dogorok calon mertua entar!?.


📩😜tanggung...!


Sekalian sunat lagi Bram!🤣


📨beuh! hilang ketampanannya entar!😌😎


📩🤣😝


Ibram akan melamar Sarah secara resmi bulan depan, dan melangsungkan pernikahan tiga bulan setelahnya.


Hingga kini Ibram tak pernah tahu jika sahabatnya itu tengah menandai si Ibu dokter cantik yang merupakan teman dan juga sahabat si calon istrinya, Sarah.


.


.


.


Bitha disibukkan dengan beberapa seminar yang harus ia ikuti.


Waktu isoma tiba. Ia dengan langkah gontai menyusuri lorong yang menjadi penghubung antara aula seminar dan elevator.


Setibanya di Lift, seorang wanita menahan pintu yang hampir tertutup sempurna itu dengan sebuah buku tebal.


Bitha memundurkan tubuhnya sedikit kebelakang, memberi jarak antara dirinya dengan wanita dihadapannya.


Hening tercipta diantara keduanya sampai sebuah pertanyaan yang terlontar dari bibir merah perempuan itu membuat dahi Bitha berkerut.


"Saya dengar kamu temannya Azam?!."


Bitha yang tak mengerti arah pembicaraan wanita didepannya pun hanya diam tanpa ada niat untuk menjawab.


"Saya bicara sama kamu!." Ucap wanita


"Maaf, anda siapa?!."

__ADS_1


Wanita itu berbalik dan tersenyum sinis ke arahnya.


"Kenapa?!."


"Apa anda tidak salah orang?!."


"Aku Jenita, teman 'main' Azam!." Ucapnya angkuh dengan menekan kata main pada kalimatnya


Bitha hanya ber-OH ria dengan mengangguk-anggukan kepalanya.


"Sepertinya kita gak sedekat itu buat membicarakan seseorang!." Ucap Bitha dengan nada kalem


"Kamu pikir aku gak tau kalo Azam sering dekatin kamu diluar jam kerjanya?!." ucapnya dengan penuh emosi


Bitha terhenyak, ia tak menyangka jika wanita didepannya ini benar-benar labil. Meluapkan emosi tidak pada tempatnya.


"Saya tidak memiliki hubungan dengan orang yang anda maksud!." Sahut Bitha dengan wajah santai


Jenita yang terbakar emosi mencengkram pasminah Bitha dengan kuat, membuat Bitha terhuyung kearahnya


Kata-kata cacian dan makian pun terlontar dari bibir merah menyalanya.


"Dasar kamu!


Wanita berwajah dua!.


Buka ini!


Buka!


Kamu gak pantas pakai ini!


Kelakuan mu seperti sampah!


Azam itu milik ku!


TiiiNG!.


Denting Lift berbunyi,


Dan disaat yang bersamaan itu pula lelaki yang menjadi pembahasan keduanya tengah berdiri tepat didepan pintu yang terbuka dengan wajah yang sulit diartikan.


Jenita masih dengan cengkramannya sedangkan Bitha mendongak dengan posisi berlutut. Sebelah tangannya menahan pergelangan Jenita yang mencengkram pasminahnya dan sebelah lagi memegang handle yang terdapat pada dinding Lift.


Jenita reflek melepas cengkramannya dari Bitha.


Wajahnya nampak tegang. Sebelah tangannya meremas rok span yang ia kenakan.


Bitha yang terlepas kemudian berdiri merapikan pakaian dan juga kerudungnya sembari melangkah keluar tanpa melirik pria yang tengah berdiri di ambang pintu. Ia ingin segera menjauhi dua manusia tak menguntungkan baginya itu.


Entah apa yang terjadi setelahnya, Bitha tak ingin tahu. Itu urusan mereka. Jika saja wanita tadi melakukan lebih dari sekedar mencengkram kerudungnya mungkin ia juga akan melakukan hal yang sama atau bahkan lebih.


Jangan dikira Bitha adalah wanita kalem jika melihat penampilannya. Ia juga akan berubah bar-bar jika merasa dirinya terancam. Dan untung saja dia tidak bersama dengan Sarah tadi, jika iya! Habislah sudah wanita bergincu merah itu ditangan Sarah yang sudah pasti tidak bisa mengontrol emosinya.


.


.


Bitha enggan untuk berkomentar banyak ketika Azam bertanya mengenai keadaa dirinya saat pria itu menemuinya dikantin rumah sakit.


Pria yang kini duduk dihadapannya memang tak lagi memiliki tempat dihatinya, sekedar teman semasa sekolah yang membuatnya masih menerima keberadannya.


"Kenapa kamu gak mau cerita sama aku kalo Jenita udah nyakitin kamu?!."


"Untungnya apa?!. lagi pula aku juga baru ketemu dia hari ini." ucapnya santai


"Se-enggaknya aku bisa nyuruh dia buat jauhin kamu!."

__ADS_1


Bitha menarik sudut bibirnya dan menatap Azam dengan malas


"Memangnya dia robot!? Yang bisa kamu perintah dan langsung nurut?!. Enggak Zam!, dia manusia. Punya otak buat mikir!."


"Tapi,


"Udah lah, aku malas!."


"Apapun Bith, bakal aku lakuin asal kamu tenang!." Ucapnya memelas


"Apa ucapanmu bisa dibuktikan?!."


"Iya!. Aku bakal buktiin dan pastiin kamu aman!."


"Ok!, ...... Jauhin aku!. Dan pastiin perempuan-perempuan yang dekat sama kamu gak bikin masalah sama aku!." Jelasnya


Kemudian Bitha beranjak meninggalkan Azam yang masih duduk mencerna ucapannya.


Azam meremas kaleng soda ditangannya dengan tatapan nanar.


"Gak akan!. Aku gak akan lepasin kamu gitu aja!." Ucapnya sembari menatap kepergian Bitha


.


.


.


.


.


Sarah tengah menyeduh teh hijau yang belakangan sering ia konsumsi entah untuk tujuan apa. Karena yang pasti sarah bukan tipikal manusia yang gemar akan rutinitas wajib seperti itu.


"Kamu gak kerja?." Tanya Sarah.


"Enggak, hari ini aku free. Oh iya Sar, mulai besok aku gak bisa tidur dirumah. Ada pemindahan tugas sementara dicabang. Kerjaan yang ada dipoli dialihkan sementara ke dr. Berta, Karena beliau gak bisa nempuh jarak jauh jadi beliau minta ditukar sama aku."


"Yah?. Terus kamu ninggalin aku sendirian di rumah gitu ?!. Tega kamu Ta!."


"Ya abis gimana dong?. Masa iya aku tolak gitu aja?. Lagian aku juga butuh refresh pikiran kali Sar!. Kamu gak kasian sama aku yang hari-hari selalu ketemu dengan orang yang sama!." Ucapnya penuh makna


Lama Sarah memikirkan keadaannya yang akan ditinggal sang sahabat untuk beberapa waktu kedepan.


"Iya deh. Aku gak bisa juga minta kamu tetep tidur di rumah secara lokasinya jauh gitu." Sarah kembali menyesap teh tanpa gula yang hampir tandas ditangannya.


"Gak lama kok! 1 bulan setengah doang!."


"Busyet!!. Segitu gak lama?. Terus lamanya semana?."


"Loh? Kalo pihak rumah sakit sana senang sama kinerja kita mereka bisa minta buat mindahin kita secara permanent loh!."


"Aahhh, jangan Bitha!. Kamu gak boleh lama-lama disana!. Aku gak mau sendirian." Sarah menutup wajah dengan kedua telapak tangannya.


"Haha! Enggak lah. Aku udah nyaman banget sama kontrakan ini."


"Ehm!. Nyaman sama kontrakannya, apa sama tetangga baru kita?." Ucapnya sembari menaik-turunkan kedua alisnya


"Itu sih kamu!." Ketusnya


"Eciee...salting dia...!."


"Heh!. Tauk ah, susah memang ngomong sama orang yang kebelet kawin!." Balasnya dengan berlalu dari meja makan menuju kamar miliknya.


"Dasar!!, Heiiiii....awas ya!!."


Tbc

__ADS_1


__ADS_2