
Sudah jam tujuh lebih lima belas menit, Mas Azril belum juga keluar dari kamarnya. Padahal aku sudah bersiap untuk ke pabrik, cek produksi beberapa Khimar dan Gamish yang sudah menggunung PO nya, dan sudah dinantikan par customer setia dari Rumanah. Aku ingin membangunkannya, kali saja Mas Azril kesiangan. Aku lihat Mbak Asih yang sedang menata sarapan, dia hanya menata saja, karena aku yang masak. Entah kenapa aku pengin sekali masak pagi ini. Aku hampiri Mbak Asih yang sedang menuangkan air putih ke dalam gelas.
“Mbak, Bapak belum keluar kamar?” tanyaku.
“Iya, Bu. Biasanya kan sudah dari jam enam? Tadi ibu selesai masak jam enam, Asih tunggu sampai sekarang belum kelihatan bapak keluar. Biasanya kan ke belakang dulu, olahraga pagi,” jawab Mbak Asih. “Coba panggil saja, Bu?” ujarnya.
“Iya, nanti saya coba panggil,” jawabku.
“Maaf, Bu. Bukan Asih mau ikut campur urusan ibu sama bapak, kok tiba-tiba ibu sama bapak pisah kamar? Bapak dari kemarin itu sering gak ngantor lho bu, ibu sibuk kerja, tapi bapak seringnya di rumah, sampai sore kadang hanya melamun dudukan di teras atau ruang tamu?” jelas Mbak Asih.
“Biasa, Mbak, namanya juga suami istri, adalah masalah sepele. Ya sudah aku panggil Mas Azril dulu,” ucapku untuk menghindari Mbak Asih yang nantinya pasti akan tanya-tanya lagi. Lagian, kepo sekali sama urusan orang?
Aku ke kamar Mas Azril, aku ketuk pintunya, tidak ada sahutan sama sekali. Aku coba ketuk berulang kali, sama saja tidak ada sahutan dari dalam kamar Mas Azril. Sedikit khawatir, aku akhirnya memutar handle pintu kamar Mas Azril. Terbuka, itu artinya tidak terkunci pintunya. Aku pelan-pelan masuk ke dalam, aku tengok tempat tidurnya, ternyata Mas Azril masih bergelung selimut di atas tempat tidurnya. Aku mendekatinya untuk membangunkannya.
“Kok belum bangun? Bangun gih, sudah siang,” ucapku.
“Hmmm ....” Mas Azril hanya menggumam saja, aku yakin dia pasti sedang tidak enak badan, apalagi terlihat bibirnya pucat sekali.
“Ini sudah siang, mas gak ngator?” tanyaku.
“Mal, badanku panas semua rasanya, sakit semunya,” ucap Mas Azril.
Tanganku reflek menyentuh kening Mas Azril, suhu tubuhnya tinggi sekali. Aku segera mengambil termometer di kotak obat.
“Aku cek dulu suhu tubuh mas, panas sekali badan kamu, Mas,” ucapku.
“Hmmm ...,” jawabnya dengan lemas.
“Jangan sakit, kamu besok mau menikah, Mas,” ucapku.
“Siapa yang mau sakit sih, Mal?” ucapnya.
“Aku buatkan bubur, ya? Mas istirahat saja,” ucapku.
Aku mengambil termometer di ketiak Mas Azril, aku lihat suhu tubuh Mas Azril, suhu tubuhnya tinggi, hampir empat puluh derajat celsius. Jujur aku panik kalau melihat orang sakit, apalagi sampai panas begini.
“Mas istirahat saja, ya? Gak usah ngantor, panas sekali tubuh Mas, suhu badan mas tinggi,” ucapku.
__ADS_1
“Iya, Mal,” jawabnya
Sesebal dan sebenti apa pun aku dengan Mas Azril, aku tetap tidak tega meninggalkannya dalam keadaan sakit. Tega gak tega sebetulnya, tapi kalau nanti orang tua kami tahu Mas Azril sakit aku nggak ngurus, malah jadi pertanyaan besar.
Aku tidak jadi ke pabrik, tidak masalah yang penting aku mengurus Mas Azril dulu, aku kan Cuma bilang gak mau melayaninya di atas ranjang, bukan berarti aku juga mengabaikan dia saat sakit seperti ini. Aku tidak tega, meski aku tega menyiksa batin dia, tapi dengan orang sakit aku tidak setega itu.
Setelah selesai membuatkan bubur, aku kembali ke kamar Mas Azril, untuk memberikan buburnya. “Mas, dimakan buburnya,” ucapku sambil meletakkan bubur di atas meja.
“Mal aku boleh minta tolong?” tanya Mas Azril.
“Iya, minta tolong apa?” tanyaku.
“Tanganku lemas sekali, bisakah kamu menyuapiku?” pinta Mas Azril.
“Oh, iya. Aku suapi,” jawabu.
Aku mengambil kembali mangkuk bubur yang aku letakkan di atas meja. Iya sih, aku gak peka, orang lagi sakit malah aku suruh makan sendiri, duduk saja tadi kesusahan, apalagi aku suruh makan sendiri.
Saat sedang makan, ponsel Mas Azril berdering, ada telefon masuk. Mas Azril memintaku untuk mengambilkan ponselnya yang ada di atas meja. Aku lihat nama Farah di layar ponselnya.
“Farah telefon,” ucapku sambil memberikan ponsel padanya.
“Iya, Bunda, gimana?” tanya Mas Azril.
“Yah, hari ini gak usah cari baju untuk besok, ya? Periasnya juga menyewakan baju untuk akad sekalian kok,” ucap Farah terdengar jelas, karena volume telefon Mas Azril cukup keras.
“Jangan dong? Masa bunda mau menyewa?” tolak Mas Azril.
“Apa bedanya sih, Yah? Yang penting sah nya, kan?” ucap Farah.
“Nanti ayah antar ke butik ya, Bun?”
“Yakin? Ayah gak takut ada yang lihat kita berdua di luar? Yah, aku gak mau ada yang lihat kita, nanti ada yang bilang ke Mama, terus mama drop. Jangan cari perkara, Yah! Orang dari keluarga kamu kan banyak sekali yang cari tahu kita, Yah?” ucapnya seperti agak panik saat akan diajak keluar.
“Iya sih, kita keluar saja tetap pakai kendaraan sendiri, dan sembunyi-sembunyi. Ya sudah, terserah apa baiknya, Bunda,” ucap Mas Azril.
Sembunyi-sembunyi? Jadi selama ini mereka juga jarang keluar bersama? Oh iya, kemarin juga waktu pertama ketemu aku, mereka pakai mobil sendiri-sendiri.
__ADS_1
“Tapi, Bunda, masa gak ada kenang-kenangan saat kita menikah, gaun atau jas begitu? Masa Sewa?” ucap Mas Azril.
“Gak apa-apa, Yah? Kan irit, uangnya bisa buat yang lain, oh ya Ayah mau ke sini tidak?” tanya Farah.
“Ayah sedang tidak enak badan, Bund, ini sedikit demam,” jawab Mas Azril.
“Kok bisa? Sudah minum obat? Atau mau aku panggilkan dokter?” tanya Farah dengan sedikit panik.
Aku hanya mendengarkan mereka mengobrol, sepertinya tidak ada romantis-romantisnya, obrolan biasa saja, dan panggilan yang pada umumnnya, yaitu ayah dan bunda. Farah sepertinya sangat dewasa dan sangat mengerti posisinya, meskipun dia orang yang sangat dicintai Mas Azril.
“Aku sedang sarapan, Bunda, nanti ayah minum obat yang kemarin saja, yang biasanya ayah minum kalau lagi gak enak badan, kalau belum mendingan ya nanti ayah periksa, panggil dokter,” ucap Mas Azril.
“Baik-baik saja ya, Yah? Maaf aku gak bisa urus ayah. Yah, besok Mala diajak ke sini, kan? Masa dia gak ke sini? Bagaimana pun dia istrimu,” ucap Farah.
“Iya, besok aku ajak dia, atau kamu bilang sendiri, ini ada Mala, sedang menyuapiku,” ucap Mas Azril.
“Iya sini aku mau ngomong sama Mala, biar besok dia ikut ke sini.”
Mas Azril memberikan ponselnya padaku, aku terpaksa bicara dengan Farah, padahal aku malas sekali berbasa-basi dengan Farah.
“Iya, Far, gimana?” tanyaku.
“Mal, besok kamu ke sini, ya? Masa kamu gak ke sini? Ya meskipun kamu sudah mengizinkan aku secara tertulis, kamu juga tetap harus ke sini, Mal,” jawabnya.
“Insya Allah ya, Far? Kalau kerjaan aku gak banyak. Ini saja aku tidak jadi berangkat, karena Mas Azril gak enak badan,” ucapku.
“Senggangin waktu sebentar saja ya, Mal, untuk besok? Kalau hari ini kamu mau ke tempat kerjamu, sekalian Mas Azril antar ke sini saja, biar Mas Azril aku yang urus, Mal. Nanti pekerjaanmu malah menumpuk, aku kan ada cuti satu minggu, paling di rumah ya begini?” ucapnya.
“Kamu juga pasti sibuk untuk besok, Far. Gak apa-apa, aku bisa kerjain dari rumah kok,” ucapku.
Iya juga sih, aku memang banyak pekerjaan hari ini. Siap-siap untuk lounching produk baru juga yang akan diadakan tiga hari lagi, semuanya masih ada yang harus aku kerjakan. Tapi, kalau aku antar Mas Azril ke sana, pasti mereka senang-senang berduaan? Eh ... aku kok merasa begini? Lagian berduaan juga apa urusanku? Toh mereka sudah punya anak, mereka memang sudah memiliki hubungan jauh sebelum mengenalku. Apa aku harus mengantar Mas Azril ke sana?
“Kamu pasti sibuk juga kan, Far, untuk besok?”
“Enggak, Mal, paling besok akad saja, habis itu doa bersama, udah kok, mau acara apa, aku saja gak undang orang? Kamu kan tahu, Mal? Aku sama Mas Azril hubungannya seperti main petak umpet?” jawabnnya.
“Ya sudah, nanti aku antar Mas Azril ke kamu, biar ada yang menemani, aku memang ada kerjaan banyak, karena tiga hari lagi mau lounching produk baru,” ucapku.
__ADS_1
“Ya sudah, Mal, Mas Azril biar di sini saja, sambil menunggu kamu pulang kerja,” ucap Farah.
Ya memang Mas Azril harus ada yang menemani. Soal gaun pengantin, kasihan sekali masa menyewa? Kok aku jadi miris sama hubungan mereka, ya? Mereka saling cinta, mereka berjuang sendiri untuk bersama, meski sembunyi-sembunyi, mereka saling setia, dan saling mengerti keadaan. Apa aku carikan baju pengantin untuk Farah saja nanti? Kok aku tiba-tiba tergerak untuk seperti itu? Kenapa aku iba dengan mereka yang memiliki keterbatasan seperti ini? Biasanya kalau orang menikah diam-diam juga, mereka akan berani pergi-pergi berdua, tapi aku lihat dalam seminggu ini, Mas Azril juga jarang keluar bersama, paling menemui Farah di rumahnya?