
...perasaan yang sama sekali aku tak...
... mengerti, bagaimana aku bisa seperti ini,...
...sedangkan hati ku pun tidak ada, apa...
...memang kekuatan cinta itu...
...benar-benar luar biasa...
selamat membaca😍😍
Julian kembali ke tempat semalam di mana ia bertarung dan membunuh mangsanya.
Saat Diana sadar kalau ini adalah tempat dimana semalam ia melihat Julian membakar seseorang, Diana menatap Julian tidak percaya, ada beberapa kemungkinan di otak Diana saat ini.
"Apa gue bakal mati hari ini yah? Arghh gue belum siap mati," batinnya Diana kembali menggerutu.
"Turun!" suruh Julian dengan suara setelah berteriak.
Membuat Diana dengan cepat keluar dari mobilnya.
Diana benar-benar sangat takut bahkan otak nya sama sekali tidak bisa berjalan, namun tiba-tiba saja Julian menarik Diana masuk ke dalam bangunan tersebut membuat Diana semakin ketakutan.
"Ah jangan-jangan gue mau di bunuh di dalam lagi, " batin Diana, ia benar-benar pasrah dengan nasibnya, mungkin ini memang sudah takdir.
Diana malah terkejut ketika ia masuk ke dalam bangunan itu, ternyata di sana banyak sekali umat manusia yang sendang tertawa ria.
Membuat Diana sedikit tenang, setidaknya Julian masih sedikit waras karena tidak mungkin ia akan membunuh Diana di tempat banyak orang, bisa di tembak mati ama polisi kalau begitu mah.
Julian menarik Diana ke tempat kemarin, di kamar khusus nya, entah perasaan aneh macam apa yang di rasakan Julian.
Bagaimana mungkin ia tetap membiarkan orang yang bahkan selalu membuatnya jengkel tiap hari, padahal biasanya ia akan membunuh orang yang hanya menatap matanya dengan tatapan yang tidak ia suka.
Lalu kenapa ia tetap membiarkan Diana hidup walau Diana bahkan sudah berani menghina dirinya. Ada jiwa lain di tubuh Julian yang tetap menginginkan Diana hidup dan terus berada di sampingnya.
Bahkan kini ia sendiri benci dengan perasaan itu, entah kenapa selalu ada sisi lain yang seolah-olah menahan dirinya untuk menjaga dan tidak menyakiti Diana.
Julian menutup pintu kamar dan ternyata di sana ada Kris temannya.
Diana memperhatikan setiap inci kamar tersebut.
__ADS_1
"Wih bawa cewek luh, mau lu buat mainan lagi?" tanya Kris yang datang menghampiri nya.
Namun tiba-tiba Julian marah, ia menarik kerah baju Kris membuat Kris tertarik oleh nya, dengan tatapan tajamnya menatap Kris membuat Kris ketakutan.
"Sekali lu bilang lagi kayak gitu gue gak akan segan-segan bunuh lu, dan kasih mayat lu sama peliharaan gue," bentak Julian, setelah itu Julian melepaskan tangannya dan menepuk punggung Kris perlahan beberapa kali.
Kris memang tau jika Julian adalah seorang Psikopat, ia juga tau kalau Julian memiliki 3 singa, namun ia tidak tau kalau yang Julian bawa ke tempat ini bukanlah pemuas nafsunya.
Karena biasanya Julian akan membawa wanita jalang ketempat itu lalu setelah memuaskan hasrat nya Julian akan langsung membunuhnya, begitulah seorang Julian, membunuh orang dengan mudahnya kaya membunuh semut aja.
Kini kris pergi meninggalkan Julian dan Diana di tempat itu, ia benar-benar takut akan sosok Julian, bisa saja kan Julian akan membunuhnya.
Namun Diana masih tidak percaya dengan apa yang ia dengar barusan, ia bahkan tengah berdiri tak bergeming di tempatnya.
"Apa jangan-jangan, terus singa itu apa?" batinnya, namun ia lagi-lagi membuang pemikiran negatif di otaknya, setidaknya hanya dengan cara seperti itu, yang bisa membuat ia sedikit tenang.
"Biasa aja kali, lu tunggu gue di sini," titah Julian, sambil pergi menyimpan tasnya di kasur.
Lalu ia mengeluarkan masker hitam dari tasnya, sebelum akhirnya pergi meninggalkan Diana sendiri, namun sebelum pergi ia menatap Diana seperkian detik, walaupun sebentar itu mampu membuat Diana merinding, menurut Diana itu adalah kilatan yang menyeramkan.
Setelah Julian pergi, ia berjalan menuju kasur dan merebahkan badannya di sana, rasanya sangat sakit sekali badannya saat ini, namun Diana langsung di kejutkan oleh Kris yang masuk ke tempat itu membuat Diana langsung duduk dan menatap bingung pada Kris.
"Hay, kenalin gue Kris" sapa Kris, yang kini duduk di samping Diana.
"Lu siapanya Julian sih?" tanya Kris, dengan tatapan mata seperti orang yang sedang menginterogasi saja.
Diana berpikir sejenak, kalau ia tidak mengaku pacarnya Julian ia takut nanti Julian mendengar nya, tapi kalau ia sebut pacarnya Julian ia tidak pernah di perlakukan seperti pacar oleh julian,ah sudahlah.
"Pacar," jawab Diana malu-malu.
Namun reaksi Kris malah sangat mengejutkan, ia malah tertawa seakan meremehkan, dan itu berhasil membuat Diana mengerut kan keningnya.
"Kenapa ketawa? " kesal Diana, namun ia berusaha menahan rasa kesalnya.
"Jangan halu deh, Julian itu hanya akan menjadi kan kamu sebagai pemuas nya saja, dasar polos, " jawab Kris sambil cekikikan.
Diana benar-benar kesal, apa iya Julian hanya akan menjadikan ia sebagai pemuas nafsunya, tapi kalau emang iya kenapa tidak dari kemarin-kemarin saja Julian melakukan nya, bukankan itu lebih bagus, bahkan ia selalu melihat tatapan Julian yang menahan dirinya sendiri untuk tidak berbuat apa-apa padanya.
Jika hanya mencium bibir kan, itu bukan hanya pemuas nafsunya, ah kini pikirannya semakin bingung bisa-bisa kalau terus memikirkan itu kepalanya akan meledak berkeping-keping.
"Kenapa bengong?" tanya kris sambil mengagetkan Diana yang sedangkan bengong.
Diana refleks menatap ke arah Kris.
__ADS_1
"Eh lu cantik deh, nanti kalau misalnya lu selamat setelah berhubungan sama julian lu langsung hubungin gue yah, gue juga bakal pakai jasa luh, " ucap Kris genit.
D**eg
Ia tidak percaya kalau ia akan di sangka sebagai wanita pelacur, apa memang penampilannya seperti pelacur, tapi tidak kok.
Tidak ada jawaban dari mulut Diana ia hanya tengah melamun mendengar ocehan tidak jelas dari mulut Kris. Seperti nya ia masih belum paham dengan ucapan Julian tadi padanya.
"Udah pernah tidur sama berapa orang lu?" tanya Kris kembali.
Mata Diana semakin memanas, namun ia berusaha keras untuk tidak menjatuhkan air matanya, namun seperti nya Kris tidak mau berhenti merendahkan Diana.
"Kenapa tuli? Atau bisu? Dari tadi juga lu diam mulu, harusnya lu itu banyak ngomong sekarang jangan diem aja, bentar lagi kan lu mati, " ucapnya dengan nada agak keras, membuat Diana tidak tahan, sampai ia menjatuhkan air matanya.
"Lah nangis lagi, " ejek Kris.
Diana menangis tanpa bersuara, ia hanya menangis dan menundukkan kepalanya.
"Cengeng lu, jadi cewek tuh jangan sombong kenapa sih, jangan cengeng juga, " bentak Kris yang kesal, karena ia dari tadi di kacangin mulu.
Diana berdiri ia sudah tidak bisa menahan amarah nya yang sudah naik ke ubun-ubun.
"Lu gak pantas bilang gue pelacur, " bentak Diana dengan suara agak serak sambil menunjuk ke arah muka Kris.
Kini Kris tersenyum miring sambil ikut berdiri di hadapan Diana.
"Pekerjaan lu emang buat hibur om om kan?" balasnya dengan nada santai, sambil tersenyum meremehkan Diana.
"Brengsek lu yah," teriak Diana.
Plak
Diana di tampar keras oleh Kris membuat pipi Diana membiru dan juga ujung bibir yang sedikit sobek dan mengeluarkan darah, saat ini Diana menangis kesakitan.
"Makan tuh, makannya jadi cewek gak usah so berani deh," Kris tertawa karena sudah membuat Diana menangis.
Namun ada hal yang membuat mata Kris membulat hampir saja itu mata keluar dari tempat nya.
Pasalnya Julian kini tengah berdiri di depan pintu sambil menampilkan sorot mata yang tajam bahkan lebih tajam dari tatapan Elang.
Membuat Kris kebingungan, kenapa temanya menatap tajam ke arahnya hanya karena melihat gadisnya di tampar biasanya juga kan ia suka dengan kekerasan kenapa sekarang ia malah seperti membenci nya.
Memang bodoh sih si Kris ini, ia tidak bisa apa mencerna ucapan tadi yang Julian katakan padanya, mungkin jika ia mengerti ucapan Julian yang tadi, ia akan hidup lebih lama, kalau sudah begini kan udah gak ada kemungkinan hidup jadinya.
__ADS_1