Calon Suami ku Gila

Calon Suami ku Gila
27,Eksekusi


__ADS_3

Diana dan Julian sudah pulang, Diana tengah menunggu Julian yang tengah berbicara pada Juan, Diana di suruh menunggu di kamarnya.


sementara Julian tengah berada di hadapan Juan, sambil tersenyum penuh arti, Julian kini duduk di depan Juan yang masih dalam ke adaan lemah, di sana juga ada Jack dan andi yang tengah menjaga Juan.


"Kau, sudah menghancurkan hidup ku, maka terimalah ke hancuran itu, " ucap Julian pelan namun sangat menyeramkan.


Julian membuka ikatan dari Juan, dan menarik paksa Juan menuju tembok, Juan pun sudah tidak berdaya melawan Julian ia hanya bisa pasrah dengan apa yang Julian lakukan padanya.


Tanpa di sangka Julian menggoreskan wajah Juan ke tembok yang kasar, dengan cara kasar juga, kini juan meringis kesakitan, sementara Julian hanya tersenyum tipis.


Darah segar keluar dari wajah juan bau amis sekarang menyebar ke seluruh ruangan di sana, sementara Andi dan Jack hanya menatap naas pada juan yang sudah tidak bernyawa.


Julian kembali mengangkat Juan dan melemparkan nya ke arah depan membentur meja, kini Juan merasa tulang dalam tubuhnya retak bahkan ia sudah tidak bisa merasakan kakinya lagi.


Sementara Julian dengan santai kembali menghampiri Juan, kilatan pembunuhan terpancar di matanya senyuman iblis kini ia tampilkan di wajahnya.


Dengan cepat ia kembali menggusur tubuh Juan dan mendudukkan nya kembali dalam kursi, Juan tersenyum miris meratapi nasibnya, ia tidak menyangkan adiknya akan melakukan hal ini padanya, ia berpikir kalau julian akan langsung membunuhnya.


"Kau tau? ini tidak seberapa dengan penderitaan ku selama ini," ucap Julian tepat di depan wajah Juan.


Sementara Juan tidak dapat menjawab ucapan Julian karena mulutnya masih terasa sakit karena sobekan yang Julian berikan padanya kemarin, ia hanya dapat menatap wajah Julian.


"Kau tau selama ini aku tidak pernah merasa takut, kehilangan, bahagia, sedih, peduli, kecewa atau apapun itu yang berhubungan dengan hati, kau tau? itu semua karena kau! " tegas Julian sambil tersenyum kecut.


"Lalu akhir-akhir ini aku merasakan kembali, rasa takut, takut kehilangan seseorang, namun kau malah menghancurkan dia, orang yang mampu membuat ku sedikit merasakan kembali apa yang dulu pernah kau rebut, " sambung Julian.


"Penderitaan kau saat ini tidak seberapa dengan, penderitaan ku, " kini Julian membelai pipi kanan juan dengan pisau, membuat darah segar kembali mengalir darinya.


Ia menarik Juan dan memasukannya ke dalam kandang singa, dengan cepat ketiga singa itu merobek tubuh juan dengan sangat mudah.


Dan kini Julian berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan badannya dari bercak darah juan, sementara Jack dan andi kini mereka tengah membereskan sisa darah Juan yang berada di tembok dan lantai.

__ADS_1


"Gue kasian sama Juan, tapi emang salah sendiri sih ngapain juga di dulu bunuh orang tuanya sendiri, dia itu lebih gila daripada Juan, " ujar Andi yang kini tengah duduk, ia telah selesai membereskan tempat itu.


"Ah, dia itu manusia yang nanggung, " balas Jack sambil menatap ke arah kandang singa.


"Iya,".


Sementara itu kini Diana tengah di ambang ketakutannya, pasalnya tadi ia mendengar jeritan Juan.


Kini ia sedang mundar-mandir, Tiba-tiba Julian masuk ke kamarnya dengan hanya menggunakan handuk dengan dada telanjang.


Diana yang melihat itupun menjerit karena terkejut sambil menutup wajahnya dengan menggunakan telapak tangannya.


"Kau kenapa? " tanya Julian datar sambil berjalan mendekati Diana.


"Kau, cepat pakai baju, " teriak Diana sambil masih menutup wajahnya.


"Kau tidak mau melihat ABS ku, " goda Julian.


Julian langsung saja memeluk tubuh Diana, sementara wajah Diana kini sudah seperti orang yang habis di tampar,kini Diana bisa merasakan aroma tubuh Julian ketika baru habis mandi, dengan ke adaan tubuh Julian yang masih dalam ke adaan basah.


Diana menjauhkan tubuhnya julian ia berbalik dan pergi tidur, sementara Julian kini tengah berjalan menuju lemari bajunya.


Di sisi lain kini Cherly tengah berjalan dengan ke adaan yang kacau, ia baru keluar dari klub ia baru meminum beberapa botol minuman beralkohol.


Ia merasa hari ini dunianya sangat hancur, kini ia berjalan lunglai keluar dari tempat itu sampai dengan tidak sengaja ia menabrak seseorang yang akan masuk ke sana,


"Kau tidak papa? " tanya lelaki yang ia tabrak.


"Ah, aku tidak papa, " balas Cherly dengan keadaan kurang sadar, bahkan ia tidak bisa melihat jelas wajah lelaki itu, kini Cherly kembali melangkahkan kakinya namun lagi lagi ia kewalahan.


"Biar aku bantu, " ucap lelaki itu sambil membopong tubuh Cherly menuju tempat duduk di sebelah tempat itu, kini lelaki itu mendudukkan Cherly di sana.

__ADS_1


"Kau tunggu di sini yah, jangan kemana-mana," suruh lelaki itu pada Cherly, lelaki itu langsung pergi meninggalkan Cherly di sana sendirian.


Kini hari sudah mulai malam, udara dingin mulai begitu terasa menusuk kedalam kulit, sementara Cherly kini tengah senyum-senyum sendiri efek dari alkohol nya.


lelaki itu kembali datang dengan membawa satu botol susu, yang seperti nya baru ia beli, ia langsung memberikan nya pada Cherly.


Cherry langsung mengambilnya dan meminumnya, kini kesadaran nya sudah mulai sedikit kembali, namun ia malah menangis, membuat lelaki di hadapannya bingung harus melakukan apa.


"Kau jangan menangis, " ucap lelaki itu sambil mencoba menenangkan Cherly.


"Kenapa lelaki itu sama saja? " kesal Cherly sambil mencekram kuat bajunya


Sementara lelaki itu semakin bingung harus melakukan apa.


"Sudah lah, wanita cantik seperti mu tidak pantas menangisi seorang lelaki ********, " lelaki itu kembali mencoba menenangkan Cherly.


"Aku mencintainya namun ia dengan mudahnya bilang kalau ia sebenarnya tidak mencintai ku, lalu perasaan apa yang ia berikan padaku selama ini, " ucap Cherly sambil sesenggukan.


lelaki itu mencoba memberanikan diri untuk memeluknya, kini ia sudah memeluk Cherly dengan ke adaan Cherly yang masih menangis, ia tidak peduli kini jaketnya basah karena tangisan dari Cherly, yang terpenting kini Cherly tenang saja.


Setelah cukup lama Cherly menangis ia kini sudah merasa sedikit tenang, bagaikan ada energi yang lelaki itu berikan pada Cherly membuat ia kini merasa lebih berenergi.


Kini Cherly menjauhkan pelukan lelaki itu.


"Maaf, " ucap Cherly sambil menghapus air matanya menggunakan punggung tangannya.


"Tidak papa, " balas lelaki itu.


"Oh kalau boleh tau, nama lu siapa? " sambung lelaki itu.


"Cherly,".balas Cherly sembari menyodorkan tangannya.

__ADS_1


"kenalin gue anggara,". ucap lelaki itu sambil menerima uluran tangan Cherly.


__ADS_2