Bu Dokter! Love Me Please!

Bu Dokter! Love Me Please!
24. Pertemuan


__ADS_3

24.🐌


Sarah memangku Bara, bayi kecil itu tengah menyusu setelah lelah bermain dengan sang ayah.


"Kamu kenapa sih?." Tanya Ibram dengan lembutnya. Ia paham sekali jika wanita yang baru melahirkan butuh perhatian extra. Bukan tanpa sebab, ia hanya takut jika tangisnya barusan merupakan sebuah gejala dari syndrom babyblues.


"Yank, aku bingung!."


"Ya iya. Bingung pasti ada sebabnya kan?."


Sarah menatap wajah sang suami dengan penuh harap.


"Azam minta tolong sama aku buat nemuin dia sama Bitha."


"Lah? Kenapa gak dia sendiri aja yang datengin. Siapa tau mau tes kemampuan sekalian lawan taekwondonya bos minyak." Ucapnya sedikit meremehkan.


"Dia sakit yank!. Azam sakit. Sekarang di rumah sakit KPM dan Kondisinya sudah kritis." Ucapnya dengan air mata yang kembali menetes.


Ibram langsung terdiam. Wajahnya tampak mencerna omongan sang istri.


"Aku harus gimana yank?. Mulutku berat banget buat ngasih tahu ke Bitha, selain itu juga aku gak enak sama Alex, suaminya!."


Ibram memijit pelipisnya sejenak.


"Gini aja!. Kita undang orang dua itu makan siang dirumah. Mumpung Alex besok libur!. Kita ceritain ke dua-duanya jadi biar gak ada yang salah paham. Gimana?." Ucapnya


"Kan tugas kamu nyampein aja?. Keputusan tetep ada di tangan Bitha sendiri. Lagian juga itu manusia ada - ada aja sih permintaannya, udah tau kritis bukannya berdoa malah gangguin bini orang!." Ibram ngedumel di akhir kalimatnya dan membuat Sarah seketika mencubit perut sang suami yang kini terlihat membuncit.


"Mulut ya mulut, tolong di jaga!. Ini orang sekarat malah di omongin." Ketusnya sembari beranjak meninggalkan sang suami dengan ikan-ikan peliharaannya.


.


.


Sarah meletakkan Bara kedalam box setelah bayi itu terlelap. Ia kembali menemui sang suami dengan sebuah handphone yang melekat ditelinganya.


📲halo?."


"Bith!. Emh, kamu besok ada waktu gak?."


📲kebetulan free sih, kenapa?. Ngajakin ghibah ya?." Terkanya dengan gelak tawa dari sebrang telepon


"Ih, jempol dah lu mak!. Ngerti ae maksud eiqe!." Sarah terkikik geli mengingat bagaimana dulu hari-harinya saat bersama sang dokter cantik itu.


"Eh, tapi jangan lupa ajakin paksu ya!. Sekalian makan siang dirumah."


📲okay lah....


Sambungan terputus setelah Bitha menyanggupi permintaan Sarah untuk makan siang dirumahnya.


.


.


.


.


.


Bian, remaja pria itu begitu tampan dengan kemeja berlengan pendek. Wajah unyu-unyunya membuat seorang wanita muda berjalan mendekat ke arahnya.


"Bian ya?. Adiknya kak Bitha!" Ucapnya berusaha mengenali remaja yang baru masuk kuliah itu dengan menatapnya lekat.


"Siapa?." Jawabnya dingin.


"Oh iya, aku Tari." Ia tersenyum memperkenalkan dirinya.


"Emh, boleh minta tolong gak?." Ucapnya sedikit ragu saat melihat tatapan dingin remaja dihadapannya.


"Aku ada perlu sama kak Bitha, tapi gak punya nomor teleponnya." Lanjutnya


"Apa kita pernah ketemu?." Bukannya memberi, Bian malah bertanya balik kepada Tari


"Enggak, tapi kita satu kampung. Dan aku tahu kamu dari kakak ku." Jelasnya sembari tersenyum getir.


Umur Tari dan Bian yang terpaut enam tahun membuat wanita itu pernah berkhayal seandainya sang kakak menikah dengan dokter cantik itu, maka ia akan memiliki adik ipar seperti remaja tampan dihadapannya yang saat itu masih ABG dan terlihat begitu menggemaskan. Namun semua itu harus pupus karena kecerobohan kakaknya sendiri.


Bian menatap ragu wanita berperawakan sedikit kurus dengan blouse putih dan rok pensil cream dihadapannya. Ia mengeluarkan ponsel miliknya dan mencari kontak sang kakak lalu memberikannya kepada Tari.


"Makasih ya,,,!." Ucapnya setelah menyalin kontak milik Bitha.


Bian memacu motor matic yang baru saja dibelikan sang kakak untuknya ke sebuah perpustakaan kota.


.


.


.


Bitha tengah mempersiapkan sebuah kado berukuran besar yang ia bungkus dengan sebuah karton, dibantu oleh dua orang wanita yang bekerja dirumahnya.


"Mbk Bitha di bolehin apa sama mas Alex kerumah mbk Sarah sendirian?!." Tanya salah seorang diantaranya


"Gak papa!.Tadi sih udah bilang tapi belum ditanggepin."


"Kita takut nanti kena omel mas Alex, mbk."


"Tenang aja!. Dia gak bakal marahin mbk susi sama bik ina."


"Nah udah selesai!. Aku mandi dulu ya mbk!."


Bitha melangkah pergi dari ruang keluarga menuju kamar mereka dilantai dua.


Deru mesin mobil terdengar memasuki garasi. Kedua wanita yang tengah asik diruang tv tadi seketika bangkit, susi langsung kebelakang sedangkan bik ina berjalan kedepan untuk membukakan pintu.


"Bitha udah jalan belum bik?!."


"Belum mas, masih mandi tadi!." Jawabnya dengan menutup pintu perlahan.


Alex dengan segera menaiki tangga menuju kamar. Ia langsung memutar knop pintu karena berfikir jika istrinya tengah berada didalam kamar mandi dan pasti tidak mendengarnya.


Bitha pun reflek berteriak. Ia terlonjak saat melihat pintu yang tiba-tiba saja terbuka dan menampilkan sosok pria.


Pun dengan Alex yang sama terkejutnya saat mendapati tubuh indah yang sudah tiga hari ini tidak ia nikmati itu terpampang nyata dan hanya sebuah kain berbentuk segitiga tipis yang menutupi ladang jajahannya.


Alex yang peka akan kehebohan Bitha langsung menutup rapat pintu dibelakangnya dan membekap bibir ranum itu dengan bibirnya.


"Ssssstttth. Didengerin mbk susi nanti gak enak!." Bisik Alex


"Kamu ngapain sih pake ngagetin segala!." Bitha menepuk dada bidang itu dengan kesal.


Jika dulu Bitha sangat risih tidak mengenakan bra saat bersama Alex kini tak lagi. Karena ia tahu bagaimana cara memanjakan suami usilnya itu.


"Cuci dulu sana!." Titahnya pada Alex saat pria itu akan meremas bukit jely miliknya yang sangat padat dan menantang.


Dengan segera Alex melucuti semua pakaian yang ia kenakan, dan berlalu kedalam kamar mandi.


Sepuluh menit ia telah selesai dengan urusan cuci mencucinya.


Ia mendapati sang istri tengah duduk manis di depan meja riasnya masih dengan tubuh polosnya tadi tengah memoleskan lipstick. wajahnya nampak berseri, entah mengapa dalam pandangan Alex semakin lama kecantikan Bitha semakin bertambah. Juga nampak kepadatan dibeberapa bagian tubuhnya yang membuatnya terlihat semakin seksi.


"Kenapa sih kak? Gitu banget ngelihatnya?!."


"Istriku cantik banget!." Senyumnya mengembang


"Modus!."


"Seriusan!. Apalagi ini, makin gede loh!." Ucapnya sembari meremas lembut bukit jely yang kini menjadi kebiasaannya saat menunggu sang istri memoles make up.


"Kak, geli ah. Udah!


Aku udah cantik ini, mau lihat dede bayi!."


"Teruus.........?."


"Ak...................AH!."


Ucapnya tertahan saat Alex menelusupkan jemarinya ke balik lapisan kain tipis yang menutupi area terlarang.


Dan terjadilah hal-hal yang seharusnya terjadi.

__ADS_1


.


.


.


Empat puluh menit berlalu. Keduanya telah selesai dengan senam jantung mereka.


Bitha yang awalnya ingin segera pergi malah tertahan karena ulah suami usilnya yang mengharuskannya mandi lagi.


.


.


Setelah menempuh waktu satu jam, akhirnya mereka tiba di kediaman Sarah dan Ibram, Bitha mengapit lengan Alex yang tengah membawa sebuah kotak karton berukuran besar hingga menutupi pandangan matanya.


Dokter cantik itu menuntun langkah suaminya menapaki anak tangga yang langsung disambut oleh si pemilik rumah, Ibram.


"Alhamdulillah sudah sampe!. Noh ditungguin dari tadi dikamar, nanyain kamu terus!. Puyeng pala bapak ini nungguin kalian lama banget! Janjinya jam berapa, datengnya jam berapa?! Gak bener kalian ini!."


Ibram tengah mengeluarkan uneg-unegnya pada sepasang suami istri yang baru saja tiba dengan wajah tanpa dosa.


"Mo'on maap ya pak kumis!." Bitha nyengir kuda


"Kak aku kedalem ya!." Pamitnya pada sang suami


Bitha berlalu menuju sebuah kamar besar yang terletak dilantai satu rumah Ibram.


Sedangkan para pria tengah asik duduk diteras belakang.


"Ngapain aja sih kalian lama banget!." Tanya Ibram


"Ngedayung nirwana!." Ucap Alex santai


"Gilak!!. Ngeri banget lu jam gini!?."


"Helah lagak lu sok gak pernah aja!."


Keduanya terbahak-bahak bersama


Dikamar, Bitha dan Sarah yang kala itu masih belum berani banyak bergerak karena belum seutuhnya pulih tengah asyik membicarakan si kecil Bara yang baru berusia empat belas hari.


"Gimana pak kumis ngejagain kloningannya sendiri?."


"Kasian!. Udah dua minggu ini tidur malemnya gak jenak, dekat subuh baru bener-bener tidur dia nya!." Sarah menatap Bara sembari memainkan tangan mungil berbalut sarung tangan bayi yang begitu lucu.


"Namanya suami siaga!. Ya kali kondisi begini terus dia tidur enak-enakan!?." Ucap si bu dokter yang tengah memangku bayi mungil berjenis laki-laki itu.


Ditengah asiknya ngobrol, terdengar ketukan dari balik pintu kamar,


"Masuk." Sarah mengeraskan suaranya


"Eh ada Ibu!?." Bitha merespon dengan senyuman lebarnya


"Tamunya orang jauh ternyata? Lah ibu kira siapa tadi! Kok lihat kebawah ada mobil uapik, tak kiro ayah e Bara beli mobil baru!." Ucap wanita paruh baya itu sembari cekikikan


"Ibu ini! Suka bener kalo ngomong!." Jawab Sarah dengan bibir sedikit mengerucut


"Hehe...iya bu, kemarin udah janjian sama Sarah mau kesini!."


"Yo wes, di enak kan ngobrolnya!. Ibu tinggal ke dapur dulu bantuin masak mbok Na."


Setelah ibu Sarah berlalu, keduanya kembali melanjutkan percakapan mereka. Keduanya hanya membicarakan hal-hal ringan dan juga kenangan mereka selama menempati rumah kontrakan dulu. Sampai setelah makan siang barulah Sarah menceritakan semua yang ia ketahui mengenai kondisi Azam dan juga permintaan terakhirnya yang ingin bertemu dengan Bitha.


.


.


.


.


Sepanjang perjalanan pulang Bitha terlihat murung. Pikirannya sangat suntuk. Ia sudah mengetahui hal itu dari sebelum Alex menikahinya.


Katakanlah ia sangat tega, dan memangnya begitu. Ia sengaja menyembunyikan hal itu karena enggan untuk terlibat dengan masalalunya kembali yang hanya akan mengingatkannya dengan rasa sakitnya dulu.


Tiba dirumah, Bita segera masuk kedalam kamar dan merebahkan tubuhnya diatas kasur empuk yang terasa begitu nyaman menyapa tubuhnya.


Pikirannya terus bergelut dengan sendirinya. Mengingat jika sang suami selalu memberikan yang terbaik untuknya. Pria yang mampu memenangkan hatinya. Sedangkan Azam? Hanya kepingan masalalu yang selalu mengusik ketenangannya.


.


.


Menjelang sore, kepala Bitha terasa berputar hingga membuat wanita itu tak mampu berdiri. Wajahnya terlihat sedikit pucat. Dahinya mengeluarkan peluh yang begitu banyak.


"Sayang kamu kenapa?." Tanya Alex saat melihat istrinya meringis dengan mata terpejam.


"Kepala aku pusing banget kak!." Lirihnya


"Kamu butuh sesuatu?."


"Aku cuman mau ke toilet." Ucapnya sembari meremas sarung batal yang ia gunakan.


"Aku bantuin. Ayo duduk!."


"Gak kuat!."


"Ha? Tumben!. Kamu gak lagi alergi sama masakan dirumah Ibram tadi kan?." Tanyanya memastikan.


"Enggak. Gak tau juga kenapa. Mulai kerasa pas jalan pulang tadi."


"Atau karena masalah Azam?."


"Ih, kaya gak ada yang lebih penting aja dari itu!."


"Terus kenapa?."


Bitha sembari mengingat-ingat tanggal terakhir ia menstruasi.


'Hah!, kayaknya......' batinnya.


"Kak tolongin!."


"Apa?."


"Ambilin tas item yang biasa aku bawa praktek, ada di bawah meja kerja kamu." Jelasnya dengan mata yang masih terpejam.


Alex mulai merasakan ada sesuatu yang tak biasa melihat permintaan sang istri.


Pria itu kembali membawa tas kulit berwarna hitam yang terasa sedikit berat karena isinya yang tak sebanding dengan covernya.


Bitha berusaha untuk duduk saat melihat sang suami mendekatinya dengan tas hitam yang ia pinta.


"Cari apa?." Tanya Alex yang begitu penasaran melihat Bitha mengeluarkan seluruh isi tasnya.


"Ini." Jawabnya dengan menunjukkan kotak berisi alat tes kehamilan.


Jantung Alex mulai senam poco - poco begitu melihat benda yang dipegang sang istri.


"Aku gendong aja!." Ucapnya cepat saat melihat sang istri beranjak turun dari kasur.


"EHHH!." Bitha terkejut saat merasa tubuhnya melayang di udara.


"Tadi katanya pusing, dari pada jatuh entar."


Emh, hati wanita mana yang tak meleleh saat diperlakukan bagai ratu oleh pasangan halalnya.


Alek menurunkan sang istri dekat dengan toilet untuk memudahkannya.


"Kak, tunggu diluar gih!."


"NO!. Aku jagain kamu disini!."


"Aku gak bisa pipis lah!."


"Teori dari mana itu, biasa juga ngeluarin bareng-bareng!." Ucapnya tanpa dosa, membuat Bitha mendelik kesal dengan jawaban aneh sang suami.


"Mesum!." Umpatnya kesal


Sedangkan Alex hanya cengengesan melihat wajah cemberut sang istri.

__ADS_1


Sembari Bitha menampung pee, Alex membaca instruksi yang berada dibalik kemasan.


"Udah?." Tanyanya saat Bitha memegang tampon berisi air seni miliknya.


"Sini aku aja!." Alex menggeser sang istri untuk minggir.


"Ih, emang tau caranya?."


"Barusan baca tadi!."


Alex melakukannya sesuai instruksi yang tertera.


Tak menunggu lama sebuah garis merah terang terlihat dengan satu garis lagi yang terlihat berwarna pink dan sedikit kabur.


"Ini ... positif kan?." Tanyanya sedikit ragu kepada Bitha.


"Mana?."


Bitha seketika menutup mulutnya saat melihat benda yang ditunjukan Alex. Air matanya seketika luruh, tangannya mulai meraba perut datar miliknya yang kini telah berpenghuni.


"Positifkan?!." Tanya Alex kembali saat melihat reaksi sang istri.


Bitha hanya mengangguk sembari menutup mulutnya karena menahan rasa bahagia.


Alex langsung memeluk tubuh Bitha. Memberikan ciuman bertubi-tubi pada puncak kepalanya.


Sore ini sungguh menjadi hari bahagia bagi pasutri itu.


Alex membopong sang istri untuk istirahat kembali. Ia tak ingin sampai terjadi hal-hal yang membahayakan untuk Bitha dan calon anak mereka.


Keduanya bersandar pada headboard dengan Bitha yang menempel lekat pada sang suami.


"Besok kita periksa ya?." Ucap Alex sembari mengusap sisi kepala sang istri yang tengah bermanja didada bidangnya.


Bitha hanya membalasnya dengan anggukan.


"Abis itu kita jenguk si tokek burik!." Lanjutnya, membuat Bitha seketika mendongak menatap wajah tampan sang suami.


"Aku gak mau kak!." Tolaknya


"Kenapa?. Takut jatuh cinta lagi?." Godanya


"Dih, astagfirullah. Naudzubillah!."


Alex terkekeh melihat respon sang istri.


"Terus kenapa?." Tanyanya dengan menarik kembali tubuh Bitha untuk masuk dalam pelukannya.


"Gak tahu. Setiap denger namanya disebut aja semua kenangan buruk itu selalu melintas dibenakku."


"Itu karena kamu terlalu cinta."


"Dih, mana ada gitu!."


"Buktinya, cuman gara-gara nama aja bisa ke inget semua!."


"Astagfirullah, ya kali kalo yang di inget kenangan indah. Lah ini? Malah Kenangan buruk yang ada!."


"Udah, maafin aja kenapa!. Toh sebenarnya kan dia itu cuma ingin memperjuangkan kamu!. Hanya saja caranya yang salah, dan lagi kamu bukan wanita gampangan, sedangkan dia perlu tempat untuk pelampiasan hasratnya."


Sedetik kemudian Bitha berfikir, jika pria seperti azam saja perlu lalu apakabar dengan suaminya yang memiliki uang berlimpah apa dia juga membeli perempuan untuk hal itu?. Pikiran Bitha makin liar setelah mendengar ucapan Alex.


"Terus kamu gimana kak?."


"Maksudnya?."


"Kebutuhan biologis kamu?. Apa kamu juga membeli wanita untuk hal itu?."


"Dih, najis!."


AWWW....!!!


Satu cubitan mendarat cantik di put*ng sang suami.


"Ditanyain bener-bener juga!."


"Ya enggak lah yank, ya ampun!. Segitunya curiga!."


"Yah kan kamu juga cowok!. Ganteng, banyak duit lagi!. Pasti banyak lah yang ngejar-ngejar kamu!."


"Ciee ngakuin lah suaminya ganteng!."


"Hisshh!."


"Ya enggak lah sayang ku, jujur pasti setiap cowok butuh. Tapi selagi ada alternatif lain kenapa harus pake yang gak sehat, yah meskipun yang alternatif juga gak sehat sih, tapi setidaknya kan enggak yang dipake gantian sama orang lain." Jelasnya panjang lebar.


"Terus kamu pake apa?." Tanya nya penasaran


"Pake Gel sama sabun." Alex terbahak setelah mengakui kebodohannya.


"Pasti gak enak ya?, gak ada yang mijitin 'kamu'!." Ucapnya iba dengan gaya sensual sembari menyusupkan jemarinya kedalam kolor sang suami dan mengusap lembut senjata berurat yang masih tertidur dengan nyamannya. Tak pelak hal itu mengundang desisan halus karena kulit lembut Bitha yang bersentuhan langsung dengan si kecil warisan keluarga dan membuatnya seketika berdiri kokoh.


Dan terjadilah olahraga sore yang amat menyenangkan.


.


.


Pagi ini langit begitu cerah. Setelah selesai sarapan dengan cairan seperti susu yang disuntikan melalui selang karena mulutnya penuh luka yang disebabkan oleh penyakitnya juga pengobatan yang sedang ia jalani.


Azam meraba sisi tubuhnya dimana terselip kotak bludru berwarna navy.


Ia membuka kotak itu dengan jari jemarinya yang terlihat kurus dan pucat.


Ditatapnya cincin indah yang ia beli tiga tahun lalu. Cincin yang seharusnya ia berikan untuk sang pujaan hati dihari ulang tahun Bitha kala itu.


Pada waktu itu Azam memang bermaksud untuk melamar Bitha dihari ulang tahunnya, namun siapa sangka jika hal tak terduga malah terjadi.


Dan sekarang semuanya sudah terlambat. Tak ada lagi yang bisa ia lakukan. Azam sudah tak mengharapkan maaf dari perempuan yang pernah menjadi teman juga kekasihnya dulu. Ia hanya ingin melihat wanita yang masih dicintainya itu untuk terakhir kali jika diperbolehkan. Hanya itu.


Sampai sebuah ketukan menyadarkan lamunannya.


Dengan cepat ia menyembunyikan kotak biru beserta isinya saat fokusnya menangkap seorang wanita dengan kepala terbungkus nurse cap dan disposable gown berwarna hijau melambai dari luar kaca ruangannya bersama seorang pria berperawakan tinggi besar.


Azam dapat mengenali kedua manusia dihadapannya meski wajah mereka tertutup masker.


Sarah mendial nomor telepon Azam dengan lelehan air mata saat melihat keadaan pria yang dulu selalu menjadi partner dirinya saat belum mengenal Ibram.


"Jangan nangis mak!. Kamu jelek tauk, berisik lagi!." Ucap Azam dengan senyum khasnya


Sarah tertawa miris bersamaan dengan tangisnya yang tak bisa berhenti.


"Selamat ya buat kalian berdua atas kelahiran si kecil, dan maaf aku belum bisa nengokin, hehe... oh iya, hadiahnya udah aku alamatkan pake nomor telepon kamu!." Lanjutnya dengan senyum yang masih mengembang.


Ibram bisa melihat dengan jelas tatapan putus asa dari wajah tirus itu. Sebenarnya ia sendiri tidak tega dengan hal itu mengingat betapa baiknya Azam dulu bila mengesampingkan kehidupan bebas yang pria itu lakukan.


Tapi ini sudah menjadi pilihan dalam hidupnya, dan kita tak bisa menentukan takdirnya.


Karena tak kuasa dan tak juga sanggup berbicara, Sarah akhirnya memilih untuk undur diri. Ia memberikan ponsel miliknya kepada sang suami,


Bitha dan Alex yang menanti di area parkir dikejutkan dengan penampilan Sarah yang tampak kacau dengan mata bengkaknya dan terus mengucurkan air mata.


Sarah meraih Bara yang masih dalam gendongan Bitha. Ia menyuruh wanita itu untuk bergegas masuk.


Alex menggenggam erat jemari sang istri.


"Maaf kan dia. Sudah cukup sakitnya untuk menebus kesalahannya dulu. Sekarang biarkan ia tenang dengan sisa - sisa kebahagiaan yang masih ada." Alex mencoba untuk menasehati sang istri yang masih terus mengingat kesalahan Azam dimasa lalu.


Bitha kembali memeluk sang suami saat tiba di sudut ruangan Azam.


Alex membiarkan sang istri untuk menemuinya sendiri.


Berlapis disposable gown Bitha melangkah dan berdiri disamping Ibram yang tengah memegang ponsel Sarah,


"Hei, balik lagi lu mak?." Azam mengejek seseorang yang ia kira adalah Sarah.


Hingga Ibram meninggalkan wanita itu sendirian dan akhirnya ia tersadar jika itu bukanlah Sarah, melainkan wanita yang selama ini ia rindukan kehadirannya.


"Hai."


.

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2