
Diana dan Julian sudah masuk kembali ke kampus setelah 3 hari bolos, kini mereka tengah berjalan di Koridor menuju kelasnya.
Banyak tatapan tatapan tak suka karena mereka jadian, apalagi para kaum adam yang sedari dulu ngefans pada Diana, kini mereka kecewa.
Mereka pun sudah sampai di kelas dan duduk berdampingan, 2 jam berlalu jam pelajaran pun telah usai kini satu pasang kekasih itu memutuskan untuk makan terlebih dahulu.
"Lapar, " rengek Diana pada Julian.
"Manja, " balas Julian sambil berjalan menuju penjaga kantin.
Sementara Diana hanya bisa tersenyum sambil menatap kepergian julian, namun tiba-tiba.
"Mba, Diana kan? " tanya seorang wanita yang menghampiri Diana.
"Iya, " balas Diana sambil mengangguk.
"Ini ada titipan dari orang, " ucap wanita itu sambil memberikan sekotak kado pada Diana.
Sementara Diana menerima kado itu dengan keadaan bingung, " maaf dari siapa yah, " tanya Diana.
"Gak tau mba saya juga gak kenal, saya tanya eh malah dia bilang nya penggemar rahasia, " ucap wanita itu.
"Ya udah yah saya pergi dulu, " sambungnya sambil berjalan meninggalkan Diana.
Kini Diana menatap horor kotak itu, ia awalnya tidak berniat membukanya namun, dalam hatinya ia ingin membuka kotak itu.
Dengan perlahan ia membuka kotak itu, "***** apaan, " kaget Diana saat melihat isi kotak itu, bukannya takut ia malah mengambil nya, di sana terdapat kepala kucing dan juga poto dirinya, yang sudah berlumuran darah.
Dan juga ada tulisan play, kini Diana semakin kebingungan, "ah sudah lah mungkin ini kerjaan orang yang kurang kerjaan, " ucapnya sambil menutup kembali kotak itu dan menyimpannya di samping Diana.
Tak lama setelah itu julian pun datang dengan membawa senam pan makanan untuknya dan Diana, lalu ia langsung menaruh nya di meja dan menyodorkan nya tepat ke depan Diana.
Diana langsung mengambil makanan nya dan mengaduk bakso itu.
"Apaan itu? " tanya Julian sambil menunjuk kotak di samping Diana.
"Tau orang iseng kali, " malas Diana tanpa melirik ke arah Julian, ia masih fokus dengan semangkuk baksonya.
Karena Julian penasaran dengan isi kotak itu ia langsung mengambil dan membukanya, namun saat ia membuka kotak itu ia hanya menampilkan tatapan datar nya.
"Lu yang mulai, gue yang akan mengakhiri nya, " pelan Julian, namun Diana tetap masih bisa mendengar ucapan Julian.
Kini Diana menatap Julian dengan tatapan sulit tuk di artikan, Julian kembali menutup kotak itu dan menyimpannya.
"Udah lah yang mungkin itu cuman orang iseng, " ucap Diana.
Julian tidak menjawab ucapan diana ia terus saja fokus dengan semangkuk baksonya, membuat diana merasa dikacangin.
Setelah selesai makan bakso kini mereka berniat untuk pulang, dan kini mereka sudah ada di dalam mobil.
__ADS_1
"Nanti malam pulang, " datar Julian.
"pulang kemana? " tanya Diana.
"ke rumah lah,".
"Gak, " singkat Diana sambil menggeleng.
"Kau tau kan, aku gak suka di bantah, " dingin Julian, kini di mobil itu udaranya berubah drastis menjadi dingin membuat Diana merinding.
"Tapi aku malas Julian, " rengek Diana.
"Tidak ada pelolakan, " balas Julian dingin tanpa melihat ke arah Diana, ia hanya menatap kosong ke arah depan.
Diana hanya berdecak sebal sambil mengacak-acak rambutnya pasrah, dan cemberut, ia tidak bisa menolak penolakan itu.
Mereka sudah sampai di apartemen Diana, dan kini mereka tengah asik bermain vidio game.
Sementara itu Cherly kini tengah berada di kafe bersama anggara untuk membalas kebaikan anggara kemarin.
Mereka sudah memesan banyak makanan di sana.
"Kau asli orang Indonesia? " tanya Cherly.
"Bukan, " jawab anggara sambil mengunyah makanan.
"Aku emang keturunan barat? ya pantas saja aku mirip, " balas Anggara.
"Udah lama tinggal di Indonesia?".
"Ya lumayan sih, udah agak lama,".
Mereka memang kini sudah saling mengenal, Cherly beranggapan kalau anggara itu orang yang baik, memang Cherly itu suka beranggapan pada orang dengan cepat.
Namun anggara juga kelihatan nyaman berada bersama Cherly.
Sementara itu di rumah Diana ibunya tengah marah besar, pasalnya Diana tidak pulang sudah beberapa hari ini.
"Pah, cari Diana kenapa si pah, " kesal dea sambil berkacak pinggang di depan Gilang suaminya.
"Nanti juga dia pulang, " santai Gilang.
"Sudah hampir 2 minggu dia gak pulang,".
"Nanti juga pada waktunya dia pulang,".
"Awas aja kalau dia pulang aku akan menghukumnya,".
"Sudah lah, " ucap Gilang mencoba menenangkan Dea.
__ADS_1
Sementara Dea kini tengah berdiri sambil menatap horor pintu masuk, hujan deras kini menguyur kota jakarta walaupun ini masih siang namun terlihat sangat gelap,matahari tertutup oleh awan gelap.
Namun tiba-tiba ada seseorang membunyikan bel rumah itu, membuat dea berpikir kalau itu adalah Diana, dengan cepat ia membuka pintu utama itu.
Namun saat ia sudah berhasil membuka pintu utama ternyata yang ia dapatkan bukan lah Diana, ia melihat sesosok orang yang tengah berdiri dengan menggunakan jubah hitam panjang sampai mengenai lantai.
Ia juga menggunakan topeng joker, sementara dea yang melihat itu langsung refleks mundur dan saat ia akan menutup pintunya tiba-tiba orang itu mencekal pintunya dan langsung masuk.
Kini Dea semakin membulatkan tatapannya, melihat sesosok orang itu berjalan berlahan mendekatinya, kini rasanya mulut dea seperti ada yang menahannya sampai ia tidak bisa berteriak.
"Siapa mah? " teriak Gilang dari ruang keluarga.
Bukannya menjawab Dea malah langsung lari menuju ke arah suaminya itu.
orang itu tertawa sambil berjalan santai mengikuti Dea, ia senang melihat dea ketakutan.
"Mah kenapa? " tanya Gilang yang melihat dea sangat ketakutan.
"Siapa yang datang? " sambungnya sambil menatap Dea.
Sementara Dea hanya bisa memeluk tubuh suaminya, tubuhnya sudah bergetar keringat sudah bercucuran membasuhi tubuhnya.
lelaki itu datang di hadapan mereka dan membuka topengnya.
"Siapa kau? " tanya Gilang sambil menyembunyikan tubuh istri nya di belakang tubuh dirinya.
"Aku tidak tau siapa diriku sendiri, " ucapnya sambil Menyeringgai dan terus mendekati mereka, saat jarak mereka sudah mulai dekat tiba-tiba petir menyambar di ikuti oleh padam listrik.
"Argghh" teriakan terjadi di sana.
Setelah sudah agak lama akhirnya ada seseorang yang menyalakan lilin, yang tak lain adalah orang yang tadi datang.
Ternyata Dea dan Gilang sudah terikat di kursi dengan ke adaan yang memperihatinkan, ada banyak luka goresan di tubuh mereka.
Dan ia juga tidak cuman menyalakan lilin satu melainkan banyak, banyak lilin yang menyala di sekeliling nya, entah ia mendapatkan dari mana lilin sebanyak itu.
Kini wajah Gilang dan Dea sudah sangat memprihatinkan.
"Salah apa aku sama kamu? " lirih Dea sambil menangis.
"Ouh ada banyak, cuman bukan sama gue, tapi sama orang lain, " balas orang itu sambil duduk di kursi yang berada di depan Dea dan Gilang dengan menumpang kan kakinya.
"Lalu kenapa kau menangkap ku, " timpa Gilang.
"Karena itu hobi ku, salah yah kalau aku punya hobi yang seperti itu, " ucapnya.
lelaki itu berdiri dan mendekatkan wajahnya pada Dea dan Gilang.
"Kau mau yang pelan atau cepat, " ucapnya lembut tepat di depan wajah dea dan Gilang.
__ADS_1