
Setelah mereka masuk, Julian langsung menuju meja yang berada di barisan paling belakang, setelah itu ia duduk di sana di ikuti Cherly yang juga duduk di sana.
"Jack" panggil Julian.
Lalu seseorang datang dari arah dapur, dengan tampang yang sangat menyeramkan, ia datang dan duduk di sebelah Julian.
Sementara Cherly kini sangat kebingungan.
"Ada apa? " tanya Jack pada Julian.
"Kau tutup kafe ini, " balas Julian datar.
Lalu Jack kembali memanggil orang lain, dan menyuruh untuk menutup kafe itu, padahal saat ini kafe sangat ramai.
Setelah selesai menutup kafe berikut kaca dan jendelanya pun mereka tutup, mereka langsung berdiri di dekat Jack.
"Bawa dia ke kamar! " titah Julian menyuruh salah satu dari mereka membawa Cherly pergi ke kamar.
"Mba ikut kami, " ucap salah satu dari mereka.
Kini Cherly dengan pasrah menuruti permintaan orang itu, ia tau kalau saat ini ia sedang bersama orang yang berbahaya.
"Panggil semua orang!" ucap Julian datar.
Kini Jack memanggil semua orang yang tengah berada di ruangan tersembunyi di kafe itu, setelah semua orang kumpul julian mulai menjelaskan niat nya, Andi pun ada di antara mereka.
Mereka adalah para Mafia, pembunuh bayaran dan juga Sniper, yang mencari perlindungan dari kejaran Polisi, di dunia gelap semua orang tau siapa Julian dan mereka takut pada Julian jadi mereka mencari perlindungan pada Julian.
"Kita punya mainan baru, " ucap Julian dingin.
"Bagus, udah lama kita gak main, " balas Andi di barengi oleh senyum miring nya.
"Tapi kita harus memikirkan rencana yang matang, karena mainan kita agak menyeramkan, " datar Julian sambil menyeringai.
"Memangnya siapa dia? " tanya Jack.
"Dia adalah kakak ku, dan dia sudah mencuri milik ku, " jawab Julian.
"Bagus kau sudah tau di mana keberadaan dia? " tanya Andi.
"Sudah, " datar Julian.
__ADS_1
"Lalu apa rencana mu? " tanya Jack.
"Kalian berlima(menunjuk lima orang yang berada di samping kirinya,) kau menjadi sniper saja, aku yakin mereka juga pasti menyewa sniper, " sambung Julian.
"Baik, " ucap mereka serentak, sambil pergi menuju tempat penyimpanan senjata.
"Lalu kalian berlima(tunjuk nya lagi) kau ku tugaskan untuk menghabisi polisi yang berpatroli, kau bawa saja mayat nya ke kandang pelihara ku, " sambung Julian.
"Baik, " ucap mereka serentak, kini mereka berlima pergi untuk menjalankan tugasnya.
"Dan kalian, (tunjuk Julian pada sepuluh orang di depannya,) kau ku tugaskan untuk menghabisi orang luar nya, " sambung Julian.
"Dengan senang hati, " ucap salah satu dari orang yang Julian tunjuk, kini mereka pun berjalan menuju tempat senjata.
"Dan sisanya kalian ikut dengan ku masuk" ucap Julian.
"Baik, " ucap Andi sambil tersenyum.
Kini Julian pergi menuju tempat penyimpanan senjata, ia mengambil pistol jarak dekat, dan beberapa granit, dan juga bom waktu, ia memasukan itu semua pada tasnya, namun pistolnya ia masukan pada saku celananya, tak lupa ia juga membawa pisau lipat.
Setelah selesai membereskan barang-barangnya, ia langsung pergi menuju kamar Cherly dan bermaksud mengajaknya, karena nanti ia akan fokus pada Juan, maka ia akan lupa pada Diana, jadi ia mengajak Cherly untuk mencari Diana.
Setelah menurutnya siap kini julian berjalan dan memasuki mobilnya, ia di sana bersama Cherly, Jack dan juga andi, Jack adalah salah satu pembunuh bayaran yang paling di takuti.
Sementara itu Diana kini tengah menangis sambil merendam badannya di dalam bak mandi, ia merasa tubuhnya saat ini sangat kotor.
"Hiks, aku kotor, " teriaknya sambil terus menangis, kini tubuhnya bahkan sudah sangat pucat, bibirnya sudah membiru.
"Akan ku bunuh kau Juan, " teriak Diana sambil tersenyum tipis, dan mengusap air matanya menggunakan punggung tangannya.
Kini ia bangun dan berjalan dengan badan yang masih bergetar, ia berjalan menuju pintu kamar, dengan ke adaan yang sangat memprihatinkan.
Sementara itu Juan tengah asik duduk di kursi kebesarannya, sambil masih menampilkan senyum puasnya.
"Maaf bos di luar terjadi perkelahian, " ucap salah satu anak buahnya.
"Biarkan saja mereka masuk, aku sudah menunggunya di sini, " santai Juan.
Kini anak buahnya kembali keluar, sementara juan kini bangkit dari duduknya, berjalan menuju lemari yang berisi senjata.
Ia mengambil pistol itu sambil menyeringai.
__ADS_1
"Biar pun aku akan mati saat ini aku akan senang karena aku sudah membalaskan dendam ku, " ucapnya santai, sambil berjalan keluar dari tempat itu sambil bersiul.
Kini Julian sudah masuk ke dalam ruangan itu, suara tembakan mengisi ruangan itu, banyak yang berjatuhan di tempat itu, kini hotel itu sudah seperti danau darah saja.
Dengan santai Julian, andi dan Jack berjalan menuju tangga karena semua musuh telah ia musnahkan, kini sisanya tinggal Juan.
Ternyata tak perlu menunggu waktu lama akhirnya Juan sendiri yang datang menghampiri mereka dengan membawa pistol.
"Kau bodoh sekali, " ucap Julian yang menghentikan langkah nya.
"Aku tidak bodoh, " ucap Juan sambil menodongkan pistol nya tepat ke depan wajah Julian.
Namun bukannya panik Julian malah tersenyum, ke arah Juan.
Saat Juan akan menembak Julian Diana datang dari arah belakang dengan keadaan basah, ia langsung memotong pergelangan tangan Juan, menggunakan pisau yang entah dari mana.
Kini Juan meringis kesakitan, pistol yang tadi Juan pegang pun langsung terjatuh ke lantai, setelah diana melakukan itu ia langsung berjalan mendekat pada julian, ia berdiri di samping Julian.
"Kau tidak papa?" tanya Julian sambil menatap Diana.
Sementara Diana hanya menggeleng sambil terus menatap tajam Julian.
"Pacar yang pintar, " puji julian, yang kini berbalik menatap Juan yang masih kesakitan.
Kini Julian dan diana berjalan mendekat pada juan, sementara yang lainnya mengelilingi juan supaya dia tidak bisa kabur lagi.
"Pegangin dia!, " titah Diana pada salah satu anak buah Julian.
Dua orang maju dan memegang tangan Juan agar tidak memberontak.
Kini Diana meminta pisau pada Julian, Julian pun dengan senang hati memberikan pisau nya pada Diana.
"Kau tau juan aku adalah Seniman, " ucap Diana tepat di depan wajah Juan.
Kini Juan menatap tak percaya pada Diana, ini bukan Diana yang selama ini ia kenal.
"Dan kau sudah membangkitkan jiwa Seniman ku, " lanjutnya sambil menyeringai.
Lalu Diana membuka baju Juan, dan ia langsung menggoreskan pisau pada perut Juan, ia menulis kata pengecut pada perutnya.
Sementara Juan kini tengah berteriak kesakitan, dan diana pun tersenyum bahagia, sambil memberikan pisaunya pada Julian.
__ADS_1
"Seperti ada yang kurang, " ucap Diana sambil berpikir, kini diana berjalan entah kemana.