
Mala mendengkus, ia yakin suaminya itu sedang menerima telefon dari Farah. Paling Farah memintanya untuk pulang ke rumahnya, karena belum tepat dengan perjanjiannya, Azril sudah pulang ke rumah Mala. Mala melirik suaminya yang sedang berbicara dengan seseorang di seberang sana. Sesekali terdengar Azril seperti sedang membujuk lawan bicaranya dengan sabar.
“Iya, kan aku sudah bilang kalau malam ini aku menginap di sini, Sayang?” ucap Azril dengan lirih, namun masih terdengar oleh Mala.
Mala mengernyitkan keningnya sembari mengangkat bahunya, lalu ia melanjutkan mengemasi pekerjaannya yang sudah selesai.
“Memang kamu pikir aku ngapain dengan Mala? Dia sedang sibuk kerja. Kamu jangan gini dong, Bunda? Aku juga sedang membujuk dia supaya dia mau ikut kita kok?” ucap Azril.
Mala menggelengkan kepalanya, ia tahu maksud ucapan Azril seperti itu merujuk ke mana. Pasti sedang membahas bulan madu mereka yang ingin ke Jepang.
“Ya kali, dia yang mau senang-senang, mau enak-enak, ngajakin aku? Memang aku mau dijadikan satpam mereka? Atau baby sitter anak mereka saat mereka senang-senang? Idih, amit-amit! Kayak gak ada kerjaan kamu, Mal! Jangan sampai kamu mau!” Mala mengumpat dalam hati, merutuki dirinya sendiri.
Mala kembali ke kamarnya, ia ke kamar dengan melewati Azril yang sedang di depan TV menerima telefon dari Farah.
“Mala!” panggil Azril.
“Ya, ada apa?” tanya Mala.
“Sebentar Farah mau bicara sama kamu,” jawab Azril.
“Mau apa? Bahas bulan madu? Bilang saja aku gak mau, kerjaanku banyak!” jawab Mala sambil berlalu, tapi Azril mengejar Mala, meraih tangan Mala, dan memohon untuk mau bicara dengan Farah.
“Mal, tolong, Farah mau bicara sebentar saja,” pinta Azril.
“Mnch! Sini!” Mala meraih posel Azril dengan kasar.
Azril tahu, Mala tidak mau membahas soal rencana ke Jepang, karena Mala tidak akan mau ikut ke sana.
“Ada apa, Farah?” tanya Mala.
__ADS_1
“Mal, kamu benar gak mau ikut ke Jepang? Kenapa?” tanya Farah.
“Pekerjaanku banyak, gak bisa ditinggal, minggu depan ada Expo di Jakarta, sepertinya aku seminggu di sana, jadi aku tidak mungkin ikut kalian. Sudah kalian berangkat saja berdua. Eh bertiga sama anak kalian,” jawab Mala.
“Mal, apa gak bisa senggangin waktu buat minggu depannya setelah kamu ikut Expo? Seminggu saja kamu ikut dengan kami, please ... senggangin ya, Mal?” pinta Farah seakan memaksa.
“Gak bisa, Farah. Pekerjaanku itu banyak sekali, gak bisa aku tinggal. Kecuali kalau liburan Cuma sehari atau dua hari, dan gak jauh, sekitar sini, aku sih bisa, tapi kalau sudah ke luar pulau Jawa, apalagi ke luar negeri, aku tidak bisa,” jelas Mala.
“Mal, kamu kan kerja di perusahaan sendiri, apa tidak bisa luangkan waktumu untuk kita liburan bersama?” tutur Farah.
Mala menaikkan alisnya, liburan bersama kata Farah. Seketika Mala tersenyum sumbang mendengar ucapan Farah.
“Hah, kita liburan bersama? Kita? Lo saja kali sama Azril yang mau senang-senang? Ogah kalau aku disuruh ikut! Mau dijadikan penonton bayaran aku ini?” ucap Mala dalam hati.
“Mala ... please ... kamu ikut, ya?” rengeknya.
“Menjijikan sekali dia merengek kepadaku seperti ini?” batin Mala.
“Mal, masa gak bisa luangkan waktumu? Aku saja bisa kok izin dari kantor?” ucap Farah.
“Jangan samakan pekerjaanku dengan pekerjaanmu! Kalau pekerjaan kamu bisa diselesaikan dalam waktu beberapa menit saja, asal klien kamu mampu bayar mahal kamu, kamu langsung bisa mengerjakannya! Sedangkan aku? Kamu gak tahu pekerjaanku seperti apa, Farah! Maaf sekali lagi, aku gak bisa. Jangan paksakan aku. Sana pamit sama Mamanya Azril boleh gak!” ucap Mala dengan kesal.
Sekalian Mala berkata seperti itu, karena dia kesal. Mala paling tidak suka kalau dipaksa. Kalau dia mau, dia katakan mau, kalau tidak mau, jangan salah kalau memaksa Mala, Mala malah jadi naik pitam.
“Kok begitu?! Kami menikah saja diam-diam, masa kamu suruh aku pamit mama? Bagaimana bisa, Mala?!” ucap Farah dengan suara sedikit meninggi.
“Ya bisa, kalian mengajak aku supaya mama dan papa gak curiga karena Azril gak ngantor seminggu, kan? Pasti izinnya bingung, kan? Sudah terserah kalian. Pintar-pintarnya kalian merangkai kebohongan lagi. Lagian sudah tiga tahun pula kalian membohongi mama dan papa. Lantas, kenapa gak sekalian saja bohong seumur hidup kalian?!” ucap Mala dengan nada yang ketus.
“Mal, kok kamu bilang gitu sih?! Aku hanya minta tolong begini saja kamu gak mau? Lagian kita itu ajak kamu liburan, biar kita juga saling dekat, dan tidak salah paham lagi untuk ke depannya. Kita sama-sama istri Mas Azril, bisa tidak kita akur, ke mana-mana bareng, Mal! Oke kamu boleh marah dan kecewa, tapi tolong, jangan anggap aku mengajak kamu liburan bareng seperti ini aku akan senang-senang sendiri dengan Mas Azril di sana. Kita sama-sama liburan, kita barang-bareng seneng, Mal. Itu juga sebagai ucapan terima kasihku pada kamu sudah merestui aku dinikahi resmi oleh Mas Azril,” jelas Farah.
__ADS_1
“Apa pun alasannya, aku tetap gak bisa, Farah. Aku banyak kerjaan, aku ini off selama tiga bulan, aku di rumah setelah menikah dengan Azril, aku gak ke pabrik, aku pantau dari rumah, aku desain dari rumah, aku gak bisa, kalau gak mantau pekerjaan timku. Aku gak bisa meninggalkan itu semua, apalagi satu minggu lamanya? Aku harap kamu bisa mengerti,” ucap Mala.
“Oke, aku tidak memaksa kamu, Mal,” ucap Farah dengan nada kecewa.
“Sudah dulu, Far, aku mau istirahat, kamu lanjutkan saja sama Azril. Atau begini saja, waktu aku ada Expo kalian berangkat ke Jepang, kalau papa dan mama tanya soal Azril, biar itu jadi urusanku. Aku gak mau pusing-pusing mikir bulan madu kalian yang ribet. Sudah dulu ya, Far?” ucap Mala.
“Mal, kamu manggilnya Azril saja dari tadi? Gak ada kata masnya?” tanya Farah yang merasa panggilan Mala pada Azril gak baik, karena memanggil suaminya dengan nama saja.
“Iya, kenapa memang? Salah?” jawab Mala.
“Dia kan suami kamu, Mal? Mas kek atau apa?” tutur Farah.
“Emas mahal, Far!” tukas Mala. “Sudah aku tidak mau berdebat sama kamu!”
Mala memberikan ponselnya pada Azril. Azril langsung mematikan sambungan telefonnya dengan Farah. Azril dari tadi menahan amarah pada Mala yang semakin semena-mena memanggilnya hanya menggunakan namanya saja. Azril tidak mau Mala menjadi terbiasa memanggilnya seperti itu, takutnya nanti keceplosan di depan kedua orang tuanya, atau orang tua Azril.
“Mala, tunggu!” panggil Azril saat Mala akan masuk ke dalam kamarnya.
“Apalagi sih!” jawab Mala dengan menatap sinis pada Azril. “Apa kamu mau memaksa aku untuk ikut ke Jepang? Jangan harap!” tukas Mala.
“Bisa tidak kalau menyebut aku jangan nama saja? Kamu boleh manggil kau, atau Azril di depanku, tapi jangan di depan orang, Mal!” tutur Azril.
“Memang kenapa? Gak sopan? Untuk apa sih sopan sama orang modelan kamu dan Farah?” jawab Mala tambah nyolot. Lalu langsung meninggalkan Azril ke kamarnya.
Mala mengusap dadanya. Dia merasa bersalah sebetulnya memanggil suaminya dengan tidak sopan seperti itu. Tapi, Mala sangat emosi tadi, apalagi Farah memintanya dengan memaksa untuk ikut ke Jepang.
“Astagfirullah ... maafkan aku Ya Allah, aku gak sopan sekali bicara dengan suamiku,” batin Mala dengan bersandar di pintu kamarnya.
Sedangkan Azril, dia masih meredakan amarahnya. Dia paham Mala seperti itu juga karena dirinya.
__ADS_1
“Benar kata Mala, untuk apa dia bersikap sopan padaku dan Farah yang sudah menyakitinya?” ucap Azril lirih.