
Aku berhenti di ambang pintu saat Farah memanggilku. “Ada apa? Mau apalagi?” tanyaku dengan merasakan sesak di dada.
“Kita bicara sebentar, Mal,” pintanya.
“Sudah tidak ada yang perlu dibicarakan lagi!” sergahku.
“Tolong pikirkan lagi, Mal. Kamu satu-satunya yang bisa membuat mamanya Mas Azril bahagia, tolong kalau kamu masih punya hati, bertahanlah untuk semua ini. Aku juga sadar diri, aku tidak pernah diharapkan oleh mama, tapi aku sangat menyayanginya, aku tidak mau mama sampai sakit, Mal,” pintanya.
Aku menoleh ke arah Farah, aku tersenyum sinis di depannya. Dia bilang padaku agar aku tetap bertahan kalau aku punya hati? Lantas, apa dia punya hati? Apa mereka berdua yang ada di depanku itu orang-orang yang punya hati?
“Kamu bilang apa? Kalau aku masih punya hati? Sekarang aku tanya, yang tidak punya hati siapa?” sinisku. “Siapa, Farah?!” erangku.
Aku semakin geram. Ingin rasanya aku merobek mulutnya, tapi aku tidak mau mengotori tanganku ini untuk mengasari perempuan itu.
“Sadar tidak sih kamu bicara begitu? Apa kamu punya hati? Punya? Kalau punya kenapa tega begini? Dan, kamu, Mas! Kamu laki-laki macam apa?! Kamu menyakiti dua wanita sekaligus, kalau mamamu tahu! Bukan hanya dua, Mas! Bundaku, juga pasti akan sakit hati melihat anaknya ditipu oleh suaminya!”
Emosiku semakin tersulut, aku benar-benar tidak bisa menahan emosiku saat Farah bilang kalau aku masih punya hati. Hatiku sudah remuk, hancur, tidak tahu bisa kembali utuh atau tidak. Semua itu karena laki-laki yang ada di hadapanku.
“Mal, aku mohon, sudah! Kita bicarakan di rumah saja, Mal. Kita pulang, ya? Kita bicara baik-baik,” pinta Mas Azril dengan memohon dan memelas.
“Gak ada yang perlu dibicarakan lagi, Mas!” tegasku. “Aku tetap pada pendirianku, aku ingin pisah!”
Ponselku berdering, entah siapa yang menelefonku selarut ini. Sudah pukul sebelas malam aku masih di luar, aku masih di rumah sakit untuk mengikuti suamiku. Aku lihat layar ponselku, tertera nomor Papa di layar ponsel. Aku segera angkat, kali saja penting.
__ADS_1
“Iya, Pa? Assalamualaikum ...,” jawabku tenang.
“Mala! Mama, Mal! Mama drop lagi, Papa sama sopir sudah menuju ke Rumah Sakit Siaga Medika!” Suara Papa terdengar sangat panik sekali, kenapa di saat seperti ini Mama malah drop? “Azril ke mana? Papa telfonin berkali-kali, tapi tidak diangkat!”
“Mas Azril sedang di kamar mandi, baru pulang dari Kantor, Pa. Mungkin ponselnya ada di dalam tasnya,” jawabku berbohong. “Papa tenang, ya? Mama pasti baik-baik saja, nanti Mala sama Mas Azril langsung ke rumah sakit,” ucapku.
Aku matikan telefon dari Papa Mertuaku, aku tatap Mas Azril dengan jengkel sekali. Mama pasti merasakan semua ini. Ikatan hati ibu dengan anak laki-lakinya pasti sangat kuat sekali.
“Puas, Kamu! Mama masuk rumah sakit! Mama drop, Mas!” ucapku dengan penuh amarah.
“Ma—mama drop? Lalu sekarang?” tanya Mas Azril panik.
“Kamu ini anak satu-satunya, Mas! Tapi, kenapa kamu begini? Kenapa kamu membohonginya! Tega kamu!” Aku semakin jengkel dengan Mas Azril. “Mama pasti merasakan apa yang sedang terjadi pada kita, Mas! Dia seorang ibu, ibu sangat peka perasaannya terhadap anak laki-lakinya, apalagi anak laki-laki yang dibanggakannya!”
“Sedang menuju ke sini, ke rumah sakit ini,” jawabku.
Mas Azril duduk dengan menangkup wajahnya. Aku dengar ia menangis, aku tahu dia pasti menyesal dengan apa yang sudah ia perbuat. Sekarang, aku tidak tahu harus bagaimana, apa aku tetap pada pendirianku untuk mengajukan gugatan cerai? Mumpung aku belum disentuh Mas Azril lagi setelah kemarin baru selesai datang bulan. Jadi, aku yakin aku tidak hamil sekarang, karena belum disentuh Mas Azril lagi. Tapi, mendengar kabar Mama yang drop lagi, aku mikir seribu kali lagi untuk mengajukan gugatan cerai pada Mas Azril. Lalu, kalau tidak, apa aku sanggup hidup dengan suami yang tidak mencintaiku? Dia mencintai perempuan itu, bahkan mereka sudah bahagia memiliki buah hati, meskipun mereka hanya menikah siri. Apa aku harus berbagi suami? Sedang suamiku tidak cinta padaku? Apakah ini adil bagiku?
Kalau adil, Mas Azril harus mencintai dan menyayangi kedua istrinya. Tapi, pada kenyataannya dia tidak mencintaiku, dia katakan sendiri di hadapanku kalau dia tidak mencintaiku? Kalau dia tidak bisa adil untuk cinta, apa bisa adil untuk yang lainnya? Jelas akan berat sebelah, dia hanya mencintai Farah, tentu saja dia akan berpihak lebih pada Farah. Apalagi dia sudah menikahi Farah lebih dulu dengan Farah, sudah memiliki buah hati juga, meskipun hanya menikahinya secara siri.
Mas Azril pamit keluar dulu dengan Farah, karena sudah mendapat kabar dari Papa kalau mama sudah sampai di Rumah Sakit. Aku berjalan di sisi Mas Azril, kita saling diam, belum ada pembicaraan sepatah kata pun.
“Kita lewat pintu sana, biar Papa tahunya kita baru sampai,” ajak Mas Azril.
__ADS_1
Aku tidak menjawabnya, aku hanya ikuti dia saja. Mas Azril semakin cepat melangkahkan kakinya. Aku tahu dia sangat takut dan panik kalau mendengar Mamanya ngedrop lagi.
“Papa!” Mas Azril langsung memeluk Papa yang sedang menunggu di depan IGD. “Bagaimana keadaan Mama?” tanya Mas Azril.
“Sedang ditangani Dokter,” jawab Papa.
“Gak tahu kenapa, Mama tiba-tiba bisa drop begini, Zril. Padahal tadi itu mama gak apa-apa, masih baik-baik saja, makan malam juga makannya makana yang sehat, gak macam-macam. Tadi masih bisa nonton Televisi, tapi tiba-tiba waktu Papa keluar dari kamar mandi, Mamamu drop,” ucap Papa dengan terisak.
“Papa yang sabar, Mama pasti baik-baik saja, Mama perempuan yang kuat, Pa,” ucap Mas Azril.
“Iya, Mama perempuan yang sangat kuat. Papa hanya takut saja, takut sekali kalau Mama meninggalkan Papa,” ucap Papa dengan tatapan kosong yang menyiratkan kepedihan. “Kalau Mama tidak ada siapa yang akan menemani Papa? Siapa yang Papa ajak cerita, ajak jalan-jalan, dan melakukan hal yang membuat Papa bahagia? Siapa lagi, Zril. Papa belum siap kehilangan orang yang sangat Papa cintai,” isaknya dengan penuh kepedihan.
Sungguh Mama mertuaku adalah perempuan yang paling beruntung di dunia ini. Suaminya sampai secinta itu padanya. Sampai menua bersama masih saling cinta, masih berbagi canda tawa dengan penuh kasih sayang. Aku melihat Papa seperti separuh jiwanya hilang saat Mama dalam keadaan begini.
“Kamu tahu, Zril? Nyawa Papa seperti tergantung separuh, nyaris menghilang, Papa tidak tahu lagi, Mama adalah separuh hidup papa,” ucap Papa dengan terisak.
Aku duduk di sebelah Papa, aku genggam tangan Papa, aku kuatkan Papa. Aku tahu Papa begitu takut sekali, karena memang malam ini keadaan Mama kritis.
“Papa takut, Mal,” isak Papa.
“Papa yang sabar, ya? Papa berdoa, pasti Mama akan baik-baik saja,” ucapku menenangkan Papa.
Andaikan saja, aku memiliki suami seperti Papa, yang sangat mencintaiku, mungkin aku akan merasakan bahagia seperti Mama. Aku baru sadar, ternyata benar, Mas Azril tidak mencintaiku, buktinya saat aku keguguran kemarin saja Mas Azril biasa saja, tidak begitu khawatir, seoalah ya sudahlah memang begitu? Ternyata aku hanya berhalusianasi, kalau suamiku itu cinta padaku.
__ADS_1