Calon Suami ku Gila

Calon Suami ku Gila
Tubuhku menghangat


__ADS_3

Setelah selesai kuliah Diana pulang jalan kaki, tetapi ia tidak pulang ke rumahnya melainkan pulang menuju apartemen nya, ia sedang tidak ingin bertemu dengan orang tuanya.


Iya berjalan sambil menunduk, benar-benar nasibnya begitu buruk, tapi entah kenapa hari ini Diana malah merindukan Julian membentak dan juga rindu Julian memaksa-maksa dirinya melakukan sesuatu.


Sementara itu Julian sebenarnya dari tadi terus mengikuti Max, kemana pun Max pergi sedangkan Max tidak sama sekali menyadari kehadiran Julian, hari sudah mulai Siang matahari telah berada tepat di atas kepala.


Dan kesempatan membunuh pun sudah di depan mata, dimana kini Max tengah mengendarai mobilnya di dekat jurang yang sepi, dengan cepat Julian menyalip mobil Max dan berhenti di depannya.


Dengan marah Max keluar dari mobilnya menghampiri mobil Julian, sementara Julian hanya tersenyum di dalam mobil.


Max menggedor kaca mobil Julian dengan kasar, Julian pun turun dari mobilnya dengan santai tak lupa dengan senyum yang selalu ia tampil kan di wajah tampannya itu.


"Lu gila yah?" bentak Max sambil menatap tajam Julian.


"Saya tidak gila, saya hanya lebih waras dari orang normal pada umumnya," santai Julian sambil menatap Max dengan tatapan meledek.


"Kau siapa? " tegas Max.


"Perkenalkan, saya adalah malaikat pencabut nyawa mu," balas Julian menyeramkan, tiba-tiba suasana di sana mendadak mencekam dan mengerikan.


Max merasa kan hawa dingin dari Julian, Max berniat meninggalkan Julian, tetapi Julian malah menarik Max menuju arah jurang.


Max mencoba melawannya, namun tidak bisa sekarang mereka sudah berada di pinggiran jurang.


"Apa salah ku pada mu?" ucap Max.


"Salah mu adalah, kau telah menggangu apa yang sudah menjadi milikku, " ucap Julian tepat di telinga Max.


"Aku tidak mengerti maksud diri mu?" Max tak tau apa yang Julian katakan.


"Agghh," teriak Max, kesakitan karena kakinya di patahkan oleh Julian, Max tidak bisa berdiri.


"Kau gila?" sambung Max.

__ADS_1


"Aku kan sudah bilang, aku normal. Mungkin saja lebih normal daripada anda," sinis Julian lalu ia mengeluarkan pisau yang selalu ia gunakan untuk membunuh orang.


Mata Max semakin membulat ia ingin kabur tapi tidak bisa karena kakinya sakit dan juga ia selalu di pegang oleh Julian, di tambah lagi Julian sangat kuat.


"Siapa sebenarnya milik mu itu?" tanya Max.


"Adik mu, dia adalah milik ku, dan kau malah membuat apa yang sudah menjadi milikku terluka, kau harus tanggung akibatnya, " ucap Julian sambil menyeringai dan menusuk perut Max.


"Argghhh, " teriak Max, Max tak tau kalau Diana punya orang seperti Julian saat ini, kalau saja ia tau mungkin ia tidak akan menghampiri Diana lagi.


Saat Julian mencabut pisau nya ia langsung menusuk kembali kepala Max, sekarang sudah tak ada lagi teriakan dari Max, karena Max sudah tidak lagi bernafas, lagi-lagi ia memenggal kepala Max dan memasukan ke dalam karung.


Setelah itu Julian tersenyum kemenangan melihat Max sudah hancur, untuk menghilangkan sidik jari dan kecurigaan, Julian menjatuhkan mobil Max kedalam jurang dan terjatuh tepat di samping Max, lalu ia membakar mobilnya.


Setelah itu ia dengan santai nya meninggalkan itu semua, dan pergi dari sana menuju apartemen Diana, ia tau jika gadis nya itu akan berada di sana, bukan di rumahnya.


Setelah sampai di apartemen ia mengganti baju terlebih dahulu di dalam mobilnya, karena baju yang tadi ia gunakan banyak darahnya, setelah selesai ia turun dari mobil dan membawa tasnya.


Diana terkejut melihat Julian yang sudah berada di pintu nya, Julian berjalan mendekat ke arah Diana yang tengah terduduk di sofa.


"Tuh hadiah baby, " ucap Julian sambil melemparkan tasnya ke arah Diana, tak lupa dengan senyum tipis yang menyeramkan nya itu.


Saat Julian masuk ke dalam ruangan itu, membuat aura dingin dari Julian menyebar dan membuat bulu kuduk Diana meremang seketika.


Mata Diana berbalik menatap tas yang di lemparkan Julian, ia benar-benar tidak berniat membukanya, karena ia tau apa yang akan di berikan Julian, itu pasti potongan manusia atau kalau bukan potongan manusia pasti isinya hal yang menjijikkan dan sangat mengerikan.


"Kenapa kau hanya menatapnya? Kau tidak berniat membukanya?" tanya Julian datar, sambil duduk di kasur dan menghadap Diana.


"Tidak, aku tidak tertarik, " malas Diana sambil memutar bola matanya malas.


"Kau tidak penasaran siapa yang ku bunuh tadi? Ah sudah lah kalau tidak mau, padahal jika kamu tau kau akan senang loh, " ucap Julian.


"Memangnya siapa yang kau bunuh? "tanya Diana sambil menatap ke arah Julian dengan tatapan selidik.

__ADS_1


"Kakak mu, " santai Julian sambil tersenyum tipis.


Diana membulat kan matanya tajam, mendengar apa yang di lontar kan oleh Julian membuat ia antara senang dan takut, senang karena kakaknya sudah tidak ada dan takut kalau Julia juga membunuh orang tuanya.


"Kau hanya membunuh Max saja kan?" tanya Diana dengan penuh selidik.


"Lalu memangnya siapa lagi yang akan ku bunuh?" tanya Julian datar.


"Kau tidak membunuh ibuku kan?" tanya Diana penuh harap.


"Tidak, aku tak mau melakukan itu, rasanya membosankan membunuh orang lemah seperti ibumu, lagian aku tau rasanya kehilangan ibu tuh bagaimana," balas Julian datar, agak tidak nyambung sih balasan Julian, tapi emang itu yang Julian katakan pada Diana.


Diana bernafas lega mendengar Julian hanya membunuh Max, namun ada hal yang kini berkecamuk dalam pikirannya tentang ucapan Julian.


"Bukannya Julian masih punya keluarga, tapi kenapa ia bilang kalau ia tau rasanya jika di tinggalkan oleh orang tua, ah bisa gila aku jika terus memikirkan kehidupan Julian yang begitu rumit," batin Diana.


"Sudah lah aku capek," ucap Julian sambil berjalan mendekati Diana dan menarik Diana untuk tidur bersama nya di kasur.


"Lepas!" teriak Diana, sambil berusaha keras melepas genggaman tangan Julian.


"Tidak akan ku lepas," datar Julian sambil menjatuhkan tubuh Diana ke kasur lalu setelah itu, Julian tidur di samping Diana sambil memeluk tubuh Diana dengan erat.


"Kau kenapa sih? Lepasin gak! Aku tidak mau tidur dengan posisi seperti ini," Diana berusaha melepaskan pelukan Julian.


"Kau menolak nya?" tanya Julian dingin


Diana benar-benar tidak bisa menolak keinginan Julian karena takut, tetapi sebenarnya di hati paling dalam Diana ia malah senang dengan posisinya.


Diana bahkan bisa merasakan nafas hangat di kepalanya, Diana berbalik ke hadapan Julian lalu membalas pelukan Julian.


Tanpa sadar Julian merasakan kehangatan dalam tubuhnya, ia belum pernah merasakan rasa hangat pada tubuhnya seperti saat ini, Julian bisa merasakan aura hangat yang di alirkan dari tubuh Diana.


Kini Julian menaruh dagunya di atas kepala Diana, sambil tersenyum, dan memejamkan matanya, begitu pula dengan Diana yang kini sudah menutup matanya.

__ADS_1


__ADS_2