
Mama mengerjapkan matanya, aku mendengar rintihan Mama memanggil namaku. Ada Papa, Mas Azril, dan aku, tapi aku yang Mama sebut namanya, padahal aku ini orang asing, aku ini menantunya, tapi namaku yang Mama sebut saat pertama kali sadarkan diri.
“Ma—Mala ....” Dengan terbata Mama memanggil namaku.
“Iya, Ma, Mala di sini,” bisikku di telinga Mama.
“Ka—kamu baik-baik saja?” tanyanya.
“Mala baik, Ma. Mama tenang, ya? Mala sehat kok, Mala baik, Mama harus pulih dulu, Mala panggil Dokter dulu ya, Ma?”
Mama menganggukkan kepalannya. Aku keluar memanggil Suster dan Dokter jaga di depan. Mereka langsung masuk ke dalam untuk mengecek kondisi Mama. Aku hanya berdiri ambang pintu, menyaksikan Dokter dan Suster yang sedang memeriksa keadaan Mama setelah siuman. Aku sambil berpikir, kenapa Mama bisa tanya seperti itu, padahal Mama tidak tahu masalah ini. Sedikit pun Mama tidak tahu apa yang terjadi padaku malam ini.
Jangankan Mama, aku saja baru tahu kalau Mas Azril sudah menikah siri dengan Farah tiga tahun yang lalu? Aku tidak habis pikir, bisa-bisanya Mas Azril menyembunyikan semuanya dari Mama dan Papa soal hubungannya dengan Farah. Kalau tidak disetujui ya sudah dong, gak usah dilanjutkan? Tapi, namanya cinta, ya apa pun akan mereka lakukan agar tetap bersama.
Dokter dan Suster sudah selesai memeriksa keadaan Mama. Mereka keluar dari ruangan, dan aku masih saja terpaku, berdiri di depan pintu sambil melihat Mas Azril yang dari tadi menangis, sambil menciumi tangan Mama.
“Mama ... sembuh, ya? Jangan sakit lagi,” bisik Mas Azril dengan terisak. “Kasihan Papa sendirian, Ma,” imbuhnya.
“I—iya,” jawabnya.
“Ma ... jangan gini, ya? Papa takut,” ucap Papa dengan tatapan sendu. Mama mengangguk lemah, lalu tangannya meraih wajah Papa dan mengusap pipi Papa.
“Ja—jangan nangis, Mama gak apa-apa,” ucapnya lirih. “Mana Mala?” tanya Mama.
Aku langsung berjalan mendekati Mama. Aku berdiri di sebelah Mas Azril yang sedang duduk di samping Mama. “Ini Mala, Ma. Mala masih di sini,” ucapku.
Mama mengusap perutku, aku paham Mama pasti akan menanyakan aku sudah hamil lagi apa belum. Aku bingung harus menjawab apa, kalau Mama terus mendesakku supaya cepat hamil. Padahal saat ini aku sudah sangat kecewa dan merasa aku ini hanya sebagai pelampiasan Mas Azril saja. Apa aku bisa melakukannya lagi dengan Mas Azril? Menikmati indahnya bercinta dengan Mas Azril seperti kemarin, saat aku belum mengetahui kalau mas Azril sudah memiliki Farah, sudah menikahi Farah secara siri selama tiga tahun, dan sudah memiliki buah cinta dengan Farah.
“Kapan kamu hamil lagi, Mal? Mama sudah tidak sabar ingin punya cucu. Mama kemarin itu mimpi sedang menimang cucu. Dia tampan seperti Azril, tapi hidung dan matanya mirip kamu. Matanya indah sekali,” cerita Mama.
“Mama itu sudah punya cucu,” ucapku, aku sejenak berhenti berbicara, sengaja sih, supaya Mas Azril panik.
“Sudah punya?” tanya Mama.
“Iya, sudah punya, cucu Mama perempuan,” jawabku.
Mas Azril menatapku tajam. Dia ketakutan, takut aku menceritakan semuanya. Padahal aku ini Cuma mengetes saja, biar dia panik.
“Mal, kamu jangan ngada-ngada bicaranya!” tukas Mas Azril.
__ADS_1
“Ya, memang Mama sudah punya cucu, Mas! Dia perempuan, kan?” ucapku.
“Cucu yang mana, Mal?” tanya Papa.
“Ini kamu bilang apa sih, Mal!” ucap Mas Azril tambah panik.
“Iya, kamu ini ngelindur, Mal? Masa Mama sudah punya cucu perempuan? Kamu kan kemarin habis keguguran?” ucap Mama.
“Ya, itu sih, Ma? Bayi Mala yang kemarin keguguran kan, cewek, Ma? Jadi Mama sudah punya tabungan cucu perempuan di Surga. Insya Allah akan segra dapat cucu lagi, laki-laki, yang tampan, seperti yang Mama impikan,” ucapku dengan tersenyum.
“Memang sudah tahu jenis kelaminnya? Kan belum ada dua bulan? Baru saja empat atau lima minggu?” tanya Papa.
“Mala rasa janin Mala yang kemarin keguguran itu, perempuan, Pa,” jawabku.
Aku puas sekali melihat wajah Mas Azril yang panik saat aku mengatakan hal seperti itu. Aku tidak setega itu mengatakan pada Mama soal Farah. Entah apa yang membuat Mama dan Papa tidak menyetujui Farah dengan Mas Azril.
“Semoga cepat hamil lagi ya, Mal? Mama pengin punya cucu, sebelum Mama berpulang, Mal. Kamu tahu kondisi Mama kan, Mal? Mama pengin sekali punya cucu dari kamu, Mal,” pintanya.
Aku tersenyum dan mengangguk, tapi aku bingung. Apa aku bisa melayani suamiku lagi? Sedang dia juga melayani perempuan lain juga? Aku merasa jijik sekali, harus berbagi suami, tapi mau bagaimana lagi? Aku juga tidak mungkin menceritakan semuanya, apa aku cerai saja, lalu aku berbohong kalau aku ini masih dengan Mas Azril. Tapi, kalau nanti ketahuan? Apalagi Mama dan Bunda sering ke rumah, bahkan kadang mereka menginap beberapa malam di rumah.
“Sana, kalian pulang, biar Mama sama Papa dan Pakdemu,” perintah Mama.
Aku tahu, Mas Azril masih ingin di sini karena dia juga akan menemani Sefi dan Farah. Akal-akalannya pintar sekali suamiku ini.
“Kamu istirahat saja di rumah, Zril. Biar Papa saja yang di sini, temani Mala pulang, kalau kamu masih tetap di sini, Mala mau pulang sama siapa?” tanya Papa.
“Aku antar, nanti aku ke sini lagi,” jawab Mas Azril.
“Pulang saja, Pakde yang akan di sini menemani Mama dan Papamu. Temani Mala di rumah, besok gantian kamu yang jagain,” ujar Pakde.
“Ya sudah Azril sama Mala pulang,” ucap Mas Azril.
Mas Azril mengajakku pulang. Kami pamit pada Mama, Papa, dan Pakde. Kami keluar dari ruangan Mama. Kami saling berpandang. Aku sangat benci sekali dengan Mas Azril, benar-benar kecewa dan benci sekali!
“Aku mau ke ruangan Sefi dulu,” ucapnya.
“Silakan! Tidak usah pulang juga gak apa-apa. Semoga saja ketahuan Papa atau Pakde kamu masih di sini, menemani istri sirimu yang sangat kamu cintai!” jawabku.
Aku sudah tidak memakai bahasa yang halus lagi saat bicara dengan Mas Azril. Padahal aku kemarin, aku sangat hati-hati sekali bertutur kata dengan suamiku. Tapi, aku rasa sekarang sudah tidak pantas aku berkata lembut dengannya?
__ADS_1
“Sebentar, nanti kita pulang bareng,” ucap Mas Azril.
“Aku bisa pulang sendiri!” jawabku.
“Sudah jam satu malam, Mal?”
“Kenapa? Mau jam satu, dua, tiga, sama saja, kan?” jawabku.
“Lagian kamu mau pulang pakai apa, Mal?” tanya Mas Azril.
“Ini, aku bawa sepeda motor.” Aku menunjukkan kunci sepeda motorku.
“Tinggal di sini sepeda motornya!” perintah Mas Azril.
“Gak usah, kalau kamu mau menemani Farah, silakan! Lagian untuk apa kita pulang bersama?”
“Kamu istriku, Mala! Kamu tanggung jawabku sepenuhnya!” tegas Mas Azril.
“Istri? Istri hanya status di KTP saja, kan? Kalau Cuma status, ngapain kamu bertanggung jawab? Aku saja bisa menanggung hidupku sendiri?” jawabku.
“Jaga ucapanmu, Mal!”
“Harus aku jaga ucapanku pada seorang laki-laki yang sudah menyakitiku dan membohongiku? Iya, begitu?” geramku.
“Aku gak mau ribut ya, Mal? Kita pulang bareng!” tegasnya.
Mas Azril mengambil ponselnya, ia sepertinya akan menelefon Farah, tapi ia urungkan, ia hanya membuka, dan sepertinya membaca pesan saja, lalu ia masukkan lagi ponselnya ke kantong celana.
“Farah menyuruhku pulang saja, atau jagain Mama. Sefi sudah tidak rewel. Ayo pulang!” ajak Mas Azril.
“Aku pulang sendiri!” Aku langsung berjalan mendahului Mas Azril dengan cepat. Mas Azril mengejarku, dan sesekali ia raih tanganku tapi dengan keras aku tepiskan tangannya.
“Mala ... jangan gini, kita pulang bareng saja, Mal?” ucapnya. “Mal, maafin aku.”
Aku tidak menghiraukan Mas Azril yang sepanjang jalan menuju ke tempat parkir merengek minta maaf padaku, dan membujukku untuk pulang bersama.
Ternyata aku memang harus pulang dengan Mas Azril, karena sampai di tempat parkir ternyata hujan deras. Aku tidak mungkin pakai sepeda motor. Aku ini anti hujan-hujanan, karena sekali kena air hujan kepalaku bisa sakit.
“Tunggu sini, aku ambil mobil, jangan pulang pakai sepeda motor, hujan deras!” tegas Mas Azril.
__ADS_1
Aku tidak menjawab, aku bisa apa sekarang, aku memang harus pulang dengannya, karena hujan makin deras sekali.