
POV AZRIL
Aku terpaku di depan kamar Mala. Ya, aku salah, aku yang memulai semuanya menjadi runyam. Kalau saja dulu aku menolak Mama untuk dijodohkan dengan Mala, mungkin aku tidak akan menyakiti Mala sampai dia seperti ini. Aku tahu dia begitu terluka, aku juga tahu dia sangat sakit hatinya saat ini, apalagi menjelang pernikahanku dengan Farah. Mungkin tadi dia pulang malam karena dia ingin menenangkan dirinya. Harusnya tadi aku tidak seperti itu, tapi mau bagaimana lagi, aku begitu rindu dengan hal yang sudah aku lewati bersama Mala tiga bulan yang lalu, setelah aku menikahinya.
Kami bahagia. Iya, boleh diartikan aku dan dia bagai pengantin yang sangat bahagia, penuh cinta dan kasih sayang. Aku tidak munafik, aku sangat bahagia bersama Mala meski aku belum bisa mencintainya, dan mungkin sulit bagiku untuk mencintainya.
Aku tidak tahu, saat diajak Mama dan Papa ke ulang tahun pernikahan Bunda dan Ayah, di situ aku dikenalkan dengan Mala, aku langsung tertarik pada gadis berjilbab yang anggun dan cantik. Dia sopan, tutur katanya lembut, dan sesekali kalau dia aku tanya, pasti dia menjawabnya pakai bahasa krama inggil. Itu yang membuat aku tertarik padanya. Tapi, bukan berarti aku cinta padanya. Karena dalam hatiku, aku hanya mencintai Farah, yang saat itu sudah menjadi istriku, dan kami sudah memiliki buah cinta kami, meski kami menikah dengan siri.
Aku sudah tahu, tujuan Mama dan Papa mengajakku ke pesta Ulang Tahun Pernikahan Bunda dan Ayah, karena mereka akan menjodohkanku dengan anak gadis Bunda dan Ayah. Memang Mama dan Papa sudahn membicarakannya jauh-jauh hari ingin mencarikan jodoh untukku, karena aku yang masih belum mau menikah di hadapan Mama dan Papa. Aku menyerahkan semua pada Mama dan Papa, meskipun sebetulnya aku sudah menikahi Farah secara siri. Tidak mungkin aku menolak keinginan Mama dan Papa, terutama Mamaku. Jadi aku menurutinya, mau menjodohkanku dengan siapa.
Tidak mungkin juga aku menceritakan pada Mama dan Papa soal aku sudah menikahi Farah, dan sudah memiliki anak dengan Farah. Karena, mereka membenci Farah, sejak dulu, saat kami pacaran.
Karena sebuah kesalahpahaman, Mama dan Papa sangat membenci Farah beserta keluarganya. Entah masalah apa yang dulu menimpa keluargaku dengan Farah, sampai pada suatu hari aku memperkenalkan Farah pada mereka, mereka tahu kalau Farah adalah anak dari pasangan Ayah Rudi dan Ibu Yeni. Tidak tahu kenapa, Mama dan Papa saat tahu Farah anak mereka, Mama dan Papa melarang keras aku berhubungan lagi dengan Farah.
Aku bertanya pada Almarhum ayah dan ibunya Farah, yang saat itu masih ada, dan masih sehat. Mereka bilang ada suatu kesalahpahaman yang benar-benar membuat Mama dan Papaku membenci keluarga mereka. Padahal kata Ayah dan Ibunya Farah, dulu keluarga kami saling dekat, bahkan saat kecil aku dan Farah sering bersama. Tapi, karena kesalahpahaman itu, keluarga Farah pindah ke luar kota, dan hubungan antara keluargaku dan keluarga Farah menjadi retak, bukan hanya retak lagi, melainkan pecah.
__ADS_1
Kami menjalin hubungan saat aku dan Farah saat awal masuk kuliah. Saat kuliah semestrer tiga, aku mencoba mengenalkan Farah dengan Mama dan Papa. Namanya orang tua, mereka langsung tanya siapa ayah dan ibunya Farah, karena aku memang mengatakan aku ingin serius dengan Farah. Setelah Farah bilang siapa orang tuanya, Mama dan Papa langsung mengusir Farah dari rumah, dan aku langsung dilarang Mama untuk mengantar Farah pulang, padahal rumah Farah jauh, karena memang beda kota, apalagi saat itu malam hari.
Setelah kejadian itu, aku bilang dengan ayah dan ibunya Farah, kenapa mama dan papa benci sekali dengan Farah, dan langsung memaki-maki Farah, karena Farah anak dari Rudi dan Yeni. Ternyata mereka memang ada perselisihan, sampai mereka tidak mau saling mengenal lagi. Entah alasannya apa, selama ini masih menjadi misteri, aku dengan Farah pun tidak tahu apa masalahnya.
Mala, dia gadis yang tidak lama aku mengenalnya. Berkenalan dengan singkat, kami langsung nyambung bicaranya, entah kenapa aku nyaman ngobrol sama dia, apalagi ucapan lembutnya yang selalu membayangi aku setiap malam setelah pertemuan pertama dengan Mala. Selalu mengulas senyum manis saat bertutur kata, selalu sopan bicaranya, apalagi dengan aku yang umurnya jauh lebih dewasa darinya. Dia gadis yang sangat pandai, pandai segalanya, pandai dalam berbisnis, memasak, dan satu lagi, pandai membuatku berkali-kali saat bersama di dalam kamar. Aku sadar, aku sudah menyentuh Farah, tapi aku tidak merasakan malam pengantinku dengan Farah seperti malam pengantinku dengan Mala. Malam itu, aku juga melupakan Farah yang sudah menjadi istri siriku, padahal sebelum menikahi Mala, aku menangis di depan Farah, karena aku akan menyakitinya. Farah mengikhlaskanku, karena dia tahu, hubungannya denganku akan selalu tersembunyi, meskipun sudah menikah sah. Aku juga berjanji setelah aku menikahi Mala, aku akan segera menikahinya secara sah.
Tapi, aku benar-benar melupakan janjiku pada Farah yang akan menikahinya secara sah. Aku terlalu sibuk dengan hari-hariku bersama Mala. Aku bahagia, aku tidak munafik, aku ini bahagia saat dengan Mala di rumah, tapi saat di kantor, bahagiaku sirna, karena aku di luar merasakan bahagia yang menyedihkan saat bersama Farah. Dia wanita yang luar biasa sabarnya, meski dibenci Mama dan Papa, dia masih setia denganku, dan mau menerimaku apa adanya, tanpa menuntut apa pun, meski aku nikahi dia secara siri.
Saat aku bersama Mala, dia pun tahu, dia tidak pernah menghubungiku lebih dulu, kecuali kalau Sefi bertanya aku, dia baru mengirimkan foto sefi yan katanya kangen denganku. Aku benar-benar tidak bisa melepaskan Farah, dan juga Mala. Bukan aku serakah, aku mencintai Farah, karena dia perempuan yang pertama aku cintai, dan aku terlanjur nyaman dengan Mala, apalagi dia adalah perempuan pilihan Mama.
Dia penyejuk hidupku, penenang jiwaku. Entah aku bisa merasa seperti itu dengan Mala, padahal aku tidak mencintainya. Apa mungkin ini cinta yang tidak aku sadari? Tapi, tidak, aku tidak mungkin mencintai perempuan lain selain Farah.
Aku duduk dengan bersandar tembok di sebelah pintu kamar Mala. Aku menunggu dia keluar kamar, biar saja aku di sini menunggunya. Tidak lama kemudian, Mala membuka pintu kamarnya.
“Ngapain masih di sini?” tanya Mala sinis.
__ADS_1
“Mal, aku minta maaf,” ucapku.
“Ya, aku maafin. Sana balik ke kamarmu!” jawabnya.
Mala langsung berlalu meninggalkanku ke dapur, entah dia mau apa malam-malam ke dapur. Ia membuka lemari, mengambil dua helai roti tawar lalu mengolesnya dengan mentega dan memberinya selai kacang. Ia mengambil susu segar di lemari pendingin, lalu menuangkannya ke dalam gelas.
“Kamu mau makan, Mal?” tanyaku.
“Yang kamu lihat?” jawabnya.
“Bisa buatkan aku kopi sekalian, Mal?” pintaku.
“Buat saja sendiri!” jawabnya ketus, lalu pergi meninggalkanku, dan membawa itu ke kamarnya lagi.
Benar-benar aku dibuat gila oleh Mala. Entah kenapa rasanya seperti ini melihat Mala cuek, dan selalu bicara ketus padaku.
__ADS_1