Bu Dokter! Love Me Please!

Bu Dokter! Love Me Please!
8. Pulang Kampung


__ADS_3

8.🐌


Guna memenuhi undangan sepupunya, Bitha mengajukan cuti untuk tiga hari. Ia juga menitipkan segala urusannya kepada salah satu dokter Sp.Og yang baru saja selesai mengambil masa tenangnya setelah menikah.


Bitha dan Sarah tengah berada dibandara menunggu keberangkatan.


Sarah yang kala itu tengah di tinggal Ibram dinas akhirnya memilih pulang kampung bersama Bitha, hitung-hitung merefresh otak yang hampir penuh dengan angka.


Kedua wanita itu saling bertukar cerita tentang kekonyolan yang terjadi ditempat kerja masing-masing.


Sarah juga menceritakan pertemuanya dengan Azam saat diloby rumah sakit. Ia bercerita jika Azam telah menjadi pegawai di tempat Bitha bekerja karena alasan mengejar dirinya. Perkataan sarah seketika membuat Bitha menggeleng tak percaya dengan kegigihannya pria itu.


Begitupun dengan Bitha yang menceritakan semua perilaku Azam saat bertemu dengannya.


Merasa jenuh jika terus berhadapan dengan masalalu. Bitha sempat berfikir untuk resign, namun Sarah melarangnya dengan dalih Azam akan berfikir jika Bitha masih memiliki perasaan untuknya karena berusaha menghindar.


Untuk itu Ia harus bertahan dan menunjukan siapa yang memegang kendali. Sarah terus menyemangati sahabatnya itu, menyarankan untuk membuka hati siapa tahu ada yang benar-benar pas nantinya.


"Bith, kamu percaya gak sih kalo Kak Alex itu beneran kuli?!."


Bitha mengerutkan keningnya


"Harus banget ya dijawab?!." Balasnya


"Ih, aku tu lagi serius markonah!."


"Gak tau lah aku, lagian kenapa nyambungnya ke dia sih!?."


"Ooohhh... jadi kamu lebih suka bahas mantan gitu?!."


"Apalagi itu! OGAH!."


"Abisnya kamu nyolot sih!."


"Lagian kamu tadi nyebut dia 'kak'?! Se-akrab itu emang?!."


"Ya enggak juga!. Cuman gak enak aja gitu mau nyebut namanya langsung, secara dia kakak kelas dan pastinya lebih tua dari kita toh!?."


"Terserah deh!. Aku gak ngerti kalo masalah orang itu!. Kenal juga dadakan gimana mau jawab pertanyaan."


"Ganteng loh Bith!. Putih, tinggi, rambutnya nantang badai, badan oke punya, pasti perutnya kaya roti sobek H&R Cake."


Sarah mulai ngelantur


"Apaan sih inem! kamu lama-lama kesambet loh!." Bitha memukuli pundak Sarah dengan gemas.


Panggilan Boarding menyudahi percakapan keduanya.


.

__ADS_1


.


.


Tiba di rumah masing-masing mereka disambut dengan pelukan dari keluarga tercinta.


Jika Bitha memiliki adik laki-laki yang super Judes justru Sarah sebaliknya, ia memiliki adik perempuan yang terbilang Usil dan sedikit agresif untuk jenisnya.


Menjelang malam Bitha mengetuk pintu kamar Bian, tak ada sahutan. Ia kembali kekamarnya untuk mengambil ponsel, mengetikan pesan dikolom chat Sarah.


Tak lama terdengar suara motor memasuki halaman. Bitha bergegas keluar rumah, menyambut sang tamu.


Senyum lebar nampak menghiasi wajah mungil gadis berusia enambelas tahun itu. Adik Sarah bernama Sezi, dengan semangat 45 mengantarkan pouch milik Bitha yang tertinggal dalam paperbag Sarah.


Niat terselubung yang sangat mudah dibaca sebenarnya. Apalagi jika bukan untuk mengganggu Bian, si cowok Judes. Jarak Bian dan Sezi hanya terpaut dua tahun, lebih tua Bian. Namun keberanian Sezi mengalahkan atau lebih tepatnya menakuti Bian.


Hingga membuat Bian enggan jika harus berurusan dengan Sezi. Apapun!, bahkan sekedar lewat didepan rumah Sezi saja ia malas, terlebih sampai bertemu gadis itu.


Pernah kejadian saat kerja bakti RT, Bian yang kala itu bersama beberapa warga tengah merintis tanaman liar yang merambat dikejutkan dengan kemunculan Sezi dari balik pagar. Membuat Bian jingkat hingga terperosok keselokan, dan Sezi semakin gencar menggodanya


'Ciee...abang ganteng salting...!'


satu kalimat yang membuatnya hampir menerbangkan celurit digenggaman tangannya, andai saja ia tak ingat jika Sezi masih tetangganya.


Bang, bagi nomor telepon dong!


Bang, godain aku dong!


Bang, jadi pacar aku dong!


Dan masih banyak lagi kata-kata konyol yang ia lontarkan gadis belia itu saat melihat Bian.


Bahkan ketika Bian lewat dengan motornya, gadis itu akan berteriak kencang seperti toa masjid,


"Abang Ganteeeeenggg.......Nengok Dong!!."


Ucapan yang kerap kali bian terima.


Sebenarnya tak jauh dari Sezi, sifat Sarah pun hampir sama. Hanya saja Sezi lebih unggul karena ia belajar lebih banyak hal dari sang kakak.


.


.


Bitha dan mamanya nampak cantik dengan balutan Abaya, terlebih Bitha yang berkulit cerah sangat kontras dengan Abaya berwarna Navi, seperti meminta dipinang. Eh?


Akad berlangsung khidmat, sang pengantin pun tengah menandatangani buku sakral legalitas.


Bitha turut bahagia menyaksikan sepupunya telah menemukan jodohnya. Ia pun tak lupa berdoa dalam hati untuk disegerakan pula bertemu dengan yang terbaik.

__ADS_1


Saat sedang bersalaman dengan beberapa kerabat, Bitha mendapati orang tua dari mantannya tengah menatapnya sambil tersenyum. Merasa tak baik jika mengabaikan akhirnya Bitha menghampiri kedua orang tua itu.


Mereka saling berpelukan layaknya orang tua dan anak kandung.


Ibu Azam menangis saat mendapat pelukan dari Bitha, wanita yang ia harapkan akan menjadi menantunya dulu.


Bitha dan Ayah Azam berusaha menenangkan sang Ibu, untuk meredakan kesedihannya meratapi nasib sang putra yang begitu bodoh.


Menyia-nyiakan berlian demi secuil kenikmatan.


Berlanjut ke acara resepsi. Tak lupa pula sesi foto - foto yang selalu ada dalam setiap moment indah.


Bitha dan Sarah mengenakan gaun dengan warna senada, mereka foto bersama pengantin juga beberapa saudara dan teman seumuran yang menjadi bridesmaid pada pernikahan sang sepupu.


Sarah mengirimkan foto mereka kepada Ibram, dengan caption minta dipinang


Foto itu menjadi story Ibram, yang langsung dikomen oleh Alex. "OTW jemput😜"


Siapa yang mengira jika Alex akan menscreenshot story Ibram saat melihat penampakan wanita masa depannya ternyata menjadi salah satu bridesmaid di foto itu.


Alex mengcropping foto Bitha, Senyum lebar terpatri di bibirnya.


"Next, kita nyusul!." Ucapnya samar sembari mengusap wajah cantik dibalik layar kemudian mengimpannya digaleri ponsel.


Pria itu berdendang dengan penuh penghayatan namun terlihat sangat lucu, membuat dua keponakannya terbahak hingga guling-guling.


■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■


Malam setelah acara resepsi sang sepupu usai, Bitha beserta kedua orang tuanya bertolak kerumah dengan Bian sebagai driver.


Bitha menanyakan perihal tante Meri, wanita paruh baya yang pernah ia lihat berada diparkiran rumah sakit tempatnya bekerja.


Sang ibu mengatakan jika kini wanita pemilik depo itu sudah pindah bersama suaminya dan hanya menitipkan usahanya pada salah satu kerabatnya yang kini menjaga rumah dan depo miliknya.


"Tante Meri itu sakit kak, dia pindah sama suaminya buat berobat." Ujar sang ibu


Bitha menganggukan kepalanya,


"Terus si Isna temen kamu itu udah nikah ternyata, anaknya udah dua malah! Mama juga baru tau dari yang jaga depo!."


Hatinya sedikit tersentil melihat mimik bahagia sang ibu ketika mengatakan perihal kabar bahagia teman masa kecilnya dan sarah.


Tak terasa sebuah tangan tua menyapu punggung tangan putihnya. Ia menatap wajah wanita yang telah melahirkannya itu dengan lekat.


"Sudah, biarkan aja dia jadi masalalu. Yang Kuasa mau ngasih yang terbaik buat kakak. Yang baik sekarang belum tentu baik dimasa depan. "


Bitha menyandarkan kepalanya dibahu kecil sang ibu yang selalu menjadi tempat ternyamannya hingga kini.


Hanya doa sang ibu yang ia harapkan untuk dapat terus menjalani hari-harinya setelah mengetahui keberadaan sang mantan lucknut yang kini bekerja dalam satu atap dengannya.

__ADS_1


__ADS_2