
Selamat membaca 😍😘
Tiga hari Diana tidak melihat Julian, bahkan tidak ada pesan dari Julian untuk nya, entah kenapa ia malah rindu pada Julian, bukannya dulu ia ingin sekali lepas dari Julian.
Pikirannya kacau, di rumah, orang tuanya selalu menilai semua perbuatan diana itu salah di matanya, apalagi setelah kepergian Max kakaknya, yang orang ketahui Max mati karena kecelakaan.
Hasil otopsi juga mengatakan kalau Max negatif menggunakan narkoba, jadi semua orang percaya kalau itu ril kecelakaan.
Jasadnya Max pun sudah menjadi abu, membuat orang tidak bisa meneruskan masalah nya lebih serius.
Saat orang tua Diana melaporkan itu ke polisi, Diana menjadi sedikit takut, ia takut kalau polisi tau kenapa Max bisa mati, namun untung nya Julian sangat rapi menutupi sidik jarinya, membuat Diana tenang.
Diana tidak berada di rumah melainkan di apartemen bersama Cherly, mereka tengah dengan asik nya meminum sebotol wine.
"Hahaha, lucu banget yah hidup ini, " ucap Diana sambil tertawa lepas, dan setengah sadar.
"Iya lucu banget, " balas Cherly yang juga setengah sadar.
"Lu tau gak, gue suka sama orang yang awalnya bahkan gue benci, dan berharap gak berhubungan lagi dengan nya, " lanjut Diana, sambil tersenyum tipis.
"Emang kadang cinta itu bisa bikin kita gila yah, " balas Cherly.
"Terus sekarang, gue malah rindu ama dia," ucap diana dengan mimik muka sedih.
"Apa mungkin yah?, seorang malaikat, eh bukan malaikat seorang iblis, tapi dia juga bukan iblis sih, apa yah? , " sambung diana sambil berpikir dan menatap ke atas.
"Manusia ****, " saut Cherly sambil tertawa.
"Ha itu iya, manusia namun sifatnya kaya iblis dan mukanya kaya pangeran, namun kadang juga senyum nya kaya malaikat, " ucap Diana dengan mata yang berbinar, dan menunjuk ke arah Cherly, sambil tersenyum.
"borong aja terus, ".
"Apa mungkin yah dia suka sama gue yang hanya seorang sampah? , " sambung Diana penuh dramatis.
"Yeh, jangan salah hari gini mah sampah bisa di daur ulang kali, bahkan bisa lebih berharga dari berlian, " balas Cherly sambil kembali meminum wine yang berada di gelas sampai tandas.
"Ah iya juga yah, " ujar Diana sambil mengangguk dan tersenyum.
__ADS_1
"Tapi tergantung sih, lu sampah nya sampah apa, organik apa anorganik, kalau organik di olah juga pasti cuman buat pupuk, " balas Cherly sambil tertawa lepas.
"Ah iya juga yah, " balas Diana sambil berpikir.
"Biarin lah mau sampah apa juga, " sambung Diana.
Waktu sudah menunjukkan pukul 12 malam, dan ternyata Diana dan Cherly juga sudah tertidur di sofa, setelah meminum banyak wine kepala mereka pusing dan akhirnya ketiduran di sana, walau pada awalnya Cherly berniat untuk tidak menginap di sana.
Tak lama setelah mereka tertidur ternyata ada seorang lelaki yang sudah berada di depan pintu apartemen, dengan berbagai banyak luka di mukanya.
Lelaki itu menatap wajah gadisnya dengan ekspresi yang tidak bisa di tebak sama sekali, kini lelaki itu berjalan menuju sofa tempat gadisnya tertidur, ia langsung memindahkan gadisnya ke kasur.
Ia langsung menidurkan kembali gadisnya, dan kini ia menarik selimut dan menyelimuti gadisnya perlahan.
"Aku memang tidak punya hati, namun aku tetap bisa merasa rindu," ucap lelaki itu pelan tepat di telinga gadisnya.
Ia mencium kening, pipi, dan juga bibir gadisnya sebelum kembali pergi meninggalkan gadisnya di sana.
_______
Matahari sudah terbit membuat mata gadis yang sedang tertidur terpaksa membuka matanya, karena silau.
"Demi apa?, ini udah pagi aja, " teriak Cherly yang langsung turun dari sofa.
"Ah iya juga yah, " ucap Diana yang juga baru sadar kalau ini sudah pagi.
Karena semalam ia tidak sadar jadi ia tidak tau kalau sebenarnya ia semalam bukan tidur di kasur, namun ada hal yang aneh dalam diri Diana saat ini.
Entah kenapa ia semalam seperti melihat Julian masuk ke kamarnya, dan mencium ia, namun Julian malah pergi kembali, dan kini rasa rindunya tidak seperti kemarin kemarin lagi, ia merasa sedikit terobati, berkat mimpinya.
Diana di atas kasur malah senyum-senyum sendiri memikirkan mimpinya, sedangkan Cherly sekarang mendekati Diana, dan menatap Diana dengan tatapan aneh.
Cherly meletakan punggung tangannya di kening Diana membuat Diana dengan refleks menatap heran.
"Lu gak panas kan, " tanya Cherly sambil melepaskan kembali tangannya.
"Gak ****, " sinis Diana, ia kesal karena Cherly menggangu ia melamun.
__ADS_1
"Ah bagus deh, kalau gitu, gue pulang yah bay, " teriak Cherly sambil berjalan keluar dari apartemen Diana.
Yang hanya di balas senyuman terpaksa oleh Diana.
Diana turun dari kasurnya, dan berjalan ke kamar mandinya untuk mandi dan ganti baju, karena hari ini ada kelas pagi, setelah selesai, mandi dan mengganti bajunya.
Ia keluar dari kamar mandinya sambil bernyanyi dan joget joget gak jelas, ia bernyanyi boy with love, ia memang suka kpop apalagi BTS, iya ngefans sama V, menurutnya si v itu wajahnya kaya pangeran pangeran dari cerita dongeng.
Namun alangkah terkejutnya ketika ia melihat ke arah sofa, ia melihat seorang lelaki yang selama ini ia tunggu ke hadirin nya, Diana tersenyum bodoh sambil menatap Julian.
Sedangkan Julian hanya menatap Diana datar, tak ada ekspresi apapun di muka Julian, membuat Diana kesal, kini ia menghampiri Julian.
"Kemana aja? " tanya Diana sambil menatap Julian seperti orang yang akan menginterogasi.
"Kepo, " jawab Julian datar.
"Bentar, muka kamu kenapa? " tanya Diana yang sadar kalau muka Julian banyak luka, Diana berjalan mengambil kotak obat.
"Apaan sih, lebay cuman gini doang kok, " santai Julian sambil melihat Diana yang mengambil kotak P3K.
"Kalau di biarin nanti infeksi, " jelas Diana yang Sudah mengambil kotak itu, kini ia duduk di samping Julian sambil membuka kotaknya, dan mengobati luka yang berada di muka Julian.
Diana menempelkan plester di pelipis Julian.
"Udah, " ucap Diana sambil tersenyum menatap Julian.
"Makasih, " datar Julian sambil memalingkan wajahnya ke depan.
Membuat Diana sedikit kesal, ia pikir setelah tiga hari mereka tidak bisa bertemu, Julian akan sedikit manis untuk melepaskan rindu, namun seperti nya Diana memang hanya terlalu berharap pada lelaki yang tidak bisa di tebak itu.
"Ah sudah lah, " gumam Diana pelan.
Namun Julian masih bisa mendengar nya, ternyata bukan hanya tatapannya saja yang tajam, pendengaran nya juga tajam.
Julian diam diam mengembangkan senyumannya, sambil menatap ke depan, ia tau kalau sekarang diana pasti kesal karena nya.
Julian mendekatkan bibirnya ke telinga Diana, "Biarpun aku tidak punya hati, aku tetap bisa rindu kok beby, kamu tenang saja, " ucap Julian.
__ADS_1
Diana benar-benar di buat mati rasa, jantungnya berasa akan keluar dari tempatnya, namun tak bisa di pungkiri kini diana bahagia mendengar ucapan itu.