Bukan Rindu Yang Terlarang

Bukan Rindu Yang Terlarang
Sepuluh - Aku Terlanjur Mencintainya


__ADS_3

Aku menuruti Mas Azril. Sepeda motorku aku tinggal di Rumah Sakit, aku juga tidak mau tengah malam hujan-hujanan, apalagi ini hujan pertama kali turun setelah musim panas berkepanjangan. Aku kira saja tidak akan hujan sederas ini.


Mas Azril turun menggunakan payung menjemputku. “Ayo Mala,” ajak Mas Azril.


Mas Azril merangkulku, memepetkan tubuhku ke tubuhnya, kami satu payung bersama. “Ayo masuk.” Mas Azril membukakan pintu mobilnya, aku masuk ke dalam mobil. Mas Azril setengah berlari, dia lalu masuk ke dalam, dan melipat kembali payungnya.


Aku diam saja, aku tidak mau lagi berdebat dengannya, karena percuma saja, waktu dan tenagaku terbuang sia-sia. Biar saja, apa mau dia. Aku akan melihat dan menyaksikan saja. Aku memang ingin becerai, tapi melihat keadaan Mama, aku jadi iba, dan aku urungkan niatku untuk berpisah dengan Mas Azril. Kalau tetap dia ingin menikahi Farah secara sah, mungkin akan aku kabulkan. Yang terpenting Mama dan Bunda baik-baik saja. Tidak mungkin juga aku memberitahu Bunda dan Ayah soal keadaanku sekarang, tidak mungkin juga aku memberitahukannya aku akan bercerai. Ayah dan Bunda punya riwayat darah tinggi, kalau sedang kepikiran apa-apa, bisa-bisa akan kambuh, dan fatal akibatnya. Biar saja, semua orang di sekelilingku melihat aku bahagia, meskipun aku merasakan hancur dan sakit menjalani hidupku ini.


Aku lansung masuk ke dalam kamar setelah sampai di rumah. Aku segera menganti bajuku, menaruh baju kotor ke dalam keranjang baju kotor, aku melihat Mas Azril juga masuk ke dalam kamar setelah aku selesai ganti baju. Aku bersikap biasa saja, aku tidak mau ribut lagi. Aku rapikan rambutku, selesai itu aku ambilkan baju ganti untuk Mas Azril.


“Ganti baju dulu, Mas,” ucapku sambil memberikan baju ganti.


“Makasih, Mal,” ucapnya.

__ADS_1


Aku hanya mengangguk, lalu aku beranjak ke tempat tidur. “Baju kotornya langsung masukin ke dalam keranjang ya, Mas?” ucapku saat melihat Mas Azril hendak ke kamar mandi.


“Iya,” jawabnya.


Aku tarik selimutku, lalu mengganti lampu dengan lampu tidur. Aku kembali mengingat kejadian di rumah sakit tadi. Aku terus mengingat semuanya. Bisa-bisanya hidupku sekacau ini. Pernikahan yang aku impikan, semua menjadi mimpi buruk dalam hidupku. Aku sangka, Mas Azril sangat mencintaiku, dan menerima dengan ikhlas dan sepenuh hati pernikahan ini. Ternyata tidak begitu, dia tidak pernah mencintaiku sedikit pun. Dia juga menerima pernikahan ini semata karena mama.


Aku bangga, aku adalah menantu pilihan Mama Mertuaku, Mama juga sangat menyayangi aku, tapi yang aku inginkan bukan hanya itu, aku juga ingin suami yang mencintaiku. Meskipun di luar sana kebanyakan perempuan ingin memiliki ibu mertua yang baik seperti Mama, tapi kalau suami tidak cinta apa gunanya menikah? Kadang perempuan yang dicintai suami, belum tentu disayang ibu mertua. Malah kadang dengan ibu mertuanya seperti musuh bebuyutan. Gak ada akur-akurnya dengan mertua. Kadang kalau diajak ke rumah mertua, ada yang ogah-ogahan, bilang mertuaku inilah, itulah, jahatlah, cerewetlah? Aku aku ini termasuk perempuan yang beruntung, memiliki mertuanya baik sekali?


Tapi, aku juga ingin dicintai suamiku, seperti perempuan pada umumnya, yang begitu dicintai suaminya. Sudahlah, aku terima takdir, mungkin ini sudah tadirku, menikah dengan laki-laki yang tidak mencintaiku.


Aku benar-benar gelisah, seperti ada yang kurang malam ini. Tidak akan pelukan dari Mas Azril, dan kecupan hangat darinya. Sungguh aku memang sedang marah dan kecewa dengannya, tapi aku tidak bisa tidur tanpa pelukan darinya. Mungkin selama kami bersama, aku sudah terbiasa tidur dipeluknya, bahkan sampai pagi, Mas Azril masih memelukku. Meskipun pernikahan kami masih seumur jagung, Mas Azril begitu baik padaku, dan sudah membuatku jatuh cinta padanya.


Aku masih belum bisa memejamkan mataku. Sudah berganti-ganti posisi tidurku, mencari yang nyaman, tapi belum bisa aku menemukan yang nyaman, senyaman pelukan Mas Azril, dan belaian Mas Azril. Aku menghadap ke arah Mas Azril, dn ternyata Mas Azril juga sedang menghadap ke arahku. Pandangan kami bertemu, tangan Mas Azril langsung mengusap kepalaku.

__ADS_1


“Kenapa? Gak bisa tidur?” tanya Mas Azril.


Aku hanya mendengkus, membuang kasar napasku, karena memang aku tidak bisa tidur tanpa pelukannya. Aku kesal pada diriku sendiri, kenapa aku bisa begini, padahal tidur ya tinggal tidur saja? Tapi kenapa sejak menikah aku tidak bisa tidur tanpa dipeluk Mas Azril.


“Ditanya malah buang napas? Kenapa? Masih marah, masih kesal. Silakan marahi aku lagi, kalau perlu pukul aku, karena aku sudah menyakitimu,” ucap Mas Azril dengan menatapku. “Ayok, marah lagi, atau pukul aku. Aku akan terima, karena aku memang salah padamu,” ulang Mas Azril.


Aku hanya diam, menatap Mas Azril yang juga menatapku dengan tatapan yang meneduhkan hatiku. Tak bisa aku pungkiri, aku sudah jatuh cinta padanya, tapi kenapa harus seperti ini? Mas Azril mengusap pipiku dengan lembut, ia masih menatapku, tatapannya berubah menjadi tatapan sendu. Entah kenapa bisa begitu.


Ia beringsut mendekatiku, lalu memelukku dengan erat. Mengusap punggunggku. “Tidurlah, aku tahu kamu belum bisa tidur, karena belum aku peluk. Kamu sering bilang padaku, kamu tidak bisa tidur tanpa aku peluk,” ucapnya dengan memelukku.


Aku diam dalam pelukannya. Tidak terasa air mataku menetes. Aku merasa tenang berada di pelukannya. Aku merasa nyaman dan aman berada dalam pelukannya. Pelukan yang selalu bisa membuatku tenang. Aku balas pelukan Mas Azril, dan air mataku semakin deras mengalir, hingga isakku terdengar.


“Maafkan aku, sebisa-bisanya hatimu memaafkanku, Mal. Aku memang manusia kejam, aku lakukan semua ini demi Mama, maaf aku sudah tega membawamu masuk ke dalam duniaku ini. Maafkan aku. Kamu boleh marah, kamu boleh benci padaku, asal kamu masih tetap di sini, menjadi istriku. Aku tidak akan menceraikanmu, itu sudah janjiku, aku akan bahagiakan kamu, sebisaku. Aku mohon pengertianmu, Mal. Aku juga tidak bisa meninggalkan Farah, ada Sefi di antara kita,” ucapnya.

__ADS_1


Iya, aku sadar, dia sudah punya Farah dan Sefi jauh sebelum dia mengenalku. Aku tidak tahu harus bagaimana, aku memang merasa nyaman di dekatnya, aku merasa aku ini sangat dicintainya, meski pada kenyataannya dia bilang tidak mencintaiku. Tapi, bukankah cinta tak perlu diucapkan? Karena, cinta bisa dilakukan lewat sebuah tindakan. Apa Mas Azril begini karena sebetulnya mencintaiku? Ah, aku jangan berpikiran lebih, aku tidak mau sakit lagi. Biar, biarkan begini saja. Aku tetap jadi istrinya, meski tanpa dicinta. Entah sampai kapan aku akan merindukan rasanya dicintai suami, rasanya suamiku bilang di depanku kalau dia mencintaiku. Mungkin seiring berjalannya waktu, Mas Azril akan mencintaiku. Aku jangan menyerah, akan aku jalani semua ini, akan aku izinkan Mas Azril menikahi Farah secara resmi, dan akan aku buktikan, dia tepat dengan ucapannya atau tidak, untuk adil padaku dan Farah.


Aku terlanjur mencintainya, jadi aku pun akan membuatnya jatuh cinta padaku. Aku yakin Mas Azril akan mencintaiku suatu hari nanti.


__ADS_2