Bukan Rindu Yang Terlarang

Bukan Rindu Yang Terlarang
Sebelas - Apa Syaratnya?


__ADS_3

Aku makin terbuai dengan sentuhan Mas Azril. Aku sadar, aku ini tidak dicintainya, meskipun aku mencintai Mas Azril. Ya, aku akui aku sngay mencintainya. Aku telah jatuh cinta padanya, tapi aku jangan sampai terbuai lagi oleh cumbuannya. Aku tidak mau disentuhnya lagi, karena Mas Azril tidak mencintaiku.


“Sudah, cukup!” Aku mendorong kuat tubuh Mas Azril yang sudah di atas tubuhku, menggapit tubuhku dengan penuh gairah.


“Kenapa, Mala?” tanya Mas Azril dengan napas memburu.


“Jangan lakukan lagi, Mas! Cukup, aku tidak mau melakukannya dengan orang yang tidak mencintaiku! Aku memang istrimu, aku tahu aku berdosa kalau tidak mau melayanimu, tapi aku juga punya hak untuk menolaknya, karena suamiku tidak mencintaiku! Melakukan dengan orang yang tidak mencintaiku, sama saja aku diperkosa, aku dipaksa. Aku tidak mau lagi, maaf!”


Aku rapikan lagi bajuku yang sudah terbuka sebagian. Aku juga sudah merasakan gairahku menyala, tapi aku sadar, aku tidak mau disentuh dia tanpa rasa cinta. Kalau sampai begitu, berarti sama saja aku diperkosanya. Berhubungan badan tanpa cinta, hanya karena nafsu saja apa tidak seperti memerkosa?


Aku beringsut turun dari tempat tidurku. Aku langsung masuk ke dalam kamar mandi. Aku menangis sejadi-jadinya di bawah kucuran shower. Aku tahu aku salah, aku dosa menolaknya, tapi untuk apa aku tetap melayaninya kalau dia tidak mencintaiku? Aku menjerit di dalam kamar mandi. Hatiku sakit dan berontak. Aku yakin Mas Azril mendengar aku menangis, hingga aku menjerit berkali-kali. Aku benar-benar merasa aku ini hanya sekadar pemuas nafsu Mas Azril saja, ketika di rumah. Tapi, saat dia  berada di rumah Farah, dia melakukannya dengan sepenuh hati dan cinta.


Aku mendengar Mas Azril mengetuk pintu kamar mandi dengan keras. Lebih tepatnya menggedor-gedor pintu kamar mandi. Mungkin dia panik mendengar aku yang menjerit dan menangis, karena aku baru pernah sekacau ini. Aku benar-benar sakit sekali, aku ingin menyudahinya tapi bagaimana dengan Mama dan Papa, juga Ayah dan Bundaku?


Ya Allah ... aku harus bagaimana? Haruskah aku kembali seperti awal? Seperti saat pertama kali baru menikah dengan Mas Azril? Aku harus melayaninya dengan sepenuh jiwa, sepenuh hati, dan dengan cinta yang aku punya untuk Mas Azril? Atau begini, aku tolak setiap kali Mas Azril meminta? Iya aku tahu orang tuaku dan orang tua Mas Azril sangat mengharapkan cucu dari kami, terlebih Mama. Lalu aku harus jawab apa, jika suatu saat nanti anakku bertanya apa dia terlahir di dunia ini dengan cinta atau tidak? Haruskah aku menjawabnya tidak, atau aku harus berbohong pada anakku, kalau dia adalah buah cintaku dengan Mas Azril?


Tidak! Aku tidak bisa berbohong. Mungkin aku bisa beralasan pada Mama, dan semuanya, kenapa aku belum hamil lagi? Banyak alasan yang akan aku sampaikan pada mereka, tapi aku tidak punya alasan jika kelak anakku bertanya apa dia dilahirkan ke dunia ini dengan cinta?


Masih terdengar Mas Azril menggedor pintu kamar mandi. Aku sudahi tangisku. Aku pakai bathrobe ku, lalu aku membuka pintu kamar mandi. Aku melihat Mas Azril  dengan raut wajah yang panik melihatku yang baru saja keluar dari kamar mandi.

__ADS_1


“Kamu tidak apa-apa, Mal?” tanya Mas Azril panik.


“Yang mas lihat?” jawabku santai lalu langsung berjalan melewati Mas Azril yang berdiri di depanku.


Aku mengambil baju, lalu aku  bawa ke kamar mandi lagi, untuk berganti, biasanya aku ganti di depan Mas Azril, dengan sesekali menggodanya, tapi kali mulai malam ini, sudah tidak ada lagi hal intim untuk kami berdua.


“Kamu mau apa bawa baju ke kamar mandi, Mal?” tanya Mas Azril.


“Mau ganti baju, kenapa?” jawabku.


“Kenapa mesti di kamar mandi?” tanya Mas Azril lagi.


“Kamu istriku, kenapa memang? Gak boleh aku menyentuhmu lagi?” tanyanya.


Aku tidak menggubrisnya. Aku masuk saja ke dalam, lalu memakai bajuku, menyisir rambutku dan memakari skincare malam. Aku tidak boleh kalah, aku harus kuat mempertahankan semua ini. Aku hanya ingin disentuhnya jika Mas Azril sudah mencintaiku. Aku tidak munafik, aku kepengin, dan aku sangat ingin melakukan hal seperti itu, yang mungkin sudah membuatku candu. Tapi, saat aku mengingat ucapan Mas Azril yang bilang kalau dia tidak bisa mencintai wanita lain selain Farah, aku ini merasa sangat hina sekali jika aku sampai melakukannya lagi, dan menimati permainan panas dengan Mas Azril.


Aku keluar dari dalam kamar mandi, aku masih mendapati Mas Azril yang masih saja berdiri di depan pintu kamar mandi, menungguku keluar dari dalam kamar mandi.


“Gak capek berdiri di sini terus?” tanyaku sambil melewati Mas Azril.

__ADS_1


“Kamu ini apa-apaan, Mala! Kamu menolak aku yang ingin menjamah tubuhmu! Kamu ini istriku, Mal!” erangnya.


“Iya, aku istrimu, Mas! Tapi, aku istri yang tidak kamu cintai, lebih tepatnya hanya status saja! Untuk apa aku melayani kamu yang tidak mencintaiku? Sama saja aku melayani lelaki hidung belang yang haus akan nafsu! Aku bukan wanita malam, bukan wanita penghibur, yang hanya untuk menampung nafsu birahimu saja saat tidak ada Farah di sisimu! Sana kamu lakukan itu dengan Farah? Sudah jelas kamu cinta dia, kamu juga suaminya, kalian suami istri, meski menikah siri? Sana lakukan itu! Aku tidak masalah! Malah aku senang, gak perlu repot-repot setiap pagi mau sholat dalam keadaan dingin mandi, gak perlu repot koleksi pakaian seksi. Sana susulin ke rumah sakit kalau kamu masih kepingin!” cecarku.


“Kamu tahu, seorang istri yang menolak suami untuk menggaulinya itu dosa, Mal!” erangnya.


“Jangan sok bicara dosa! Lebih berdosa mana kamu sudah membohongiku, hah? Dosa mana? Kamu gak hanya bohong padaku, Mas! Tapi dengan mama, papa, dan semuanya! Jangan bahas soal dosa! Kita sama-sama pendosa! Biar saja Tuhan melaknatku karena aku tidak mau melayanimu, tapi Tuhan tahu, siapa yang terdzolimi, Mas!” Aku tak kalah marahnya dengan dia.


Biar aku tidak peduli aku ini dosa, karena sudah melawan suamiku. Dia yang mulai, kalau aku sabar dan mau-mau saja melayaninya, yang ada dia tambah ngelunjak. Aku memang mencintainya, tapi otakku masih waras, masih bisa berpikir mana yang baik dan mana yang tidak.


“Demi Mama, Mal. Tolong jangan begini.” Ucapan Mas Azril semakin merendah. “Mal, Mama itu pengin kita bisa ngasih cucu, Mal?”


“Iya, aku tahu. Tapi, aku bisa kok ngasih alasan yang tepat buat Mama dan lainnya? Kalau kita belum bisa punya anak. Tapi, apa mas bisa ngasih alasan pada anak kita, kalau suatu hari anak kita bertanya apa dia terlahir di dunia ini dengan cinta? Mas mau jawab apa? Sedangkan ada Sefi yang kehadirannya disambut kamu dan Farah dengan penuh cinta? Lalu anak kita? Kamu gak cinta, Mas! Meskipun aku sangat mencintaimu! Ya, aku akui aku mencintaimu, aku jatuh cinta padamu, tapi untuk apa kita melakukannya, kalau hanya aku yang cinta saja?” jelasku.


“Lalu kamu maunya apa?”


“Aku mau, tidak ada lagi yang namanya berhubungan intim mulai malam ini! Kamu ada Farah, silakan kamu bersama orang yang kamu cintai, jangan denganku! Aku ini beban kamu, kamu bisa lepaskan aku, Mas! Aku juga tidak akan menghalangi kamu menikahi Farah secara resmi!” jawabku tegas. “Tapi, aku minta satu syarat!”


“Apa syaratnya, Mal?” tanya Mas Azril.

__ADS_1


__ADS_2