
Mala benar-benar kelewat cueknya. Sudah tahu aku pulang, dia malah sama sekali tidak masak. Tidak menyiapkan makan malam apa pun. Dia hanya masaka sendiri, untuk makan sendiri. Biar saja aku ganggu dia makan, salah sendiri tidak membuatkanku makan malam, ya aku makan saja nasi gorengnya sama-sama. Lagian jadi romantis sekali tadi, biarpun ujungnya begini, aku sendirian menghabiskan nasi goreng milik Mala, sedangkan Mala, ia buru-buru mengerjakan pekerjaannya lagi.
Akhir-akhir ini dia memang sedang sibuk, ditambah dia akan ikut expo untuk produknya minggu depan. Mungkin ada benarnya, saat dia ikut expo nanti, aku pergi saja sama Farah. Jadi, kalau misalkan mama tanya tinggal bilang ikut expo sama Mala. Tapi, tetap saja aku tak tenang jika seperti itu. Kalau aku batalkan, pasti Farah akan marah, soalnya sudah sering aku menggagalkan rencana liburan dengan dia ke luar negeri.
Aku ke dapur menaruh piring dan gelas kotor, lalu aku cuci sekalian, karena di sana sudah tidak ada piring dan gelas kotor. Kalau aku tidak mencucinya nanti malah akan mendatangkan semut. Selesai itu, aku menghampiri Mala, aku hanya berdiri di depannya, melihat dia begitu sibuk dengan tumpukan kertas.
“Aku temani ya, Mal?” ucapku basa-basi
“Gak usah, sana tidur saja,” jawabnya tanpa menatapku.
__ADS_1
Dia begitu serius, jangankan menatapku, ponselnya bergetar saja langsung ia silent, dan selanjutnya mengaktifkan mode pesawat. “Ganggu saja Si Nurul, orang nanti saja, malah telfan-telfon!” gerutunya.
Aku duduk di depan Mala, dia benar-benar tidak menghiraukan ku sama sekali. Aku tidak menyangka ternyata dia bukan perempuan biasa yang kerjanya hanya di rumah menunggu suami pulang. Dia bukan perempuan yang selalu mengandalkan suami. Dia perempuan hebat, yang mampu berdiri di atas kakinya sendiri, yang masih mampu melawan badai, meskipun sendirian.
Kalau bukan perempuan hebat, dia sudah pastas down mentalnya karena sudah aku perlakukan seperti ini. Kalau Mala bukan perempuan hebat, dia akan mengadu pada kedua orang tuanya, juga orang tuaku, kalau dia sudah disakiti aku. Kalau dia bukan perempuan hebat, dia akan menangis, meratapi kehidupannya yang sangat menyedihkan karena dibohongi suaminya, dan suaminya menikah lagi. Apalagi Mala terang-terangan kalau dia mencintiku.
Kalau perempuan lain, tidak akan sekuat Mala yang seperti ini. Dia masih sangat semangat menggeluti dunia bisnisnya meski batinnya remuk redam, tak berbentuk, hanya puing-puing luka yang tertinggal di relung hatinya. Aku jadi iri dengannya, aku sendiri bahkan sama sekali tidak konsentrasi bekerja saat hendak menikahi Farah secara sah, karena secara tidak langsung aku akan menyakitii perempuan sebaik Mala.
“Huh ... selesai!” Mala mengembuskan napasnya dengan keras, sampai embusan napasnya terasa sampai di depanku. Dia terlihat lega sudah menyelesaikan pekerjaannya.
__ADS_1
“Sudah selesai, Mal?” tanyaku.
“Sudah, tapi ya belum semua, aku hanya cek yang dari agen luar jawa, juga yang ada di luar negeri. Karena, yang mau dikirim ke sana kan sedikit ribet urus biaya ini dan itu, jadi aku cek dulu semua itu,” jelas Mala.
“Apa banyak sekali orderan dari luar Pulau Jawa, dan di Luar Negeri, Mal?” tanyaku.
“Ya lumayan,” jawab Mala.
“Gak nyangka aku Mal, kamu memiliki bisnis sebesar ini,” ucapku.
__ADS_1
“Hmm ... ini belum sebearapa dibandingkan dengan brand-brand yang sudah mendunia. Aku baru merintis, Mas. Ini belum ada apa-apanya, masih sangat kecil bisnisku, tapi aku harus mengelolanya dengan baik, karena aku menikmati pekerjaanku ini. Semua produku Rumanah benar-benar hasil desainku, aku sama sekali tidak meminta designer lain untuk membantu mencari ide, atau meminta desain terbaru. Semua produk Rumanah, hasil dari apa yang ada dalam pikiranku,” jelas Mala.
Dia benar-benar hebat sekali. Pantas Mama dan Papa memilihkan Mala untukku, ternyata dia memang yang terbaik, dan nyatanya memang dia perempuan yang hebat.