
Kini Diana datang dengan membawa satu ember air entah dari mana, kini ia kembali berjalan mendekat ke arah Juan.
"Oh iya lupa aku juga hobi masak, jadi aku akan memberikan bumbu dapurnya juga, " ucap diana sambil menumpahkan air yang sudah ia campur dengan garam pada Juan.
Kini Diana tersenyum puas, begitu pula dengan Julian.
"Sayang aku sudah selesai dengan dia, lakukan yang ingin kau lakukan, " ucap Diana sambil berjalan menuju Cherly.
Kini Julian tersenyum tipis pada juan yang sudah sangat kesakitan.
"Aku tidak akan memberikan kau kematian, hukuman bagi mu itu bukan kematian, jika kematian aku tidak bisa melihat mu tersiksa, " ucap Julian sambil menyeringai.
"Bawa dia! " titah Julian.
Kini orang yang tadi memegangi juan pun langsung menyeret Juan, masuk ke dalam mobil sementara julian menghampiri diana dan memberikan jaket kulit berwarna hitamnya pada Diana.
Kini mereka keluar dari hotel itu dengan gagahnya, tak ada rasa bersalah dalam hati mereka, setelah mereka semua berada dalam mobil, Julian tidak memajukan mobilnya melainkan ia malah diam terlebih dulu.
"Baby kau mau lihat pesta kembang api yang indah tidak, " ucap Julian pada Diana yang berada di sampingnya.
"Memangnya dimana? " tanya Diana polos sambil menatap keluar jendela.
"Aku hitung sampai tiga yah, " ucap julian.
diana pun mengangguk.
1
2
3
Ledakan besar terjadi di hotel itu membuat diana terkejut, dan menatap horor Julian.
"Aku pikir benar ada pesta kembang api, " kesal Diana.
"Itu juga sama api sayang, " Ucap Julian yang langsung menjalankan mobilnya, di susul oleh para anak buahnya yang juga mengikuti Julian.
Sementara Cherly Julian suruh satu mobil bersama Andi dan Jack, walaupun takut tapi ia lebih takut ketika tidak menuruti keinginan julian, karena ia takut di bunuh oleh nya.
Kini Julian menghentikan mobilnya di rumah peliharaan nya berada, ia turun dari mobil dengan senyuman tipis yang siapa pun yang melihat nya akan terpesona pada Julian.
Ia jalan berdampingan dengan Diana, memasuki rumah itu, lalu ia menyuruh andi mengikat tangan juan yang kini tengah tidak sadarkan diri.
__ADS_1
Di lubuk hati yang paling dalam Cherly masih sayang pada Juan, namun tidak bisa di pungkiri pula kalau ia benar-benar kecewa pada Juan, apalagi Juan selama ini tidak mencintai nya, ia hanya menjadikan Cherly sebagai alat,untuk balas dendam.
"Kalian pulang saja, dia biar jadi urusan aku, andi dan juga Jack, " titah Julian, kini anak buah Julian kembali pulang namun sebelum itu mereka membersihkan diri terlebih dahulu di markasnya, yaitu di kafe tadi.
Kafe itu memiliki tempat tersembunyi, mereka mendirikan kafe hanya untuk mengecoh para polisi saja.
Kini di sana tersisa, Julian, Andi, Jack, Diana, Cherly, dan juga Juan.
"Cherly kalau kau mau pulang, kau pulang saja biar Jack yang mengantarkan, " ucap Julian.
"Cherly makasih yah, kalau kamu capek bisa pulang, " ucap Diana lembut sambil menatapnya.
"Tidak usah, aku tidak capek kok, aku ingin tetap di sini, " ucap Cherly.
"Ya sudah" datar Julian.
"Baby kau lapar tidak? " tanya Julian pada Diana.
"Aku dingin, bukan lapar, " balas Diana.
"Kau ganti baju saja, di lemari sana ada banyak pakaian ku, " ucap Julian sambil menunjuk lemari.
"Tapikan baju mu besar julian, " ucap Diana, sedikit kesal.
"Ya udah, " kini Diana berdiri dan menarik Cherly keluar, untuk membeli makanan dan baju.
"Kau mau apakan dia? " tanya Andi sambil menunjuk juan menggunakan matanya.
"Setelah ia bangun aku akan masukan dia ke dalam sana, " ucap Julian santai.
"Mengapa harus menunggu sadar dulu sih, " timpa jack yang kini duduk di samping Julian.
"Aku suka liat wajah ketakutan seseorang, " santai Julian.
Sementara itu kini Diana dan Cherly sedang berada di dalam mobil dengan segala barang yang sudah ia beli tadi, Diana pun sudah mengganti pakaian, Diana lah yang menyetir mobilnya.
"Kau tau dia Psikopat? " tanya Cherly sambil menatap horor Diana.
Sementara Diana yang tadinya akan menyalakan mesin mobil, kini ia diam sambil berpikir.
"Tau" datar Diana sambil menatap kosong ke depan.
"Terus kenapa kamu gak bilang sama aku,".
__ADS_1
"Aku saat pertama kali tau dia itu psikopat, dia mengancam ku untuk tidak memberi tahu pada siapapun, ya aku menuruti ke inginan nya saja, " jelas Diana sambil menyenderkan tubuhnya pada senderan kursi.
"Lalu kau mencintai nya? ".
"Iya, aku cinta sama dia, " jujur Diana.
"Kau tau kan Psikopat itu seperti apa?".
"Aku juga tau, dia seperti apa, aku tau dia tidak punya hati, aku juga tau mungkin dia hanya menjadikan aku sebagai mainan saja, " ucap Diana dengan nada sedih.
"Kau salah Diana,".
"Salah apa?".
"Psikopat bisa kok merasakan jatuh cinta, bagaimana pun ia tetap manusia, kau tidak tau saat kau di culik, dia sangat kehilangan mu, yah walupun dia santai saja, namun aku tau kalau dia khawatir sama keadaan kamu, " jelas Cherly.
"Entah lah, kita lihat saja bagaimana kedepannya, " ucap Diana pasrah.
Kini Diana mulai memajukan mobilnya, di perjalanan tak ada lagi obrolan, mereka terlelap dengan pikiran nya masing-masing.
Kini mereka sampai, mereka masuk dengan berbagai makanan yang mereka bawa, diana langsung menaruh keresek makanan nya di meja dan ia juga duduk di samping Julian.
Begitu juga dengan Cherly yang duduk di samping Diana.
"Kau mau makan, biar ku siapkan, " ucap julian sambil membawa kantong keresek nya Diana ke dapur.
Namun Diana mengikuti langkah julian, ia ikut bersama Julian ke dapur.
"Julian aku mau tanya sama kamu, boleh gak? " ucap Diana ragu.
"Tanya saja, " datar Julian sambil mengambil beberapa piring untuk menyiapkan makanan.
"Tapi, kalau kamu gak mau jawab juga gak papa,".
"Ya sudah kamu mau tanya apa, " kini Julian berbalik menghadap diana, dan memegang pinggang diana posesif.
"Kau suka sama aku? " tanya Diana sambil tersenyum kikuk.
"Kau pikir kurang apa? yang kulakukan selama ini untuk mu, " bukannya menjawab Julian malah bertanya.
"Ah tidak-tidak, " ucap Diana sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Namun tiba-tiba Julian semakin mendekatkan badannya pada Diana, membuat wajah mereka hanya tinggal satu senti saja, kini Julian menatap mata Diana dengan tatapan lembut, tatapan yang jarang julian perlihatkan.
__ADS_1
Lalu setelah itu Julian mengecup kening diana, dan juga bibirnya, begitu pula dengan diana ia mengecup kening Julian sambil menjinjitkan kakinya, karena Julian itu tinggi.