Bukan Rindu Yang Terlarang

Bukan Rindu Yang Terlarang
Dua Puluh - Rencana Bulan Madu


__ADS_3

Guratan amarah terlihat di wajah Farah. Aku biarkan saja. Aku memang mengganti password ponselku. Itu adalah tanggal lahir bulan lahir Mala, tanggal lahirku, dan tanggal pernikahanku dengan Mala.


“Sekarang mau ubah begini saja gak bilang sama aku!” cebiknya.


“Iya, maaf. Gak tahu aku pengin ganti password saja,” jawabku. “Lagian kenapa sih? Apa yang dipermasalahkan kalau Passwordku ganti? Yang penting kamu bisa buka-buka dan meneliti, kan?”


Farah diam, ia membukan room chatku dengan Mala. Ia baca semuanya, paling menanyakan dia lagi apa, sudah makan atau  belum. Biar saja, toh Mala istriku juga? Kalau Farah marah ya jelas salah dong? Kecuali Mala bukan istriku.


“Perhatian sekali sama istri pertama?” ucap Farah. “Ya bagaimana pun istri yang dianggap ya lebih diperhatikan,” imbuhnya.


“Sudah gak usah cemburu. Aku perhatian supaya dia tidak menceraikan aku, aku takut sekali Mama kenapa-napa kalau aku sama dia sampai pisah,” ucapku.


“Oh, begitu? Bukan karena sudah ada rasa?” ujar Farah.


“Rasa apa, Farah? Sudah dong, jangan begini? Kamu itu juga istriku, dan kamu tahu aku memperlakukan kamu lebih dari Mala,” ucapku.


“Tapi, aku ini kan istri simpanan? Meski aku pertama kali dinikahi kamu, aku layaknya simpanan, yang selalu kau sembunyikan,” ucapnya.


“Lalu maunya bagaimana? Mau aku tunjukkan pada semuanya? Kalau kamu siap, ayok!” tantangku.


Farah diam. Aku tahu dia begitu takut dengan Mama, apalagi dengan papa. Ya mungkin karena masa lalu dulu, atau kesalahpahaman dulu yang aku tidak tahu. Tapi, aku yakin Farah sudah tahu semuanya, dia menyembunyikannya dariku. Mungkin juga karena dia tidak mau terjadi apa-apa dengan Mama.


“Memang kamu siap, mama kenapa-napa kalau jujur soal aku?” tanya Farah.


“Ya aku gak siap. Sama sekali tidak,” jawabku.


“Aneh kamu, Yah! Gak siap malah nantangin!” ujarnya.

__ADS_1


“Ya daripada kamu marah begini?” ucapku.


“Iya, aku minta maaf. Aku cemburu, cemburu pada Mala. Dia cantik, pintar, dia disayang Mama, dia pilihan Mama, sedangkan aku? Tapi, ya sudahlah, memang takdirnya seperti ini,” ucap Farah.


“Gak usah cemburu, aku menikahi Mala karena Mama, aku tidak mencintainya, Farah,” ungkapku.


“Tapi, kamu bisa melakukannya dengan dia? Padahal gak cinta?” ucap Farah.


“Itu semua karena Mama menginginkan cucu dariku dan Mala,” jawabku.


“Lalu sekarang? Bukankah Mala sudah tidak mau disentuh lagi? Karena itu adalah syarat agar kamu bisa menikahiku?” tanya Farah.


“Iya, itu syaratnya. Kami bahkan sudah pisah kamar, tidak satu kamar lagi. Jadi kamu tidak usah khawatir aku akan mencintainya, hanya kamu perempuan yang aku cintai, Farah. Maaf aku sudah menduakanmu, aku terpaksa,” ucapku.


Farah memelukku. Dia memang yang mengerti keadaanku bagaimana. Mungkin tadi dia merasa cemburu karena aku chat Mala, dan dia marah karena aku mengganti password ponselku.


Farah menurutinya. Dia menggantinya, dia memang sering buka-buka ponselku. Padahal itu adalah privasiku, tapi dari dulu memang seperti itu, aku juga sering membuka-buka ponselnya. Aku dan Farah berpikir untuk saling terbuka dalam hal apa pun, masalah ponsel pun kami saling terbuka. Aku memberikan kebebasan Farah membuka-buka ponselku, pun dengan aku, jadi di dalam ponselku sama sekali tidak ada foto Mala. Adanya hanya foto Farah dan Sefi. Aku menghargai Farah, karena pasti dia akan marah kalau aku menyimpan foto Mala. Meskipun banyak foto Farah dan Sefi, aku tidak bisa menjadikan foto mereka untuk wallpaper ponselku, karena takut ada keluargaku yang melihat.


Berbeda dengan Mala, dia lebih menghargai privasiku. Mungkin karena kami dijodohkan, jadi masalah ponsel adalah privasi masing-masing. Mau ponselku berdering berkali-kali di samping Mala, dia tidak akan menerima panggilan atau membuka-buka pesan.


Tapi, akhir-akhir ini aku sangat merindukan Mala. Jika aku rindu, aku hanya bisa menatap wajahnya di foto yang ada di akun sosial medianya, menatap foto Mala yang ada di atas meja kerjaku di kantor, dan di laptop kerjaku, karena semua foto-foto aku dan Mala ada di dalam laptopku yang ada di kantor, yang selalu aku tinggal di sana. Tidak mungkin Farah akan melihatnya, karena dia sama sekali tidak berani menemuiku di kantor. Jangankan menemuiku di kantor, keluar berdua saja kita diam-diam, dan pakai mobil sendiri kalau masih di dalam kota. Kecuali kami keluar kota, itu pun jarang sekali, karena Mama dan Papa selalu mengawasi gerak-gerikku. Mereka masih curiga kalau aku masih berhubungan dengan Farah.


“Kamu pengin bulan madu ke mana, Sayang?” tanyaku.


“Ke mana, ya?” pikir Farah. “Gimana kalau ke Jepang?” pinta Farah.


“Jepang? Boleh, kapan maunya?” tanyaku.

__ADS_1


“Minggu depan bagaimana? Yang penting ayah sudah fit dulu,” jawabnya.


“Iya sudah, nanti kita bicarakan lagi, ya?” ucapku.


Ke Jepang? Bagaimana caranya aku pamit pada Mala, juga dengan Mama dan Papa? Tapi, mungkin Mala bisalah menutupinya. Nanti kalau dia jawabnya urusan kantor bagaimana? Papa setiap hari juga masih sering cek ke kantor? Kalau tahu aku ke Jepang bukan urusan kantor bagaimana? Apa aku ajak Mala juga? Pasti kan Mama dan Papa gak curiga, kalau aku pergi sama Mala, bilang saja mau liburan dengan Mala?


“Kalau ajak Mala bagaimana?” tanya Farah.


“Ma—Mala diajak?” tanyaku tidak percaya, karena dia seperti tahu apa yang aku pikirkan.


“Ya iya dong, harus ajak Mala? Kalau enggak emang ayah mau ketahuan soal kita? Gak mungkin Ayah bilang ada urusan kantor sama Mala dan lainnya? Toh Papa setiap hari masih ke kantor, kan?” jelas Farah.


“Iya juga sih, kalau aku pamit sama Mala ada pekerjaan di Jepang, tentu dia akan bilang sama Mama dan Papa, nanti malah mereka curiga?” ucapku.


“Makannya ajak Mala, kita susah mau keluar berdua jauh, paling bisanya ke luar kota, itu pun nunggu kamu memang mau keluar kota karena urusan kantor? Kadang juga kita pakai mobil sendiri-sendiri, nanti ketemu di sana?” ucap Farah.


Ya, seperti itulah hubunganku dengan Farah, tertutup dari segala arah, mau pergi bersama keluar kota untuk berlibur saja kadang menunggu aku ada kerjaan di luar kota, bahkan kadang kami pakai mobil sendiri-sendiri, dan bertemu di sana. Hubungan kami penuh perjuangan, tapi kami belum merdeka, karena restu dari Mama dan Papaku belum kami pegang. Mama dan Papa sangat membenci Farah, untung saja Farah sangat pengertian, dan mau menerimaku yang apa adanya seperti ini. Dia mau menerimaku yang selalu diatur dan diawasi Mama dan Papa, karena mereka takut sekali aku sampai berhubungan lagi dengan Farah.


“Iya sudah, nanti aku bicarakan pada Mala, kalau dia gak mau bagaimana?” tanyaku.


“Ya sudah, gak usah ke mana-mana, Yah?” jawab Farah.


“Tapi kamu kan pengin ke sana?”


“Gak apa-apa, gak usah, daripada kita ketahuan sama mama?” jawabnya.


Kasihan sekali Farah, pengin bulan madu denganku ke Jepang, tapi susah sekali karena seperti ini keadaannya.

__ADS_1


__ADS_2