Bu Dokter! Love Me Please!

Bu Dokter! Love Me Please!
26. Sepenggal Cerita Duo Labil


__ADS_3

26.🐌


"Sezi?."


Gadis itu tersenyum lebar saat melihat Bitha, wanita yang ia patenkan akan menjadi kakak iparnya kelak.


"Kakak baru datang?." Tanyanya


"Iya, kamu kok bisa disini?. Gak sekolah emang?."


"Ih, lagi masa tenang ini tuh. Jadi mendingan kesini sekalian nemenin kak Sarah sama Bara, kan kak Ibram lagi dinas keluar."


Bitha hanya manggut-manggut mendengar celotehan gadis bertubuh sexy disebelahnya.


"Kakak diantar siapa?." Ucapnya setengah berbisik sembari menoleh ke kanan dan kekiri.


"Kenapa?. Kamu kangen sama si judes itu?." Bitha tersenyum menggoda.


"Ih, kakak tau aja sih!. Judes - judes gitu ngegemesin tau kak!." Ucapnya sembari melingkarkan tangannya ke lengan Bitha dengan gaya centil.


Sezi itu Seksi, sama seperti Sarah tetapi ia lebih unggul karena tubuhnya yang padat dibeberapa bagian. Sebenarnya Sezi bukan penggemar outfit yang selalu menampilkan kemolekan tubuhnya, hanya saja setiap pakaian yang ia kenakan akan jadi terlihat seperti itu dimata orang lain, termasuk si judes Bian. Dan Sezi tak mau berpusing ria menanggapi omongan orang mengenai penampilannya. Karena menurutnya selagi ia nyaman kenapa harus dengerin yang gak perlu.


Ya, dia memang gadis yang berani dan sedikit keras kepala. Ia juga tak kenal kata nanti untuk mencoba sesuatu yang baru selagi tak mengganggu orang lain. Pengecualian untuk Bian.


"Kamu sama siapa kesini?."


"Sama mama - papa, jengukin temennya papa yang lagi dirawat."


"Hooo... kakak masuk dulu ya, bentar lagi mau keliling!." Ucapnya saat tiba di nurse station.


"Okay!!." Gadis itu membuat tanda OK dengan menyatukan jemarinya.


"kak!. Salamin ya ama pangeran akuh yang unyu!." Ucapnya dengan gaya centil kemudian menghilang diantara orang-orang yang sedang berlalu lalang.


.


.


"Busyet!. Siapa dok?." Tanya seorang perawat pria yang sedang berjaga.


"Kenapa?." Bitha berpaling menatapnya


"Seksi banget!. Kaya artis!." Ucapnya tanpa malu-malu.


"Kamu suka?." Godanya,


"Normal aja lah dok!. Siapa coba yang gak suka lihat yang bening-bening gitu!." Si perawat cengengesan sembari mengusap tengkuknya yang terasa gerah.


BUGH!.


"AKU!."


Tetiba punggung Doni, perawat pria itu ditabok dengan sebuah gulungan pipa seukuran botol cola. Pipa itu biasa mereka gunakan untuk mentransfer hardcopy antar lantai rumah sakit melalui alat khusus.


"AKU yang gak suka!. Mau protes kamu!?. HA?." Seorang Bidan bertubuh gempal mengintrupsi percakapan Doni dengan Bitha, tak pelak hal itu mengundang gelak tawa diantara mereka yang sedang berjaga.


"Kamu jangan dua-in aku Don, hati aku sakit!." Ucapnya mendramatisir.


"Paan sih mbk Jihan ini!. Ganggu orang aja!." Ketusnya


"Lagi usaha juga ini mbk, jangan ngacau deh!." Lanjutnya


"Dih, Gak usah sok kegantengan gitu!. Kaya yakin aja dia mau sama kamu. Hellow!." Ejeknya diselingi tawa jahat ala mak lampir.


"CCKk!." Doni hanya mampu berdecak untuk meluapkan kekesalannya.


.


.


.


.


Menjelang siang Bitha membawa langkahnya menuju kantin untuk menikmati segelas jus stroberi favoritnya.


Sebuah chat dengan nomor baru muncul dilayar ponselnya.


"Siapa?." Gumamnya saat tiba dikantin.


Tak lama panggilan dengan nomor yang sama menggetarkan ponsel miliknya.


"Halo?."


📲kak, ini aku."


"Sezi?."


📲yaa, anda benaarr!." Gadis itu terdengar begitu riang.


📲kak, aku boleh main kerumah gak?." Tanyanya tanpa basa - basi.

__ADS_1


"Boleh lah, emang kapan mau kerumah?."


📲emh, entar malem gimana?."


"Oke, ditunggu ya."


📲siap!."


Tak berselang lama, terlihat langkah panjang sang pangeran kesiangan menghampiri ratu mahkota yg sedang duduk manis sembari mengusap perut buncitnya.


"Kenapa senyum-senyum gitu?." Tanya Alex


"Enggak, lucu aja!."


"Sebab?."


"Sezi entar malem mau main kerumah."


"Sezi?. Ketemu dimana?." Tanyanya penasaran


"Tadi pagi ketemu dia di loby, dia lagi libur. Kebetulan si Ibram dinas keluar, jadi mereka pada kesini, sekalian buat temen Sarah." Jelasnya


Alex tetiba tertawa,


"Kamu bilang ke Bian kalo dia mau kerumah entar malem?."


"Ya enggak lah, bisa - bisa kabur duluan tu anak!."


Alex membayangkan respon sang adik ipar yang tak suka dengan gadis centil nan seksi bernama Sezi. Si judes itu terang-terangan menunjukan sikap jengahnya saat melihat gadis itu.


.


.


Malam menyambut, Bian yang kala itu baru menyelesaikan tugasnya diperpustakaan pun langsung memutar gas motornya untuk segera pulang karena lelah dan juga tubuhnya yang terasa begitu lengket rindu dengan sentuhan air.


Memasuki pekarangan rumah ia melihat sebuah mobil berwarna Hitam metalik terparkir rapi di depan pintu garasi yang ia pastikan bukan milik orang rumah, karena milik kakaknya semua berwarna putih.


"Tumben ada tamu jam gini." Gumamnya.


Bian membuka pintu utama dengan sebuah salam yang ia ucapkan sekenanya. Tak ada sahutan hanya gelak tawalah yang menyapa pendengarannya, sampai langkahnya mendekati ruang tengah yang semakin membuatnya penasaran siapakah tamu sang kakak malam ini yang bisa menimbulkan kegaduhan diruang keluarga yang merupakan private room, dimana terdapat jejeran sofa malas, meja makan yang muat menampung hingga sepuluh orang, juga sebuah kolam renang di sisi bagian luar yang hanya terhalang dinding kaca.


Alangkah terkejutnya ia saat tiba - tiba saja seseorang melompat naik keatas punggungnya tanpa permisi dan membuatnya terhuyung jika saja tak ada sofa yang menjadi penghalang dihadapannya.


"Kangen!." Satu kata yang terlontar dari bibir manis si centil saat berhasil mengerjai pria judes idamannya sembari melingkarkan kaki mulusnya yang hanya tertutup hotpants di pinggang Bian.


"Turun!."


"Turun!."


"Gak mau!."


"Berat Sez."


"Tapi empuk kan?." Bisiknya tepat ditelingan Bian dan seketika membuat pria itu merinding disko.


"Sezi!." Bentaknya


"Apa?." Balasnya dengan nada manja.


"Turun Sez, kamu gak malu apa dilihatin orang?." Ketusnya


"Ngapain malu, itu kan papa sama mama aja, lagian mereka juga diluar sono." Dengan santainya Sezi mengusap dada bidang Bian yang tengah menahan bobot tubuhnya.


"Gadis Gila!." Umpatnya kesal


Bian melangkahkan kakinya menuju kamar yang ia tempati dilantai dua dengan Sezi yang masih setia menempel padanya.


Susah payah pria itu menapaki anak tangga sembari menenteng bagpacknya yang berisikan notebook, dengan beban sebesar Sezi yang menggantung dibelakang.


"Sez, BERAAAT YA AMMPUNNN!."


Hanya perdebatan si judes dan si centil yang terdengar memenuhi rumah. Membuat para manusia dewasa yang sedang bersantai di pinggir kolam renang menggeleng perlahan.


"Jangan heran ya nak Alex, anak dua itu memang selalu begitu setiap ketemu." Ibu Sarah mencoba memberikan pengertian untuk sang tuan rumah agar tak merasa terganggu dengan kelakuan sang anak yang bar - bar.


"Kalo Bitha sama Sarah itu sudah kenyang ngeliat kelakuan labil mereka." Lanjutnya


"Gak papa bu. Buat hiburan. Jarang-jarang bisa denger Bian ngoceh panjang lebar kaya gini." Jujurnya


.


.


Tiba dikamar, Bian langsung menghempaskan tubuhnya bersamaan dengan Bitha yang masih nemplok bak cicak-cicak didinding itu dengan sangat kuat ke atas kasur empuk miliknya.


AWWW....!!!


Sezi memekik kuat saat Bian menghempaskan tubuh keduanya hingga membuat bukit kembar miliknya tergencet punggung lebar pria itu.


"Sakiiittt...." rintihnya saat Bian sudah bangkit karena merasa telah menindih sesuatu.

__ADS_1


Gadis itu tampak meringkuk sembari memeluk dadanya.


"Makanya gak usah aneh-aneh!." Ketusnya.


Bukannya meminta maaf, Bian malah kesal dengan keberadaan Sezi yang sengaja menyamankan dirinya diatas kasur.


"Ya kamu lihat-lihat donk!. Ni tok*t gede kalo kegencet pasti sakit. Atau jangan-jangan kamu sengaja!. Iya?." Tatapnya menyelidik.


"Dih, sory ya. Mau tok*t kamu gede atau kecil, itu gak ada hubungannya sama aku, ngerti lu bocah?!."


"Masih piyik aja udah ganjen!." Lanjutnya menatap sinis gadis dengan penampilan seksi dihadapannya.


"Piyik gini tapi bisa diajak enak loh kak!." Sezi mengerlingkan matanya bak wanita penggoda.


"Dih, Najis!." Umpatnya sembari berjalan ke kamar mandi.


"Najis tu kalo kamu cuma berani ngatain tapi gak berani nyobain!." Balasnya sembari berdiri dengan gaya sensual karena tubuhnya yang hanya berbalut kaos V neck oversize berwarna putih itu menutup secara sempurna pants super pendek yang ia kenakan dan malah memperlihatkan tali Bra berwarna hitam yang melekat apik dipundak mulusnya.


"Heh piyik!. Coba deh jadi perempuan tu jangan murahan, Jangan bar-bar. Cowok tu yang ada malah illfeel."


"As your wish sir!." Sezi kembali duduk dikasur dengan menyilangkan sebelah kakinya, dan malah membuat Bian semakin gemas ingin menampol wajah imut itu.


"Terserah!." Pria itu berlalu dan membanting sedikit keras pintu kamar mandinya.


.


.


.


Sudah cukup waktu Sezi untuk berlibur, kini gadis itu harus kembali untuk ujian akhir sekolahnya.


Sebelum berangkat ke bandara, Bitha berpesan kepada Sezi agar menemuinya di rumah sakit untuk mengambil buah tangan. Namun belum sempat Sezi mengaminkan hal itu sebuah pemberitahuan mengenai jam keberangkatan mereka yang tetiba saja dimajukan sebab ada dua penerbangan lain yang harus delay karena cuaca buruk dikota tujuan.


Gadis itu meminta maaf karena tak bisa memenuhi permintaan Bitha sebab ia dan kedua orang tuanya harus segera berangkat jika tidak ingin tiket mereka hangus dan Bitha memaklumi hal itu. Bitha berkata jika ia akan mengirimkannya melalui expedisi saja.


.


.


.


Kepulangan Sezi mengingatkannya dengan kampung halamannya dan itu membuatnya rindu akan kehangatan rumah masa kecilnya bersama kedua orang tua mereka. Ia dan adiknya, Bian.


Bitha menghubungi sang suami yang tengah berada diluar pulau untuk memenuhi jadwal kunjungannya setiap sebulan sekali agar para karyawan tidak lupa jika mereka masih memiliki bos tampan seperti dirinya.


"Kak?. Kamu masih lama?."


📲tumben?."


"Tetiba kangen sama rumah mama!."


📲Ha? Beneran gitu?."


"Emh."


📲Tapi kan perut kamu besar sayang, aku takut di perjalanannya."


"Humh." Bitha kembali mendengus, sudah pasti jika sang suami menolaknya.


"Kan masih boleh kak, masih tiga bulan lagi." Ucapnya lirih.


📲Kamu gak kasian sama 'dia' entar kalo capek dijalan giman?. Aku yang gak tega sayang!."


Bitha sangat sadar akan hal itu dan dia memilih untuk menurunkan egonya, lagi pula terlalu banyak pekerjaan yang akan terbengkalai jika dia nekat dengan keinginannya.


📲kamu gak marah kan?. Nanti kita minta mama sama ayah aja yang kesini, gimana?." Tawarnya dengan lembut kepada si ibu hamil.


"Iya, aku gak papa kok." Ucapnya sembari menghela nafas dalam untuk mengurangi rasa sesak didadanya akibat menahan rindu.


📲Bian masih kuliah?. Minta dia anter jalan-jalan sebelum pulang nanti biar gak terlalu bosan dirumah. Ya?."


"Emh!."


📲kemungkinan besok siang aku baru sampai di rumah. Sabar ya sayangku!."


"Bye papa, kami mau siap-siap dulu. Hati-hati ya sayang!."


📲bye honey. Love you."


Panggilan telepon pun berakhir dengan secuil rasa kecewa yang masih tersisa dihati Bitha.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Tbc


__ADS_2