Bukan Rindu Yang Terlarang

Bukan Rindu Yang Terlarang
Delapan - Tidak Bisa Mencintai Perempuan Lain Lagi


__ADS_3

Kaedaan Mama kritis, Mas Azril begitu terpukul saat mendengar Dokter memberitahukan keadaan Mama. Bukan hanya Mas Azril, Papa juga terlihat sangat terpukul sekali saat tahu kondisi Mama yang saat ini kritis. Papa duduk bersama Kakak laki-laki Mama yang baru saja datang, karena mendapatk kabar Mama masuk rumah sakit dan keadaannya sangat kritis. Sedangkan Mas Azril, dia duduk di sebelahku, kami duduk agak jauh dari Papa dan Pakde. Dari tadi tanganku digenggam oleh Mas Azril dan sesekali diciumi tanganku. Berkali-kali Mas Azril membisikkan kata maafnya di sela-sela isakkan tangisnya.


Aku merasaka apa yang Mas Azril rasakan saat ini. Tapi, lebih sakit lagi aku. Aku yang sudah tertipu oleh suamiku sendiri. Kalau bukan karena Mama, aku sudah pulang, aku sudah kemasi pakaianku, dan aku tinggalkan Mas Azril. Kusiapkan semua berkas-berkas untuk syarat mengajukan gugatan cerai. Namun, aku tidak bisa gegabah seperti itu dalam keadaan seperti ini. Mama sedang kritis, jika aku tetap melakukan apa yang ada di pikiranku saat ini, apa nantinya tidak menyakiti hati Mama dan Papa?


“Aku mohon, pikirkan lagi keinginanmu untuk berpisah, Mal. Demi Mama dan Papa,” ucap Mas Azril.


“Tinggalkan Farah, jika kamu mau aku tetap menjadi istriku!” gertakku lirih.


“Gak bisa, Mal. Aku mencintainya, ada Sefi juga, aku dan dia sudah hidup bertahun-tahun sejak aku belum mengenalmu,” jawabnya. “Bertahanlah demi Mama, meski aku tak pernah bisa untuk mencintaimu, Mal,” cetusnya.


Air mataku semakin deras mengalir saat mendengar ucapan Mas Azril yang seperti itu. Dengan mudah ia bicara, memintaku untuk bertahan dalam pernikahan ini demi Mama, meski dia tidak akan pernah bisa mencintaiku. Bisa-bisanya dia melakukan semua itu tapi dia tidak cinta padaku? Sungguh ironis sekali hidupku.


“Lalu kenapa kamu bawa aku dalam hidupmu? Kamu tidak mencintaiku, untuk apa kita terus bersama, Mas! Apa kamu akan menjadikanku boneka saja, yang dengan mudahnya kamu mainkan sampai kamu puas? Kalau kamu tidak mencintaiku, dan pernikahan kita karena Mama dan Papa, jangan sentuh aku! Kamu sudah melakukannya denganku, bisa-bisanya melakukan seperti itu tanpa cinta, Mas? Aku kira meski kamu berani melakukan itu karena kamu ada rasa sama aku, Mas!” pekikku.


“Aku melakukannya karena Mama, Mama minta cucu, Mama ingin cucu darimu, Mal. Bukan dari perempuan lain, dari kamu, Mala! Karena kamu yang Mama pilihkan untukku dan Mama sangat menyayangimu, Mal,” jawabnya.


“Demi Mama lagi? Lantas aku dapat apa? Oh iya, aku hanya dapat Ampas! Sisa-sisa dari Farah!”


“Aku akan berikan apa yang kamu mau, asal jangan cintaku, Mal. Aku sudah tidak bisa mencintai perempuan lain selain Farah.”

__ADS_1


Tega sekali dia berkata seperti itu padaku. Apa tidak bisa ia menghargai perasaanku sebagai istrinya? Aku tidak butuh apa-apa darinya, aku hanya ingin menyudahi semuanya, daripada aku harus hidup dengan seseorang yang tidak mencintaiku.


“Aku sudah punya semuanya, aku hanya ingin suami yang bisa menerimaku, mencintaiku, sepenuhnya, tanpa tapi! Jika tidak bisa, silakan ceraikan aku!” tegasku.


“Enggak, Mal! Aku gak akan menceraikanmu, aku takut Mama kenapa-napa, Mal. Aku sangat menyayangi Mama, akan aku lakukan apa yang mama inginkan, demi Mama aku rela menikahimu, menganggapmu sebagai istri, dan menggaulimu. Meski aku sama sekali tidak mencintaimu. Aku pun sakit, harus membagi ragaku ini pada perempuan lain, aku sakit menyentuh kamu yang tidak aku cintai,” ucapnya.


“Lantas, apa kamu tidak merasakan apa yang aku rasakan? Yang sakitnya melebihi apa pun? Jangan mementingkan egomu, Mas!” balasku.


“Aku melakukannya karena demi Mama, aku tolon, keikhlasanmu, keikhlasan hatimu, demi Mama juga, Mal,” pintanya.


“Aku tidak bisa, Mas. Aku tidak bisa seikhlas itu, meskipun demi Mama. Aku tidak bisa,” ucapku lirih.


“Aku mohon, Mala. Apa yang kamu minta aku akan turuti,” ujarnya.


“Gak bisa, Mal. Aku tidak mencintaimu, aku tidak mau berbohong, aku tidak mau mengatakan sesuatu yang tidak dari hatiku,” jawabnya.


Aku hanya diam. Aku tidak mau berkata apa-apa lagi. Biar saja, biar seperti ini dulu. Aku akan jalani, meskipun Mas Azril tidak mencintaiku, mungkin dia juga sedang mencoba mencintaiku, entah kapan dia bisa mencintaiku. Aku akan bertahan dulu, sampai keadaan membaik. Aku akan tetap meminta untuk pisah, tapi menunggu keadaan Mama membaik.


^^^

__ADS_1


Papa baru saja melihat keadaan Mama di dalam. Aku dan Mas Azril juga ingin melihatnya. Meskipun Mama adalah mertuaku, tapi aku sangat menyayanginya, sama sayangku seperti menyayangi bunda. Aku ke dalam bersama  Mas Azril, melihat kondisi Mama yang masih sangat lemah sekali. Tubuhnya dipasang alat-alat medis. Aku tidak bisa membayangkan jika aku meninggalkan Mama dalam keadaan seperti ini.


“Ma, bangun, Ma ... Katanya Mama pengin punya cucu. Ma, ini ada Mala juga di sini, Mama bangun, ya?” ucap Mas Azril dengan terisak.


Aku tahu Mas Azril sangat mencintai Mamanya, sangat menyayanginya. Mamanya adalah prioritas utamanya. Padahal sekarang anaknya juga sedang sakit, tapi ia tidak peduli, yang ia pedulikan Mamanya. Terlihat jelas, ia sangat ketakutan melihat mamanya yang seperti ini keadaannya.


Aku mendengar ponselku berdenting karena ada pesan masuk. Aku lihat siapa yang mengirim pesan padaku. Nama yang tidak pernah kuduga mengirimkan pesan padaku di luar jam kerjanya.


Farah.


Iya, Farah yang mengirim pesan padaku. Aku buka, dan aku baca pesan darinya.


[Mal, minta tolong, bilangin Mas Azril, Sefi rewel, manggil Ayahnya terus. Dari tadi telefonnya dihubungi susah.]


Aku menarik napasku dengan berat. Bisa-bisanya dalam keadaan seperti ini ia mengirimkan pesan yang isinya seperti itu. Apa ia tidak tahu kondisi Mama sedang kritis? Dia kan seorang ibu? Apa tidak bisa menenangkan anaknya sendiri tanpa Mas Azril? Aku kirim saja Foto Mas Azril yang sedang menangis di depan Mamanya. Biar dia menyimpulkan sendiri Mas Azril sedang bagaimana setelah melihat foto yang aku kirim.


Aku kirimkan foto itu tanpa caption apa pun. Tanpa basa-basi mengetik sesuatu padanya. Aku bodoh amat, yang penting sudah aku jawab, meski dengan sebuah foto. Biar dia artikan sendiri, makna foto itu.


Aku dengar lagi ponselku berdenting. Farah mengirimkan pesan lagi padaku.

__ADS_1


[Mama keadaannya sampai begitu, Mal? Ya sudah, gak usah bilang Mas Azril, aku tenangin Sefi sendiri. Biar Mas Azril temani Mama dulu.]


Pesan dari Farah berbunyi seperti itu. Artinya dia tahu keadaan. Aku masukan kembali ponselu di tas kecil. Aku tidak membalas pesan Farah, yang rasanya tidak begitu penting bagiku. Aku lihat Mas Azril yang masih menangis sambil menciumi tangan Mamanya. Aku tahu, Mas Azril begitu mencintai Mamanya, bahkan dia tidak memikirkan anaknya bagaimana yang sedang di rawat di rumah sakit ini juga.


__ADS_2