
Mala tahu, dia memang salah bersikap seperti itu pada Azril. Dia memanggil Azril dengan namanya saja, tidak sopan bila di dengar, apalagi dengan suaminya, sangat tidak sopan sekali. Rasanya Mala sudah malas sekali memanggil Azril dengan kata-kata yang halus. Mala rasa itu tidak pantas lantaran perbuatan Azril yang sudah keterlaluan padanya, dan sudah membohongi orang tuanya hanya karena Farah.
Mala rasa, ia sudah tidak penting untuk menghormati seorang Azril. Untuk apa dia menghormati suami yang menzaliminya? Untuk apa pula dia menghormati suami yang sudah membohonginya, dan untuk apa dia menghormati suami yang gak cinta dengan dirinya?
“Pernikahannya saja tidak dihargai, untuk apa aku menghargai suamiku yang seperti itu? Biar saja, aku tak peduli Surgaku sekarang ada pada suami. Suami macam apa dulu? Kalau suami macam Azril, apa pantas dia dihormati? Lantas surga yang seperti apa yang Azril suguhkan untukku, perempuan yang sudah ia sakiti hatinya?” batin Mala.
Mala sebetulnya penasaran sekali, kenapa Mamanya Azril sangat membenci Farah. Apa ada masa lalu antara orang tua Farah dan orang tua Mas Azril saat dulu?
“Ah ngapain aku penasaran, dan ingin tahu soal mereka? Gak ada gunanya kalau ingin cari tahu soal kenapa Mama sangat membenci Farah,” batin Mala.
Azril masih duduk di depan TV. Ia tidak menyangka saja Mala memanggilnya dengan namanya saja saat bicara dengan Farah. Bahkan sampai Farah menegurnya tapi Mala tetap saja tidak peduli.
“Makin ke sini mala kok semakin ngelunjak sekali, memanggil aku saja pakai nama saja? Gak sopan sekali!” gerutu Azril.
^^^
Pagi harinya Mala meminta Mbak Asih untuk masak sarapan untuk Azril. Dia pamit juga dengan Mbak Asih, karena dia harus berangkat pagi sekali, karena ada pekerjaan yang belum selesai, padahal Mala malas saja bertemu Azril pagi-pagi. Ia malas membahas ke Jepang, karena ia yakin Azril akan membahas itu lagi.
Azril keluar dari kamarnya, ia sudah tak mendapati Mala, ia hanya melihat Mbak Asih yang sedang menata sarapan.
“Mala belum bangun, Mbak?” tanya Azril.
“Bu Mala baru saja berangkat, Pak,” jawab Mbak Asih.
“Dia sudah berangkat? Gak salah, Mbak? Ini masih pagi sekali lho, Mbak?” ujar Azril.
__ADS_1
“Ya, memang tadi pamit berangkat, Pak. Katanya masih ada yang belum selesai pekerjaannya,” jawab Mbak Asih.
“Ah ya sudah, nanti saya susul saja,” ucap Azril.
“Silakan sarapannya, Pak.” Mbak Asih mempersilakan Azril untuk sarapan.
“Iya, Mbak, nanti aku sarapan,” jawab Azril. “Oh iya, Mala tadi sarapan tidak?” tanya Azril.
“Sarapan, Pak, tapi pakai roti dan susu. Saya hanya disuruh masak oleh Mbak Mala untuk bapak,” jawab Mbak Asih.
“Oh ya sudah, saya kira dia gak sarapan dulu,” ucap Azril.
Azril terpaksa sarapan sendiri. Padahal ia merindukan momen sarapan bareng dengan Mala. Ia kangen ngobrol pagi-pagi seusai sarapan, bersama Mala. Obrolan ringan namun bermakna, karena bisa menyejukkan pikiran yang mendapat ide baru dari obrolan ringan yang sangat bermanfaat.
^^^
Mala duduk berhadapan dengan seseorang. Seorang perempuan yang ia percaya untuk mengurus berkas-berkas perceraiannya dengan Azril. Ia sudah yakin dengan keputusannya untuk mempersiapkan berkas perceraiannya.
“Bu Mala sudah yakin?” tanya Dewi, pengacara Mala.
“Iya, Bu. Saya sudah yakin, sudah matap dengan keputusan saya, kalau saya akan mengajukan cerai,” jawab Mala.
“Tidak dipikirkan lagi, Bu?” tanya Dewi.
“Tidak, saya tidak mau membuang waktuku terlalu lama. Saya sudah yakin dengan keputusan ini, Bu Dewi,” jawab Mala.
__ADS_1
Mala sudah tidak mau ada ikatan dengan Azril. Ia beranikan diri untuk menggugat Azril, daripada ia dijadikan alat untuk Azril dan Farah.
“Biar saja, biar ketahuan semuanya. Aku sudah tidak mau pusing mengurus apa mau mereka. Kalian anggap aku ini apa? Babu kalian? Enak saja, aku diperlakukan seperti itu. Aku masih punya harga diri!” batin Mala.
Saat Azril mengajak Mala ke Jepang untuk membantu supaya Farah dan Azril bisa bulan madu di Jepang, Mala merasa dirinya seperti dijadikan bahan penutup kelakuan bejat mereka, biar tidak ketahuan oleh mama dan papanya Azril.
Semalaman Mala berpikir, untuk apa dirinya bertahan hidup dengan orang yang munafik. Ya, munafik! Bagaimana tidak munafik, Azril bilang tidak mencintainya, tapi nyatanya rindu dekapan hangatnya? Munafik tidak?
“Sampai kapan aku diperbudak oleh rasa kasihan pada Mama? Sedangkan anak Mama saja menyakitiku? Tapi untuk Bunda dan Ayah, pasti mereka akan mengerti, jika saat ini mereka tahu pun, mereka pasti akan menyuruhku untuk berpisah dengan Azril, karena sudah pasti mereka tidak akan sanggup melihat putri semata wayangnya disakiti suaminya. Apalagi sudah sampai dimadu seperti ini,” batin Mala.
Mala masih duduk di hadapan Dewi. Selain pengacara, Dewi juga seorang psikolog. Dewi tahu apa yang sekarang sedang Mala hadapi dan Mala pikirkan.
“Bu Mala, apa ibu mencintai suami ibu?” tanya Dewi.
“Ya, saya mencintainya,” jawab Mala tanpa ragu.
“Lantas kenapa memilih berpisah? Apa tidak bisa diselesaikan baik-baik dulu?” tanya Dewi.
“Kan sudah saya jelas kan dari awal, Bu? Saya menikah dijodohkan, suami saya memang baik, tapi ternyata dia punya perempuan lain yang sudah ia nikahi secara siri, selama tiga tahun sampai punya anak. Dan, suami saya dengan sesadar-sadarnya dia bilang tidak mencintaiku. Lalu apa harus saya pertahankan hubungan semacam itu? Bu Dewi seorang perempuan, kalau itu terjadi pada ibu, bagaimana? Ternyata suami ibu gak mencintai ibu, tapi dia memperlakukan ibu dengan manis, menyentuh ibu dengan lembut, seakan mencintai dan menyayangi ibu, dan itu semua bukan karena cinta melainkan untuk menutupi perbuatan yang selama tiga tahun dia tutupi, demi tidak ketahuan oleh orang tuanya dan keluarga besarnya! Bagaimana? Apa ibu bisa merasakannya, kalau diperlakukan seperti itu?” ucap Mala panjang kali lebar.
Dewi hanya bisa membuang napasnya kasar. Dia tahu apa yang Mala rasakan. Iya, dia mungkin tidak sanggup dan tidak sekuat Mala.
“Saya akan usahakan Bu Mala memenangkan sidang perceraian ini, tapi saya minta, ibu terus terang sama orang tua ibu, ya? Biar ibu ada penguat dalam persidangan nanti. Saya yakin, gak ada orang tua yang rela anak perempuannya disakiti suaminya. Beritahu baik-baik pada orang tua ibu, bagaimana pun, saat ada masalah dengan suami, orang tualah tempat berpulang kita, orang tualah yang akan memeluk kita dengan kasih sayangnya. Apalagi kita yang jadi korban, bukan kita yang cari masalah dengan suami kita,” tutur Dewi.
“Iya, nanti perlahan saya akan bilang sama orang tua saya. Terima kasih untuk waktunya, dan untuk bantuannya. Saya akan tunggu kabar selanjutnya,” ucap Mala.
__ADS_1