
Biar saja Mas Azril menikahi Farah. Aku tidak peduli, tapi aku tetap minta satu syarat padanya. Aku ingin dia tidak menuntutku untuk melakukan hubungan layaknya suami istri lagi. Aku tidak mau disentuhnya lagi, karena percuma saja dia menyentuhku bukan karena dia mencintaiku, tapi itu sebuah tuntutan padaku, karena aku adalah istrinya. Tidak mau aku memasrahkan diriku pada Mas Azril, setelah aku tahu, dan aku mendengar sendiri kalau dia tidak mencintaiku, dia tidak bisa mencintai perempuan lain selain Farah.
“Apa syaratnya, Mala? Katakan!” pinta Mas Azril.
“Syaratnya jangan sentuh aku lagi! Biarkan aku berdosa tidak mau disentuh kamu, karena kita juga sama-sama berdosa, kamu membohongi mama, dan aku tidak mau disentuh kamu. Pas sekali, bukan?” jawabku tegas.
“Syarat apa-apaan ini, Mal?!” geram Mas Azril.
“Ya itu syaratku! Kalau gak mau ya silakan ceraikan aku, dan bilang dengan Mama, kalau kamu sudah menikahi Farah? Selesai, kan? Silakan pilih yang mana! Ceraikan aku, atau jangan lagi kau sentuh aku!” tegasku.
“Mal, aku akan adil! Syaratmu memberatkanku, Mal!”
“Kamu bilang memberatkan syaratku? Terus kamu akan adil? Kalau adil ya kamu cintai aku juga! Itu baru adil! Cinta enggak, mau nyentuh iya! Enak banget, ya? Bohong pula? Sia-sia aku kasih perawanku padamu, Mas!” geramku.
“Mala, aku tidak bisa mencintai orang lain selain Farah, tapi aku janji, aku akan berusaha belajar untuk mencintai kamu, sama seperti aku mencintai Farah!” ucapnnya.
“Belajar? Kamu tahu artinya belajar itu apa? Belajar itu bisa gagal dan berhasil, kalau gagal? Rugi dong? Aku hamil anakmu, terus kamu gak cinta aku? Cinta aku saja enggak? Bagaimana bisa cinta dengan anakku?” jawabku.
Mas Azril terdiam. Mungkin dia sedang mencerna kata-kataku. Aku memang kejam, tapi biar saja. Itu semua karena aku tidak mau menjatuhkan harga diriku lagi. Aku tidak mau mengemis cinta pada suamiku. Biar saja aku berdosa, aku sudah kadung kecewa juga. Kalau tahu begini, secinta apa pun aku dengan Mas Azril, aku tidak akan mau dinikahinya. Iya, aku akui, aku mencintainya sejak pandangan pertama. Sejak dia dikenalkan padaku.
“Aku capek, aku mau tidur! Mulai sekarang, silakan kamu tidur di sini, aku di kamar tamu!” ucapku.
“Apa-apaan kamu, Mal? Kamu mau semua asisten kita tahu kita begini? Nanti mereka bilang sama mama gimana?” ucap Mas Azril.
“Kamu takut, Mas? Bohong selama tiga tahun saja kamu santai, baru begini kamu sudah takut? Kamu mau menikahi Farah, itu artinya dia juga akan tinggal di sini bukan?” jawabku.
“Tidak, biar dia di rumahnya. Aku akan adil, seminggu di sini, seminggu di sana!” ucapnya.
__ADS_1
“Adilnya seperti itu ya percuma!” ucapku sambil berjalan untuk keluar.
“Mau ke mana, Mala?”
“Tidur, di kamar tamu!” jawabku.
Aku meninggalkan Mas Azril, aku ingin sendiri, aku tidak mau melihat Mas Azril lagi, karena kalau aku melihatnya, aku tidak kuat dengan tatapan matanya. Aku takut terhipnotis dengan kelembutannya lagi. Aku tidak mau menyerahkan tubuhku lagi untuk digagahi orang yang tidak menicntaiku, meskipun itu suamiku sendiri. Biar saja aku ini berdosa, karena tidak mau disentuh suamiku. Aku tidak peduli itu, Tuhan juga pasti tahu dengan apa yang aku rasakan saat ini.
Aku sadar, poligami diperbolehkan agama, tapi poligami yang bagaimana dulu? Harus dua belah pihak keluarga tahu. Dari keluargaku dan keluarga Mas Azril harus tahu kalau Mas Azril akan menikah lagi, juga persetujuan keluarg Farah. Sekarang, Mas Azril saja menyembunyikan semua itu dari orang tuanya dan orang tuaku? Apa itu sesuai agama? Meskipun aku mengizinkannya, tetap saja Mas Azril melakukannya sembunyi-sembunyi dari orang tuanya dan orang tuaku.
Kalau saja mama tidak punya sakit yang serius, juga dengan ayah dan bunda yang tidak punya darah tinggi, aku akan jelaskan semuanya. Aku tidak akan menutupi semua ini, dan aku akan meminta cerai dari Mas Azril. Biar saja aku jadi janda, tanpa Mas Azril saja aku bisa menghidupi diriku sendiri?
Mungkin ini sudah nasibku, baru pertama kali jatuh cinta, malah seperti ini jadinya?
Aku masuk ke dalam kamar tamu. Aku rebahkan tubuhku, rasanya lelah sekali dengan semua ini. Ini belum ada sehari, entah besok, dan besoknya lagi akan seperti apa kehidupanku setelah Mas Azril menikahi Farah.
Keadaan Mama sudah membaik, setelah seminggu dirawat di rumah sakit. Mama juga sudah pulang ke rumah. Begitu juga dengan anaknya Mas Azril dan Farah, dia juga sudah sembuh. Sudah satu minggu ini juga aku tidur terpisah dari Mas Azril. Selama seminggu ini, aku berusaha untuk mencari kesibukanku sendiri. Aku banyak-banyak di tempat usahaku, meski aku di sana tidak ada pekerjaan, hanya duduk-duduk saja sambil mengawasi karyawanku. Aku tidak mau terlalu banyak di rumah, karena aku akan merasakan sakit lebih dalam lagi, kalau aku ingat semua tentang tiga bulan yang lalu setelah aku menikah dengan Mas Azril, sungguh itu adalah sebuah kebahagiaan yang sempurna, dan hanya sekejap saja.
Siang ini aku kembali ke tempat kerjaku lagi setelah menjenguk Mama sebentar di rumah Mama. Aku menyibukkan diriku dengan pekerjaanku, sambil mencari ide untuk model baju terbaru. Aku akan melupakan semua yang indah bersama Mas Azril mulai saat ini, karena lusa Mas Azril akan menikahi Farah.
“Mbak Mala, ada yang mencari di depan,” ucap Karyawanku saat aku sedang sibuk menuangkan ide untuk model pakaian baru.
“Siapa?” tanyaku.
“Pak Azril, suami mbak,” jawabnya.
Aku mengernyitkan keningku. Mas Azril? Ngapain datang ke sini? “Bilang sebentar lagi aku keluar,” ucapku.
__ADS_1
“Baik, Mbak,” jawabnya.
Mau apa dia datang ke sini? Aku di sini seharian itu pengin sekali menghindari darinya, tapi kenapa malah dia ke sini sih? Aku menyudahi pekerjaanku, lalu ke depan menemui Mas Azril. Dia duduk di sofa menungguku sambil menikmati kopi yang disuguhkan karyawanku. Memang kalau ada tamu yang menungguku, karyawanku pasti langsung membuatkan teh atau kopi. Aku berjalan mendekatinya, lalu duduk di sebelahnya.
“Ada apa ke sini, Mas?” tanyaku.
“Aku pengin ke sini saja, lihat tempat kerjamu,” jawabnya.
“Oh kirain ada perlu apa?” ucapku.
“Kamu sudah makan?” tanya Mas Azril.
“Sudah, kenapa?” jawabku.
“Aku belum makan, boleh pinjam waktumu sebentar, untuk menemani makan siang di luar?” pinta Mas Azril.
“Oke, aku ambil tas dulu,” jawabku.
Aku iyakan saja. Toh Cuma mengajak makan, tidak mengajak tidur bareng? Meski aku menolak untuk disentuh, bukan berarti aku juga harus menolak untuk diajak makan bareng? Mungkin Mas Azril juga akan bicara penting padaku? Karena tidak biasanya dia mengajak aku makan siang berdua di luar.
Aku pamit dengan karyawanku, kalau aku akan keluar dengan Mas Azril, setelah itu kami berangkat ke restoran.
“Kamu akhir-akhir ini sepertinya sibuk sekali, Mal?” tanya Mas Azril.
“Ya, lumayan sibuk, Mas,” jawabku.
“Kita makan ajak Farah juga, ya? Kita makan di rumah Farah,” ajaknya.
__ADS_1
Aku hanya diam, perlahan aku anggukkan kepalaku. Ini apa-apaan? Aku kira ngajak lunch berdua saja, di restoran? Eh ... malah di rumah Farah? Aku yakin pasti mereka akan membahas soal pernikahan mereka. Karena lusa dia akan menikahi Farah.