
Mala sama sekali tidak mau memelukku, padahal aku tadi memeluknya setelah selesai ijab qobul, dia dingin sekali menanggapinya, bahkan dia cuek denganku, sampai Sefi berkata seperti itu, dia malah menjawab kalau dia adik sepupuku. Aku masih kepikiran Mala, padahal aku masih di sini, bersama Farah. Rumah kami sudah sepi, tante dan omnya Farah juga sudah pulang, tinggal kami bertiga lagi seperti hari-hari biasanya.
Aku duduk di ruang tamu sendirian, setelah selesai beberes ruangan karena tadi habis digunakan untuk akad nikah. Setelah selesai, aku memilih duduk di ruang tamu, sedangkan Farah ada di dalam kamar, menidurkan Sefi. Pikiranku makin tertuju pada Mala, apalagi ponsel Mala tidak aktif. Padahal aku ingin bertukar pesan dengannya, mungkin dia sedang sibuk, karena tiga hari lagi akan ada laounching produk baru Rumanah lagi.
Bisnis dia semakin maju. Aku kira Mala hanya perempuan biasa yang di rumah saja, tidak memiliki bisnis yang sudah sebasar itu. Papa bilangnya Mala hanya mengurus cafe dan restoran bareng dengan kedua kakaknya, Mala bantu-bantu di sana, tapi ternyata cafe dan restoran itu milik Mala, hanya saja kedua kakaknya ikut kerja sama di sana.
Mala memang sangat sempurna, namun sayangnya aku tidak bisa mencintainya, karena aku sudah berjanji pada Farah, hanya dia wanita yang aku cintai, aku tidak mau melukainya untuk mencintai Mala. Farah memberikan syarat padaku saat aku hendak menikahi Mala. Syaratnya jika aku menikahi Mala, aku tidak boleh jatuh cinta pada Mala, Farah juga ingin mengesahkan pernikahannya denganku, supaya tedaftar dalam catatan sipi, dan satu lagi, Farah juga melarang aku menyentuh Mala. Aku mengabulkan permintaan Farah itu, aku berjanji padanya hanya dia yang aku cintai, tidak ada perempuan lain aku cintai, karena memang itu juga kenyataannya, aku tidak bisa mencintai Mala. Aku juga berjanji akan mengesahkan pernikahanku dengan dia sesuat hukum yang berlaku, agar pernikahan kami terdaftar dalam catatan sipil. Namun, aku melanggar satu syarat dari Farah. Aku menyentuh Mala.
Farah kecewa saat dia mendengar aku menyentuh Mala, apalagi dia tahu aku bulan madu ke luar negeri bersama Mala. Aku bilang pada Farah kalau Mala hamil dua minggu usia kandungannya, karena aku sudah menyentuhnya. Farah kecewa, dia marah besar padaku saat tahu bahwa aku sudah menyentuh Mala, sampai Mala hamil. Aku jelaskan padannya, semua itu aku lakukan agar semua orang tidak curiga padaku. Tidak mungkin aku tidak menyentuh Mala, sebisa mungkin aku harus membahagiakan Mala, supaya Mala mengira pernikahannya denganku baik-baik saja, dan penuh kebahagiaan, karena aku tidak ingin Mala curiga kalau aku sudah memiliki Farah, tapi ternyata Tuhan membuka sandiawaraku yang aku tutup rapat di depan Mala dengan begitu singkat. Mala tahu aku sudah menikahi Farah secara siri.
Setiap malam, nama yang aku sebut dalam doa juga hanya Farah, bukan Mala. Itu semua karena aku merasa aku sudah mengkhianatinya dengan aku menyentuh Mala. Aku menyesal mengingkari janjiku pada Farah, hingga Farah marah dan memintaku untuk menyudahi semuanya. Aku tidak bisa, bagaimana bisa aku menyudahi hubunganku dengan Farah yang sudah terjalin sangat lama? Apalagi ada Sefi, buah cintaku bersama Farah.
Akhirnya aku segerakan untuk mengesahkan hubunganku dengan Farah, sesuai dengan permintaan Farah saat aku hendak menikahi Mala. Hari ini, hubunganku dan Farah sudah sah di mata hukum. Tapi, dia adalah istri keduaku, meskipun dia yang pertama aku nikahi. Ada rasa lega dan bahagia karena hubunganku dengan Farah sudah sah di mata hukum, tapi kenapa ada sesuatu yang mengganjal di dalam hatiku. Entah kenapa bisa begini, mungkin karena Mala, atau karena Mama. Aku sendiri masih bingung untuk menemukan jawabannya.
Jika karena Mama, tidak mungkin satu minggu sebelum aku mengesahkan Farah, aku selalu kepikiran Mala. Aku merasa sepi di rumah, aku merasa Mala semakin jauh dariku, dia sangat dingin sekali padaku. Bahkan kemarin aku sakit, dia malah menitipkan aku pada Farah, dia lebih memilih ke tempat kerjanya dengan alasan ada banyak pekerjaan.
__ADS_1
Satu minggu yang lalu Mala selalu menyibukkan diri di luar, bahkan di rumah pun dia pura-pura sibuk. Dia lebih banyak berdiam diri di dalam kamarnya sekarang. Meskipun kadang sebelum ia ke tempat kerja memasak untukku dulu, tapi dia dingin sekali sikapnya padaku. Kalau tidak aku tanya lebih dulu, dia tidak menyapaku. Paling memanggilku lebih dulu kalau dia mau pamit ke tempat kerjanya.
Aku rasa, yang mengganjal dalam hatiku adalah Mala. Entah kenapa aku merasa kangen dengan sikap manjanya Mala setiap hari. Kangen dengan panggilannya saat memanggilku dengan panggilan sayang. Kangen quality time bersama saat sepulang dari kantor, kangen bau harum tubuhnya yang khas, yang mungkin sudah membuatku kecanduan.
Tiga bulan bukan waktu yang lama, tapi kenangannya bersama Mala sangat menyita rongga hatiku. Semua penuh dengan Mala. Apa aku mencintainya? Ah, tidak! Aku hanya mencintai Farah, aku maunya hanya Farah. Tapi, kenapa aku tidak bisa mengontrol diriku saat bersama Mala, kalau aku hanya mau Farah? Bahkan saat malam pertama, aku tidak bisa menahan gejolak hasratku, apalagi saat mencium arom parfum Mala yang khas dan begitu memikat, aku langsung kalah, janjiku pada Farah runtuh, karena aku menginginkan Mala malam itu yang benar-benar cantik jelita dan manis sekali.
Bibirnya yang ranum, membuatku ingin terus mengecupnya. Aku terbuai dengan pesona Mala saat malam pertamaku. Padahal aku sudah janji, aku tidak akan melakukanny malam itu, tapi entah kenapa aku malah bertanya pada dia, apakah dia siap untuk aku sentuh? Padahal awalnya tidak ada pikiran seperti itu. Apa mungkin naluri seorang laki-laki sekaligus seorang suami? Apalagi melihat permpuan yang tak lain istrinya terlihat sangat cantik sempurna bak bidadari.
Aku ingat saat dia menyambutku di depan penghulu setelah selesai akad nikah, dia begitu malu-malu. Bahkan akan bersalaman denganku pun dia menarik-ulur tangannya, karena dia takut aku sentuh. Mala sama sekali tidak pernah bersentuhan dengan laki-laki yang bukan muhrimnya, bahkan saat pendekatan denganku saja, kami selalu duduk dengan jarak cukup jauh. Mala tidak pernah pacaran, ia selalu dijodohkan, dan katanya akulah laki-laki yang kesekian kali melamarnya, dan langsung ia terima. Sebelumnya ada laki-laki yang melamarnya, tapi Mala langsung menolak, dengan sejuta alasan yang Mala lontarkan.
Aku juga ingat wajah merah meronanya malam itu, saat aku tanya apakah dia siap untuk aku sentuh? Sungguh wajahnya cantik dan menggemaskan di tengah malunya karena akan aku sentuh. Dia menunduk, perlahan mengangguk, menandakan kalau dia siap untuk aku sentuh. Tidak menunggu waktu lama, aku perlahan berani mencumbunya. Sungguh hatiku berdegup kencang saat itu, saat akan menunaikan kewajibanku dengan Mala. Saat itu, aku lupa akan janjiku pada Farah, janji kalau aku tidak akan menyentuhnya. Nyatanya aku menyentuh Mala, hingga aku ingin lagi dan lagi, sampai menjeleng pagi aku melakukannya, dan baru sadar akan janjiku pada Farah, saat sesudah melakukan salat subuh.
Aku masih mengingat Mala, lamunanku hanya tentang Mala dan Mala, tidak ada yang lain. Apalagi Mala tidak aktif nomornya, sampai aku khawatir dan terus mengirimkan pesan padanya.
Aku terjingkat saat ada seseorang yang memelukku dari belakang, lalu mengecup pipiku dengan lembut. “Yah, kok gak ikutan tidur? Ayah kan masih belum sehat betul? Masih agak anget badannya,” ucap Farah.
__ADS_1
Farah tiba-tiba membuyarkan lamunanku yang sedang memikirkan Mala. Aku mengusap kepalanya, lalu aku balas kecupannya. Aku kecup pipinya dan bibirnya. “Aku gak ngantuk, Bunda. Lagian baru selesai makan juga, kan? Gak tahu nih, obatnya juga belum bereaksi, biasanya kan bikin ngantuk,” jawabku.
“Sefi sudah tidur?” tanyku.
“Sudah, dia kecapekan mungkin,” jawab Farah.
Farah tersenyum, lalu duduk di sampingku dengan menyandarkan kepalanya di pundakku. Ia mengambil ponselku, lalu membukannya.
“Kok passwordnya ganti? Sejak kapan hape ayah diganti password gak bilang aku?” tanya Farah dengan nada kesal.
“Oh iya, ayah ganti. Sini ayah bukain,” ucapnya.
“Apa Passwordnya!” tanyanya dengan sinis.
“Sembilan belas, dua-dua, kosong enam,” jawabku.
__ADS_1
“Angka apa ini?” tanyanya curiga.
“Ya gak tahu, angka apa itu?” jawabku asal.