Bukan Rindu Yang Terlarang

Bukan Rindu Yang Terlarang
Tiga Belas - Belum PUlang


__ADS_3

Kami makan siang berempat, Farah, Sefi, Mas Azril, dan aku. Ternyata aku ini seperti duri dalam kebahagiaan mereka. Dari tadi, aku disuguhkan pemandangan mereka yang layaknya keluarga bahagia. Sefi yang senang sekali bisa bareng ayah dan bundanya, dan aku hanya melongo saja seperti penonton.


“Ayah kok ngajakin Tante Mala ke sini? Biasanya ayah kan sendirian?” tanya Sefi.


“Tante Mala itu saudara ayah, teman bunda juga,” jawab Mas Azril.


“Sefi kan pengin main lama sama ayah? Kalau ayah sama Tante Mala berarti pulangnya cepat dong?” protesnya.


“Enggak begitu, Nak. Nanti Tante Mala pulang pakai taksi kok. Bunda kamu kan mengundang Tante ke sini untuk makan siang, tadinya mau ke sini pakai taksi, eh Ayah kamu ngajak Tante sekalian, ya sudah Tante akhirnya menumpang deh?” jelasku.


“Oh, aku kira ayah akan mengantar tante pulang lagi? Nanti main sama papanya sebentar saja dong? Kan papa kalau sore berangkat kerja lagi?” ucap Sefi.


“Enggak, Sayang ... Tante nanti pulang sendiri, pakai taksi,” ucapku.


Farah dan Mas Azril saling pandang saat aku menjawab seperti itu. “Oh iya,. Sefi sudah sehat, kan? Kemarin waktu Sefi sakit di rumah sakit, Tante juga jenguk Sefi, tapi Sefi tidur,” ucapku lagi.


“Oh, ya? Yah ... sayang sekali Sefi gak lihat. Tante Mala sudah punya anak?” tanya Sefi.


“Belum, Sayang,” jawabku.


“Sef, makan dulu, ya? Jangan ngobrol terus, itu Tante Mala juga mau makan lho?” tegur Farah.


“Iya, Bunda,” ucap Sefi.


Aku melihat Sefi begitu kasihan sekali, apalagi hubungan Mas Azril dan Farah hanya sebatas pernikahan Siri saja? Kasihan dia, kalau menikah nanti tidak bisa diwalikan oleh Mas Azril? Ya, mungkin sudah suratannya seperti itu. Lagian salah sendiri masih sesama lajang kok milih menikah siri?


Kami selesai makan, Sefi langsung mengajak ayahnya untuk bermain, tapi Mas Azril memberi pengertian pada Sefi untuk main dengan Mbak Ita, karena Mas Azril akan membahas mengenai rencana pernikahan dirinya dengan Farah lusa. Mbak Ita adalah pengasuh Sefi, kalau Farah bekerja Sefi bersama Mbak Ita. Ibu dan ayahnya Farah sudah meninggal sejak lama.

__ADS_1


“Sebentar, ya? Sefi main sama Mbak Ita dulu. Ayah sama Bunda mau bahas pekerjaan dengan Tante Mala,” ucap Farah.


“Ya sudah, Sefi main sama Mbak Ita duluan,” ucapnya sedih.


Kami bertiga duduk di ruang tamu, dan mulai membahas soal pernikahan Farah dan Mas Azril.


“Aku minta maaf ya, Mal,” ucap Farah.


“Memang seharusnya kalian menikah resmi, jadi kalau punya anak lagi, anak kalian sah, nasibnya gak akan kebingungan,” ucapku ketus, tanpa basa-basi.


“Kamu yakin mengizinkannya, Mal?” tanya Farah.


“Kalau tidak mengizinkan juga kalian ya masih tetap begini, kan? Gak mungkin Mas Azril meninggalkanmu,” jawabku.


Aku malas lama-lama di hadapan orang yang munafik seperti mereka. Bahkan dengan Sefi pun aku melihatnya biasa saja. Padahal aku ini senang dengan anak kecil, tapi melihat Sefi rasanya aku ingin marahi dia yang manja dengan ayahnya. Entah karena aku cemburu atau apa, aku benci mereka semua!


“Iya, akan tetap seperti ini, Mal. Karena kami punya anak,” ucap Farah.


“Mal, sudah gak usah ke sana-sana bicaranya!” tegas Mas Azril.


“Memang kenyataannya, kan?” ucapku.


“Sudah, kamu setuju tidak? Kalau setuju, ini ada surat dari Kantor Urusan Agama, persetujuan istri pertama, kamu tanda tangani di sini,” ucap Mas Azril.


“Istri pertama? Hah ... istri bayangan mungkin lebih tepatnya!” ucapku sambil meraih map dan aku membaca suratnya.


“Kamu masih ingat syarat yang aku ajukan, kan?” tanyaku.

__ADS_1


“Iya, masih, Mal,” jawabnya.


“Oke, kalau masih ingat.” Aku tanda tangani surat tersebut, dan mereka bilang lusa aku juga harus hadir dalam pernikahan mereka.


Apa aku kuat melihat orang yang sangat aku cintai menikahi perempuan lain? Tapi, aku harus kuat, aku harus tunjukkan kalau aku ini tidak lemah. Biar saja mereka mau bagaimana, aku tidak peduli. Aku juga harus mencari cara untuk bicara dengan Mama, soal semua ini. Aku tidak mau seperti ini terus, yang ada aku semakin tak kuasa menahan rasa cintaku yang membara ini untuk Mas Azril.


“Sudah hanya ini saja, kan?” tanyaku.


“Iya, Mal,” jawab Mas Azril.


“Ya sudah aku pulang, masih banyak pekerjaan yang belum aku selesaikan,” pamitku.


“Maaf, aku gak usah mengantarmu ya, Mal?” ucap Mas Azril. “Aku masih ingin bersama Sefi,” imbuhnya.


“Ya, aku bisa pulang sendiri tanpa kamu antar! Tapi, harusnya jadi laki-laki itu tanggung jawab sedikit lah! Ngajak pergi, ya harus antar pulangnya! Tapi, kalau aku maksa kesannya aku ini seperti anak seusia Sefi yang berebut ayah,” ucapku. “Aku pulang!”


Aku langsung keluar, aku tidak mau basa-basi lagi dengan mereka. Aku masuk ke dalam taksi, tanpa terasa air mata ini mengalir deras sekali. Sesak sekali dadaku, setelah bertemu dengan mereka. Dari kemarin perlahan melupakan tentang Mas Azril yang akan menikahi Farah, tapi sekarang aku benar-benar sakit, ditambah melihat kebahagiaan mereka. Mereka benar-benar keluarga kecil yang bahagia. Aku ini sudah tega merusak kebahagiaannya secara tidak sengaja. Aku harus cepat-cepat menjelaskan semua, perlahan pada orang tua kami.


Aku tidak pulang ke rumah sampai malam. Aku menghabiskan waktuku di cafe milikku setelah dari pabrik. Aku tidak mau pulang, pasti akan  bertemu dengan Mas Azril. Biar saja aku di cafe sampai cafe tutup untuk menenangkan pikiranku yang terus memikirkan lusa Mas Azril akan menikahi Farah.


Pukul sepuluh malam, aku mendengar ponselku berdering, Mas Azril menelefonku, paling dia mencariku yang belum pulang. Untuk apa mencariku? Bukannya aku ini tidak berguna dalam hidupnya? Aku melihat ada pesan dari Mas Azril.


[Jam segini kamu belum pulang? Di tempat kerjamu, sudah tutup, hanya ada satpam! Kamu di mana, Mala?]


Aku hanya membacanya saja. Biar saja, aku tidak mau membalasnya. Aku masih ingin di cafe, mungkin sampai nanti jam dua belas atau jam satu malam, karena mameng cafeku sampai jam dua pagi baru tutup. Aku tidak mau pulang, karna aku ingin menenangkan pikiranku.


[Mal, kamu di mana? Pulang, Mal, sudah malam!]

__ADS_1


Biar saja aku diami dia, aku tidak mau membalas pesannya. Lagian kok sok khawatir sekali sama aku? Orang gak cinta, ya sudah gak usah merasa khawatir aku yang gak pulang-pulang? Apa artinya dia khawatir sama aku, toh dia sedikit pun gak punya perasaan sama aku?


Mas Azril kembali menelefoniku, aku membiarkannya, aku tidak mau mengangkatnya. Aku masukkan ponselku ke dalam tas, dan aku sibukkan diriku dengan kegiatan yang mungkin tidak terlalu penting, karena tujuanku di sini juga Cuma duduk-duduk saja, gak ingin pulang dan bertemu dengan Mas Azril. Aku cemburu, iya mungkin aku cemburu, aku marah, aku kesal, dan murka sekali pada Mas Azril, yang tidak punya hati sama sekali padaku.


__ADS_2