Bu Dokter! Love Me Please!

Bu Dokter! Love Me Please!
25. Titipan


__ADS_3

25.🐌


Azam meraba dadanya yang bergemuruh. Ia meremas baju yang seakan dapat mengurangi rasa nyeri didalam dadanya.


"Kamu.....


Suara Azam tercekat.


...


"Iya,


Ini aku."


...


"Kamu apa kabar?." Tanya Bitha


...


"Seperti yang kamu lihat."


Pria itu tersenyum, senyuman hangat yang dulu selalu ia berikan kepada wanita dihadapannya saat mereka bersama.


Sesekali ia terlihat mengusap ujung matanya yang berair.


"Bith,


...


"Iya?."


...


"Maaf,


Tangis Azam pecah, pria itu tengah terisak. Ia tak tahu lagi harus berkata apa.


Begitupun Bitha. Wanita dibalik kaca itu juga tengah menahan matanya yang sudah kemerahan.


"Maaf, Udah buat kamu kecewa,


Aku salah,


Aku nyesel banget!


...


Aku berharap kamu masih lihat aku...


sebagai teman.


Seperti dulu,


Sewaktu kita masih sekolah."


...


Suaranya terdengar parau. Azam menarik nafas dalam, dadanya terasa sesak dan perih. Selang oksigen yang menempel dihidungnya seakan tak memberikannya cukup asupan.


Pria itu memalingkan wajahnya dari wanita yang tengah menatap ketidak berdayaan dirinya.


Ada harapan dihati Bitha untuk melihat lelaki itu sehat kembali. Meski kini keadaannya sudah tidak lagi sama.


.


.


🍂🍂🍂🍂🍂🍁🍂🍂🍂🍂🍂


.


.


Waktu berlalu begitu cepat. Ada yang datang, ada pula yang pergi. Dunia seolah tahu akan rasa sakit yang diderita seorang Azam Prawira hingga akhirnya ia menyudahi semuanya dengan kenangan yang ditinggalkan untuk orang-orang terkasih.


Seminggu sudah berlalu sejak kepergian Azam usai berjuang melawan penyakitnya. Pria itu sudah banyak mengukir cerita baik maupun buruk dalam hidupnya.


.


.


.


Sore itu Bian tengah santai menempati ruang tamu. Ia memandangi laptop miliknya yang menampilkan sebuah gambar curva dengan angka-angka.

__ADS_1


"Mas Bian?. Di luar ada tamunya mbk Bitha." Ucap mbk susi dari depan pintu.


"Oh, Oke!."


Bian meraih ponselnya dan mendial nomor sang kakak.


"Kak, ada tamu!."


TUUT...


Kedua manusia yang tengah asik didalam kamar itu pun terbahak-bahak setelah mendengar suara Bian.


"Benar-benar tipikal kanebo kering!." Alex menggelengkan kepalanya


"Aku aja bingung, kenapa anak itu bisa sekaku itu!."


Keduanya lantas menuruni tangga untuk menemui tamunya.


.


.


"Mana Bi?."


"Apa?." Jawabnya tanpa menoleh ke sang kakak.


"Tamunya lah!."


"Dil luar." Santainya tanpa beban


"Ya ampun Biaaaaannnnn, tobat!." Bitha menepuk keningnya melihat kelakuan sang adik.


"Kalo ada tamu coba dilihat dulu Bi, kasian orang nungguin. Se enggaknya suruh duduk dulu. Ih ni anak bikin gemes aja lama-lama."


"Ngapain ketawa?." Bentaknya saat melihat sang suami terkekeh karena ulah adik iparnya.


Bitha berjalan ke teras untuk menemui tamunya.


"Tari?."


"Hai kak!."


Wanita itu tersenyum manis saat melihat Bitha.


"Ayo masuk," ajaknya


"Oh gitu."


"Aku kesini cuman mau ngasih ini." Ucapnya sembari memberikan sebuah paperbag kecil kepada Bitha.


"Apa ini?."


"Titipan."


"Dari?."


"Almarhum!."


Hati Bitha mendadak perih. Padahal ia sudah tak memiliki rasa apapun mengenai sang mantan. Tapi kenapa saat Tari menyebutnya almarhum ada rasa tak rela. Apakah dia masih menginginkan pria itu ada?.


"Aku balik ya kak. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam, terimakasih ya!."


"Sama-sama."


Gadis itu pergi meninggalkan Bitha yang terpaku menatap bungkusan ditangannya.


"Siapa yank?."


"Tari."


"Siapa itu?."


"Adiknya Azam." Bitha menatap wajah sang suami yang terkesan santai.


"Kamu gak nanya ada apa gitu?."


"Enggak ah, takut bumilku baper!." Ejeknya.


"Ih, bisa aja sih sayangku." Ucapnya sembari mengusap-usap dada bidang sang suami.


Bian yang tak berniat mendengar percakapan dua sejoli itu dibuat kesal lantaran tingkah mereka yang bermesraan tanpa tahu tempat.


"TOLONG!. DISINI ADA ORANG LAIN!." Bian melirik sengit sepasang suami istri yang terdiam karena mendengar suara merdunya.

__ADS_1


"Blo - jomblo, menderita nian dikau!."


Alex mengandeng tangan sang istri untuk mengajaknya pindah ke kamar.


"Yuk sayang, kasian dia. Otaknya bisa tercemar sebelum waktunya!." Pasutri itu meninggalkan Bian sembari cekikian menertawakan si kanebo kering.


.


.


Tiba dikamar, Bitha lantas menyimpan paperbag ditangannya kesebuah container yang ia letakkan didalam walkincloset.


"Tunggu!." Alex mencegahnya.


"Kenapa?."


"Kamu gak penasaran sama isinya?."


Bitha kembali memandang bungkusan itu.


"Sini, biar aku aja yang buka!." Alex mengambil tas karton itu dari tangan sang istri.


Pria itu merogoh benda kotak berwarna navy. Alex sudah bisa menebak isi didalam kotak bludru itu. Perlahan ia membukanya, tampak sebuah cincin emas berhias permata berwarna putih diatasnya.


Alex menarik cincin itu tetapi malah terlepas bersamaan dengan pijakannya karena ada secarik kertas yang terlipat rapih dan dikaitkan melalui lubang cincin.


Alex membukanya, tampak jika kertas itu sudah sangat lama tersimpan didalam sana terlihat dari bentuk lipatannya dan juga tulisannya yang sedikit menguning.


Pria itu memanggil sang istri untuk mendekat.


"Aku rasa kamu harus tahu ini." Ucapnya sembari memberikan kertas ditangannya.


"Selamat ulang tahun sayang. Maaf, aku belum bisa memberikan sesuatu yang berharga untuk mu. Aku harap kamu mau menerima hadiah kecil dariku ini. I love you."


Sepucuk surat dengan sebuah tulisan yang menggambarkan perasaan Azam saat itu. Ada tanggal yang tertera di sudut bawah kertas saat surat itu ditulis.


Bitha ingat moment itu. Saat dimana ia akan makan malam yang terlambat bersama Azam karena Bitha baru menyelesaikan operasi cesarnya sekitar jam sepuluh malam.


Seorang wanita tiba-tiba saja menghampiri meja keduanya dengan wajah penuh emosi. Azam yang saat itu hendak mengeluarkan hadiah untuk Bitha kembali ia urungkan karena keberadaan Dian yang menyebutnya 'brengsek'.


Hingga terjadilah cekcok antara keduanya yang akhirnya membongkar sebuah rahasia lain dibalik ketulusan Azam kepadanya selama ini.


Pada akhirnya Bitha memilih mundur dan merelakan hubungannya agar Azam bisa bertanggung jawab kepada wanita yang telah mengandung anaknya.


Ah, jika mengingat hal itu ingin rasanya Bitha bisa merubah masalalunya untuk tidak mengenal percintaan dan meminta untuk dipertemukan langsung dengan sang suami yang tampan, baik dan pastinya kaya ini.


Bitha menatap pria disebelahnya. Ia memeluk Alex dengan penuh kasih.


"Aku nyesel kak."


"Nyesel kenapa?."


"Nyesel pernah pacaran sama dia."


Alex tertawa mendengar kejujuran sang istri.


"Kalo boleh waktu di ulang, aku maunya langsung nikah aja sama kamu." Lanjutnya.


"Ya gak bisa gitu juga." Ucap Alex.


"Kalo gak gitu, kamu gak bakal tahu rasanya patah hati dan gak ada cerita untuk kamu kenang." Lanjutnya sembari mengusap rambut panjang Bitha.


"Kan ada kamu yang bakal buatin cerita untuk aku!." Balasnya dengan menatap wajah tampan Alex.


.


.


.


Waktu terus berputar meninggalkan banyak cerita untuk mereka yang masih hidup hingga saat ini.


Tak terasa kandungan Bitha sudah menginjak usia enam bulan dan ia masih menjalani prakteknya di rumah sakit seperti biasa namun dengan jam yang terbatas. Semua atas permintaan Alex agar ia tak khawatir akan keadaan kedua orang yang amat dicintainya itu.


Seperti hari - hari biasa, Alex mengantarkan Bitha pergi kerumah sakit lalu ia berangkat menuju mini office yang ia bangun di lahan bekas sebuah gudang barang bekas dan offfice itu sendiri baru saja aktif sekitar tiga bulan yang lalu. Ia tak banyak merekrut karyawan baru, sebagian dari mereka adalah pegawai lama yang langsung di bawa Alex lengkap dengan keluarga inti mereka masing - masing. Tapi tidak termasuk Bagas, karena pria itulah yang menjaga kantor besar mereka disana.


Semua Alex lakukan demi Bitha dan calon anaknya kelak. Ia tak ingin meninggalkan mereka terlalu sering. Dengan adanya mini office ia bisa bekerja dengan lebih mudah karena banyak yang akan membantunya dan tak harus membuang banyak waktunya dijalan.


.


.


"Kak Bithaaa??." Teriak seorang gadis yang berlari di sebuah koridor penghubung antara kantin dan rumah sakit.


"Sezi?."

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2