
Aku masih belum membalas pesan dari Mas Azril, aku lihat saja di layar depan, Mas Azril terus memberondong pesan padaku, dan berkali-kali ia menelefonku. Biar saja, dia sekhawatir apa padaku.
Sudah pukul jam sepuluh malam, lebih baik aku pulang, takut juga di perjalanannya, karena rumah Mas Azril berada di daerah yang masih jarang penduduknya, karena berada di kawasan perumahan elit baru. Sesampainya di rumah, aku melihat Mas Azril yang berada di teras, ia mondar-mandir, pasti ia panik aku tidak pulang-pulang.
“Mala!” panggil Mas Azril dengan teriak kencang.
“Apa sih, Mas?” jawabku.
“Santai sekali kamu jawabnya?” ucap Mas Azril kesal.
“Ini sudah malam, jangan teriak-teriak!” tukasku.
“Kamu dari mana saja, hah?” tanya Mas Azril.
“Dari cafe milikku, kenapa?” jawabku santai.
Aku langsung masuk ke dalam rumah. Tidak kucium tangannya sama sekali, biar saja, aku malah berhadapan dengan orang itu. Dia memang suamiku, tapi suami macam apa dia? Cinta sama aku saja enggak? Anggap saja aku ini sedang hidup dengan orang asing di dalam rumah ini?
“Mala ... bisa gak pamit kalau mau ke mana?” cetusnya.
“Pamit? Pamit dengan mas?” jawabku.
“Mau pamit sama siapa lagi? Kita hidup bersama, kamu juga tanggung jawabku, aku suamimu! Jelas pamit dengaku, lah! Kalau misal mama dan bunda datang gimana? Aku harus jawab apa kamu gak di rumah?” ujarnya.
“Jawab sebisamu dong? Pintar bersandiwara kok pusing cari jawaban kalau ditanya di mana aku?” ucapku. “Sudah, aku capek! Mau tidur!”
__ADS_1
Aku langsung masuk ke dalam kamar. Kamar tamu lebih tepatnya. Karena waktu itu, saat Mas Azril berangkat ke kantor tadi pagi, aku langsung memindahkan sebagian baju-bajuku.
“Itu bukan kamar kamu, Mal!” teriaknya.
“Kata siapa? Orang aku sudah bermalam-malam tidur di sini?” jawabku.
“Mal, jangan begini, apa tidak bisa diperbaiki lagi hubungan kita?” ucapnya.
“Diperbaiki lagi maksudnya? Bukankah kita baik-baik saja? Kamu saja yang tidak baik?” ucapku.
“Mal, oke. Aku akan belajar mencintaimu!” ucapnya.
“Belajar saja, aku gak melarang orang belajar kok. Tapi, dalam belajar juga ada ujian, kan? Anggap saja ini ujian untuk mas, kita tidur terpisah. Aku tahu kamu mau melakukannya saja kok. Untuk apa begituan kalau kamu gak cinta? Bisa ya merasakan dan menikmatinya? Padahal gak ada rasa cinta sedikit pun?” ucapku.
“Apa bedanya dengan kamu, Mal? Kamu juga menikmatinya, kan?” kata Mas Azril.
“Terserah kamu! Sekarang kamu tidur di kamar kita! Gak ada tidur pisah lagi!” erangnya.
“Ih maksa!” tukasku.
“Aku memaksa, karena kamu istriku!” geramnya.
“Ya sudah jangan nikahi Farah! Tinggalkan dia! Kalau mas mau tidur sama aku!” erangku.
“Gak bisa begitu dong, Mala? Aku gak bisa meninggalkan Farah, begitu pun kamu!”
__ADS_1
“Maruk amat jadi laki-laki!” ketusku. “Sudah awas, aku mau ke kamar!”
Aku mendorong tubuh Mas Azril yang ada di depanku. Tapi, tanganku langsung di raih Mas Azril dan Mas Azril menarikku ke dalam pelukannya.
“Mal, jangan gini. Please ... aku gak bisa begini,” bisiknya. “Kamu sudah menjadi canduku, Mal,” lanjutnya.
Aku mendorong keras tubuh Mas Azril. Bisa-bisanya dia bicara begitu. Memang aku ini apa? Budak seksnya saja?
“Gila kamu, Mas!” geramku.
“Iya, aku gila, Mal!” erangnya, sambil meraih tanganku lagi.
“Lepaskan!” pekikku.
“Gak akan aku lepasakan kamu, Mala! Kamu istriku, kamu juga harus bisa melayaniku sebagai istriku!”
Aku menatap sengit wajahnya, dia benar-benar durjana sekali, dia inginkan tubuhku, hingga berkata di depanku, kalau aku sudah membuatnya kecanduan. Apa mungkin Farah tidak bisa memberikan apa yang aku berikan? Atau karena dia sudah punya anak, jadi sudah tidak enak lagi? Lantas kanapa mau dinakahi sah, dan dia bilang hanya mencintai Farah saja?
Memang laki-laki gak pernah puas dengan satu wanita! Bilang tidak cinta tapi mau-mau saja menikmati tubuhnya! Bilang tidak cinta tapi kecanduan dengan tubuhnya?
“Laki-laki macam apa kamu, Mas? Kamu bilang di depanku, kalau kamu tidak mencintaiku, tapi kamu baru saja bilang, aku adalah candumu? Maksud kamu, kamu kecanduan sesuatu yang tidak kamu cinta? Menjijikan sekali kamu, Mas! Aku bukan wanita penghibur, Mas! Yang seenaknya menampung hasratmu saja. Yang bisa seenaknya kamu datang dan pergi sesuka hatimu untuk menghibur diri dengan tubuhku! Aku perempuan yang punya hati, yang sepenuhnya mencintaimu, dan bukan ini yang aku inginkan. Aku tidak ingin mempertaruhkan perasaan cintaku lagi, dengan cara seperti ini. Aku tidak mau seenaknya kamu sentuh, sebelum kamu benar-benar mencintaiku. Ingat, Mas! Aku ini istrimu, bukan pemuas syahwatmu saja! Seorang istri juga berhak dicintai, bukan hanya dijadikan bahan pemuas nafsumu saja!” tegasku di depan Mas Azril.
Aku langsung menepiskan tangannya, lalu meninggalkannya ke dalam kamar tamu. Aku tahu Farah mungkin sedang datang bulan, atau karena Sefi habis sakit, jadi Farah jarang memberikan jatah ranjang pada Mas Azril. Apalagi satu minggu ini mereka disibukkan untuk persiapan pernikahannya. Dan, aku juga menyibukkan diriku, supaya tidak terlalu sering dengan Mas Azril. Satu minggu ini juga aku tidur di kamar tamu, dan selalu aku kunci kamarnya. Aku tahu setiap malam Mas Azril selalu memutar handle pintu untuk mencob masuk, tapi karena aku kunci, jadi dia tidak bisa masuk, dan Mas Azril juga tidak mengetuk pintu kamar.
Aku memang salah, aku memang egois, tapi kalau aku tidak begini, aku akan semakin jatuh terperosok dalam lembah cinta yang tidak pernah terbalas. Kadang orang yang menggampangkan perasaan cinta, mereka menikmati saja hal yang seperti itu. Biarpun tidak cinta, mereka bisa melakukannya, mereka beranggapan kelak pasti akan saling mencintai karena sudah terbiasa. Tapi, tidak untuk diriku. Enak saja Mas Azril melakukan semaunya padaku, sedang dia tidak cinta, dan sudah bilang dengan tegas di hadapanku kalau dia tidak akan bisa mencintai perempuan lain selain Farah.
__ADS_1
Biar saja aku berdosa pada suamiku, toh dia juga mendzolimiku. Aku seperti ini, bukan karena aku ini benar, aku sadar aku salah melakukan hal seperti ini, menyiksa batin suamiku. Tapi, apa kabar diriku, jika aku terus-terusan menyerahkan semuanya pada suamiku, tapi dia tidak akan bisa mencintaiku. Apa batinku tidak menderita? Bukan hanya batin saja, tapi mentalku juga sakit. Aku melakukan ini supaya Mas Azril sadar, dan perlahan membuka hatinya untuk aku. Aku tidak peduli, mau sampai kapan begini, yang penting aku harus kuat untuk membatasi diriku terhadap Mas Azril.