Bukan Rindu Yang Terlarang

Bukan Rindu Yang Terlarang
Enam - Aku Tidak Akan Menceraikanmu!


__ADS_3

Mereka terduduk lemas, setelah mendengar apa yang Dokter sampaikan. Sungguh aku ingin muncul di depan mereka, tapi aku tahan dulu, mungkin nanti kalau mereka sudah pindah ke ruang perawatan, baru aku muncul dan aku ingin penjelasan dari mereka.


Anak kecil itu dibawa menggunakan brankar, mungkin akan dibawa ke ruang perawatan, karena sepintas aku mendengar Dokter bilang, kalau anak mereka harus diopname. Aku masih duduk di depan ruangan anak itu, yang kata penjual nasi goreng namanaya Sefi. Ingin sekali aku masuk ke sana, aku ingin minta penjelasan dari Mas Azril, kenapa semuanya harus Mas Azril tutupi? Apa tidak ada cara lain selain nikah diam-diam?


Sudah tiga puluh menita aku berada di depan ruang perawatan anaknya Mas Azril. Aku beranikan diri untuk masuk ke dalam. Aku ketuk pintu ruangannya, dan terbukalah pintu tersebut dan menampakkan sosok perempuan yang aku kenal, baru kenal tadi sore.


“Mbak Mala?” sapa Farah bingung. “Ada apa, Mbak?” tanyanya.


“Siapa, Bunda?” tanya laki-laki yang ada di dalam.


“Ehm ... i—ini ada Mbak Mala, Yah. Sebentar, ya?” jawab Farah.


“Mas Azril!” panggilku.


Farah tercengang mendengar aku memanggil Mas Azril. Seketika Mas Azril menoleh ke arahku, dan berjalan mendekatiku.


“Mala? Kenapa ke sini? Kamu ikutin aku?” Mas Azril begitu santai sekali menyapaku. Sunggung dia seperti manusia yang tak punya dosa.


“Jelaskan semuanya, Mas? Tolong jangan ditutup-tutupi lagi, Mas!” tekanku.


“Mal, aku bilang tunggu di rumah, nanti aku akan jelaskan! Jangan memancing emosiku, ini juga kan di rumah sakit, Mal? Lihat anakku sakit!” ucapnya dengan sedikit ngegas.


“Lalu, apa kamu gak mikir perasaanku, Mas? Kenapa gak bilang dari awal kalau kamu sudah menikah siri sampai punya anak? Kenapa?” ucapku dengan terisak lirih.


Aku sadar, ini di rumah sakit. Yang sakit juga anak kecil, anak seusia keponakanaku. Mana tega aku mengganggu dia dengan aku teriak-teriak, aku manusia yang masih punya hati, meski aku tersakiti seperti ini. Aku seperti tertipu oleh suamiku sendiri.


“Mas, ini ada apa? Apa Mala?”


“Iya, dia istriku. Lebih tepatnya istri pilihan mama!” jawab Mas Azril.

__ADS_1


“Oh Tuhan!” rintih Farah dengan raut wajah yang sulit diartikan.


“Kenapa Mas gak bilang dari awal? Kenapa? Kenapa mas malah seolah menampakkan tidak terjadi apa-apa di masa lalu mas? Kenapa kamu baik padaku, Mas? Mas berikan semuanya padaku, mas bersikap manis, layaknya mas ini mencintaiku, memperlakukan aku bak ratu, memanjakanku setiap hari, kenapa begitu? Kalau mas tidak menginginkan aku, bilang dari awal!” tegasku meminta penjelasan dari Mas Azril.


“Pulang! Kita bicarakan di rumah besok! Jangan bikin keributan di rumah sakit, Mala!” bentak Mas Azril.


“Oh, kamu gak mau menjelaskan? Atau aku telefon mama, biar mama merestui kalian saja? Aku tidak ingin lama-lama mas! Aku hanya minta penjelasan darimu! Nyawa mamamu, ada ditangan kamu! Iya, di tangan Tuhan, tapi kalau mendengar semua ini, apa kamu ingin lihat dua orang yang kamu sayangi masuk rumah sakit semua? Anakmu, dan mamamu!” Aku sengaja mengancamnya, aku tidak takut. Untuk apa aku takut? Aku ini sudah merasa di tipu olehnya.


“Jangan mengancamku, Mala!” gertaknya.


“Kenapa, takut? Aku ini rasanya seperti ditipu kamu, Mas!” pekikku lirih.


“Baik, duduk di sana!” perintah Mas Azril.


Aku duduk di depan Mas Azril, Farah duduk di sebeah Mas Azril. Aku ingin penjelasan dari mereka. Apa pun yang terjadi nanti, aku siap menerima keputusan Mas Azril.


“Kenapa tidak bilang padaku? Kenapa mas mau menikah denganku?” tanyaku dengan berlinang air mata.


“Mama yang minta, aku tidak berani menolak permintaan mama, karena kamu tahu mama sakit, kan?” ucap Mas Azril.


“Lalu pernikahan kamu ini bagaimana?” tanyaku.


“Kami menikah siri, Mal. Aku minta maaf, sebetulnya aku ingin menyampaikan ini, tapi aku tidak tahu, aku bingung, aku ingin membahagiakan mama, Mal. Hanya dengan kamu mama bisa bahagia, hanya dengan aku menikahimu. Aku sudah terlalu sering membuat mama kecewa, tolong rahasiakan pernikahanku ini dengan Farah. Kamu orang yang aku percaya satu-satunya, Mal. Aku mohon?” ucapnya dengan terisak.


“Aku juga tidak tega menyakitimu, aku membohongimu selama tiga bulan pernikahan kita. Maafkan aku, Mala. Sudah membawa kamu ke dalam situasi seperti ini.”


“Ceraikan aku, Mas!” pintaku.


“Gak bisa, Mal! Aku gaka akan menceraikan kamu sampai kapan pun. Kamu pilihan mama, meski bukan pilihan hatiku. Aku mohon, tetap jadi istriku, aku akan adil pada kalian, bukankah selama tiga bulan aku adil dengan kamu? Meski setiap hari aku bagi dua perhatianku, untuk kamu, dan Farah. Juga untuk Sefi,” tutur Mas Azril.

__ADS_1


“Gak akan bisa adil, Mas! Aku tidak percaya itu. Aku minta ceraikan aku!”


“Mbak Mala, jangan seperti itu. Aku yang mengizinkan Mas Azril menerima perempuan lain, Mbak. Karena aku sudah tidak mau diusik dengan mamanya Mas Azril. Aku sangat dibencinya, Mbak. Sedangkan aku tahu mama itu sakit, aku rela dinikah siri. Aku rela melakukan itu, karena kami saling mencintai. Tapi, kami tak pernah mendapatkan restu dari orang tua Mas Azril. Jadi tetaplah begini, jangan minta cerai dengan Mas Azril. Aku mohon, demi anakku juga, Mbak,” ucap Farah dengan memohon padaku.


“Semudah itu kamu bicara? Kamu tidak tahu perasaanku bagaimana? Aku malu! Aku dengan percaya diri menganggap Mas Azril mencintaiku, menyayangiku, perhatian, dan lainnya yang membuatku bahagai! Ternyata apa, hah? Dia pura-pura, Farah! Dia melakukan semuanya karena pura-pura! Karena menutupi semuanya demi kamu!” erangku. “Astagfirullah ... Tega kamu, Mas!”


Aku mengusap kasar wajahku. Kecewa,  marah, dan lainnya bercampur menjadi satu. Aku semakin tidak tahu harus berbuat apa. Aku ingin menyudahinya, tapi Mas Azril terus memohon padaku, supaya aku menerima semua keadaan yang seperti ini.


“Mala ... izinkan aku tetap seperti ini. Dan, izinkan aku menikahi Farah secara resmi, karena dengan izin darimu, aku bisa menikahinya resmi, Mal,” pinta Mas Azril.


“Aku gak bisa, Mas!” jawabku.


“Mala, aku mohon!” Mas Azril berlutut di depanku, memohon izin untuk menikahi Farah secara resmi.


“Aku tidak mau dimadu, Mas. Tapi, ternyata aku ini yang menjadi madumu. Meski aku istri sahmu, aku yang kedua kamu nikahi, dan yang kedua kamu sentuh! Aku tidak bisa, Mas. Sebelum melangkah jauh, lebih baik ceraikan aku saja, Mas.”


“Enggak, Mal! Aku gak akan menceraikanmu, sampai kapan pun!” tegas Mas Azril.


“Untuk apa masih dipertahankan, kalau kamu saja tidak ada cinta padaku?”


“Aku tidak mencintaimu, iya aku jujur, aku hanya mencintai Farah, aku melakukannya denganmu, karena kamu istriku, dan kamu pilihan mama. Mama pengin punya cucu dari kamu, Mal!”


“Gila! Kamu gila, Mas!” erangku. “Besok, aku akan urus semuanya!”


“Gak, jangan, Mala! Aku mohon, Mal,” Mas Azril mengenggam erat tanganku, dia memohon padaku, berlutut memeluk kakiku. “Apa pun yang kamu mau aku akan kabulkan. Kecuali satu, kita jangan cerai, karena itu tidak akan aku kabulkan!”


“Aku tetap pada pendirianku, kita pisah!” tegasku, lalu aku pergi meninggalkan mereka.


“Mala, tunggu!” panggil Farah.

__ADS_1


__ADS_2