Calon istri kakak ku

Calon istri kakak ku
Malam ini saja


__ADS_3

" Presdir , anda pasti sudah gila "


Luna berniat untuk pergi meninggalkan Jun yang menurutnya sangat tidak masuk akal .


" Tunggu Luna, kau jangan salah faham, aku tidak akan melakukan hal yang kau pikirkan itu "


Mendengar ucapan Jun lunapun menghentikan langkahnya lalu jun mengajaknya duduk di rumput jepang yang terhampar di sepanjang taman


Setelah menghela nafas cukup panjang jun melanjutkan ucapannya.


" Aku menderita Insomnia selama bertahun - tahun .


Selama ini aku mengandalkan obat untuk membantuku tidur, tapi kemarin secara tidak sengaja aku lupa kalau kau sedang tidur di ranjangku dan akupun tidur di ranjang yang sama , saat bangun pagi aku baru menyadari bahwa aku tertidur di sampingmu tanpa meminum obat dan aku juga tidak mengalami mimpi buruk "


" Jadi maksud presdir saya hanya perlu menemani tidur di samping presdir saja kan ?"


" Memangnya apalagi yang kau harapkan ?


apa kau punya pikiran kotor ?


Kau ini mesum sekali "


Luna yang terjebak dengan pertanyaannya sendiri merasakan wahahnya memanas, dia sungguh merasa sangat malu tapi dia akhirnya menyetujui usulan Jun setelah dia yakin bahwa dirinya tidak akan mampu membayar hutangnya.


Saat ibu tirinya menelfon Luna mengatakan bahwa dia sedang berada di luar kota untuk tugas kantor dan akan pulang besok .


Sebenarnya ibeth tidak akan peduli luna mati atau hidup kalau saja dalam surat wasiat yang di tinggalkan suaminya tidak menyebutkan bahwa jika suaminya meninggal dia akan mendapatkan 25 % dari warisannya , Itupun setelah luna menikah.


Itulah mengapa dia terus saja memaksa luna menikah.


Dia berfikir setelah luna menikah pengacara akan menyerahkan surat warisan itu kepadanya lalu dia akan membuat alasan bahwa harta warisan ayahnya habis untuk biaya pernikahan luna lalu menguasai semuanya sendiri .



Sedari kemarin pagi para asisten rumah tangga di rumah Jun sudah saling berbisik satu sama lain saat melihat tuan muda mereka membawa pulang seorang gadis bahkan tidur dalam satu kamar .

__ADS_1


Selama ini mereka hanya melihat para pria saja yang datang berkunjung ke vila ayodya hal itu membuat beberapa diantara mereka menganggap tuan muda mereka punya ketertarikan yang berbeda .


Melihat Luna dan Jun yang sekarang duduk berduaan di ruang tamu , para asisten rumah tangga itupun menyadari bahwa tuan muda mereka masih lah normal.


" Apa kau ingin keluar untuk makan malam ?"


Jun menatap lembut ke arah luna


" Tidak perlu presdir , saya sudah makan terlalu banyak, perut saya tidak akan mampu menampung makanan lagi "


" Kalau begitu ayo kita nonton "


" Baiklah presdir, saya akan ganti baju dulu "


" Tidak perlu, kita akan nonton di kamar "


Melihat luna yang berdiri bengong Jun pun menarik lengannya menuju kamar mereka di lantai dua.


Sesampainya di kamar Jun mengambil ponselnya untuk di koneksikan ke smart tv besar di depan ranjangnya .


" Kemarilah kita akan menonton film horor lama a hounted house "


Luna yang penasaran dengan film bergenre horror dan misteri pun bergegas naik ke ranjang, dengan harap - harap cemas dia menanti seberapa ngeri film yang walaupun tergolong film lama tapi dia belum pernah menontonnya .


Setelah hampir dua jam dia menonton film itu dia merasa bahwa film itu lebih cocok di bilang film komedi daripada horror .


" Presdir , anda yakin ini film horor bukan film komedi ?"


Menyadari pertanyaannya di abaikan luna pun menoleh ke samping dan mendapati Jun sudah tertidur dengan pulas.


Dia menatap pria tampan itu sekilas lalu menarik selimut hingga ke dada pria itu .


Setelah mematikan tv dia pun ikut tidur di samping pria itu


Paginya Luna yang lebih dulu bangun langsung mandi dan pergi meninggalkan villa ayodya untuk pulang.

__ADS_1


Tidak lupa dia menuliskan memo untuk Jun .


Begitu bangun Jun langsung melihat memo luna yang tertempel di led tv , Jun pun bergegas menelfone Raymond .


Raymond yang baru keluar dari ruang operasi bergegas mengangkat ponselnya.


" Ray, Semalam luna tidur di sampingku dan aku bisa tidur nyenyak tanpa mimpi"


" Kalau begitu , kau menikah saja dengannya "


Raymond menanggapi ucapan jun dengan santai .


Sedangkan jun yang di ujung telfon menutup panggilannya dengan kesal.


Dua hari kemudian Jun berangkat ke kantor lebih pagi .


Nico bahkan mandi secepat kilat begitu menerima telfon dari boss nya itu .


Setibanya di kantor jun langsung menuju ke bagian humas membuat semua karyawan yang melihatnya gelagapan melihat presdir mereka datang tiba - tiba.


Nindi yang merupakan kepala bagian humas , menyambut Jun dan Nico dengan senyum sumringah .


" Selamat pagi Presdir , Maaf kami tidak tau kalau presdir akan hadir di sini sepagi ini , apakah ada yang bisa saya bantu ?"


Suara Nindi terlihat sedikit di buat - buat membuat karin dan beberapa karyawan yang lain merasa jengah .


Jun melihat sekeliling dan hanya mendapati beberapa orang saja yang sudah datang


" Apakah hari ini banyak yang datang terlambat ? "


" Tidak presdir , ini masih terlalu pagi , biasanya karyawan sudah ready di kantor 30 menit sebelum jam kerja "


Nindi menanggapi pertanyaan Jun dengan genit sambil terus menebar senyum yang berlebihan .


Jun melihat jam di pergelangan tangannya yang menunjukkan pukul 7 pagi , dia pun melangkah pergi menuju ruangannya .

__ADS_1


__ADS_2