
16.🐌
"Mau apa kamu!?." Bitha menggeram, menatap tajam pria dihadapannya.
"Apa aja!." Jawabnya dengan smirk yang aneh.
"Lepasin!." Bitha mendorong paksa namun tenaganya kalah jauh dengan Azam.
"Gak!. Gak akan aku lepasin sebelum,
BUUUGH!!!
Sebuah pukulan mendarat tepat di punggung pria berkemeja biru muda itu. Ia lupa jika masih ada manusia lain diantara mereka.
"Sialan kamu!. Gara - gara perempuan kaya dia kamu tinggalin aku?!. Bodoh!." Jenita tertawa memandang wajah cantik Bitha dengan sinis.
Azam menoleh kebelakang, menatap sengit wanita berambut pirang yang selalu menempelinya kemana-mana itu.
"Dasar lalat!."
"Diam kamu!." Bentak wanita berambut emas itu.
"Kamu yang diam!." Balasnya tak kalah nyaring.
Jenita menatap angkuh Azam dan juga Bitha, ia tak suka ketika Azam membentak dirinya.
"Kamu berani bentak aku?." menggeleng pelan dan tersenyum simpul, ia tak terima dengan kata-kata yang baru saja keluar dari mulut pria dihadapannya itu.
"Ingat!, aku bisa ngelakuin apa aja buat nyingkirin perempuan ini dari sini!." Ancamnya menatap Azam dengan telunjuk yang mengarah ke wajah cantik sang dokter.
Azam mengendurkan cengkramannya dari tangan Bitha, ia beralih fokus pada wanita gila yang terus mengoceh dengan ancaman tak jelasnya itu.
"kamu berani nyakitin dia?, aku jamin kamu gak akan bisa ngerasain nikmatnya dunia!. He?." Ucapnya dengan mencengkram penuh leher mulus jenita hingga membuat sang empu kesakitan dan sulit bernafas.
"STOP!!" Bitha berkacak pinggang dengan sebelah tangan menggaruk pelipisnya yang tidak gatal.
Ia yang muak dengan adegan drama cap ikan terbang itu pun mencoba menyudahi konflik diantara mereka.
"Cukup drama kalian!." Ia menatap keduanya bergantian
"Dengar sama telinga kalian berdua!.
Tolong! Jangan libatin aku dalam hubungan aneh kalian itu!.
Zam! Kita gak punya hubungan apa-apa, dan kamu Jenita! Gak usah hawatir pake ngancem-ngancem aku segala!. Aku gak tertarik sama dia. Apalagi niat jadi pelakor?. Gak akan!.
Jadi tolong berhenti ganggu hidup aku!. Please!." Ucapnya penuh perasaan.
"Aku bakalan lupain kejadian hari ini dan maaf udah ganggu aktivitas kalian. Jujur, aku gak sengaja!. Permisi!."
Bitha berlalu dari pandangan keduanya. Meninggalkan remah-remah kotoran yang selalu bikin kotor suasana. Ia menuruni anakan tangga sembari mengusap pergelangan tangannya yang memerah.
Ingin sekali Bitha membuang dua manusia tadi dari lantai atas hingga terjun bebas menuju inti bumi.
.
.
.
.
.
Bitha menatap jam dipergelangan tanganya. Lalu mengecek pesan yang tadi ia terima.
Pesan dari pria yang selalu membuatnya merasa jadi orang ketiga.
*hai*
Hanya itu, bahkan tak cukup satu kalimat pesan yang dikirimkan namun hati Bitha seperti ditaburi bunga-bunga. Bahagia!.
Apa ini artinya ia gagal move on?. Ah sungguh hebat Alex bisa membuatnya gundah, galau, merana seperti ini.
■■■■■■♤♤♤♤♤♤♤♤♤♤♤♤♤■■■■■■
Alex setengah berlari di garbarata ia menyela diantara penumpang lain yang baru saja keluar dari pesawat yang mereka tumpangi. Sembari melihat jam dipergelangan tangan kirinya berharap ia akan sampai tepat waktu.
Bukan koper melainkan backpack yang ia bawa. Layaknya backpacker yang sering dilakukan para turis, sedikit aneh memang jika melihat penampilannya yang terlihat rapi siap menghadiri pernikahan sang sahabat, Ibram.
.
.
.
Hari pernikahan yang dinantikan Sarah akhirnya tiba. Setelah sekian purnama menanti lamaran sang kekasih, Azhar Ibramsyah. Hubungan yang terjalin selama empat tahun itu akhirnya berujung dipelaminan.
Saat lamaran tiga bulan lalu Sarah memang tidak pulang ke kampung, ia memilih untuk mengadakannya dirumah kontrakan mereka. Alasannya selain biaya juga karena mengingat orang tua Ibram yang sudah sepuh dan tak bisa melakukan perjalanan jauh.
Sedangkan untuk resepsi, mereka memilih untuk mengadakannya di Hotel agar lebih efisien waktu dan tempat menginap.
Pernikahan Sarah tampak begitu santai. Dilihat dari banyaknya tamu undangan yang didominasi oleh teman kantor, kuliah juga teman-teman Ibram. tidak seperti pernikahan dikampung halaman yang akan terlihat sangat ramai dan meriah oleh para tetangga yang hadir untuk membantu, belum lagi acara dangdutan campur sari sebagai pelengkap suatu hajatan dikampung yang selalu membuat riuh suasana akibat bunyi bising dari pengeras suara yang menyebabkan getaran dan menggema dimana-mana.
Bitha yang kala itu tengah membawa piring dengan beraneka ragam kudapan diatasnya terkejut karena senggolan dari lengan seorang pria yang membuat kudapannya nyaris melompat dari piring.
Ia menoleh namun tak dapat melihat wajah sang tersangka karena pria itu tengah berdiri membelakanginya.
Pria dengan setelan macho serta rambut pendek sedikit kecokelatan itu terlihat sedang berbincang dengan dua orang lelaki dihadapannya.
Bitha pun mengurungkan niatnya untuk memaki karena itu pasti akan berdampak buruk untuknya. Ia memilih pergi mendatangi keluarganya yang juga tengah berkumpul dengan keluarga Sarah yang berasal dari kampung yang sama.
"Bu dokter kapan iki undangane?!." Ujar seorang wanita berusia sekitar lima puluhan
"Hehe, doa nya aja bude supaya cepat nyusul." Bitha tersenyum
Benar jika di usianya kini ia diharapkan untuk segera menikah oleh orang- orang terdekat. Namun kedua orang tuanya sendiri tidak pernah menanyakan hal serupa. Bahkan untuk tau siapa teman lelaki yang kini tengah dekat dengannya pun tidak.
Untuk itu Bitha tetap santai menjawab semua pertanyaan itu. Toh hanya sebuah pertanyaan menurutnya yang mana semua orang pasti pernah melakukannya kepada siapa saja!.
Sorak sorai riuh terdengar saat prosesi lempar bunga akan dimulai. Sebagian wanita yang belum menyandang status istri berdiri bergerombol di depan pelaminan untuk berebut buket bunga pengantin yang menjadi tradisi dibeberapa acara pernikahan.
Bitha beranjak dari tempat duduknya menuju meja prasmanan melewati bagian belakang gerombolan pengejar buket.
Bitha yang enggan untuk berebut pun hanya melihat dengan santai kerumunan itu, menampilkan senyum lebarnya sembari memegang piring.
Suara jeritan sontak terdengar saat buket yang seharusnya bisa di tangkap malah mental akibat terlalu antusiasnya mereka. Disaat itu pula bunga yang menjadi incaran para buketers terlempar keatas dan jatuh tepat dipiring Bitha. Dirinya yang sedikit shok menatap kearah piringn lalu mengedarkan pandangannya kepada buketers.
__ADS_1
Riuh tepuk tangan pun memenuhi ballroom hotel.
Bitha yang merasa bingung hanya tersenyum menampilkan deretan rapih giginya.
Tanpa diduga seorang pria mengambil buket itu dari atas piringnya dan mengangkat tinggi dengan sebuah lambaian kepada kedua mempelai disertai ucapan, "NEXT" yang mendapat acungan jempol dari kedua mempelai.
Bitha mendongak, alangkah terkejutnya ia saat mendapati pria yang sudah berbulan-bulan ini diam - diam ia rindukan tengah tersenyum menatapnya dengan sebuket bunga hasil salah tangkap.
"Next, kita ya bu dokter!." Bisiknya setengah membungkuk untuk mensejajari tinggi Bitha yang hanya sebahunya.
Tak ayal mata indah itupun membola setelah mendengar ajakan nikah dari seseorang yang selalu membuatnya sebal, marah sekaligus rindu.
Tersadar Bitha jika pria ini sama dengan pria yang menyenggolnya tadi. Ia pun memukul lengan kekar itu dengan kuat, lalu menutup wajah dengan sebelah tangannya karena perasaan malu bercampur haru.
Alex yang paham dengan keadannya segera mengembalikan buket itu pada Bitha. Cup-cup sayang...udah ya nangisnya!!. Abang belikan es loli mau?!." rayunya setengah mengejek
Bitha yang kepalang malu pun sigap meraih ikatan bunga dari tangan Alex dan memukulkannya kebahu pria itu berkali - kali karena kesal. Membuat Alex tertawa bahagia melihat kekonyolan yang sudah ia buat.
Gelak tawa dari para tamu undangan semakin meramaikan suasana setelah menyaksikan kejadian tak terduga yang dialami Tsabitha Mahliga si dokter cantik calon masa depan seorang Herland Alexander. What?
.
.
.
Hari-hari Bitha kini tak lagi sama. Sahabat yang selalu menemaninya sedari kecil sudah berpindah tempat dan menyandang status istri dari pria bernama Azhar Ibramsyah.
Tak ada lagi teman curhat sepulang kerja. Hanya sesekali mereka makan siang bersama jika Bitha memiliki waktu luang.
Minggu pagi Bitha tengah asik melakukan lari pagi mengelilingi komplek. Langkahnya terhenti saat tiba didepan rumah modern tropis yang pernah di akui sarah sebagai miliknya itu.
Rumah itu telah rampung sejak lama. Dan kini terlihat asri sama seperti bayangannya beberapa bulan silam.
Ia berusaha menepis rasa penasaran yang menggantung dibenaknya untuk mengetahui tentang siapa pemilik rumah itu.
TIIIN!!
Klakson mobil seseorang membuatnya jingkat dan langsung menepi, sadar karena ia telah menutup akses jalan tepat didepan pintu pagar rumah itu.
Sebuah range rover memasuki halaman rumah. Bitha yang merasa tidak punya urusan kembali melanjutkan langkahnya menuju ke arah taman setelah melakukan dua kali putaran dari arah sebaliknya.
Setelah Tiga puluh menit berkeliling ia merasa perlu membasahi tenggorokannya.
Duduk menanti minuman segar yang sedang digandrungi kawula muda nyatanya tambah membuatnya semakin haus.
Selagi menunggu antrian, ia melakukan stretching sembari memejamkan mata.
"Mbak, uangnya jatuh!."
Matanya terbuka saat merasa seseorang tengah menegurnya.
Bitha langsung menengok ke kanan dan ke kiri juga melihat ke bawah tempat ia duduk namun tak menemukan apa-apa.
"Gak ada." Gumamnya
Sadar jika dikerjai, ia pun menatap pria yang tengah menangkupkan kedua tangannya didepan bibir untuk menahan tawanya.
Bitha melemparkan tatapan sengit kepada pria yang tengah bahagia dengan tawanya itu.
Masih dengan sedikit menahan geli, Alex menarik pergelangan lengan Bitha untuk duduk kembali bersamanya.
"Udah donk marahnya!, cium nih kalo masih galak-galak!."
Ucapan Alex malah memancing emosi Bitha yang tengah dilanda kekeringan.
"Udah deh kak!, please, jangan bikin kesel gitu kenapa sih?!. Seneng banget lihat kita marah-marah!." Kesalnya
Bitha memanggil Alex dengan sebutan 'kak' seperti yang Sarah lakukan demi menghormati si tua yang kurang ajar itu.
"Kenapa? Aku suka loh liat kamu kalo lagi marah-marah gitu!?." Candanya
"Hiss, serah lah!."
"Jan mayah-mayah bu doktel!!." Telunjuknya menoel pundak Bitha.
Alex berdiri, langkahnya menghampiri penjual minuman yang sedang dinanti Bitha.
Ia menyodorkan segelas Lemon Grass kepada wanita cantik yang ia pastikan akan menjadi masadepannya itu.
"Loh, kok dapet duluan?!." Tanya Bitha menyelidik
"Iya, lewat belakang!." Jawabnya santai
"Ya Allah, gak mau ah! Nih!!." Bitha mengembalikan minuman itu ketangan Alex.
"Dari belakang tadi pesannya sayang!, bukan nyogok!." Jelasnya
BLUSSSH,
Mendengar kata sayang dari pria itu membuat hatinya seketika menjadi hangat. Entah mengapa ia bisa merasakan kenyamanan saat berada dekat dengan pria yang selalu membuatnya sebal luarbiasa itu. Ia lupa jika pria disebelahnya ini yang selalu membuat dirinya merasa jadi bayang-bayang pelakor.
Jika Bitha seperti medan magnet untuk Alex , maka Alex ibarat sebuah kasur yang selalu memberikan kenyamanan saat bersamanya.
Ingin sekali Bitha bertanya mengapa lelaki itu selalu berada disekitarnya. Namun ia urungkan mengingat jawaban konyol yang selalu diberikan saat ia menanyakan sesuatu.
Bitha beranjak dari duduknya, menatap lelaki yang tampak sibuk dengan ponselnya itu.
"Kak, duluan ya!." Pamitnya
"Eh!. Tunggu bentar. Bareng aja!." Cegahnya
Bitha hanya diam berdiri menatap tangan besar itu menarik ujung kaos panjang yang ia kenakan untuk olahraga.
Alex tetap pada posisi duduknya terlihat mengetikkan sesuatu pada kontak seseorang sembari menahan wanita itu agar tidak pergi
"Yok, sudah!."
Pria itu menggiring Bitha menuju sebuah motor matic yang terparkir tak jauh dari tempat mereka duduk.
"Kak!, aku jalan aja deh." Pintanya saat melihat Alex baru menduduki kursi kemudi.
"Kamu gak kasian sama aku?!. Sengaja buru-buru kesini buat jemput kamu biar gak capek!." Ucapnya memelas
"Ha?!. Buat jemput aku?!. Sebab apa!?."
"Udah, ayo naik!."
__ADS_1
"Kak, aku basah keringetan, bau lagi!."
Alasannya panjang lebar, membayangkan bagaimana jika dirinya harus dibonceng oleh pria itu. Ah sungguh itu tidak boleh terjadi. Bahkan Azam yang nyata pernah menjalin hubungan dengannya dulu tidak pernah berboncengan dengannya kecuali menggunakan mobil, karena Bitha memang selalu menolak mengingat jika motor adalah kendaraan yang sering dijadikan bahan modus oleh kaum pria, terlebih tidak adanya ikatan yang sah diantara mereka membuat Bitha enggan untuk mengiyakan.
"Tetep cantik kok!." Balasnya tak mengerti dengan kode yang Bitha berikan.
"Atau Kamu gak Pede sama ketampanan aku?!." Ucapnya sembari menaik - turunkan alis tebalnya.
"Diih, astagfirullah. Amit - amit jabang bayik!, gak ada urat malunya." Bitha mengetuk-ngetuk sisi kepalanya
"Lah?!, jangan dong!! Gimana bisa nebar benih kalo gak ada urat malunya?!." Alex nampak kesal saat melihat reaksi Bitha
"Ha?!. Benih apaan?!." Otak Bitha mendadak lemot
"Benih kecebong malikah!!." Ucapnya asal
"Hust, kalo ngomong jangan ngawur!. Malikah itu kedelai bukan kecebong" Bitha memperingati
'Lah! jelas-jelas tadi dia yang ngawur, sekarang malah ngatain kita!'. Batinnya
"Udah, aku jalan kaki aja!. Malu-maluin entar boncengan sama aku keciuman bau keringat."
"Loh, Jangankan keciuman bau keringat! Keciuman kamu aja aku rela!." Ucapnya mesum
Bitha mendelik mendengar ucapan gatal pria bertubuh tinggi dihadapannya itu.
Alasan demi alasan Bitha berikan untuk mencegah hal-hal yang tidak di inginkan. Namun bukan Alex namanya jika tidak bisa mendapatkan apa yang menjadi targetnya. Tak kehabisan akal, dirinya yang cerdik mendapatkan ide cemerlang meski agak sedikit gila.
Alex beranjak dari motor meticnya saat melihat dua manusia labil tengah berboncengan dengan motor sembari asik tertawa tanpa memperhatikan sekeliling mereka dan,
BRAAAKKKH
YAP!, Itu ide gila si tampan yang bener-bener senang membuat orang lain emosi,
"Aduuuhhhh,,,!!."
Alex dengan sengaja memasang siku sebelah kanannya mengarah pada sepion motor kedua sejoli tadi, sedangkan mereka yang dasarnya tidak fokus pasti sudah dapat ditebak kemana akhirnya.
Ketiganya sama-sama terjatuh yang tentunya mengundang perhatian banyak orang. Tak ayal kedua manusia labil itupun menjadi bulan-bulanan.
"Om-nya ni yang salah!." Ucap salah satu dari sejoli yang tengah berusaha mendirikan kembali motor mereka.
"Apa?, enak aja!. Jelas-jelas kalian yang nabrak!." Dan sang pembuat masalah malah menjadi - jadi dengan mengaduh seperti anak TK sembari mengusap sikunya yang baik-baik saja.
"Kalian itu yang gak tau aturan naik motor! Malah ketawa - ketiwi ngobrol gak jelas, sudah tau dijalan rame kaya gini!." Seorang ibu-ibu tampak memberi dukungan kepada si pembuat masalah.
Alex yang merasa sudah cukup mendapat alasan mengakhiri dramanya dengan memberikan mereka sebuah ancaman agar lebih berhati-hati dalam berkendara.
"Yank!. Tangan aku sakit!." Ucapnya memelas pada Bitha yang masih cengo dengan kejadian barusan.
"Apa?. Sayang?." Bukan sakit-nya yang menjadi masalah pada pendengaran wanita itu, tapi kata sayang-nya lah.
"Iya sayang!. Kenapa?. Kamu gak suka?. Mau aku panggil Cinta? Atau yang lain?." Pria itu malah tersenyum jahil
Bitha mengedipkan matanya berkali-kali tanda sedang loading. Benar-benar membuat Alex gemas ingin segera menghalalkannya.
"Sayang!?." Panggil Alex dengan menyapukan udara didepan wajah cantik Bitha yang tampak bengong.
"Ya? Eh?. Apaan sih sayang-sayang, ogah!."
"Aku gak bisa bawa motor nih, boncengin dong!."
Bitha mendengus kasar, ada saja alasan untuk membuatnya tak bisa menolak permintaan pria itu.
.
.
Melewati beberapa rumah hingga sampai pada bangunan tiga lantai dengan tampilan yang sejuk dipandang mata.
"Kak!? Gak papa kita kesini,!?." Tanyanya heran melihat keadaan rumah yang benar-benar sepi itu. Hanya gemercik air dari kolam ikan koi yang menjadi satu-satunya sumber suara.
Alex sama sekali tak berniat untuk menjawabnya hingga mereka tiba di teras rumah.
"Kenapa?!." Tanya Alex
Bitha mengernyit heran dengan sikap pria dihadapannya ini yang selalu semaunya.
Alex hendak menggiring Bitha untuk masuk kedalam sebelum akhirnya wanita itu menepis kasar tangan Alex.
"Ih!, gak mau. Ini rumah siapa coba?. entar dikira selingkuhin suami orang lagi!. Aku pulang aja!." Ucapnya
Alex mengerutkan dahinya setelah mendengar kata selingkuh dan suami dari bibir manis Bitha, ia juga tak mencegah kepergian wanita itu dan memilih masuk kedalam tanpa memperdulikan langkah Bitha yang meninggalkan teras rumahnya.
Pria itu tengah meneguk sebotol air yang ia ambil dari kulkas saat sebuah teriakan menyapa gendang telinganya.
Alex terkekeh geli sembari menggelengkan kepalanya. Ia berjalan menuju ruang depan, menarik gagang pintu berwarna hitam itu perlahan.
Senyumnya mengembang tatkala melihat wajah cantik itu memerah karena kesal setelah dijahili olehnya.
"Kenapa gerbangnya gak bisa kebuka?!." Sungutnya.
"Loh?. Memang tadi kamu minta dibukain?!."
Saking kesalnya Bitha memilih duduk selonjoran diteras rumah.
'Percuma ngomong sama tunggul' gumamnya.
Pria itu ikut berjongkok di sebelah Bitha.
"Kenapa? Kesel ya?!." Godanya
Bitha melirik tak suka,
"Kalo setiap hari aku jahilin gini, kamu bosen gak?!." Ucap Alex dengan lembut sembari menatap pepohonan yang baru beberapa bulan ini mulai bersemi.
Bitha merasa ada sesuatu yang disembunyikan oleh pria yang telah mencuri perhatiannya sejak terakhir bertemu itu walaupun kesannya sangat menjengkelkan.
"Jujur aja deh kak!. Alasan kamu selalu bikin aku kesel itu kenapa?. Padahal aku sendiri gak tahu kamu itu siapa!?. Dan lagi kita gak pernah kenal apalagi akrab."
Bitha menatap wajah tampan pria yang tengah duduk selonjoran disebelahnya.
"Kamu beneran gak kenal aku?!." Tanyanya tak percaya sembari menunjuk dirinya sendiri.
Bitha hanya menggeleng sebagai jawaban.
"Ah iya ya! Kan aku belum pernah ngenalin diri!." Alex menepuk keningnya sendiri.
__ADS_1
tbc