Bukan Rindu Yang Terlarang

Bukan Rindu Yang Terlarang
Enam Belas - Kehilangan Sosok Istri Yang Sempurna


__ADS_3

Aku rindu kopi buatan Mala. Sejak dia tahu soal Farah, dia berubah sikapnya padaku. Jangankan membuatkan kopi, menyapa pun jarang? Mau ke tempat kerja juga kadang tidak pamit, asal pergi-pergi saja. Kalau aku mau berangkat ke kantor saja tidak pernah ikut ke depan mengantarkanku ke teras, dan melepas kepergianku untuk ke kantor dengan senyuman manisnya. Aku juga sudah tidak lagi mencicipi masakannya yang sangat lezat, dan bikin aku nambah terus kalau sedang makan. Aku baru merasakan rindu yang begitu dalam, setelah satu minggu Mala sangat cuek padaku, dan parahnya malam ini, dia berani meninggikan suaranya di depanku.


Aku harus bagaimana? Aku tidak bisa meninggalkan Farah, juga sangat tidak bisa meninggalkan Mala yang nantinya akan berpengaruh pada kesehatan Mama. Meskipun bukan karena Mama, aku juga tidak ingin melepaskan Mala, karena dia yang pertama kali membuatku ingin berkali-kali. Aku memang kejam, aku tidak mencintainya, tapi aku sangat membutuhkan tubuhnya. Tubuhnya sudah menjadi candu untukku, padahal baru tiga bulan aku bersamanya. Sedangkan dengan Farah, sudah tiga tahun aku menikah tapi aku biasa saja, tidak pernah ada yang spesial, kami menjalankan rumah tangga yang biasa saja, sesuai pada umumnya. Aku bertanggung jawab terhadapnya, memberi hak dan kewajiban aku sebagai suami, begitu juga dengan Farah.


Apalagi pernikahanku dengan Farah diam-diam, tidak ada orang yang tahu, kecuali Mala yang tahu. Aku terlalu takut membawa Farah ke luar untuk liburan atau sekadar shopping dan lainnya. Selama tiga tahun mungkin bisa dihitung aku pergi dengan Farah dan Sefi, hanya beberapa kali saja, karena takut ada yang tahu, dan bilang ke Mama, yang nantinya akan membuat Mama drop. Namun, Farah menerima semua itu, meski dia sangat tertekan, dia seringnya pergi berdua dengan Sefi, tanpa aku, padahal aku tahu, pasti mereka ingin keluar bertiga, seperti keluarga bahagia pada umumnya. Liburan pun hanya beberapa kali saja, bahkan saat bulan madu aku dan Farah hanya di rumah saja, tidak ke mana-mana. Itu semua karena aku tidak mau menanggung risiko saat di luar. Barangkali kami bertemu Mama atau Papa, atau mungkin saudaraku lainnya, nantinya pasti akan tambah runyam masalahnya.


Dengan Mala, semua keluargaku menyetujuinya, karena Bunda dan Mama bersahatan sejak SMP. Serta didukung keluarga Mala yang terpandang. Namun, karena terpisah, keluarga Mala harus pindah ke luar kota, jadi mereka terpisah saat Bunda dan Mama baru sama-sama menikah. Mereka bertemu lagi saat Bundanya Mala memutuskan untuk pindah ke sini, menetap di sini satu tahun yang lalu. Mama dan Bunda kembali menjalin silahturahmi lagi, dan akhirnya perjanjian mereka yang dari dulu terjadi kembali dilanjutkan, yaitu mereka ingin berbesanan. Kebetulan Mala masih gadis, dan berkali-kali dijodohkan tidak mau, aku juga yang di mata keluarga masih lajang, akhirnya terjadi perjodohan itu, padahal aku sudah menikahi Farah, sudah tiga tahun kami menikah.


Aku duduk di sofa yang ada di ruang tengah. Lampu sudah aku matikan semua, dan aku ganti dengan lampu malam, yang temaram. Aku masih memikirkan Mala, ia begitu cuek padaku, tapi aku tahu dia pasti tidak baik-baik saja, karena setiap pagi aku melihat matanya sembab sekali seperti habis menangis. Aku mendengar Mala membuka pintu kamarnya, aku tetap duduk di sofa yang ada di pojok, mungkin Mala gak melihat aku duduk di sofa ruang tengah, jadi dia melewatiku begitu saja. Mala membawa piring dan gelas kotor ke dapur. Aku menunggu Mala kembali, tapi dia sudah cukup lama tidak kembali ke kamar. Aku menyusul Mala ke dapur. Terlihat Mala sedang duduk di depan meja makan sambil sesekali dia mengusap air matanya. Aku mendekatinya, lalu aku sentuh kepalanya, dan aku usap lembut.


“Nangis kenapa?” tanyaku.


Buru-buru Mala menyembunyikan wajahnya, dia langsung menunduk menghapus air matanya. “Ngapain kamu ke sini? Belum tidur?” jawabnya sembari bertanya padaku.

__ADS_1


“Dari tadi aku duduk di sofa, aku lihat kamu ke sini, tapi lama gak kembali ke kamar,” jawabku.


“Hmm ... begitu? Ya sudah aku balik ke kamar,” ucapnya.


Mala langsung beranjak dari tempat duduknya, lalu aku raih tangannya, aku bawa dia ke dalam pelukanku. “Maafkan aku, Mal,” ucapku dengan memeluk Mala.


“Lepaskan! Aku sudah memaafkanmu,” ucapnya sambil mengurai pelukanku.


“Mal, aku sayang kamu.” Aku kembali memeluk Mala, entah kenapa aku reflek mengungkapkan itu.


“Tolong jangan seperti ini, aku ngantuk, aku ingin tidur,” ucap Mala.


“Izinkan sebentar saja aku memelukmu, Mal. Aku gak bisa tidur.” Aku kembali mengeratkan pelukanku pada Mala.

__ADS_1


Mala hanya diam, tapi dia tidak membalas pelukanku. Mungkin dia sudah sangat kecewa padaku, sampai aku memeluk pun dia tidak mau membalas pelukannya. Tangannya masih menjulur ke bawah, sama sekali tidak ia lingkarkan ke tubuhku, padahal aku butuh dekapan hangatnya.


Mal, peluk aku.


Ingin rasanya aku meminta itu, tapi aku tidak berani memintanya, aku tahu dia sudah tidak sudi lagi memelukku. Apalagi dia sudah tidak ingin aku sentuh. Aku benar-benar butuh pelukannya saat ini yang bisa menenangkan diriku. Tapi ia sama sekali tidak mau memeluku, bahkan pelukan ringan saja ia tidak mau.


“Mas, sudah meluknya? Aku mau ke kamar,” ucapnya.


“Hmm ... iya, terima kasih, Mal,” ucapku.


Aku melepaskan pelukanku, aku pandangi wajahnya yang juga menatapku. Aku tahu dia begitu mencintaiku, dan begitu dalam cintanya padaku. Matanya menyiratkan sebuah cinta yang tulus, tapi aku tidak bisa membalasnya. Sungguh aku kejam sekali, tapi inilah aku, aku hanya bisa mencintai Farah, meski aku sangat membutuhkan Mala dalam hidupku.


Aku kecup keningnya, tapi buru-buru Mala menjauh dariku. “Aku tidur, selamat malam,” ucapnya sambil pergi meninggalkanku.

__ADS_1


Bahkan kecupan kening saja, ia sudah tidak mau menerimanya. Aku benar-benar kehilangan sosok Mala yang kemarin. Aku tidak tahu harus bagaimana, apa aku tinggalkan Farah? Itu jelas tidak bisa, aku mencintainya, dan ada Sefi di antara aku dan Farah. Apa aku menuruti Mala untuk berpisah? Itu juga tidak mungkin aku lakukan, karena imbasnya akan banyak sekali, terutama pada Mama dan Bunda. Jalan satu-satunya aku kabulkan permintaan Mala yang tidak mau lagi aku sentuh, meski itu berat, bahkan nyaris aku tidak bisa melakukan itu. Malam ini pun aku tidak tahu, apa aku bisa tidur nyenyak tanpa memeluknya? Satu minggu ini aku benar-benar tidak bisa tidur nyenyak karena tidak ada Mala.


Aku mulai kehilangan sosok Mala yang kemarin, sosok istri yang sangat sempurna. Aku tidak membanding-bandingkan, Mala dan Farah memang sosok istri yang sempurna, bedanya Mala disetujui Mama dan keluarga besarku, sedang Farah tidak, bahkan semua orang membenci Farah, yang aku tidak tahu sebabnya kenapa semuanya membenci Farah dan keluarganya. Kadang aku kasihan dengan Farah, aku sudah membawanya sejauh ini, tapi tetap saja Farah sumber kebencian Mama dan Papa, juga keluargaku. Padahal Farah dan keluarganya baik padaku, aku masih mencari tahu, kenapa bisa semuanya membenci Farah.


__ADS_2