
Selesai menemui Dewi, Mala kembali pada aktivitasnya. Dia langsung menuju ke lokasi di mana akan diadakan acara launching produk Rumanah terbaru. Seperti biasa acara Launching produk baru pasti ada acara fashion show yang dihadiri para model yang sudah bekerja sama dengan brand Rumanah. Di mana nanti akan ada peragaan produk-produk Rumanah dari awal sampai yang baru.
Biasanya dihadiri juga para agen dan resseler, juga keluarga Mala yang turut hadir di sana. Mala datang sendiri, dia tidak mengajak Azril. Padahal seharusnya dia mengajak Azril, karena Bunda dan Ayahnya mengajak orang tua Azril juga untuk datang dan menyaksikan acara.
“Ah biar saja, nanti aku bilang Azril sibuk, kalau Mama dan Papa tanya kenapa Azril gak ikut ke acara, aku gak boleh takut Mama kenapa-napa, kalau memang ditakdirkan kambuh, ya kambuh, itu bukan salahku,” batin Mala saat ia mengingat kalau mertuanya akan datang ke acara.
Mala sampai di tempatnya. Ia melihat pada Tim sudah sempurna sekali menyiapkan semuanya. Mala mengecek semua yang dikerjakan oleh timnya. Untung saja Mala punya tempat sendiri, seperti Aula khusus untuk acara launching produknya. Jadi dia tidak repot menyewa tempat, lalu memboyong perlengkapan semuanya ke tempat tersebut. Aulanya cukup luas, dan berada di sebelah tempat produksi, jadi tidak terlalu repot jika ada acara. Kalau ada meeting juga tidak pernah sewa tempat.
Biasanya Aula itu digunakan untuk packing, karena packing memerlukan tempat yang luas. Pesanan per-agen tidak tanggung-tanggung, bukan hanya ratusan pcs, kadang sampai ribuan. Permintaan dari agen atau store dari berbagai kota kadang sampai tempat produksi kewalahan, belum di butik Mala sendiri yang juga sudah banyak pemesanan via online dan offline. Tidak salah Mala memperkerjakan ratusan karyawan untuk Rumanah, belum Cafe dan Restorannya.
“Bagaimana, Bu Mala, apa masih ada yang kurang untuk dekorasinya?” tanya Tim yang diutus Mala untuk mendekorasi panggung.
“Oke, cocok sesuai tema saat ini. Terima kasih atas kerja sama kalian, good job pokoknya,” jawab Mala.
Mala menemui para model yang sudah datang, mereka yang sudah lama bekerja sama dengan brand Rumanah. Para model dan selebgram sudah hadir tepat waktu, mereka sudah mempersiapkan semua untuk acara hari ini.
“Mal!” panggil seorang wanita yang datang dan langsung berlari mendekati Mala.
“Nia? Akhirnya mau datang juga kamu?” Mala dan Nia, sahabatnya langsung berpelukan.
“Harus datang dong, masa gak datang sih? Sukses selalu, ya? Gak nyangka Rumanah bisa sebesar ini sekarang, aku ikut bangga, Mal,” ucap Nia.
“Ya beginilah, perjuanganku tidak sia-sia,” ucap Mala. “Kamu datang sendirian? Suamimu tidak diajak?” tanya Mala.
“Ehm ... I—iya, aku sendirian. Suami sedang sibuk,” jawab Nia dengan tergagap, seperti sedang menutupi sesuatu.
“Kamu sendirian? Jauh loh? Masa sendirian? Tega ih suami kamu?” ucap Mala.
“Ya dia sibuk, aku harus bagaimana? Lagian aku bisa setir mobil sendiri kok, jadi tenang saja. Masa harus nunggu dia gak sibuk? Yang ada seperti tiga bulan yang lalu, aku akhirnya hadir terlambat di pernikahan kamu?” jelas Nia.
“Tapi kamu baik-baik saja, kan? Sedang tidak ada masalah?” tanya Mala.
“Baik, dong? Kamu sendiri? Mana suami kamu?” tanya Nia.
__ADS_1
Malam celingukan, bingung mau menjawab apa. Tidak mungkin akan menjawab menyusulnya nanti, dia saja tidak memberitahukan Azril hari ini ada acara seperti ini.
“Mana suamimu?” tanya Nia.
“Nanti ke sini, dia lagi ke kantor sebentar,” jawab Mala.
Sedangkan Azril di rumah, ia sudah siap dengan pakaian yang rapi, karena akan ke kantor. Namun, saat akan keluar dari kamarnya, dia mendengar ponselnya berdering. Segera ia ambil ponsel yang ada di saku celananya.
“Mama? Ada apa pagi-pagi telefon?” ucap Azril.
Ia segera menggeser icon hijau di layar ponselnya. “Halo, Ma?”
“Zril, kamu sudah ada di lokasi?” tanya Bu Maesaroh, Mamanya Azril.
“Lokasi?” tanya Azril.
“Iya, lokasi launching produk bari Rumanah? Kan hari ini ada acara launching? Brand nya Mala kan mengeluarkan produk terbaru?” jelas Bu Maesaroh.
“Oh iya, ini aku baru mau ke sana. Tadi, aku menemui klien dulu, jadi belum berada di lokasi, Ma,” jawab Azril.
Azril menutup telefonnya. Ia benar-benar tidak tahu kalau hari ini Mala ada acara. Ia bergegas ke tempat acara. Dia tapi bingung di mana acaranya, karena tidak tahu tempat acaranya.
“Aduh ... Ini acaranya di mana lagi? Aku coba telefon Mala, kali saja dia akan memberitahukan di mana tempatnya,” ucap Azril.
Ia bergegas menelefon Mala, tapi tidak diangkatnya.
Mala dari tadi ditnya bunda dan ayahnya, di mana Azril. Mala kebingungan menjawabnya, apalagi acara mau segera di mulai. Mala ingin menelefon Azril, tapi dia malas sekali berbicara dengan Azril.
Acara hampir mulai, Mala masih mengobrol dengan Bunda dan Ayahnya, juga mertuanya. Cukup tenang sekarang, karena Mama mertuanya bilang Azril sedang menemui klien dulu, nanti baru ke sini.
“Maaf saya terlambat.” Suara bariton itu membuat Mala menoleh seketika. Mala tidak menyangka Azril akan datang, seperti apa yang Mama mertuanya bilang.
“Selamat ya, Mal?” ucap Azril. Dia memberikan buket bunga, lalu mencium Kening Mala.
__ADS_1
“Terima kasih, Mas. Ayo duduk di sana,” ajak Mala.
Mereka duduk bersama di meja yang sudah di sediakan. Mala masih bingung dan gugup kenapa Azril bisa datang, dan tahu lokasi acaranya.
“Kenapa pakai acara datang, sih! Aku sebal sekali lihat wajahnya!” Gerutu Mala
^^^
Selesai acara. Mala bicara berdua dengan Azril. Mertua dan orang tua Mala sedang mengobrol di meja yang berbeda. Juga sedang menikmati makanan.
“Selamat, ya? Kamu hebat, Mala,” puji Azril.
“Ya, terima kasih,” jawab Mala ketus.
“Tapi, kenapa kamu gak bilang acaranya hari ini?” Tanya Azril.
“Gak penting juga rasanya bilang sama kamu,” jawab Mala.
“Kamu tahu, aku bingung saat Mama tanya sudah ada di lokasi belum,” ucap Azril.
“Bilang saja di rumah Farah,” jawab Mala ketus.
“Mal jangan begitu dong? Nanti Mama curiga,” ucap Azril.
“Ya, itu bukan urusanku?” jawab Mala. “Oh iya, aku sudah mengajukan gugatan cerai, mungkin nanti aku akan pelan-pelan menjelaskan pada semuanya soal apa yang telah kamu sembunyikan,” ucap Mala.
“Mal, kamu jangan gila, ya!” tukas Azril.
“Kamu yang gila!” balas Mala.
“Mal jangan begini, tolong, Mal. Kita bisa bicara baik-baik lagi. Oke, aku akan mencintaimu, please ... Jangan ajukan gugatan cerai, Mal. Demi Mama,” ucap Azril.
“Lagi-lagi demi Mamamu? Lalu apa kamu tidak mau tahu perasaanku? Jangan egois kamu!” berang Mala.
__ADS_1
“Aku akan tetap menggugat kamu! Aku gak butuh apa-apa, secepatnya juga aku akan pindah dari rumah mewahmu itu! Silakan bawa Farah saja ke situ!” ucap Mala.