Bukan Rindu Yang Terlarang

Bukan Rindu Yang Terlarang
Dua Puluh Dua - Kelaparan


__ADS_3

Aku memasak untuk makan malam Cuma untukku sendiri, karena aku kira Mas Azril akan pulang ke rumah Farah. Jadi, aku masak nasi goreng satu porsi untuk diriku saja. Aku bilang pada semua asistenku di rumah, kalau Mas Azril satu minggu tidak akan pulang, karena ada pekerjaan, jadi mereka aku suruh santai di rumah, bukan berarti dia aku liburkan, tetap bekerja, tapi tidak terlalu berat kerjanya. Mbak Asih saja tidak aku suruh untuk masak, karena aku lebih suka masak sendiri seadanya, dan hanya untukku. Kalau Mbak Asih mau masak, silakan saja masak, untuk semua asisten di rumah, tapi tidak untukku.


Aku menikmati nasi goreng buatanku di depan TV, sambil menonton TV supaya tidak sepi. Seperti itu setiap malam, saat Mas Azril tidak di rumah. Aku mendengar Mas Azril membuka pintu kamarnya, aku tengok, benar dia keluar dari kamarnya, lalu menghampiriku yang sedang menikmati makan malamku.


“Kamu makan apa, Mal? Kok gak nawarin?” tanya Mas Azril.


“Untuk apa menawari? Bukannya Mas akan pulang ke rumah Farah lagi?” jawabku.


“Enggak, aku mau tidur di sini,” jawabnya.


“Satu minggu sekali lho di dalam perjanjiannya? Kok baru dua malam sudah pulang? Pengantin baru masih anget-angetnya lho?” ucapku.


“Kok kamu kayaknya gak suka aku pulang, ya?” ujar Mas Azril.


“Ribet ada kamu, Mas! Mending sama Farah saja sana!” usirku.


“Kok kamu begitu? Aku kangen sama kamu salah?” ucapnya lalu duduk di sebelahku.


“Ih, itu sofa di sana kan masih ada, kenapa duduk di sini sih! Sana ah, jangan di sini!” usirku.


“Mal, aku lapar,” ucapnya.


“Aku pesankan makanan sebentar, mau meminta Mbak Asih buat masakin kamu, kasihan sudah tidur kayaknya. Aku pesankan saja, mau apa?” tanyaku.


“Aku mau ini saja, ini porsinya lumayan banyak, sini aku minta, gak usah beli ini saja.”


Mas Azril meraih sondok yang ada di atas piring, ia langsung menyendokkan nasi, lalu memakannya. Ia juga mengambil kerupuk, dan menggigitnya di bekas gigitanku. Aku senang sih dia mau makan sepiring berdua denganku lagi setelah lama tidak seperti ini. Sungguh aku juga merindukan hal yang romantis seperti ini, tapi aku masih sangat kesal dengannya, jadi ada rasa dongkol saat ini pada Mas Azril.


“Aku masih lapar, jangan dihabiskan!” tukasku.

__ADS_1


“Kamu tumben makannya banyak?” tanya Mas Azril.


“Ya memang aku makannya banyak kok?” jawabku.


“Nanti kalau habis aku masakin lagi,” ucap Mas Azril.


“Kayak bisa masak!” tukasku.


“Bisalah!” jawabnya.


Mas Azril menyuapkan lagi nasi goreng ke mulutnya, dia lahap sekali makannya, aku yakin dia memang benar kelaparan. Untung saja aku bikin agak banyakan, jadi lumayan bisa buat berdua. Tapi aku gak enak sama dia, aku kasih sisaku. Ah biar saja, masa bodoh! Salahnya sendiri belum waktunya pulang sudah pulang. Gak tepat janji banget!


“Ayo buka mulutmu, maaf dari tadi malah aku yang makan, buka mulutnya, aaaa ....”


Mas Azril menyendokkan nasi goreng untukku, aku masih menutup mulutku, aku malas sekali kalau sudah begini, dia pasti minta lebih padaku. Biar saja, gak sudi aku memberinya! Tidak semudah itu, Azril!


“Sudah buat kamu saja, lagian kayaknya kamu kelaparan sekali?” ucapku.


“Memang aku lapar, apalagi nasi goreng buatanmu enak sekali,” ucapnya memuji masakanku.


“Ya sudah habiskan saja,” ucapku.


“Gak gitu dong, masa aku habiskan. Ayo aku suapi kamu.”


“Gak, aku bisa sendiri!” Aku hendak meraih sendok yang Mas Azril pegang, tapi Mas Azril menepisnya.


“Aku suapi saja, ayo buka mulutnya.”


Aku terpaksa membuka muluku. Kalau seperti ini, aku ingat romantisnya dia setelah menikah. Kenapa aku pengin nangis saat seperti ini, apa aku juga merindukan hal yang seperti ini? Sebelum tahu soal Farah, aku begitu bahagia. Mas Azril selalu bersikap romantis seperti ini, selalu membuatku bahagia. Makan sepiring berdua, minum segelas berdua, seperti saat pengantin baru.

__ADS_1


Sebentar-sebentar, dia ini baru menikahi Farah, kenapa malah romantisnya sama aku? Ah bodo amat! Biar saja begini, tapi tetap aku tidak mau dia sentuh lagi! Biar saja aku berdosa, kalau makan sepiring berdua, ya maklum saja memang aku gak masak, karena aku kira dia ke sini Cuma mau bilang akan mengajakku ke Jepang. Ternyata malah bermalam di sini. Dia tidak kembali ke rumah Farah lagi.


“Sudah, itu buat kamu saja, aku sudah kenyang,” ucapku.


“Yakin?” tanyanya dengan mata berbinar, seakan senang nasi gorengnya aku kasih ke dia semua.


“Iya, makan saja,” jawabku.


Mas Azril mengangguk, lalu makan dengan lahap. Kasihan sekali, pasti dia sangat kelaparan. Lagian di rumah Farah itu di kasih makan gak sih? Aku beralih duduk di sofa yang ada di sampingnya. Aku gak mau dekat-dekat dengan Mas Azril, dia begitu berbahaya. Bisa-bisa habis menyantap nasi goreng buatanku, dia akan menyantapku juga? Jangan sampai begitu! Lagian rasa ingin bercinta dengannya juga sudah hilang dari diriku, entah kenapa, gak ada lagi gairah ingin bercint dengan Mas Azril. Mungkin karena aku terlalu kecewa dan benci sekali akan kebohongan Mas Azril.


Aku beranjak dari tempat dudukku, aku melupakan sesuatu, aku belum menyelesaikan salinan rekapan dari admin soal Pre-Order dari para Agen. Apalagi besok produk baru launching, banyak sekali peminatnya. Untung saja aku produksi banyak, biasnya aku batasi produksinya, kali saja seperti saat produk sebelumnya, yang terjual tidak banyak, hasilnya sisa stok cukup banyak. Aku belajar dari sebelumnya. Kadang tidak semua produk baru bisa menggaet hati pembeli. Tidak hanya fashion, sepeda motor, mobil pun ada produk gagal, apalagi baju? Kadang modelnya terlalu jadul, terlalu biasa, atau terlalu ramai. Alhamdulillah, produk baru ini, sudah banyak sekali peminatnya, ribuan gamis kami produksi, karena orderan dari para agen juga sangat banyak sekali.


“Mal, mau ke mana?” tanya Mas Azril.


“Mau ambil ponsel, masih ada pekerjaan yang belum selesai. Nanti piringnya taruh di situ saja, biar aku yang beresin,” jawabku.


“Kamu sibuk sekali, Mal?” ucapku.


“Iya, besok kan ada launching produk baru?” jawabku.


“Lho bukannya sudah kemarin?” tanya Mas Azril.


“Mundur, karena ada kendala,” jawabku.


“Oh begitu?”


Launching produk baru terpaksa aku undur beberapa hari, karena ada beberapa karyawan yang ambil cuti. Aku ambil ponsel, laptop, dan buku rekapanku. Aku bawa ke ruang tengah, kalau di kamar meja terlalu kecil, jadi kurang leluasa kalau bekerja. Aku tinggalkan Mas Azril untuk kerja. Biar saja, daripada aku dekat-dekatan sama dia, ujungnya nanti aku kepancing, apalagi dia begitu tampan sekali malam ini.


Sesekali aku lirik Mas Azril yang masih melihat TV dan sesekali menyuapkan nasi ke mulutnya. Sungguh sempurna sekali Tuhan menciptakan laki-laki yang menjadi suamiku. Sayangnya, hatinya bukan untukku, cintanya juga bukan untukku. Hanya raganya yang ia berikan padaku, itu pun ia bagi dengan Farah. Miris sekali.

__ADS_1


__ADS_2