Bukan Rindu Yang Terlarang

Bukan Rindu Yang Terlarang
Delapan Belas - Dimadu


__ADS_3

Hari ini, hari di mana suamiku yang aku cintai akan menikahi perempuan yang tak lain adalah perempuan yang sudah tiga tahun menemaninya dalam suka dan duka. Ya, mereka sudah menikah siri selama tiga tahu, dan hari ini, mereka akan mengesahkan pernikahan mereka, supaya terdatar dalam catata sipil. Aku mengizinkan mereka mengesahkan pernikahannya, dan perempuan yang bernama Farah, dia sekarang jadi maduku.


Air mataku sudah tidak bisa aku tahan saat tadi Mas Azril meminta izin padaku, karena sebentar lagi akan dilaksanakan prosesi akad nikah. Tamu yang datang hanya beberapa, bisa dihitung dengan jari. Paling tetangga sebelah untuk menyaksikan, dan adik laki-laki dari ayahnya Farah untuk menjadi walinya, beserta istrinya. Aku duduk di sebelah bulik/tante nya Farah. Beliau berkali-kali mengusap punggungku, seakan beiliau tahu kalau aku ini sedang tidak baik-baik saja.


Prosesi akad nikah akan segera dimulai, aku kuatkan diriku, tubuhku lemas sekali saat mendengar lantunan ayat suci Al-qur’an sebelum ijab qobul dimulai. Sesekali aku mengusap air mataku. Sungguh sakit sekali hati ini, tapi mau bagaimana lagi, aku ini sudah mengizinkan Mas Azril untuk menikah lagi.


Ijab qobul dimulai, aku mendengar Mas Azril dengan lancar dan lugas mengucapkan kalimat qobul. Aku ingat saat Mas Azril menikahiku, aku teringat semuanya. Air mataku semakin deras, tak bisa aku bendung lagi. Tanganku basah karena air mataku terus menetes di telapak tanganku. Isakkan ku semakin terdengar saat semua yang menyaksikan mengucapkan kata SAH. Tantenya Farah memelukku, aku menangis memeluknya erat, aku tumpahkan rasa sakitku dengan memeluk Tante Yumi.


“Bulik tahu perasaanmu, Nduk,” ucapnya. “Kamu perempuan yang sabar, perempuan yang kuat, kamu pasti bisa melewati semua ini, maafkan keponakan bulik, ya?”


Aku hanya menangis, aku tidak menjawab sama sekali. Aku semakin mengeratkan pelukanku, aku harus kuat menjalani semua ini. Air mataku langsung aku usap, aku bersihkan sampai kering, dan aku tidak mau menangis lagi. Mau menangisinya sampai kapan pun, tetap tidak akan merubah keadaan. Mas Azril sudah memiliki istri lagi.


Mas Azril melihatku, setelah ia selesai ijab qobul. Ia beranjak dari tempat duduknya, ia mendekatiku, lalu memelukku erat. Aku dengar ia menangis sambil memelukku.


“Maafkan aku, aku janji akan adil terhadap kamu dan Farah,” ucapnya sambil memelukku.


Aku sama sekali tidak membalas pelukannya, aku hanya memegang pinggangnya saja, tanpa  melingkarkan tanganku di badan Mas Azril. Rasanya tidak ingin lagi aku memeluk orang yang akan menduakanku, yang akan menyentuh perempuan lain selain aku. Aku memang tidak tahu dari awal, kalau aku tahu dari awal Mas Azril sudah menikah siri dengan perempuan, dan sudah memiliki anak, mungkin aku tidak akan mau menikah dengannya.


“Jangan meminta maaf terus, Mas,” ucapku, lalu menguraikan pelukan Mas Azril. Aku tersenyum di depannya, seakan aku ini kuat, padahal di dalamnya aku rapuh, hampir jatuh, hampir tumbang, dan tidak bisa apa-apa. Tapi, aku harus terlihat tegar di depan semuanya, meskipun tadi sesaat aku terisak-isak.


Tidak aku ucapkan kata selamat atau apa pun, aku tidak ingin basa-basi dalam hal seperti ini. Untuk apa mengucapkan selamat, kalau aku terluka?


Farah juga memelukku, meminta maaf dan berterima kasih padaku karena sudah datang menyaksikan pernikahannya dengan Mas Azril. “Terima kasih, Mal,” ucapnya.

__ADS_1


“Iya, Farah,” jawabku singkat.


Selesai acara, aku ingin pamit dengan mereka. Aku tidak mau mengganggu mereka yang mungkin akan melakukan hal seperti layaknya pengantin baru. Saat akan pulang, aku mendengar adzan dhuhur, Mas Azril mengajak Farah dan aku untuk salat berjamaah, ingin aku menolaknya, tapi Farah malah menyiapkan mukenah untukku. Aku mengangguk menyetujuinya. Kami salah berjamaah bertiga. Harusnya di balakang imamku hanya satu wanita, yaitu aku, tapi kenyataannya di belakan shaf Mas Azril, ada dua wanita, yaitu aku dan Farah. Satu lagi, dengan Sefi juga.


Selesai salah, Mas Azril menghadap ke belakang, aku orang yang pertama ia lihat, dan mengajakku bersalaman, aku tahunya Farah yang akan disambutnya lebih dulu, ternyata aku yang Mas Azril ajak bersalaman. Aku mencium tangan Mas Azril, setelah itu Mas Azril mengecup keningku, pun dengan Farah dan Sefi, ia juga melakukan hal yang sama dengaku.


“Ayah ... kok ayah cium Tante Mala?” tanya Sefi.


“Tante Mala itu istri Ayah juga, Sayang? Sama seperti bunda,” jawab Farah. “Jadi, Sefi boleh memanggil Tante Mala dengan ibu atau mama,” imbuh Farah.


“Gak mau! Aku hanya punya bunda saja! Ayah gak boleh sama Tante Mala! Ayah sama Bunda saja!” pekiknya dengan mata berkaca-kaca.


“Enggak, Sefi. Tante itu adik ayahmu, adik sepupu, jadi wajar Ayahmu mencium tante, kan tante adiknya ayah,” ucapku.


“Iya benar dong, Sayang?” sergahku.


Mereka diam. Biar saja, aku tidak mau banyak drama dengan anak kecil, tinggal bilang aku ini adiknya sepupunya Mas Azril saja, selesai, kan?


“Mas, Farah, aku langsung pulang saja, ya? pamitku.


“Gak makan dulu, Mal?” tanya Mas Azril.


“Gak usah, aku mau ke restoran sama cafeku. Nanti makan di luar saja sekalian,” jawabku.

__ADS_1


Untuk apa aku lama-lama di sini? Gak usah sok basa-basi, deh! Nanti giliran aku di sini terus kalian baru tahu rasa! Aku tahu mereka sedang bahagia, jadi untuk apa aku di sini?


^^^


Aku pulang, aku pamit dengan Mas Azril, aku cium tangannya, lalu setelah itu aku langsung pergi. Aku tahu Mas Azril ingin memelukku, tapi aku langsung menghindar. Benar-benar orang yang aneh! Dia minta menikah lagi, mengesahkan pernikahannya dengan Farah, tapi kelakuannya padaku masih seperti itu.


Azril ... Azril ... kau kita aku bisa luluh dengan pelukanmu dan rasa ibamu padaku itu? Jangan harap aku akan luluh!


Aku memesan taksi, aku naik taksi pulangnya, tadi aku ke sini bareng Mas Azril, tidak mungkin dia akan mengantarku pulang. Orang dia sebenarnya sudah ingin menyentuh Farah.


Aku dengar ponselku berdenting, ada pesan masuk, dan aku lihat pesan itu dari Mas Azril.


[Maafin Sefi, ya? Tadi bicara begitu sama kamu?]


[Biasa anak kecil, Mas. Belum tahu apa-apa]


Aku hanya menjawab seperti itu, gak mau panjang lebar berbalas pesan dengannya.


[Mal, kamu belum makan, jangan lupa makan, ya?]


[Tenang saja, aku bukan anak kecil yang harus diingatkan makan, kok? Kalau lapar ya aku makan. Gak usah kepikiran aku dimadu akan mogok makan, gak begitu konsepnya, aku tetap harus waras jiwa raga, Mas! Sudah urus saja istri barumu, aku mau kerja. Gak usah ganggu!]


Aku ketus menjawabnya, biar dia tidak lagi mengirim pesan padaku, aku off hapeku karena aku ingin tenang.

__ADS_1


__ADS_2