
Tujuh jam berlalu tanpa terjadi apa - apa setelah kejadian di depan kantor tadi pagi .
Luna yang merasa sudah aman menggandeng lengan karin untuk pulang bersama tapi suara Nico asisten jun menghentikan langkah mereka .
" Nona luna, anda di minta menghadap presdir sekarang juga "
" Tapi ini sudah jam pulang kerja, apakah tidak lebih baik besok saja "
" Ini akan membahas tentang kejadian tadi pagi sebelum anda mulai bekerja "
" Habis sudah aku hari ini , bodoh ..bodoh sungguh bodoh "
Luna bergumam pelan mengutuki dirinya sendiri .
Setelah menyuruh karin pulang duluan diapun berjalan mengikuti Nico menuju ruangan presdir.
Luna tau bahwa dirinya tidak akan bisa lepas begitu saja tapi dia tidak tau prosesnya akan secepat itu.
Tok tok !!
Nico mengetuk pintu ruangan besar itu , setelah mendengar suara yang mempersilahkan masuk Nico membuka pintu lantas masuk kedalam, sedangkan luna mengikuti di belakangnya.
" Silahkan duduk "
Luna duduk di sofa yang terletak paling jauh dari sofa panjang yang di duduki Jun.
dia tidak berani menatap wajah presdirnya itu jadi dia terus menunduk .
Luna semakin ketakutan saat Nico meninggalkan dirinya berdua dengan presdir yang terlihat kejam itu.
Luna memelintir ujung tali tasnya untuk mengatasi tubuhnya yang gemetar .
Jun memperhatikan sikap luna sambil tersenyum samar
" Nona luna, apa kau tau apa kesalahanmu? "
" Saya tau presdir, saya sudah merusak pakaian anda tadi pagi tapi saya bersedia mengganti biaya laundrynya "
" Pakaian yang sudah ternoda, aku tidak akan pakai lagi, jadi nona luna apa solusimu ? "
" Kalau boleh tau berapa harga pakaian anda yang harus saya ganti "
" Yang kau rusak tadi pagi adalah kemeja canali dan harganya 58 juta "
Mendengar harga yang begitu mahal , luna yang sedari kemarin hanya makan satu potong sandwichpun pingsan.
__ADS_1
Jun mengambil ponselnya dan menelephone Nico
" Nico siapkan mobil "
Setelah menyuruh asistennya menyiapkan mobil Jun pun membopong Luna keluar dari ruangannya dan masuk ke dalam lift .
kebetulan jam kerja sudah selesai jadi suasana kantor sudah sepi.
Nico yang melihat Jun membopong luna yang pingsan , dia berusaha membantu tapi di tolak oleh jun jadi dia hanya membukakan pintu mobilnya saja dan mempersilahkan jun untuk masuk.
" Presdir apa kita akan membawanya ke rumah sakit "
" Tidak , kita ke Villa ayodya saja , jangan lupa kau panggil Raymond untuk datang"
Sebenarnya Jun bukanlah orang yang perhitungan, tapi mengetahui orang yang merusak pakaiannya adalah luna dia berniat menjahilinya .
Semenjak pertama kali bertemu luna yang tertabrak waktu itu, jun selalu merasa penasaran dengan gadis aneh yang terbaring pingsan di pangkuannya saat ini tapi dia tidak menyangka ucapannya akan membuat gadis ini pingsan .
" Gemana Ray , apa ada sesuatu yang serius ?"
" Tidak , dia hanya terlambat makan.
Apa pacarmu ini sedang diet ?"
Jun mengedikkan bahunya saat mengatakan bahwa gadis itu bukan pacarnya sedangkan dokter raymond hanya tertawa sambil memberikan beberapa bungkus obat lalu diapun pulang.
Waktu menunjukkan pukul satu tengah malam, Jun merasa tubuhnya sangat lelah lalu diapun kembali ke kamarnya dan berbaring di ranjangnya yang besar.
Dia bahkan lupa bahwa luna juga tidur di ranjang itu .
Pukul setengah enam pagi, Jun terbangun dari tidurnya, merasa aneh dengan guling yang dia peluk lantas perlahan membuka selimutnya, dia pun melonjak kaget mendapati seorang gadis yang masih tertidur pulas di sampingnya .
Dia memutar otaknya untuk mengingat kembali apa yang terjadi lalu diapun tersenyum .
Setelah mandi dia mengambil ponsel dan berjalan ke arah balkon untuk menelephone dokter raymond
" Ray , hari ini aku bisa tidur tanpa harus minum obat "
" Benarkah, apa kau tidak mimpi buruk lagi ?"
"Tidak , aku bahkan tertidur pulas sambil memeluk gadis itu "
" Maksudmu gadis yang kelaparan kemarin itu ?"
" Benar, aku lupa kalau gadis itu tidur di ranjangku setelah bangun pagi aku baru menyadarinya"
__ADS_1
" Itu berita bagus, selama ini obat yang ku resepkan hanya mampu membantumu tidur tapi gadis itu bahkan mampu mengusir mimpi buruk yang selalu menghantui tidurmu, bukankah itu solusi yang luar biasa untuk melepaskanmu dari ketergantungan obat lagi "
" Tapi Ray, mungkin itu hanya kebetulan saja karna semalam aku memang sangat kelelahan "
" Kalau begitu kau coba lagi saja untuk memastikannya , sederhana kan ?"
Setelah mengucapkan itu dokter raymond tertawa keras membuat jun menjauhkan ponsel itu dari telinganya sebelum dia menutup panggilan itu.
Perlahan dia berjalan mendekati luna yang masih tidur , menarik kursi lalu duduk di sampingnya .
Jun memperhatikan wajah luna sambil terus berfikir "apa benar gadis ini yang bisa membuatnya tidur tanpa terganggu oleh mimpi buruk ."
Jika benar begitu jun akan menempatkan gadis ini sisinya.
Jun pun melangkah ke arah sofa lalu memainkan gadgetnya.
Luna yang baru bangun merasa bingung saat mendapati dirinya tertidur di ranjang besar dalam kamar yang sangat mewah, matanya menatap berkeliling ke seluruh ruangan.
Saat menyadari dia berada di kamar pria diapun menyingkap selimut yang menutupi tubuhnya lalu menarik nafas lega saat menyadari pakaiannya masih lengkap.
Jun yang duduk di sofa tertawa geli melihat tingkah luna .
" Mandilah , aku akan menunggumu bawah "
Jun meletakkan papper bag berisi pakaian di samping luna lalu dia pun keluar kamar .
Selesai mandi luna menyusul Jun ke lantai bawah , dia menghampiri jun yang melambaikan tangannya di meja makan .
" Makanlah, jangan sampai kau pingsan karna kelaparan seperti kemarin "
Ucapan jun membuat muka putih luna terlihat memerah .
Selesai makan Jun mengajak luna berjalan di taman yang berada di samping vila besar itu , dia pun memikirkan ide untuk melakukan percobaan seperti yang di katakan raymond
" Jadi luna bagaimana kau akan membayar hutangmu yang 58 juta itu "
" Presdir, apa boleh aku membayar hutangku dengan cara potong gaji "
" Luna kau hanya karyawan magang jadi butuh berapa lama kau akan membayar hutangmu ?
Bagaimana kalau kau membayarnya dengan alternatif lain ?"
" Maksud presdir ?"
" Temani aku tidur malam ini dan aku akan menganggap hutangmu lunas "
__ADS_1
Luna yang kaget sontak menarik kakinya mundur dua langkah menjauhi jun.