
" Bruukk "
" Eh maaf ..maaf saya tidak sengaja "
Karin mengangsurkan sebungkus tisu kepada sosok tinggi di depannya , walaupun bekas kopi yang tumpah di kemeja hitam orang yang di tabraknya tidak akan terlalu terlihat tapi karin tetap merasa bersalah .
" Ini kartu nama saya , saya akan mengganti biaya laundrynya "
" karin , kamu karin kan ?"
Karin mengangkat wajahnya lalu menatap sosok menawan di depannya . Setelah cukup lama berusaha mengingat karinpun akhirnya memeluknya dengan erat.
" Jade ...... "
Teriakan karin membuat beberapa orang menengok ke arahnya .
" Anak jaman sekarang sungguh tidak tau malu , siang bolong begini bermesraan di tempat umum "
Seorang wanita setengah baya bertubuh gemuk menggumam sambil mendengus ke arah karin dan jade.
Jade adalah seorang agen intelegen.
terlahir sebagai putri seorang petinggi militer jade di didik dengan sangat keras layaknya seorang pria.
Bukan hanya suaranya yang terdengar berat bahkan melihat nama dan postur tubuhnya yang tinggi , orang tidak akan percaya bahwa jade adalah seorang gadis .
Entah apa yang ada dalam pikiran ayahnya saat menjadikan jade bahkan melupakan gendernya sendiri . melihat luna yang terus menengok keluar jadepun menegurnya
" Apa kau ada janji dengan seseorang ? "
" iya , aku sedang menunggu temanku untuk menonton onward , kita sudah lama tidak bertemu ikutlah bersama kami nonton ya "
Tak berselang lama luna pun tiba , setelah mengenalkan jade pada luna merekapun pergi untuk menonton penayangan perdana film animasi onward . awalnya jade ingin menolak tapi melihat karin terus memaksa sehingga diapun mengikuti ajakan teman masa kecilnya itu .
karin duduk di antara luna dan jade , saat karin sedang serius menonton, luna mencubit lengannya dan membuat karin menoleh ke arahnya .
" Sepertinya posisi kakak ken sudah tergantikan ,tidak di sangka karin kita ini punya pandangan yang bagus tentang lawan jenis "
" Apa maksudmu ? "
luna mengedipkan sebelah matanya lalu memonyongkan bibirnya ke arah kursi sebelah kanan karin ,menengok ke samping, karin mendapati jade sedang memejamkan matanya . sepertinya jade tidak menyukai film animasi dan memilih untuk tidur .
Setelah menyadari maksud ucapan luna, karinpun menjelaskan bahwa jade adalah seorang gadis .
Mendengar ucapan karin, cola yang sedang di minum luna menyembur ke depan mengenai sepasang remaja yang sedang berciuman .
Dua remaja yang merasa terganggu itu pun mengumpat lalu berjalan keluar bioskop dengan sorakan orang - orang di sekitar kursi mereka yang sedari awal sudah merasa risih dengan tingkah kedua remaja itu .
__ADS_1
Karin tertawa geli melihat wajah bersalah luna yang terlihat konyol.
" Haha tenang lun , mereka pantas mendapatkan itu .
eh, jadi bagaimana hubunganmu dengan presdir ? "
" Dia memintaku untuk menikah dengannya "
" lalu , apa kau setuju ?"
" Entahlah lusa aku akan menemui kakek dan bertanya padanya "
" Menurutku sebelum kau menemui kakekmu, pastikan dulu perasaanmu pada presdir itu bagaimana . keputusan yang kau buat akan mempengaruhi hidupmu kedepannya "
Luna mencerna ucapan karin , apa yang di katakan karin memang benar , dia memang mrnyukai jun , hatinya selalu berdebar - debar saat bersamanya tapi menikah adalah hal yang sangat besar, sebuah keputusan sekali dalam seumur hidup yang harus di pikirkan matang - matang .
Sewaktu dia menerima lamaran maria untuk ken dia tidak berfikir terlalu banyak , dia hanya berfikir apa yang di putuskan mendiang ibunya pasti adalah keputusan yang terbaik maka tanpa berfikir diapun setuju .tapi sepertinya takdir berkata lain.
Sepanjang film di putar mereka tidak ada yang serius menonton . luna dan karin sibuk mengobrol sedangkan jade justru tidur dan mengorok . wanita setengah pria itu benar - benar sangat cuek .
Belum sampai jam delapan malam mereka keluar dari gedung bioskop di lantai lima dan turun untuk makan malam dulu sebelum pulang.
Sebelum pesanan makanan mereka datang karin ijin pergi ke toilet dan membiarkan luna dan jade duduk berduaan saling berhadap - hadapan .
Jade menatap luna dengan intens , gadis di depannya ini begitu cantik , kulitnya seputih kristal dan sorot matanya yang berwarna teh sangat jernih dan murni, jade menyungingkan senyum samarnya bahkan dia yang seorang gadispun tertarik pada luna apalagi para pria , tak jauh dari tempat itu delapan pasang mata melihat ke arah mereka dengan berbagai ekspresi
" Iya benar ,orang itu adalah luna , tapi siapa pria tampan yang bersamanya itu? "
Leon menanggapi ucapan nico tanpa menoleh ke arah jun dan raymond . delapan pasang mata itu masih memandang tajam ke arah luna dan jade .
" kraaak "
Saat melihat jade membetulkan rambut luna, tanpa sadar tangan jun meremas gelas piala yang di pegangnya hingga retak . baru juga beberapa hari lalu dia mengajak luna untuk menikah tapi gadis itu berani - beraninya keluar untuk berkencan dengan pria lain .
Mendengar bunyi gelas yang retak ketiga teman jun yang kagetpun menatap ke arahnya.
"Kalau kau menyukainya maka kejarlah, tidak ada gunanya kau cemburu dan marah - marah di sini, rivalmu kali ini sepertinya cukup berat"
Leon menepuk pundak jun .
Saat jun ingin berdiri dan menghampiri luna dan jade , tiba - tiba karin datang dan duduk di sebelah luna .
Mengetahui bahwa mereka datang bertiga perasaan jun pun mulai membaik .
" Mungkin tidak seperti yang kita pikirkan "
Raymond melirik ke arah jun yang wajahnya tidak lagi tegang , sementara Nico dan leon hanya tersenyum lalu menyantap makanannya.
__ADS_1
Hari berikutnya jun sengaja memanggil luna ke ruangannya menjelang jam pulang kantor.
Dia ingin menanyakan tentang lamarannya beberapa hari lalu .
Setelah melihat jade dan luna malam itu jun tidak ingin membuang waktu dan memberi kesempatan pada pria lain .
walaupun ada karin di antara luna dan jade tapi jun bisa melihat tatapan jade selalu terarah pada luna dan itu membuatnya merasa tidak senang .
andai jun tau bahwa jade adalah seorang gadis pasti dia tidak akan merasa sekhawatir itu .
" Duduklah "
jun membawa dua botol jus dan membetikan satunya pada luna .
" Soal lamaranku waktu itu , apa kau sudah memikirkannya "
" Sudah "
" Lalu apa aku bisa dapat jawabannya sekarang ?"
" Presdir , menikah adalah hal besar sebaiknya kita lebih dulu bicarakan ini dengan kakek"
" Maksudku memanggilmu sekarang adalah untuk mengajakmu menemui kakekmu . tapi sebelum bertemu dengannya aku ingin tau jawabanmu terlebih dahulu agar aku merasa yakin . apa kau bersedia menikah denganku ?"
Jun menggenggam jari luna dengan kuat , matanya menatap luna sangat dalam dengan sorot penuh harap . saat melihat luna mengangguk jun merasa dunianya terasa berhenti dia memeluk luna dengan sangat erat .
Di perjalanan menuju mansion ferdinand tangan kiri jun beberapa kali menggengam jari luna tapi luna terus saja menyuruh jun untuk focus menyetir
" kemarin malam kau kemana ?"
" Pergi nonton film dengan karin "
" Hanya berdua ?"
" Tidak kami bertemu jade temannya karin lalu kami nonton bersama"
Luna menoleh ke arah jun , dia merasa heran kenapa pertanyaan pria itu terlihat seperti mencurigainnya . apa dia melihat mereka ?
menyadari tatapan luna jun menoleh sebentar lalu tersenyum .
Dalam hati jun berfikir walaupun itu temannya karin tapi melihat jade yang terus menatap luna bukan tidak mungkin jade juga menyukai luna .
Setengah jam kemudian mereka sampai ke mansion ferdinand .
Jun tidak menyangka luna yang terlihat sederhana ternyata memilki seorang kakek yang sangat kaya .
Sebelumnya luna sudah menelfon kakeknya bahwa dia akan datang sehingga begitu dia sampai pelayan sudah menyambutnya.
__ADS_1
Begitu memasuki ruang tamu , ferdinand sudah menunggu luna dengan senyum lebarnya .