
Mas Azril pulang dari rumah Farah. Dia hanya dua malam saja di rumah Farah, sore ini dia pulang tepat aku baru pulang dari butik. Aku langsung masuk saja, hanya menyapa dia dengan tersenyum.
“Mala, tunggu!” Mas Azril menghentikan langkahku yang akan masuk ke dalam rumah.
“Ada apa, Mas?” tanyaku.
“Bisa kita bicara sebentar?” tanya Mas Azril.
“Oh iya, kita bicara di dalam saja,” jawabku.
Mas Azril mengajakku ke dalam ruang kerjanya. Entah apa yang akan dibicarakannya, aku pun sebetulnya ngingin menyampaikan sesuatu pada Mas Azril, untung dia pulang, jadi aku tidak usah menelefonnya.
“Mau bicara apa, Mas?” tanyaku.
“Kamu ada waktu minggu depan?” tanya Mas Azril. “Aku mau ajak kamu ke Jepang,” imbuhnya.
“Memang mau apa ke sana? Apa ada pekerjaan kantor? Jadi aku harus menemaninya?” tanyaku.
“Ehm ... maaf sebelumnya, Mal. Sebetulnya aku ke Jepang ingin bulan madu dengan Farah, tapi itu tidak akan mungkin jika aku beralasan ada pekerjaan di sana, nanti yang ada Papa curiga, karena Papa kan sering ke kantor,” jelasnya.
“Lalu apa hubungannya dengan aku? Ya silakan saja Mas Bulan madu sama Farah,” ucapku.
“Tapi, kalau Papa tanya aku ke Jepang mau apa gimana? Aku jawab pekerjaan kantor? Gak mungkin, kan? Nanti kalau aku ke sana gak ajak kamu, Papa dan Mama curiga, dong? Gak ada pekerjaan kantor, tapi ke Jepang tanpa kamu,” ujarnya.
“Ya itu bukan urusanku, Mas? Kamu mau bulan madu dengan Farah, kenapa aku harus ikut ribet dengan masalah kalian? Gak ada hubungannya dong sama aku?” ucapku kesal.
__ADS_1
“Tetap ada, Mal! Kalau kamu ikut Mama dan Papa kan tahunya kita liburan?” jawab Mas Azril.
“Gak, aku gak mau ikut-ikutan soal ini! Enak banget aku jadi umpan? Aku disuruh ngawasin kamu sama Farah gitu? Nanti pas kalian senang-senang aku disuruh jagain Sefi? Enak sekali anda? Udah bohong sama aku, sama orang tua, mau menambah kebohongan lagi dengan cara mau liburan dengan melibatkan aku?” geramku.
“Mal, sekali saja, dia memang pengin pergi sama aku ke Jepang, kamu kan pernah aku ajak bulan madu ke luar negeri juga?” ujar Mas Azril.
“Aku ya, Aku! Beda dong dengan Farah. Sudah itu urusan Mas! Aku saja masih pusing urus pekerjaanku, mau ikut expo juga brand-ku!” ucapku.
Enak saja, dia mau enak-enak sama istri muda malah bawa aku? Eh ralat, istri muda rasa tua maksudku. Enak sekali mereka, mau menjadikan aku ini baby sitternya Sefi? Biar mereka enak-enak berdua? Untung saja minggu depan aku ada acara Expo ke Jakarta, jadi aku tidak ada urusan sama mereka yang katanya mau bulan madu.
“Mal, tolong pikirkan lagi soal ini, aku benar-benar butuh bantuanmu untuk ini,” pinta Mas Azril.
“Aku gak mau pikir-pikir lah, Mas! Untuk apa coba aku ikut mikir ursan kamu yang ribet itu? Sudah begini saja, aku kan minggu depan ada Expo selama sepuluh hari di Jakarta. Kebetulan, aku kan di sana pastinya menginap. Ya sudah gunakan saat waktu itu kalian mau ke mana kek, serah kalian. Tapi, ingat, aku gak ikut campur kalau ada apa-apa. Kamu cari alasan sendiri kenapa kamu sampai gak berangkat ke kantor lama. Terserah mau alasannya ikut menemani aku ke Expo atau apa, terserah kamu, tapi kalau kamu minta aku ikut serta ke jepang, maaf aku tidak bisa!” tegasku.
Mas Azril diam, mungkin sedang berpikir. Enak saja aku di suruh ikut ke Jepang, menemani dia enak-enakan. Menemani orang-orang yang munafik senang-senang? Memang aku ini kacungnya? Sana mau ke mana terserah kalian! Yang penting jangan seret aku kalau sedang ada masalah.
Aku masuk ke dalam kamarku. Pengacau ketenanganku datang, dari kemarin tidak ada Mas Azril aku tenang sekali, meski aku kadang berpikir, kalau Mama ke sini dan tidak ada Mas Azril aku akan bilang apa padanya? Tapi, itu bukan masalah bagiku, karena mau bagaimanapun bangkai yang di sembunyikan, pasti akan kecium juga baunya. Biar saja aku gak akan bilang, biar keluarga Mas Azril tahu sendiri soal Farah. Kalau mereka tanya padaku setelah mereka tahu soal Mas Azril dan Farah, ya aku jawab jujur saja. Tapi, aku tidak akan bilang lebih dulu pada mereka, nanti ada apa-apa sama Mama malah aku yang disalahkan. Mending aku diam, aku mencoba menikmati masa-masa latihanku, untuk menghadapi nanti saat aku berpisah dengan Mas Azril.
Kadang aku merasa rindu saat-saat bersama Mas Azril, tapi aku segera tepiskan rasa itu. Untuk apa aku merindukan orang yang tidak mencintaiku. Biar saja, begini, sepi menemaniku setiap hari. Aku hanya sepi saat di rumah, tapi aku begitu menikmatinya. Kalau di butik, jangankan kesepian, baru datang saja sudah mendengar celotehan para Tim yang ramai dan semangat untuk bekerja. Aku bersyukur, selalu di kelilingi orang-orang yang baik dalam hidupku, meskipun nasib pernikahanku tidak sempurna.
Tadinya aku ada rencana mengajak Mas Azril untuk ikut ke Expo, karena pas sekali waktunya, minggu depan kan dia jatahnya pulang ke sini, meskipun aku gak tidak mau melayaninya, tapi kalau dia di sini aku akan ajak dia ke Expo, biar dia tahu, aku bisa berdiri tanpa dia. Biar dia sadar, orang yang sedang ia sakiti, tapi bisa menjalani hidupnya dengan baik-baik saja, bahkan hidupku lebih sempurna dari dia dan Farah. Aku yakin kamu akan jatuh cinta padaku, Mas. Namun, saat nanti kamu jatuh cinta padaku, belum tentu rasa cintaku padamu masih ada.
Ingin rasanya aku menyudahi semuanya dengan Mas Azril. Aku bisa saja sekarang mengajukan gugatan, tapi aku masih memikirkan Bunda dan Mama yang sangat sensitif kalau mendengar kabar buruk. Aku lebih memilih menunggu semua yang ditutupi Mas Azril dengan Farah terbongkar, jadi kalau pun Mama kenapa-napa, itu sebabnya dari Mas Azril, bukan karena aku yang memulainya.
Aku bergegas keluar dari kamarku. Aku lupa, sore ini akan ad calon agen baru yang mau menemuiku. Tentunya agen untuk Rumanah. Sudah ada ratusan Agen di berbagai kota yang memegang Rumanah, dan ribuan reseller. Itu semua tidak semudah membalikkan telapak tangan, Rumanah sampai di kenal di seluruh pelosok kota, bahkan pelosok desa. Modelnya yang elegant, tapi merakyat, jadi banyak sekali yang menunggu model-model terbaru Rumanah. Banyak yang meniru model Rumanah, tapi tidak bisa menumbangkan Rumanah yang sudah berdiri kokoh, apalagi para Agen dan Reseller yang begitu Amana, dan sangat mencintai Rumanah.
__ADS_1
Aku menemui tamuku yang ada di ruang tamu. Lagi-lagi aku mendapat Agen laki-laki, dan itu masih sangat muda sekali orangnya. Sekarang juga, seorang laki-laki ingin menjadi Agen, dia juga katanya memiliki beberapa toko busana di rumahnya. Dari busana muslim, dan baju-baju biasa.
“Selamat sore, Pak Alwi?” sapaku sambil menangkupkan tanganku di depan dada.
“Selamat sore, Bu Mala, salam kenal.”
“Salam kenal juga,” jawabku.
Aku mulai menerangkan semuanya pada Pak Alwi, apa syaratnya untuk menjadi agen, dan lain-liannya, aku jelaskan semuanya. Kami mengobrol cukup lama, sampai menjelang Maghrib Pak Alwi baru pulang.
Setelah tamuku pulang, Mas Azril memerhatikanku dengan tatapan aneh. Tatapan yang penuh dengan kemarahan padaku. Entah dia marah kenapa.
“Sejak kapan kamu berani menemui laki-laki selain aku di rumah?” tanya Mas Azril dengan sinis.
“Sejak kemarin sih, kenapa memang? Dia kan mau jadi agen? Agen itu nafasnya Rumanah. Mas! Kenapa kok marah?” jawabku.
“Ya gak marah, gak pantas saja, seorang istri menemui laki-laki di rumahnya, apalagi sampai masuk ke dalam!” ucapnya.
“Dia kan tamuku? Kalau gak ada kamu juga sudah aku persilakan duduk di teras, berhubung ada kamu di rumah, ya aku suruh masuk saja, biar aku jelasinnya enak, dan biar dia tahu target pasar yang seperti apa. Aku menjelaskannya pada mereka, karena itu bisnisku!” tegasku.
“Tetap saja gak baik!” tukas Mas Azril.
“Terserah lah! Orang aneh kamu!” semburku jengkel.
Dasar pengacau ketenangan orang! Masalah begini saja digede-gedein! Emang dasar orang tidak tahu diri!
__ADS_1